
BUKK...
BUKK...
Abian terus menghajar akbar secara membabi buta, Bu Lena yang melihat kondisi Naura yang tidak sadarkan diri seketika kedua kakinya langsung lemas. kenangan pahit itu terulang kembali, kenangan yang sudah terkubur beberapa tahun yang lalu. kenangan pahit yang selalu dilakukan oleh Akbar terhadap saudaranya.
Bu Lena nampak meneteskan air matanya,
"Abian Apa yang kau lakukan, Abian!" seru Pak Anggoro yang sudah berada di ruangan Sang putra. pria tua itu menatap Bu Lena yang sudah terduduk di lantai, melihat kedua putranya berkelahi kemudian melihat menantunya tergeletak tidak sadarkan diri.
"Aku tidak akan memberikannya hidup untuk sekarang, Ayah!!" seru Abian.
Seketika Pak Anggoro langsung menarik tubuh Abian, pria itu menghentikan semua pergerakan putranya.
"Dia benar-benar gila, ayah. dia ingin membunuhku." ucap Akbar yang sudah babak belur.
"Kamu adalah pria iblis, kamu tidak pantas hidup!!" seru Abian.
Pak Anggoro menatap Naura yang tidak sadarkan diri dan beberapa kancing bajunya sudah terbuka. melihat kedua putranya berkelahi Pak Anggoro mulai mengerti situasi yang terjadi.
"Bu, bawah cucu kita ke kamar. tidur kan dia dan beri dia susu." pinta Pak Anggoro.
Bu Lena tidak mengeluarkan suara, air matanya terus menetes.
"Bu." Panggil Pak Anggoro kembali.
Bu Lena menatap suaminya, air matanya berlinang. wajahnya menunjukkan kesedihan yang benar-benar sangat luar biasa.
"Bawa cucu kita ke kamarku, buatkan dia susu biar dia tidur." pinta Pak Anggoro yang membuat Bu Lena menganggukkan kepalanya.
Bu Lena berdiri tertatih-tatih, wanita itu menatap Naura yang sudah tidak sadarkan diri. "Naura sayang." Panggil Bu Lena kepada Naura.
"Tidur kan cucu kita dahulu, minta salah satu pembantu untuk mengambilkan air dingin." pinta Pak Anggoro.
Bu Lena menganggukkan kepalanya, wanita itu meminta salah satu pembantu untuk membuatkan cucunya susu, sekitar 10 menit kemudian Bu Lena kembali dengan membawa air dingin.
"Usapkan ke wajah Naura, Bu." minta Pak Anggoro.
Pak Anggoro menarik tangan Abian dan Akbar.
"Lihatlah Putra kesayangan Ayah ini, kelihatannya dia benar-benar ingin membunuhku." ucap Akbar yang seolah dia tidak melakukan kesalahan apapun.
PLAKK...
sebuah tamparan sudah menempel di wajah Akbar, pria itu menatap ayahnya. sebuah tatapan mata yang menunjukkan kalau dia tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya tersebut.
__ADS_1
"Apakah aku harus melakukan sesuatu kepadamu, Akbar?" tanya Pak Anggoro.
"Memangnya apa salahku, Ayah. kenapa ayah malah menamparku, seharusnya Ayah bertanya kepada pria itu apa yang dia lakukan kepadaku. dia menghajarku habis-habisan, Dia kira dia itu siapa." ucap Akbar yang tidak terima.
PLAKK...
satu tamparan kembali diberikan oleh Pak Anggoro kepada Akbar.
"Sering kali Aku memberikanmu Maaf, Akbar. seringkali aku menutup telinga karena permintaan adikmu. Aku benar-benar tidak tahan dengan semua kelakuanmu ini, Akbar. haruskah kau melakukan hal ini terus-menerus?" tanya Pak Anggoro kepada Akbar.
"Memangnya apa yang telah aku lakukan, Ayah. apa kesalahanku?" tanya Akbar yang tetap seperti seorang pria yang tidak berdosa sama sekali.
"Kamu adalah pria brengsek, Apa yang hendak kau lakukan kepada istriku?!" seru Abian yang kemudian mencengkram leher kakaknya.
"Hentikan Abian!!" perintah Pak Anggoro.
"Aku pasti akan membunuhnya, Ayah." jawab Abian.
"Haruskah kamu melumuri tanganmu dengan darah seorang pria yang tidak mempunyai akhlak ini ,Abian." ucap pak Anggoro yang membuat Abian terdiam.
Senyum mengejak ditunjukkan oleh Akbar kepada ayahnya, pria itu benar-benar tidak terima dengan semua penghinaan yang dia diberikan oleh ayahnya.
"Memangnya apa salahku, ayah. kenapa juga aku harus diam dengan semua penghinaan kalian?" tanya Akbar.
Di dalam kamar terlihat Bu Lena mengusapkan air ke wajah Naura, tak berselang lama terlihat wanita itu membuka matanya. Naura melihat ibu mertuanya sudah ada di depan matanya.
"Naura." Panggil Bu Lena.
"Bu." jawab Naura yang terlihat memegang kepalanya.
"Ada apa, Naura?" tanya Bu Lena.
"Entahlah, bu. tiba-tiba kepalaku pusing. Oh ya Bu, kenapa aku ada di kamar? di mana baby Ilyas?" tanya Naura.
DEG...
Bu Lena benar-benar tersentak, wanita itu menatap Naura yang memegang kepalanya.
"Bu, di mana baby Ilyas?" tanya Naura kepada Bu Lena.
"Baby Ilyas ada di kamar Ibu, sayang." jawab Bu Lena.
Terlihat Naura memegang kepalanya, Wanita itu benar-benar sangat pusing. "Ada apa, Naura?" tanya Bu Lena.
"Entahlah, bu. tadi sepertinya ada seseorang yang membekap mulutku. tiba-tiba aku sudah tidak sadarkan diri." jawab Naura yang membuat Bu Lena langsung tersentak. Wanita itu tidak tahu apa yang harus dia katakan.
__ADS_1
"Apakah kamu mau ke tempat baby Ilyas?" tanya Bu Lena.
"Iya Bu, Tadi dia menangis kelihatannya dia mau minum." ucap Naura.
Bu Lena tidak tahu apa yang harus dia lakukan, wanita itu terlihat menatap Naura dengan tatapan mata yang benar-benar begitu menyedihkan. di ruang tamu tentu saja Pak Anggoro terus mengintrogasi Akbar.
"Memangnya apa yang aku lakukan kepada wanita itu, Aku tidak melakukan apa-apa.* jawab Akbar yang terus bersilat lidah.
"Aku tidak percaya dengan mulut brengsekmu itu!!" seru Akbar.
"Kamu kira aku tertarik dengan istrimu, aku tidak mungkin melakukan hal itu." ucap Akbar.
"Benarkah, aku semakin yakin kalau kamu itu sudah gila. Kamu adalah pria gila!!" teriak Abian.
Akbar marah saat mendengar dirinya dibilang sebagai pria gila, tentu saja pria itu benar-benar tidak terima.
"Jaga mulutmu itu, Abian!!" seru Akbar.
"Jika kamu bukan pria gila, Lalu siapa dirimu, Akbar. Sudah berapa kali Kau menghancurkan kehidupan adikmu, sudah berapa kali kamu membuat kami malu?" tanya pak Anggoro.
"Bilang saja kalau Ayah ingin mengusirku dari rumah, Jadi tidak usah berbelit-belit seperti ini." ucap Akbar.
"Kau tidak usah mengelak lagi, Akbar. karena Ayah punya bukti atas semua yang kamu lakukan." ucap pak Anggoro.
Akbar sedikit menunjukkan senyum yang mengejek, namun sesaat kemudian Pak Anggoro pergi ke kamarnya. pria itu kembali dengan membawa laptop di tangannya, entahlah namun yang jelas Pak Anggoro menunjukkan sesuatu kepada Abian dan Akbar. sebuah kejadian yang barusan terjadi, di video CCTV itu menunjukkan Akbar membekap mulut Naura hingga pingsan kemudian pria itu hendak melakukan sesuatu kepada Naura.
"Video itu pasti jebakan, Aku bukan pria seperti itu." ucap Akbar.
"Benarkah? jadi kamu tidak tahu kalau di kamar Abian aku pasang CCTV?" tanya Pak Anggora yang membuat Akbar benar-benar sangat terkejut.
"Dengarkan aku baik-baik, Aku tidak akan membiarkanmu melakukan sesuatu padaku!!" bentak Akbar di
"Tentu saja aku akan melakukan sesuatu padamu, putraku." jawab pak Anggoro.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Janji di bawah rembulan
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatanmu
__ADS_1