
"Sayang, kenapa kamu seperti ini?" tanya Akbar.
Abian yang mendengar kakaknya memanggil sang istri seperti itu tentu saja pria itu sedikit kebingungan.
"Kakak, kenapa Kakak memanggil wanita itu seperti itu?" tanya Abian.
"Tentu saja, dia adalah kekasihku, dia adalah kehidupanku." jawab Akbar.
"Akbar, Kenapa kamu mengatakan itu? dia bukanlah kekasihmu!!" seru Bu Lena.
"Kalian ini kenapa, kenapa kalian seperti ini, Lihatlah Dia adalah kekasihku dia adalah belahan jiwaku " jawab Akbar kembali.
"Kak, kau tidak boleh seperti itu. dia adalah istriku." ucap Abian.
Seketika Akbar menatap adiknya tersebut.
BUK...
Sebuah pukulan langsung melayang di wajah Abian ketika pria itu mengatakan kalau Naura adalah istrinya.
"Kamu jangan pernah mengatakan hal itu, beraninya kamu membicarakan sesuatu yang tidak mungkin. dia adalah istriku!!" seru Akbar yang kemudian mencengkram pakaian Abian.
Pak Anggoro langsung memisahkan kedua putranya itu, pria itu terlihat menatap putranya yang baru keluar dari rumah sakit. "Akbar, ingatlah apa yang kau lakukan ini!!" seru Pak Anggoro.
"Berani sekali pria ini mengakui wanita itu sebagai istrinya, wanita itu adalah milikku!!" seru Akbar.
Abian tidak akan membiarkan wanita yang dia cintai diakui oleh pria lain. "Kamu benar-benar tidak mempunyai pikiran, Kak!!" seru Abian.
BUG..
Akbar kembali memberikan pukulan ke tubuh Abian, sedangkan Naura dan Bu Lena nampak mereka berdua bermaksud untuk menghentikan Akbar yang seperti orang gila.
"Akbar, Apa kamu sudah gila. lepaskan adikmu!!" seru Bu Lena.
"Aku tidak akan membiarkannya berusaha untuk mengambil wanita yang aku cintai!!" seru Akbar.
"Kamu yang seharusnya berfikir mas, dia itu adalah istri dari adikmu. dia bukan kekasihmu !!" teriak bu Lena yang membuat Akbar menatap ibunya tersebut.
DEG..
__ADS_1
Salah satu tangan Akbar menyentuh dadanya, sesaat kemudian pria itu langsung tersungkur tidak berdaya.
BRUKK...
"Akbar!!" seru pak Anggoro.
Beberapa jam kemudian Akbar kembali di bawa ke rumah sakit.
"Apa yang terjadi, dokter?" tanya pak Anggoro.
"Kelihatannya jantung putra anda tidak mampu menerima kabar yang sangat mengejutkan." jawab dokter.
"Huff...," suara helaan nafas Abian.
"Ada apa ini," ucap Bu Lena.
"Kelihatannya kejutan yang besar tidak akan mampu dia terima." jawab dokter.
Tak ada kata yang terucap dari bibir pak Anggoro dan yang lain. "Apakah itu berbahaya?" tanya pak Anggoro.
"Tentu saja itu sangat berbahaya Tuan karena Putra Tuan baru sadar dari, selama beberapa tahun jika ini semua membuat beban di hatinya kemungkinan besar putra anda akan mengalami, kembali jawab dokter.
Pak Anggoro dan sang istri benar-benar tidak bisa mengatakan apapun, mereka berdua hanya bisa menghela nafasnya. "Apakah Dokter punya solusi lain?" tanya Abian yang takut kehilangan istri ataupun kakaknya.
Pak Anggoro dan Abian nampak benar-benar tidak bisa melakukan apapun, sedangkan Naura yang berada di rumah bersama dengan Mbak Asih terlihat wanita itu berusaha untuk menelpon Abian.
"Mbok, Apakah pria itu pernah menikah?" tanya Naura.
"Ada seorang wanita yang tewas dalam kecelakaan itu, Naura. Mbok tidak tahu siapa wanita itu, tapi yang jelas ketika Akbar mengalami kecelakaan Dia bersama seorang wanita yang entah siapa." jawab Mbok Asih.
"Lalu, apakah kemungkinan besar dia adalah kekasih atau istrinya?" tanya Naura.
"Mbok tidak tahu, tapi yang jelas Pak Anggoro mencoba mencari tahu namun tidak pernah mendapatkan jawaban." jawab Mbok Asih.
"Lalu, Mengapa Dia mengira kalau aku ini adalah istrinya, Mbok?" tanya Naura.
"Mbok juga tidak tahu, nanti Kalau suamimu datang coba kamu tanyakan. kemungkinan ada sesuatu yang tidak kita ketahui." jawab Mbok Asih.
Dari malam itu Naura mencoba untuk menelpon suaminya, Abian meminta sang istri untuk tidak datang ke rumah sakit ataupun meneleponnya ketika di rumah sakit. Abian tidak ingin kakaknya terus berpikir kalau Naura adalah istrinya, dia tidak akan mungkin rela, dia tidak akan mau melepaskan sang istri untuk kakaknya.
__ADS_1
"Siapa yang menelpon, Abian?" tanya Bu Lena.
"istriku, bu." jawab Abian.
"Lebih baik Naura tidak usah kemari, jika tidak kakakmu itu akan terus mengira kalau Naura adalah istrinya. keadaan itu akan semakin membuat kondisinya memburuk." ucap pak Anggoro.
"Ya Ayah, aku sudah bilang sama isteriku." jawab Abian.
"Kamu harus berhati-hati dalam mengatakan hal itu, Abian. jangan sampai Naura tersinggung nanti, kalau kau pulang Coba jelaskan secara perlahan entah apa yang terjadi dengan kakakmu. mengapa saat dia melihat Naura kakakmu bilang kalau dia istrinya." ucap Bu Lena.
"Aku tidak akan membiarkan pria itu mengakui istriku sebagai istrinya, Bu. Dia adalah istriku, milikku. aku tidak akan membiarkan orang lain mencoba merampasnya dariku." ucap Akbar.
"Segeralah kamu pulang ini sudah terlalu larut malam nanti Naura mencemaskan mu." ucap pak Anggoro.
"Baiklah, ayah. aku pulang dahulu." Abian yang kemudian berpamitan kepada ayah dan ibunya.
Ketika pak Anggoro dan Bu Lena menatap putranya yang sudah pergi itu sepasang suami istri itu benar-benar tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Sudah berulang kali Abian mengalah dengan kepada kakaknya, dia benar-benar tidak ingin lagi Abian terluka untuk yang kedua kalinya. Abian adalah pria yang begitu penyayang walaupun di luar Dia terlihat begitu dingin.
"Pak, Apakah mungkin jika Akbar sudah tahu kalau adiknya sudah menikah?" tanya Bu Lena .
"Sudahlah Bu, kita tidak usah membahas hal ini terlebih dahulu. lebih baik kita menjaga anak-anak kita agar kehidupan mereka tidak seperti dahulu." jawab pak Anggoro yang kemudian meminta istrinya untuk bersikap tenang.
Sekitar 1 jam lebih lamanya akhirnya Abian sudah sampai di rumahnya, terlihat pria itu menghela nafasnya berulang kali kemudian masuk ke dalam rumah. Naura menunggu Abian di ruang tamu, wanita itu berjalan bolak-balik seperti seorang wanita yang sedang menunggu kelahiran seorang bayi.
"Kamu lagi ngapain Sayang?" tanya Abian kepada sang istri.
"Kamu sudah pulang Mas?" tanya Naura.
Abian tersenyum, sesaat kemudian pria itu memberikan pelukan yang begitu hangat kepada sang istri. "Mas mau mandi dulu ya, setelah itu bisa tidak kamu persiapkan masuk makanan untuk mas, mas lapar." ucap Abian.
Naura membalas senyuman sang suami dengan senyuman, sesaat kemudian wanita itu memberikan pelukan yang begitu hangat kepada pria yang begitu dia cintai.
"Baiklah Mas, kamu mandi dulu ya aku persiapkan makanannya." ucap Naura yang kemudian berjalan menuju dapur.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
__ADS_1
- Janji di bawah rembulan
- Isteri kesayangan tuan besar