ISTERI KESAYANGAN TUAN BESAR

ISTERI KESAYANGAN TUAN BESAR
Sepasang suami istri tak tahu malu


__ADS_3

Abian yang berada di luar kamarnya nampak pria itu mendengarkan apa yang dibicarakan oleh istrinya dan ibunya, terlihat menantu dan ibu mertua itu benar-benar sangat cocok satu sama lain.


Berbeda di tempat lain terlihat seorang wanita menatap seorang pria yang ada di salah satu tabloid majalah bisnis. "Jadi dia itu suami dari Naura? wah ternyata pria itu tampan juga ya." ucap bu Warni yang melihat Abian berjalan menaiki anak tangga tadi.


Salah satu pembantu yang ada di tempat itu terus menetap gerak-gerik yang dilakukan oleh Bu Warni, Bu warni memang adalah wanita yang juga tidak tahu malu. Bagaimana tidak barusan tadi dia dipersilahkan oleh pemilik rumah untuk menginap di sana sekarang terlihat wanita itu seperti pemilik rumah itu.


"Dasar wanita tidak tahu diri." cibir salah satu pembantu.


"Ayo Kalian sedang membicarakan apa!" Abian yang mengejutkan ibu dan istrinya.


"Sudah ya Naura, Ibu mau keluar dulu. anak rese ini nanti bakal mengganggu Ibu." ucap Naura yang membuat Abian tersenyum.


Hari ini Naura akan sedikit beristirahat dengan semua kepenatannya dan rasa capek yang benar-benar sudah menyebar di tubuhnya.


Beberapa jam kemudian malam sudah tiba, Naura dan Abian sudah keluar dari dalam kamarnya menuju ruang makan. saat Naura dan Abian sudah sampai di ruang makan terlihat Naura menatap ayah dan ibu tirinya yang sudah berada di sana. tatapan mata Naura menatap Pria tua yang sudah menyakiti dirinya dari kecil, Naura menghela nafasnya begitu dalam. sesaat kemudian terlihat Naura duduk di kursi Bersama sang suami.


"Naura!"Panggil Pak Farhan yang berpura-pura begitu merindukan putrinya.


"Huff..," Naura memutar kedua bola matanya dengan begitu jenggah. begitu malas ketika wanita itu bertemu dengan ayahnya,.


"Naura, Kamu dari mana saja nak. Ayah sangat merindukanmu." ucap Pak Farhan yang berjalan ke arah Naura.


Naura hanya diam saja untuk saat ini, Wanita itu sudah bertekad akan membalas dendam kepada ayahnya dengan semua perlakuan yang dia berikan kepada Naura semenjak kecil.


"Naura Bagaimana kabarmu, sayang?" tanya Bu Warni yang ikut mendekati Naura.

__ADS_1


Senyum licik mulai ditunjukkan oleh Naura ketika ayah dan ibu tirinya itu memeluk dirinya, Naura melirik wajah sang suami dengan guratan kekesalan yang sangat dalam.


"Bisakah kalian tidak seperti orang miskin yang sangat heboh seperti itu, ini adalah kediaman orang kaya jagalah sikap kalian. sikap kalian ini benar-benar seperti makhluk miskin yang ada di jalanan." ucap Akbar yang membuat Naura sedikit tersenyum.


Ternyata mulut bom nuklir itu benar-benar sangat dahsyat, seketika Pak Farhan langsung menarik tangan sang istri untuk duduk. terlihat pria itu sedikit kesal sekaligus malu dengan kata-kata yang diucapkan oleh Akbar.


"Bisakah kamu menjaga mulutmu, Akbar?" tanya Pak Anggoro yang kemudian memasukkan makanan ke mulutnya.


Seketika Akbar terdiam, pria itu sangat tidak suka dengan kehadiran sepasang suami istri yang bersikap seperti pemilik rumah di tempatnya Abian dan Naura hanya diam saja, toh ingin membalas pun ada seseorang yang melakukannya. Naura hanya diam saja wanita itu meneruskan ritual makannya sembari menyenggol salah satu kaki suaminya.


Salahkan saja diri mereka sendiri karena mereka masuk ke area bom nuklir, tentu saja mereka akan terkena ranjau ketika mereka mendekati wilayah berbahaya alias mendekati Akbar. tak kata yang keluar dari ruang makan tersebut, semuanya makan dengan begitu lahapnya. begitu pula Pak Farhan dan istrinya mereka berdua makan seperti sudah tidak makan selama bertahun-tahun lamanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30. Naura dan Abian duduk bersama dengan mertuanya, mereka sedang bercanda gurau namun berbeda dengan Akbar yang sedang berada di taman belakang rumah.


"Di mana Mas Akbar Bu?" tanya Abian.


"Ya udah kalau begitu aku ke sana sebentar." ucap Akbar.


D ruangan itu hanya tertinggal Pak Anggoro, Bu Lena, Naura, Pak Farhan dan Bu Warni. sepasang suami istri tidak tahu diri itu mulai melaksanakan rencana mereka, terlihat kedua orang itu nampak sudah mulai berakting menangis. Dia mendekati Naura sembari memegang tangannya.


"Kamu dari mana saja sih nak, Ayah sudah lama mencarimu. kemana saja kamu Naura, ayah sangat khawatir padamu." ucap pak Farhan yang membuat Naura hanya tersenyum simpul.


Bukan senang yang ada di hati Naura, namun rasa kesal dan sakit hati yang ditutupi oleh senyum mematikan tersebut.


"Memangnya kenapa kamu melarikan diri dari rumah, Naura?" tanya Bu Lena yang berpura-pura tidak tahu. padahal Wanita itu sudah tahu semua rahasia yang dikatakan oleh Naura.

__ADS_1


"Iya nak, kenapa sih kamu pergi. Apakah kamu marah dengan ibu karena Ibu tidak menemanimu?" tanya bu Warni.


Dalam hati Naura ingin bertepuk tangan dengan semua akting yang dilakukan oleh ayah dan ibu tirinya itu, mereka berdua ini benar-benar pantas diberikan piala penghargaan yang sangat luar biasa.


Naura sengaja tidak mengatakan apapun seolah wanita itu takut kepada ayahnya, dia akan menunjukkan sesuatu dan akan memberikan pelajaran yang sangat luar biasa kepada ayahnya.


"Nanti aku harus segera kembali ke rumah, Ibu tahu kan di rumah masih banyak pekerjaan yang harus segera Aku selesaikan." ucap Naura.


Sebuah kata yang mengacu pada kekayaan, kata-kata yang diucapkan oleh Naura membuat Pak Farhan benar-benar begitu bahagia. pria itu mengira kalau dia akan segera menjadi orang kaya dan duduk tenang dengan menikmati semua kekayaan Naura.


"Sayang, Ibu sangat merindukanmu." ucap bu Warni yang terus berakting.


"Apakah kamu tidak ingin berbicara sebentar kepada ayah dan ibu, nak. ayah benar-benar mengkhawatirkan mu, ayah menyuruh orang untuk mencarimu sudah beberapa bulan lamanya Ayah tidak bisa menemukan keberadaanmu." ucap Pak Farhan yang terus berakting begitu sedih. bahkan pria itu meneteskan air matanya seolah dia benar-benar begitu sedih dengan kepergian Naura, Tentu saja pria itu sedih karena Naura tiba-tiba saja pergi sebuah keberuntungan untuk mendapatkan kekayaan itu akhirnya lenyap saat Naura melarikan diri.


Di taman belakang rumah megah itu terlihat Abian sedang berbicara dengan kakaknya, dua pria itu sedang membicarakan mengenai sesuatum tentu saja akan ada perdebatan yang sengit di antara mereka berdua karena Abian adalah yang mempunyai pendirian namun Akbar adalah tipe pria yang tidak mempunyai prinsip hidup sama sekali.


"Apakah kamu senang atau susah ketika aku sudah terbangun kembali, Abian?" tanya Akbar yang tiba-tiba. Hal itu membuat Abian sangat terkejut seolah kata-kata kakaknya itu mengatakan kalau Abian senang dengan kondisi kakaknya yang selama ini koma


"Kenapa mas mengatakan hal itu, tentu saja aku senang ketika Mas sudah terbangun dari tidur panjang yang selama ini menyakitimu." jawab Abian.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife

__ADS_1


- Janji di bawah rembulan


- Isteri kesayangan tuan besar


__ADS_2