
DEG...
Nyawa Abian serasa di cabut dari dalam tubuhnya ketika dia mendengar mengenai perasaan Azrul kepada isterinya.
"Kau tidak akan bisa melakukan hal itu." ucap Abian.
"Kenapa dia tidak bisa melakukan hal itu, kenapa mas Azrul tidak bisa menikahi aku?" tanya Naura yang membuat Abian membeku.
Sebuah senyum terukir di bibir Naura ketika melihat Abian tidak bisa menjawab pertanyaannya. "Terus saja kau melakukan hal itu, lihat saja aku akan membuatmu merasakan sakit yang lebih besar dari sakit yang aku rasakan." ucap Naura yang kemudian mendorong tubuh Abian dan pergi bersama dengan Asrul.
"Aku tidak akan membiarkanmu bersama pria lain!" seru Abian.
Naura dan Azrul tidak menghiraukan perkataan pria itu, mereka berdua nampak berjalan meninggalkan kantor Abian. tatapan mata Sandi bisa melihat lalu Bosnya itu benar-benar sangat murka. Apa yang dia lakukan dulu serasa sekarang sudah mendapatkan balasannya begitu setimpal.
"Kau benar-benar sudah merasakan sakit yang sangat luar biasa, Bos." ucap Sandi dalam hati.
"Oh ya Kalau begitu aku pergi dulu ya." ucap Silvia yang kemudian pergi meninggalkan Sandi.
"Ya." jawab Sandi.
"Ada apa denganmu, sayang?" tanya Franda kepada Abian.
"Aku tidak akan pernah membiarkan dia pergi dengan pria itu atau pria manapun." ucap Abian yang kemudian masuk ke dalam kantornya. jantung Abian berdebar begitu kencang, pria itu masih mengingat perkataan Azrul yang mengatakan kalau dia akan menikahi Naura.
"Aku jamin kau tidak akan pernah bisa menikahi wanita itu, karena dia adalah istriku." ucap Abian.
"Seketika Abian pergi meninggalkan perusahaannya, dia bergegas kembali ke rumahnya untuk mencari surat pernikahannya dengan Naura. surat yang akan membuat Azrul tidak akan pernah lagi mendekati Naura.
Sandi yang melihat hal itu tentu saja pria itu memberikan informasi itu kepada Bu Lena.
"Apakah kamu yakin, Sandi?" tanya Bu Lena.
"Tentu saja Nyonya, Saya sangat yakin." jawab Sandi.
"Bagus, akan kubuat Putraku itu menderita karena dia sudah mempermainkan wanita sebaik Naura." ucap Bu Lena yang kemudian mematikan ponselnya.
__ADS_1
Terlihat wanita itu tersenyum begitu lebar, dia ingin melihat putranya sedikit menderita dengan semua yang sudah dia lakukan kepada Naura.
"Ada apa, Bu?" tanya pak Anggoro.
"Sudah waktunya putramu itu mendapatkan balasan atas apa yang dia lakukan." jawab Bu Lena.
"Baguslah kalau begitu." ucap pak Anggoro yang kemudian pergi untuk membersihkan dirinya.
Kita kembali kepada Abian yang sudah pergi meninggalkan perusahaan dan kembali ke rumahnya, terlihat pria itu berlari menuju kantor pribadinya di rumah. terlihat di sana Abian mencari surat pernikahannya dengan Naura, namun sekitar satu jam lamanya Abian tidak mendapatkan surat itu bahkan di dalam kantor itu sudah berantakan dan tidak beraturan.
Sekitar 25 menit kemudian Bu Lena yang sudah berada di rumah putranya itu nampak wanita itu menata putranya yang sudah mengacak-acak kantor rumahnya.
"Apa yang sedang kau cari, Abian?" tanya Bu Lena yang sudah masuk ke dalam ruangan tempat Abian.
"Aku sedang mencari sesuatu, bu." jawab Abian.
"Apakah kamu mencari surat pernikahanmu dengan Naura?" tanya Bu Lena yang membuat Abian langsung terdiam.
DEG..
"Apakah kau mencari surat pernikahan dari catatan sipil?" tanya Bu Lena yang seolah mengolok putranya.
Seketika Abian berdiri, pria itu mendekati ibunya yang sudah berada di depan pintu kantor rumahnya. "Apakah ibu tahu di mana surat itu?" tanya Abian.
Bu Lena menganggukkan kepalanya, wanita itu terlihat menatap putranya sembari tersenyum.
"Lalu di mana surat itu, Bu?" tanya Abian.
Bu Lena tidak menjawab, wanita itu akan membuat putranya merasakan sesuatu yang benar-benar akan membuat Abian frustasi.
"Memangnya untuk apa surat itu, Abian?" tanya Bu Lena.
"Aku harus membawa surat itu Bu." jawab Abian.
DEG..
__ADS_1
Sesaat kemudian Abian baru tersadar dengan kata-kata yang diucapkan oleh ibunya tersebut. "Semenjak Kapan ibu tahu mengenai pernikahanku dengan Naura?" tanya Abian yang sudah tersadar.
Bu Lena nampak tersenyum, wanita itu menatap Abian dengan tatapan mata yang benar-benar ingin mengatakan kepada putranya kalau dia sudah lama tahu.
"Kau tahu Abian, sebaik-baiknya kau menyembunyikan bangkai maka baunya akan tercium juga. sepandai-pandainya kau menyembunyikan suatu kesalahan maka kesalahan itu akan muncul di permukaan." ucap Bu Lena.
Abian nampak terdiam, sesaat kemudian pria itu kembali menanyakan mengenai surat pernikahannya dengan Naura.
"Di mana surat itu Bu?" tanya Abian.
"Untuk apa kau mencari surat itu, Abian? toh kamu tidak memerlukannya kan?" tanya Bu Lena.
"Aku membutuhkan surat itu Bu, aku harus menunjukkan surat itu kepada seorang pria." jawab Abian.
"Untuk apa? apakah kau ingin mempermainkan Naura atau apakah kau ingin mengatakan kepada Naura kalau kau adalah suaminya?" tanya Bu Lena.
Abian kembali terdiam, pria itu menatap ibunya dengan tetapan mata yang mengharap kalau ibunya akan segera memberikan surat pernikahannya itu.
"Aku tidak punya waktu untuk menjawabnya Bu, tolong segera berikan surat itu." pinta Abian kepada ibunya.
Bu Lena nampak tersenyum, wanita itu menatap Abian dengan tatapan mata yang benar-benar penuh dengan kekesalan. "Maafkan Ibu sudah melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal." ucap Bu Lena.
"Maksud ibu apa?" tanya Abian.
"Saat ibu marah...,Ibu sudah membakar surat itu, Ibu sudah membuat surat itu menjadi abu." jawab Bu Lena.
Seketika kedua kaki Abian langsung lemas saat mendengar jawaban dari ibunya itu, artinya Abian tidak mempunyai bukti kalau Naura itu adalah istrinya.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Janji di bawah rembulan
__ADS_1
- Isteri kesayangan tuan besar