ISTERI KESAYANGAN TUAN BESAR

ISTERI KESAYANGAN TUAN BESAR
Pertahanan Ilyas


__ADS_3

** Beberapa hari kemudian **


"Pagi, sayang!" seru Abian yang melihat sang putra berada di rumahnya.


"Pagi, pa." jawab Ilyas.


"Bagaimana?" tanya Abian kepada sang putra.


"Semuanya berjalan lancar, Pa." jawab Ilyas.


"Baguslah kalau begitu." ucap Abian.


Ketika dua orang itu sedang berbincang-bincang, terlihat Naura datang dengan membawa dua anaknya.


"Ada apa, Sayang. kenapa datang-datang kok malah wajahnya seperti itu?" tanya Abian kepada sang istri.


"Bagaimana wajahku tidak seperti ini, sayang. nih putramu Bastian, masa masih kecil udah belajar berantem." jawab Naura.


"Apa maksudnya Bastian?" tanya Abian kepada putranya.


"Enggak kok, Pa.. aku nggak berantem, Mereka aja yang mencari masalah denganku." jawab Bastian.


"Memangnya apa yang mereka lakukan, Kenapa kamu sampai berantem?" tanya Abian yang kemudian meminta Putra keduanya itu untuk duduk.


"Mereka itu selalu mengolok-olok aku, Pa. masak Mereka bilang kalau aku ini anak cengeng, aku selalu manja sama orang tuaku." jawab Bastian dengan ekspresi yang menunjukkan kalau dia memang sedang marah.


"Memangnya kalau kamu bukan anak manja kamu mau bilang apa? memang Kami selalu memanjakanmu, bahkan Kami selalu sayang padamu." ucap Abian.


"Aku kesel Pa, saat dibilang kalau aku ini bukan pria sejati karena selalu bersembunyi di belakang Mama." jawab Bastian.


"Kenapa kamu harus marah, Bastian. kalau kita masih kecil itu sudah sewajarnya kita bersembunyi di belakang orang tua kita, kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah karena kita masih kecil." ucap Ilyas yang membuat Bastian nampak menghembuskan nafasnya dengan begitu kasar.

__ADS_1


"Enak Abang bilang gitu, kalau biasanya ada abang sih aku agak PD lah, ini yang maju mama, mereka semakin menertawakanku Katanya aku ini anak mama." jawab Bastian.


"Lalu, kalau kamu bukan anak mama lalu kamu itu anak siapa? apa kamu lahir dari pohon? apa kamu lahir dari tembok? kalau kamu tidak mau dibilang anak mama lalu kamu mau bilang anak siapa? anak Papa, mama mau lihat dari mana papa melahirkan kamu, mau buka mulut untuk melahirkanmu?" tanya Naura dengan raut wajah yang menyeramkan. bahkan kedua matanya melotot hingga membuat Bastian langsung menelan ludahnya dengan sangat susah.


Siapa yang tidak akan takut jika ibunya akan marah. "Ya enggak begitu sih ma." Bastian yang terus ngeles agar tidak dimarahi oleh mamanya.


"Diam Bastian, kalau kamu tidak mau disebut anak mama lebih baik kamu disebut anak orang hutan biar tambah pede kamu!!" seru Naura dengan kekesalahan yang sangat luar biasa. Abian yang mendengar perkataan istrinya Dia tidak mau menantang perkataan wanita itu, jika dia sampai mengeluarkan satu kalimat saja Abian yakin kalau dia akan ikut terseret dalam pusaran tornado yang sangat luar biasa.


Akhirnya Naura meninggalkan dua putranya Bersama sang suami, wanita itu benar-benar kesal luar biasa. mau gimana lagi, Naura tidak akan mau melihat putranya diejek oleh siapapun, walaupun preman Naura pasti akan menghadapinya.


"Pa, Mama kalau marah menakutkan sekali ya." ucap Bastian.


"Mamamu kalau marah dia itu lebih menakutkan dari para makhluk tak kasat mata, Mama kalau marah langit akan berwarna hitam, bumi akan bergoncang, petir akan menyambar dengan begitu keras." jawab Abian yang membuat Bastian langsung mencibirkan bibirnya.


"Dasar papa cari masalah aja." ucap Bastian.


"Salah kamu sendiri sih, Ngapain harus berantem." jawab Ilyas yang membuat Bastian langsung duduk di samping kakaknya tersebut.


"Iya Pa, Ilyas harus mendapatkan bukti-bukti kalau mereka bukanlah orang baik. jika Ilyas tetap diam mungkin saja mereka akan melakukan sesuatu." jawab Ilyas.


"Kamu harus selalu berhati-hati ya, Papa tidak ingin kamu mendapatkan masalah." ucap Abian.


"Tenang saja Pa, semuanya akan baik-baik saja." jawab Ilyas.


Sesaat kemudian terlihat Naura sudah keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang keluarga. "Kamu harus selalu hati-hati, Mama sudah dengar kalau mereka itu adalah orang-orang yang berbahaya. bahkan wanita itu katanya adalah seorang wanita yang selalu memberikan pinjaman dengan bunga yang sangat besar." ucap Naura.


"Tenang saja, ma. aku akan baik-baik saja, mama tidak usah khawatir karena aku bisa menjaga diriku kok, mama dan papa selalu bilang kan kalau aku harus menjadi dewasa agar bisa menjaga adik-adikku." ucap Ilyas yang membuat Naura begitu bangga dengan putranya tersebut.


"Ternyata anak mama ini sudah dewasa ya, Mama yakin kalau kamu bisa menjaga diri." ucap Naura.


Sekitar 5 atau 10 menit kemudian Sandi sudah datang ke rumah Naura dengan membawa sebuah informasi yang membuat Abian benar-benar sangat terkejut.

__ADS_1


"Apa kamu yakin Mas?" tanya Naura kepada Sandi.


"Tentu saja Naura, bahkan informasi dari Mas ini adalah informasi yang bisa dipercaya." jawab Sandi.


"Kalau benar apa yang kamu katakan, berarti mereka ada hubungannya dengan Mas Akbar. Aku tidak mengerti kenapa pria itu selalu berusaha untuk mengganggu keluargaku, Apakah penderitaanku selama ini masih kurang." ucap Abian.


"Tenanglah mas, kita akan mencari jalan yang terbaik. Mas Akbar tetap akan seperti itu entah apa yang harus kita lakukan untuk membuatnya berubah, mungkin saja mukjizat dari Allah akan membuatnya berubah atau mungkin akan membuatnya berpikir kalau kita ini adalah keluarganya." jawab Naura.


"Sudah 13 tahun tiba-tiba dia menghilang, Naura. 13 tahun itu tetap saja dia selalu berusaha untuk menghancurkan aku. Aku ini adalah saudaranya, Aku tidak pernah memikirkan mengenai pembalasan dendam. tapi lihatlah apa yang terjadi. Dia selalu berpikir untuk menghancurkanku dan menghancurkan kebahagiaan kita." ucap Abian.


Setelah mengetahui kabar dari Sandi, Abian mengerti ternyata dua orang itu adalah orang suruhan dari Akbar. walaupun mereka berdua masih ada hubungan darah dengan Ilyas tapi ada motif tersembunyi. walaupun Abian sudah mengetahui apa rencana dua orang itu, namun Abian tetap diam dan belum melaporkannya kepada polisi. beberapa bukti memang sudah ada di tangan Abian berkat Ilyas, tapi untuk saat ini Abian tidak akan melakukan apapun karena dia akan menunggu pergerakan dari Sidik dan Lina.


Setelah satu minggu kemudian uang dari Sidik mulai terkuras dengan nominal yang lumayan banyak, pria itu marah bahkan dia bertengkar hebat dengan Ilyas karena pemuda itu sudah meminta uangnya untuk biaya sekolah.


"Dasar bocah tidak tahu diri, aku sudah membiayai hidupmu. tapi kamu ini selalu saja membantahku terus!" seru Sidik.


"Memangnya apa yang aku lakukan, paman. aku sudah membantumu, Bahkan aku selalu ikut kerja denganmu setelah aku pulang sekolah." jawab Ilyas.


"Tapi yang aku inginkan itu kamu cepat tanda tangan nih surat-surat itu!" seru Sidik sambil mencengkram leher Ilyas hingga membuat pemuda itu susah untuk bernafas.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife


- Janji di bawah rembulan


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu

__ADS_1


__ADS_2