
* Dua hari kemudian *
Seorang pria nampak berdiri di depan pintu rumah Abian, seorang pria yang selalu membenci Abian dengan semua pemikirannya yang benar-benar begitu sempit. tidak pernah sekalipun Abian berusaha untuk melakukan sesuatu kepada Akbar, namun entah apa yang membuat Akbar selalu mempunyai pikiran untuk menyakiti Abian.
Terlihat sekarang ini pun Akbar tidak menyukai kebahagiaan yang sedang dijalani oleh Abian, pria itu seperti seorang pria yang tidak mempunyai pemikiran sama sekali.
Memangnya Apa salahnya kalau Abian ingin bahagia, namun kecemburuan yang dimiliki oleh Akbar begitu luar biasa hingga membuat pria itu tidak akan membiarkan adiknya itu merasakan kebahagiaan. karena dia juga tidak pernah merasa bahagia.
TING.. TONG...
TING.. TONG...
bunyi bel rumah tempat Abian. salah satu pembantu langsung membuka pintu rumah Abian, di sana terlihat Akbar sudah berdiri di depan pintu tersebut.
"Tuan Akbar." sapa salah satu pembantu.
Tak ada kata yang keluar dari mulut Akbar, pria itu langsung bergegas masuk tanpa mengatakan apapun. langkah kaki Akbar memasuki rumah milik Abian, tatapan matanya menatap rumah tersebut yang sekarang terlihat begitu hidup.
"Ada siapa Lala?" tanya Naura yang berada di ruang tamu.
Seketika sorot mata Akbar menatap Naura yang memakai pakaian santai, memang wanita itu selalu memakai pakaian santai saat berada di rumah.
"Ada Tuan Akbar, Nyonya." jawab pembantu Naura yang kemudian masuk meninggalkan Akbar.
Langkah kaki Naura yang hendak pergi itu pun langsung terhenti, tatapan matanya menatap Akbar yang sudah berada di tempat itu.
"Mas Akbar, masuk Mas." ucap Naura yang mempersilahkan Akbar untuk masuk. pria angkuh itu hanya diam, dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun kemudian dia berdiri di belakang tubuh Naura.
"Di mana Abian?" tanya Akbar kepada Naura.
"Masih shalat Mas.":jawab Naura yang membuat Akbar tersenyum seolah mengejek.
"Silahkan duduk dulu Mas, aku buatkan kopi dulu." ucap Naura yang membuat Akbar bergegas berjalan ke ruang tengah tempat biasa Naura dan Abian bercengkrama berdua.
__ADS_1
"Huff...," Naura hanya bisa menghembuskan napasnya dengan sedikit kasar. memang Akbar adalah seorang pria yang tidak mempunyai sopan santun sama sekali.
Sesaat kemudian terlihat Abian sudah berada di dapur, pria itu menatap sang istri yang baru kembali entah dari mana.
"Dari mana Sayang?" tanya Abian kepada sang istri.
"Dari luar Mas, tadi ada tamu. eee..., ternyata waktu aku lihat itu Mas Akbar." jawab Naura.
Abian yang hendak menyeruput kopi itu pun langsung tersentak. "Siapa sayang?" tanya Abian kembali.
"Mas Akbar Mas." jawab Naura.
Abian sedikit menghembuskan nafasnya dengan kasar, pria itu menatap istrinya kemudian menghela nafasnya kembali.
"Ngapain dia kemari, Sayang?" tanya Abian kepada Naura ya tidak tahu.
"Mas Coba kamu tanyain aja ngapain dia ke sini." jawab Naura.
Terlihat Abian menatap sang istri yang sedang membuat minuman untuk kakaknya tersebut.
"Memangnya kenapa Mas? apa Mas Akbar itu tidak suka yang manis-manis?" tanya Naura.
"Hidupnya itu selalu pahit, sayang. makanya dia tidak mempunyai kisah yang manis sama sekali." jawab Abian yang seolah ingin mengatakan Kalau kakaknya itu adalah tukang rusuh.
"Sayang banget deh Mas, wajahnya aja tampan tapi sayang hatinya begitu pahit." ucap Naura.
"Sudah-sudah, Nanti kalau dia tiba-tiba kemari bisa-bisa dia ngomel tidak berhenti-berhenti." ucap Abian yang kemudian membawa kopi untuk kakaknya. sedangkan Naura sendiri tidak diperbolehkan oleh Abian untuk keluar menemui kakaknya.
Pagi ini Abian benar-benar sangat kesal dengan kakaknya karena pria itu datang begitu pagi. bagaimana tidak jam dinding masih menunjukkan waktu pukul 05.15 menit namun Akbar sudah menunjukkan dirinya di tempat Abian.
"Kamu udah makan Mas?" tanya Akbar kepada Abian.
"Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu? memangnya makananmu sudah matang?" tanya Akbar yang membuat Abian sedikit mendumel di dalam hati.
__ADS_1
"Ini orang kalau bukan Abang gue sendiri pasti akan ku lempar di kandang buaya, lihat aja udah pagi buta ke rumah orang sekarang masih menghina. cocok banget kalau dia itu menjadi rentenir atau penagih hutang." guman Abian dalam hati yang kemudian meminum kopi yang baru dia buat minum.
"Kamu minum kopi susu atau kopi hitam?" tanya Akbar.
"Sama Mas, aku juga minum kopi Hitam." jawab Abian yang sedikit kesal.
Terlihat Akbar meminum kopinya sembari menatap rumah Abian yang benar-benar begitu tenang, sekitar 10 menit kemudian datanglah dua burung gagak yang berjalan ke ruang tengah dan menghampiri Abian dan Akbar.
"Lho nak Akbar!" seru Pak Farhan yang kemudian mendekati Abian dan Akbar.
Abian yang melihat hal itu dia langsung memutar bola matanya dengan begitu jengah, "Pagi buta seperti ini ada tiga rayap di tempatku, ini benar-benar sangat menjengkel kan." guman Abian dalam hati yang kemudian melihat jam tangan yang dia pakai.
"Mau ke mana Abian?" tanya Pak Farhan kepada Abian.
"Mau masuk, mau ke ruang makan." jawab Abian tanpa mengatakan apapun lagi. terlihat Abian benar-benar kesal, pagi ini saat dia berjalan tiga orang itu langsung mengikuti dirinya menuju ruang makan.
Akbar yang melihat Naura duduk pria itu seketika duduk di samping Naura. Abian yang melihat hal itu seketika mengeratkan giginya dan memberikan isyarat kepada sang istri duduk di sampingnya.
"Mbok tolong pindah ke sana, biar isteriku duduk di sana." ucap Abian yang membuat Mbok Asih berpindah tempat.
"Kenapa harus pindah?" tanya Akbar.
Abian tidak menjawab pria itu langsung memimpin doa kemudian makan.
Naura terlihat melayani sang suami, wanita itu mengambilkan Abian beberapa makanan.
"Terima kasih ya sayang." ucap Abian.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
__ADS_1
- Janji di bawah rembulan
- Isteri kesayangan tuan besar