
Kondisi hari ini benar-benar sangat kacau, sepasang suami istri itu tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. perasaan cinta itu memang masih ada namun sebuah keraguan muncul ketika kondisi benar-benar sangat tidak memungkinkan. dikatakan sebagai cobaan namun entah mengapa cobaan itu benar-benar tidak pernah kunjung habis juga.
Tuan Teguh mengajak Abian Kembali ke tempat mereka, dia harus melakukan sesuatu untuk membuat kondisi ini tidak terlalu menggemparkan. dalam sebuah kepenatan Hati Seorang Istri dicoba oleh sebuah kebohongan.
Ketika di perjalanan pulang Abian benar-benar harus memikirkan apa yang akan terjadi dengan rumah tangganya, berita itu menyebar dengan begitu cepat. keluarga Pak Anggoro harus merasakan pahit dari semua berita yang sudah menyebar itu.
"Bagaimana kondisi Naura, Bu?" tanya Pak Anggoro kepada Bu Lena.
"Bapak bisa menebaknya sendiri kan, apa yang akan terjadi kepada seorang istri jika mendapatkan berita seperti ini." jawab Bu Lena.
"Apakah Ibu percaya dengan Putra ibu?" tanya Pak Anggoro.
"Ibu tidak mempunyai keraguan sama sekali dengan Abian, Pak. Lalu apakah Bapak meragukan putra Bapak?" tanya Bu Lena kepada Abian.
"Aku tidak akan pernah meragukannya, namun berbeda jika yang melakukan hal itu adalah Akbar mungkin Ayah akan memikirkannya kembali." ucap pak Anggoro.
"Mengapa orang baik selalu diuji seperti ini, apakah ujian kehidupan Abian akan terus terjadi. mereka baru mendapatkan kebahagiaan saat mereka mengambil bayi malang tersebut. Lihatlah sekarang mereka harus mendapatkan ujian seperti ini, memang wanita itu benar-benar tidak tahu diri." ucap Bu Lena.
"Tenanglah Bu, aku dan Pak Teguh sudah menyelidiki mengenai masalah ini. kamu tenang saja kamu tidak boleh berpikiran buruk mengenai apapun, kami berdua akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan bukti-bukti mengenai kejadian waktu itu. aku tidak akan pernah mencurigai Abian seperti apapun karena aku tahu bagaimana Putraku itu. jadi yakinlah dengan Putra kita kalau dia tidak akan menjadi pria brengsek seperti Akbar." jawab Pak Anggoro.
"Heh..," laan nafas Pak Anggoro pria itu benar-benar tidak akan memikirkan kalau Abian adalah pria tidak bertanggung jawab.
Di tempat lain tentu saja Akbar benar-benar sangat bahagia dengan semua kabar yang akan membuat saudaranya itu hancur, Akbar bahkan membuat sesuatu agar Abian semakin terpuruk dengan semua kejadian hari ini.
Keesokan hari Abian sudah kembali ke rumahnya, pria itu menatap rumah yang penuh canda tawa itu terlihat sekarang sudah sepi langkah kaki Abian berjalan memasuki rumahnya dia yakin kalau dia tidak pernah melakukan apapun kepada Wilona.
Mbok Asih yang sedang menyiram tanaman di luar, wanita tua itu melihat Abian sudah kembali bersama dengan Pak Teguh.
"Assalamualaikum, mbok." Abian memberi salam kepada Mbok Asih.
Wanita tua itu menoleh, menatap Abian yang baru kembali dari luar kota. tak ada pertanyaan dari Mbak Asih namun wanita itu langsung memeluk Abian dengan begitu erat.
__ADS_1
"Anak Mbok udah kembali ya." ucap Bu Asih.
Abian menganggukkan kepalanya, pria itu memeluk wanita tua yang selalu merawatnya dari kecil. "Di mana istriku, Mbok?" tanya Abian.
"Isterimu ada di dalam dia bersama baby Ilyas." jawab mbok Asih.
Abian berulang kali menata hatinya, menghembuskan nafasnya berulang kali kemudian memasuki rumahnya.
"Ada apa?"Naura tanya Mbok asih kepada Abian.
"Aku takut masuk ke rumah mbok, aku takut melihat kenyataan saat aku masuk ke dalam." jawab Abian.
"Kenapa? Apakah kamu benar-benar melakukan kesalahan itu?" tanya Mbok Asih.
Abian menggelengkan kepalanya.
"Masuklah, Abian. kalau kamu seperti ini berarti kamu bukanlah pria jantan, berarti kamu mengakui kalau kamu sudah melakukan kesalahan." ucap Pak Teguh.
"Assalamualaikum." Abian mengucapkan salam. tatapan mata Abian melihat sang istri duduk di ruang tengah bersama dengan baby Ilyas.
"Waalaikumsalam" jawab Naura sembari menoleh ke asal suara yang berseru. tatapan mata Naura menatap suaminya yang sudah berdiri di depannya, air mata Naura seketika mengalir wanita itu berdiri sembari menggendong baby Ilyas.
Langkah kaki Abian terasa terhenti, pria itu melihat istrinya yang menangis. tak ada suara hanya tangis yang pecah ketika Naura melihat suaminya sudah kembali. pelukan yang begitu hangat, tangis yang tertahan di dada Naura yang begitu berat.
"Maafkan aku, istriku. Maafkan aku...," ucap Abian.
Naura menggelengkan kepalanya, wanita itu menatap suaminya dengan tatapan mata yang begitu sendu.
"Aku yakin padamu mas, aku yakin kalau kamu bukan pria brengsek seperti itu." ucap Naura.
Kata-kata yang keluar dari mulut istrinya membuat Abian sedikit tegar, pria itu terlihat menatap sang istri bersama Putra angkatnya.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin menyakitimu, Sayang. aku tidak mungkin melukaimu seperti ini." ucap Abian.
Naura kembali menggelengkan kepalanya, wanita itu menatap sang suami kemudian memegang wajah suaminya. "Masuklah dahulu, mandilah Setelah itu kita makan. Putra kita sudah sangat merindukanmu, Mas." minta Naura yang membuat Abian langsung menganggukkan kepalanya.
Rasa lelah dan begitu sakit itu dapat terlihat dari wajah Naura dan Abian, namun mereka berdua berusaha untuk tetap tegar seperti yang diucapkan oleh Bu Rasti dan Bu Lena. kedua wanita tua itu yakin kalau Abian bukanlah pria seperti itu.
Sekitar satu jam kemudian Abian belum juga turun dari kamarnya, Naura memberikan baby Ilyas kepada Mbok Asih.
"Lihatlah suamimu dahulu, Mbok akan membuatkan bubur untuk baby Ilyas." ucap mbok Asih.
"Terima kasih ya Mbok." jawab Naura yang kemudian berjalan ke kamarnya. terlihat di sana Abian meratapi kehidupannya, pria itu menatap nyalang ke sebuah arah yang tidak diketahui.
"Mas." Panggil Naura
"Tidak ada jawaban dari mulut Abian, sesaat kemudian Naura kembali memanggilnya. "Mas..," Panggil Naura kembali sembari menyentuh pundak sang suami dengan lembut.
Akhirnya Abian tersadar dari lamunannya, pria itu menatap sang istri dengan begitu hangat. "Apa salahku sayang, kenapa Tuhan selalu memberikan aku cobaan terus menerus. Apakah aku tidak berhak bahagia? Apakah semua cobaan yang aku hadapi dari kecil itu tidak berarti? di mana letak kesalahanku hingga aku terus menerus mendapat cobaan seperti ini." ucap Abian.
Seketika Naura mendekati sang suami sembari memberikan pelukan yang begitu hangat kepada suaminya yang terduduk di ranjang. "Maafkan aku Mas Jika aku sempat meragukanmu, Maafkan aku jika sempat tidak percaya padamu. Maafkan Aku jika selama ini aku mungkin melukaimu, tapi aku yakin kamu bukanlah seorang pria yang akan mampu melukaiku secara sengaja ataupun tidak. aku yakin suamiku yang baik ini bukanlah pria seperti itu. Aku yakin pria yang menikahiku ini adalah pria yang bertanggung jawab." ucap Naura yang membuat Abian memberikan pelukan yang begitu erat kepada sang istri.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Janji di bawah rembulan
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatanmu
__ADS_1