
Tatapan mata Naura menatap bayi Malang yang berada di salah satu ruangan itu, bayi Malang itu tidak menangis dia menggerakkan tubuhnya seorang mencari sesuatu yang ada di sampingnya.
Naura menoleh menatap Abian dan kedua wanita tua yang bersamanya, Bu Rasti dan Bu Lena.
"Lihatlah sayang, bayi malang itu benar-benar sangat tampan ya." ucap Abian.
Naura menganggukkan kepalanya, dalam hatinya wanita itu benar-benar begitu terenyuh dengan kelucuan bayi yang ada di depannya. Bu Rasti berjalan mendekati menantunya, wanita itu begitu bahagia saat melihat senyum bahagia dari menantunya.
"Kalian bisa memberikan sedikit kebahagiaan kepada bayi malang itu, biarkan dia memberikan kalian sinar terang dan kebahagiaan di dalam rumah tangga kalian." ucap Bu Lena yang terlihat tersenyum menatap Naura.
Air mata berlinang dari kedua bola mata Naura ketika melihat bayi itu, walaupun dokter sudah mengatakan kalau suaminya tidak akan pernah mempunyai keturunan. Naura ikhlas asalkan mereka tetap bersama dan mencoba untuk yang terbaik.
"Berikan dia kehangatan cintamu, Naura. biarkan dia mendapatkan perlindungan, biarkan dia mendapatkan cinta agar dia tidak kekurangan sama sekali." ucap Bu Rasti yang membuat Naura tersenyum.
Dokter Hasan juga ikut bahagia saat melihat sepasang suami istri itu bahagia. "Aku akan membuat sebuah laporan adopsi untuk kalian." ucap dokter Hasan.
Sesaat kemudian Abian berjalan mendekati dokter Hasan dan ingin mengatakan sesuatu kepada pria tua itu.
"Gendonglah dia, Naura. biar dia merasakan kasih sayang seorang ibu agar dia tidak pernah merasakan kehilangan." ucap Bu Lena yang membuat Naura menganggukkan kepalanya.
Sebuah keajaiban dari Tuhan ketika seorang bayi tiba-tiba diberikan kepadanya, air mata Naura terus mengalir sembari memeluk bayi itu dengan begitu erat.
"Ya Allah.., jika ini rezeki yang kau berikan padaku.., Alhamdulillah. Terima kasih karena kau telah menuntunnya padaku." ucap Naura yang memeluk bayi itu dengan begitu erat.
Bu Rasti dan Bu Lena ikut memeluk Naura yang begitu bahagia. "Terima kasih ya Allah karena Engkau memberikan cahaya di kegelapan hidup putriku. ya Allah biarkan dia mendapatkan kebahagiaan sepertiku setelah pahit yang begitu panjang di dalam hidupnya." guman Bu Rasti dalam hati yang sedang berdoa untuk putrinya.
Sekitar 2 jam kemudian akhirnya Naura dan yang lain kembali tersenyum, Naura benar-benar begitu lebar dia menatap bayi itu terus-menerus. seorang bayi kecil berjenis kelamin laki-laki, salah satu tangan bayi itu terus menggenggam erat salah satu jari Naura. Naura tersenyum menatap bayi kecil yang terus menggerakkan tubuhnya.
"Ayo, sayang. kita turun." pinta Abian yang sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah.
Saat mereka baru memasuki rumah terlihat seorang wanita yang terus-menerus marah-marah kepada salah satu pembantu.
__ADS_1
"Kalian ini kenapa sih disuruh mengambil air tidak mau, aku ini haus buatkan aku jus jeruk atau jus apel!!" seru Bu Warni yang membentak para pembantu.
"Kalau kamu ingin membuat minuman buat saja minuman sendiri, kalau kamu mau makan apapun lakukan sendiri dan ambil sendiri!!" bentar Mbok Asih yang benar-benar sangat kesal dengan sikap bu Warni.
"Kalian ini pembantu dibayar kok ngelunjak!!" seru Bu Warni.
"Kamu di sini juga adalah pembantu, kalau kamu mau melakukan apapun lakukan sendiri!!" seru Mbok Asih yang kemudian mendorong tubuh Bu warni.
Abian melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu, terlihat di sana Mbok Asih sedang berdebat dengan Bu warni.
"Ada apa ini, Mbok?" tanya Abian.
"Ini loh Abian, wanita tua ini kurang ajar sekali. dia terus-menerus membentak aku!!" seru Bu Warni.
"Ada apa Mbok?" tanya Abian.
"Wanita ini selalu saja ongkang-ongkang kaki, di sini tidak mau melakukan apapun dan bisanya menyuruh." jawab Mbok Asih.
Sesaat kemudian Naura memasuki ruang tamu dan melerai Bu Warni yang sok-sokan menjadi tuan rumah. "Kalau kamu mau makan dan mau minum lakukan sendiri dan buatlah dirimu kenyang dengan kedua tanganmu itu. kamu di sini hanyalah menumpang Jangan pernah menyuruh orang lain untuk mengerjakan pekerjaanmu!" seru Naura dengan suara yang begitu keras.
"Itu bukan urusanmu." jawab Naura yang kemudian masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Bu Lena dan Bu Rasti yang sudah berada di ruang tamu nampak mereka berdua menatap seorang wanita yang selalu membuat onar.
Tatapan mata Bu Rasti menatap seorang wanita yang benar-benar begitu familiar, seorang wanita yang benar-benar tidak asing di matanya.
"Wanita ini." ucap Bu Rasti Ketika melihat Bu Warni.
"Bu Lena." Panggil Bu Warni saat melihat Bu Lena berada di tempat itu.
Bu Lena sedang melihat wanita menyebalkan itu. Seketika dia langsung mengajak pergi ke kamar Naura.
"Ayo kita segera pergi dari sini, Nyonya Rasti. karena di tempat ini tidak sehat." Bu Lena yang mengajak Bu Rasti untuk masuk ke kamar Naura dan menggendong bayi kecil itu
__ADS_1
Bu Warni benar-benar sangat kesal karena dicampakkan oleh dua wanita kaya raya itu, wanita itu terus mengguman dengan bahasa yang benar-benar tidak jelas. bu Rasti yang berada di kamar Naura nampak wanita itu mengingat seorang sahabat yang sudah mengkhianatinya, seorang wanita yang sudah membuatnya seperti wanita yang tidak berguna sama sekali.
"Oh ya Naura, Siapa wanita tadi?" tanya Bu Rasti yang berpura-pura.
Naura menoleh, wanita itu tersenyum sembari mengatakan mengenai status wanita yang tidak akan diakui itu.
"Jadi ayahmu tinggal di sini, Naura?" tanya Bu Rasti.
"Tentu saja jeng, Aku mau menantuku itu membalas dendam atas semua yang dilakukan oleh ayahnya. biar mereka tahu kalau sekarang mereka itu hanyalah pengemis di sini." jawab Bu Lena yang benar-benar sangat kesal karena putrinya memiliki mertua yang selalu mendukungnya.
"Oh ya Naura, Boleh tidak ibu menginap di sini untuk beberapa hari?" tanya Bu Rasti.
"Memangnya Tuan Teguh memperbolehkan ibu?" tanya Naura balik
"Nanti Ibu bilang sama suami ibu kalau kita akan menginap di sini untuk beberapa hari, boleh kan?" tanya Bu Rasti.
"Boleh bu, Boleh sekali. nanti aku telepon Mas Abian untuk pulang bersama dengan Tuan Teguh." jawab Naura.
Setelah mendengar jawaban dari Bu Lena seketika Bu Rasti juga memiliki pemikiran jahat untuk membalas semua yang dilakukan oleh mantan suami dan kekasih gelapnya itu karena itu Bu Rasti akan memberikan sebuah pembalasan yang sangat mengerikan, pembalasan atas penghianatan 2 orang yang mereka cintai.
"Terima kasih ya Naura, karena kamu sudah memperbolehkan Ibu menginap di sini." ucap bu Lena.
"Tentu Bu, aku juga senang karena Ibu mau nginep di sini." jawab Naura sembari tersenyum.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Janji di bawah rembulan
__ADS_1
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatanmu