
Sekitar satu jam kemudian akhirnya mereka berdua sudah sampai di salah satu rumah sakit.
TOK...
TOK...
Abian mengetuk pintu kantor pribadi milik dokter Hasan masuk jawab dokter Hasan saat berada di ruangan itu terlihat dokter Hasan tersenyum menyambut kedatangan Abian dan Naura
"Assalamualaikum paman." ucap Naura yang memasuki tempat dokter Hasan.
"Waalaikumsalam." jawab dokter Hasan.
Naura dan Abyan memasuki tempat tersebut, terlihat mereka berdua menatap dokter tua yang sudah menunggu mereka.
"Aku senang kalian sudah datang kemari." ucap dokter Hasan yang meminta Abian dan Naura untuk duduk.
"Ada apa paman Apakah ada sesuatu?" tanya Abian kepada dokter Hasan.
"Duduklah sebentar, Abian." pinta dokter Hasan.
Jantungnya benar-benar berdebar begitu kencang, pria itu takut dan merasa ada sesuatu dengan berita yang akan di sampaikan oleh dokter Hasan.
"Ada apa paman?" tanya Abian yang benar-benar kebingungan juga takut jika ada sesuatu yang membuat dirinya akan merasakan kehampaan.
"Sebenarnya Paman tidak ingin menyampaikan hal ini, Tapi ini semua demi kebaikan kalian." jawab dokter Hasan.
Abian dan Naura saling menatap satu sama lain, Entah apa yang akan disampaikan oleh dokter Hasan dan bagaimana mereka akan menerima berita yang akan diberikan oleh dokter Hasan.
"Ada apa dokter, Coba katakan sesuatu Jangan membuat kami benar-benar ketakutan." ucap Naura.
Dokter Hasan menghembuskan nafasnya dua kali, sesaat kemudian pria itu menatap Abian dengan tatapan mata yang benar-benar ingin mengatakan kau harus bersabar Abian.
"Ada apa dokter? Apakah ada sesuatu?" tanya Naura kembali.
"Iya, paman. katakanlah jika ada sesuatu." ucap Abian
"Dari hasil pemeriksaan yang Paman lakukan kepadamu beberapa waktu yang lalu, hasilnya sedikit mengecewakan Abian." jawab dokter Hasan.
"Maksud Paman apa?" tanya Abian.
"Dari hasil yang keluar sedikit mengecewakan Abian." jawab dokter Hasan.
__ADS_1
"Maksud Paman apa? memangnya ada apa, paman?" tanya Abian yang mulai menunjukkan takut jika ada sesuatu yang akan terjadi.
"Dari hasil yang keluar menunjukkan kemungkinan besar kau akan susah mempunyai keturunan." jawab dokter Hasan.
"Apa maksudmu, Paman?" tanya Abian.
"Ada sesuatu yang menunjukkan sebuah hasil yang sangat mengejutkan," jawab dokter Hasan.
"Tolong katakan sesuatu, paman. aku semakin bingung?" tanya Abian kepada dokter Hasan.
"Sebenarnya masalahmu tidak terlalu berat, tapi yang harus kau tahu adalah kalau hasil dari pemeriksaan itu kalau ****** milikmu tidak bisa membuai sel telur." jawab dokter Hasan.
DEG...
Abian benar-benar sangat terkejut dengan informasi yang diberikan oleh dokter Hasan, hatinya begitu kecewa sakit hati itulah yang terjadi. Abian menatap istrinya, mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin dia terima kali ini.
"Tapi Paman, Kenapa harus seperti ini?" tanya Abian.
"Kamu harus bersabar Abian." ucap dokter Hasan.
"Aku tidak tahu, tapi kenapa aku harus terus menerima cobaan seperti ini. Apa salahku Kenapa aku harus mendapat cobaan sebesar ini." ucap Abian.
Abian menatap istrinya dengan tatapan mata yang begitu sedih. "Lalu, Apakah kau tidak akan kecewa dengan kondisiku ini?" tanya Abian kepada sang istri.
"Kenapa aku harus kecewa, kenapa aku harus kecewa dengan semua kondisimu itu? kamu adalah suamiku, kita berdua menjalani kehidupan bersama untuk apa aku harus kecewa. untuk apa aku harus menolak semua yang digariskan oleh Tuhan untuk kita?" tanya Naura yang membuat Abian sedikit lega.
Ketakutan atas jawaban itu membuat Abian berpikir kalau istrinya akan menolaknya, namun ketika Naura mengatakan hal itu sedikit demi sedikit perasaannya semakin membaik.
"Terima kasih ya Paman atas semua informasinya, kalau begitu aku harus segera kembali dan aku minta tolong kepada Paman untuk melakukan sesuatu kepada kami." ucap Naura.
"Tentu saja Paman akan mengusahakan yang terbaik untuk kalian berdua, yakinlah dan selalu berdoalah kepada Allah agar kalian mendapatkan hidayah yang sangat luar biasa." jawab dokter Hasan.
Sesaat kemudian terlihat Abian benar-benar begitu pilu, hatinya hancur bagaikan dihantam oleh ribuan batu besar.
"Mas!" Panggil Naura.
Abian menoleh, pria itu tersenyum sembari menatap sang isteri. "Ada apa?" tanya Abian kepada Naura.
"Mas percayakan padaku? Apakah Mas Abian berpikir kalau aku akan meninggalkan Mas Abian karena hal ini?" tanya Naura.
Abian benar-benar begitu sedih dengan semua yang diucapkan oleh istrinya. Bukan maksudnya untuk mengatakan hal itu namun kekecewaannya pada dirinya sendiri benar-benar membuat Abian hancur.
__ADS_1
"Apakah kamu bisa menerima keadaan Mas yang seperti ini?" tanya Abian.
"Memangnya Mas Kenapa? Apakah Mas mempunyai kekurangan?" tanya Naura.
"Tentu saja Mas mempunyai kekurangan, Mas mungkin tidak akan bisa memberikan keturunan padamu." jawab Abian.
"Apakah mas yakin? Apakah Mas adalah Tuhan? kenapa mas harus melakukan hal itu, apakah Mas ingin menyakitiku dengan mengatakan hal itu ataukah Mas ingin meninggalkanku?" tanya Naura yang membuat Abian benar-benar sangat sedih.
Pria itu tiba-tiba memeluk istrinya, meneteskan air matanya yang benar-benar begitu berat.
"Kita jalan-jalan ke wahana bermain Yuk." pinta Naura.
"Untuk apa?" tanya Abian.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu sama Mas." jawab Naura.
Akhirnya sepasang suami istri itu pergi ke wahana permainan, sekitar satu jam kemudian mereka sudah sampai. mereka memasuki tempat itu dan duduk di salah satu taman yang ada di tempat itu.
"Lihatlah Mas, Lihatlah orang-orang itu." ucap Naura.
"Ada apa?" tanya Abian.
"Lihatlah orang-orang di sekeliling kita, tidak semua orang bersenang-senang dengan anaknya. Tidak semua orang sedih dengan semua keadaannya, kita baru menerima berita seperti ini. lalu Mas sudah sedih, jika memang kita tidak dianugerahi keturunan Apakah tidak boleh jika kita mengambil seorang anak yang pantas kita berikan kebahagiaan." ucap Naura.
Sekali lagi Abian menatap istrinya, wanita muda itu benar-benar sangat luar biasa. Abian mulai bersemangat, dia melihat anak-anak kecil yang berlari di wahana permainan itu.
"Kamu Benar Sayang, asalkan kita bersama cobaan sebesar apapun akan kita hadapi. Jika Tuhan berkehendak kita tidak mempunyai keturunan kenapa kita tidak mengadopsi bayi-bayi Malang yang tidak mempunyai kebahagiaan." ucap Abian.
Naura tersenyum, wanita itu menatap sang suami yang terlihat begitu menyedihkan. sakit itulah yang dirasakan oleh Abian ketika dirinya harus menerima cobaan sebesar itu, namun Naura selalu bertekad untuk tidak membiarkan suaminya merasakan penderitaan untuk yang kedua kalinya.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Janji di bawah rembulan
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatanmu
__ADS_1