
** Satu bulan kemudian **
"Selamat pagi!!" seru seorang wanita yang sedang berada di depan rumah Naura.
"Selamat pagi, anda siapa?" tanya Salah satu pembantu.
"Oya, tadi aku sudah mengatakan kalau aku ingin menemui majikan kalian. karena aku adalah istri dari partner kerja suaminya." ucap Bu Rasti yang sudah berada di rumah Naura.
Saat salah satu pembantu yang ada di rumah Abian ingin masuk ke dalam rumah, terlihat di sana Naura sudah keluar karena tadi bu Rasti sudah menelpon dirinya.
"Ibu!!" seru Naura yang melihat Bu Rasti sudah ada di depan rumahnya.
"Assalamualaikum, Naura!!" seru Bu Rasti.
"Waalaikumsalam." jawab Naura yang kemudian mempersilahkan Bu Rasti untuk masuk.
Hari ini Pak Farhan dan sang istri tidak ada di rumah, mereka berdua sedang menghabiskan waktu berdua untuk berbelanja Setelah Pak Farhan mendapatkan gajian pertama.
Setiap hari Naura dan Abian selalu membuat Pak Farhan benar-benar seperti di rumah orang asing, jika Bu Warni meminta sesuatu atau menyuruh salah satu pembantu maka para pembantu akan mengatakan wanita itu harus melakukan pekerjaannya sendiri.
"Aku seneng banget deh, karena Ibu mau mampir ke rumahku. masuk dulu Bu." pinta Naura.
Bu Rasti masih belum mengetahui kalau Pak Farhan dan Bu Warni tinggal di rumah Naura.
"Maaf ya Naura jika ibu tiba-tiba datang ke sini." ucap Bu Rasti.
"Tentu saja tidak apa-apa, Bu. aku malah seneng banget karena Ibu mau ke sini." jawab Naura.
"Ibu kira kamu akan marah karena Ibu berkunjung ke rumahmu." ucap Bu Rasti.
"Ya tidak mungkin dong Bu, malah aku seneng banget karena Ibu mau berada di rumahku." jawab Naura.
Tatapan mata dan kesederhanaan yang ditunjukkan oleh Bu Rasti benar-benar membuat Naura selalu merasa kalau dia adalah pengganti sosok ibunya. walaupun begitu buat nih adalah ibu kandung Naura.
"Ibu tadi sudah makan, belum? Kalau belum makan Ayo kita makan. Naura sudah mempersiapkan makanan kesukaan Ibu loh..," ucap Naura.
"Benarkan Naura, Apakah ibu tidak merepotkanmu?" tanya Bu Rasti.
"Ya tidak dong Bu, masak merepotkan." jawab Naura sembari tersenyum.
Sesaat kemudian terlihat Naura mengajak bu Resti untuk ke ruang makan dan makan bersama. salah satu pembantu datang menemui Naura dan mengatakan kalau hari ini Pak Farhan tidak akan pulang karena dia harus pergi ke suatu tempat.
"Ya sudah tidak apa-apa, bilang aja pada pria tua itu terserah mau melakukan apa. toh Dia adalah orang yang benar-benar tidak diperlukan di sini." jawab Naura.
__ADS_1
Bu Rasti sedikit terkejut dengan kata-kata yang diucapkan Naura, karena tumben sekali wanita sebaik Naura mengatakan kata-kata yang agak pedas seperti itu.
"Ada apa, Naura?" tanya Bu Rasti.
"Tidak apa-apa Bu, Hanya seorang pria yang selalu membuatku menderita." jawab Naura.
Langkah kaki Abian turun dari lantai 2 dan berjalan menuju ruang tengah.
"Di mana nyonyq kalian?" tanya Abian kepada salah satu pembantu.
"Nyonya ada di dalam, Tuan. ada di ruang makan bersama dengan tamunya." jawab Salah satu pembantu kepalanya Abian.
Abian berjalan menuju dapur dan ternyata di sana ada Bu Rasti yang sudah berkunjung.
"Bu Rasti, senang banget Ibu mau datang kemari!" seru Abian yang kemudian mendatangi Bu Rasti dan mencium tangannya.
"Ada apa mas?" tanya Naura.
Abian tersenyum saat kemudian pria itu menunjukkan sebuah informasi kepada istrinya.
"Mas yakin?" tanya Naura.
Abian menganggukkan kepalanya, dia ingin membuat istrinya bahagia dengan semua keputusannya karena sudah satu tahun lebih mereka menikah namun Naura selalu bersabar.
"Ini loh bu, sebenarnya...," ucap Naura.
"Ada apa?" tanya Bu Rasti.
Naura dan Abian sedikit terdiam, sesaat kemudian mereka bingung untuk mengatakan kepada bu Rasti.
"Tidak apa-apa jika kalian tidak mau mengatakannya." ucap Bu Rasti.
Naura mulai menceritakan mengenai kondisi suaminya kepada bu Rasti, tentu saja Bu Rasti benar-benar sangat syok melihat kondisi putrinya. Pak Teguh sendiri juga tidak bisa memberikan Bu Rasti keturunan namun Bu Rasti dengan begitu sabar dia selalu menjaga Pak Teguh.
"Ya Allah, kenapa engkau memberikan cobaan sebesar ini kepada putriku. Apakah dia harus merasakan kesendirian seperti diriku?" guman Bu Rasti dalam hati.
"Lalu, Kalian mau apa ke rumah sakit?" tanya Bu Rasti kepada Naura.
"Kami ingin mengadopsi seorang anak, Bu." jawab Abian.
"Lalu, Apakah kalian sudah membicarakan hal ini dengan orang tuamu, Abyan?" tanya Bu Rasti. wanita itu takut kalau orang tua Abian tidak memperbolehkan putranya mengambil bayi untuk diadopsi.
"Alhamdulillah Bu, Ibu menyarankan kami berdua untuk melakukannya. kami ingin memberikan sebuah kebahagiaan kepada anak itu." jawab Abian.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu..,Apakah boleh jika Ibu ikut dengan kalian?" tanya Bu Rasti.
"Boleh Bu, sebentar lagi orang tua mas Abian juga mau kemari. mereka juga akan ikut bersama kamu ke rumah sakit." jawab Naura.
Sekitar 30 menit mereka menunggu kedatangan Bu Lena, Pak Anggoro tidak bisa ikut karena dia harus memantau semua pekerjaan yang dilakukan oleh Akbar. pria itu tidak mau putranya menghancurkan perusahaannya kembali.
"Ayo sayang,!!" seru Bu Lena.
"Selamat siang jeng Lena!" seru Bu Rasti yang memanggil Bu Lena.
Tatapan mata Bu Lena menatap seorang wanita yang selalu bersama dengan dirinya dahulu, Seorang Istri pengusaha yang sering berkerja sama dengan pak Anggoro.
"Bu Rasti." jawab Bu Lena.
"Apa kabar bu, sudah lama ya kita tidak pernah bertemu." ucap Bu Rasti yang kemudian berjalan mendekati Bu Lena. setelah perbincangan mereka berdua akhirnya Abian dan Naura mengajak 2 wanita tua itu untuk pergi ke rumah sakit. Seperti yang dikatakan oleh dokter Hasan.
Sekitar 1 jam kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit tersebut, Abian dengan penuh semangat pria itu pergi ke tempat dokter Hasan. saat akan memasuki kantor dokter Hasan ternyata dokter Hasan sudah berada di depan pintunya juga.
"Paman." Panggil Abian.
"Abian, Naura. kalian sudah datang ya?" tanya dokter Hasan.
"Iya Paman, Bagaimana?" tanya Naura.
"Ayo masuklah dulu, sebentar lagi Paman akan mengajak kalian ke tempat anak itu." jawab dokter Hasan.
Naura dan dua wanita tua tersebut mendatangi sebuah ruangan. "Dia anak siapa, Paman?" tanya Naura.
"Seluruh keluarganya sudah meninggal, Naura. Tidak ada satu keluarga pun yang tersisa, sebelum ibunya meninggal Dia meminta Paman untuk merawatnya. Tidak mungkin kan karena Paman ini sudah tua tidak mungkin merawat bocah Malang ini." jawab dokter Hasan.
Seorang bayi yang mungkin berumur sekitar 6 bulan yang berada di ruang bayi tempat dokter Hasan. Naura sedikit tersenyum saat melihat bayi mungil yang menggerakkan tubuhnya tersebut.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Janji di bawah rembulan
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatanmu
__ADS_1