
Waktu berjalan dengan begitu luar biasa, akhirnya sore itu Abian sudah kembali ke rumah bersama dengan Sandi dan sopir pribadinya. terlihat pria itu terus memikirkan kejadian yang tadi terjadi.
"Ada apa Tuan, Kenapa tuan dari tadi diam terus?" tanya Sandi.
"Tidak usah banyak tanya, Sandi. kepalaku lagi pusing." jawab Abian yang membuat Sandi langsung terdiam.
Akhirnya setelah itu Abian memutuskan untuk merehatkan pikirannya, menatap setiap detail otaknya yang sedikit mengalami guncangan yang luar biasa. baru saja menapakkan kakinya di tanah tatapan mata Abian tiba-tiba menangkap Naura yang sudah diantar oleh Patricio menggunakan sepeda motor. wanita itu tersenyum begitu cantik kepada Patricio, memberikan jabatan tangan dan pukulan lembut kepada pria itu.
Kedua bola mata Abian seketika melebar sempurna, menatap pemandangan yang ada di depannya pemandangan yang benar-benar membuatnya tidak bisa mengalihkan pikirannya sama sekali.
"Itu wanita lagi ngapain? berani sekali dia melakukan hal itu, apa dia lupa kalau dia itu adalah istriku." guman Abian dalam hati yang terus menggerutu tidak karuan. sikap gengsi Abian masih tidak mau memperjelas status Naura ataupun mengatakan kepada publik. langkah kaki Naura memasuki pelataran rumah besar itu, taman depan rumah yang begitu dipenuhi pepohonan dan bunga. Langkah kaki ringan Naura berjalan memasuki tempat itu, sesaat kemudian tatapan mata Abian menatap Naura dengan begitu tajam.
"Kamu benar-benar tidak punya sopan santun ya." ucap Abian.
Naura menghentikan langkahnya, menatap Abian yang sudah mengatakan hal itu. "Apa yang sudah aku lakukan, Tuan?" tanya Naura.
"Kau dari mana saja?" tanya Abian dengan nada suara yang sedikit kesal.
"Dari perusahaan, Tuan." jawab Naura.
"Ke mana lagi?" tanya Abian yang sedikit menyelidik.
"Dari perusahaan, Tuan." jawab Naura dengan jawaban yang sama.
"Tidak mungkin kan kalau dari perusahaan pulang sore seperti ini?" tanya Abian yang tidak percaya dengan perkataan Naura.
"Bagaimana lagi tuan, siapa yang tadi memberikan pekerjaan double padaku." jawab Naura yang seolah mengatakan kalau dia bekerja sedikit mundur karena kesalahan Abian.
"Bukankah seharusnya kau pulang jam 4 tadi, Naura?" tanya Sandi.
"Iya Mas, tadi ada salah satu bagian kontrol yang mengatakan kami harus lembur karena ada sedikit kendala di bagian karyawan. kami harus melakukan peninjauan ulang." jawab Naura.
"Dasar, kamu cari alasan saja. Bilang aja kalau kamu itu mau jalan-jalan sama tuh cowok." cibir Abian yang mulai mengatai Naura kalau dia itu pembohong.
__ADS_1
"Dengar ya Tuan besar, walaupun saya ini adalah wanita yang terperangkap dalam kehidupan ini tapi saya masih mempunyai etika, walaupun saya ingin mencari seorang pria itu tidak apa-apa kan? toh saya ini masih single masih muda jadi sah-sah saja kan Kalau saya mencari kekasih." jawab Naura yang kemudian langsung meninggalkan Abian.
Sandi dan Abyan saling menatap satu sama lain, tentu saja mereka berdua saling tahu apa yang ada di pikiran mereka berdua. karena sebenarnya kebenarannya adalah Abian adalah suami Naura namun seorang pria yang begitu tidak akan mengakui Naura sebagai istrinya.
"Lihatlah Sandi, Wanita itu benar-benar sangat kurang ajar. dia berani sekali mengatakan hal itu padaku." ucap Abian sambil menunjuk Naura yang sudah pergi meninggalkannya.
"Tentu saja Tuan, dia kan tidak tahu kalau dia istrimu." jawab Sandi yang seolah kalau dia itu juga ingin mengejek Abian.
"Kamu ingin menghinaku, sandi?" tanya Abian.
Seketika Sandi menggelengkan kepalanya, dia tidak akan berani untuk menentang bosnya tersebut. langkah kaki Naura dan Abian sudah memasuki rumah itu, Naura terlebih dahulu memasuki sebuah tempat yang tidak lain adalah istana mewah milik Abian. tatapan mata sepasang suami istri menatap seorang wanita yang barusan masuk ke dalam rumah putranya.
"Apakah mungkin dia adalah wanita itu, sayang?" tanya ayah Abian yang bernama Anggoro Sebastian dan ibunya bernama Milena craf.
"Kemungkinan besar Iya, karena di sini tidak ada lagi wanita muda kan kecuali dia?" tanya Pak Anggoro kepada istrinya.
Seketika bu Lena langsung menganggukkan kepalanya sembari tersenyum begitu puas. "Dia sangat sempurna, mudah cantik tubuhnya sangat perfect dan kemungkinan besar otaknya itu juga pintar loh.., pak." ucap Bu Lena yang terlihat menatap suaminya.
"Sudah-sudah, kita sembunyi dahulu jika sampai putramu itu tahu kita kembali tanpa mengatakan sesuatu padanya bisa-bisa taringnya muncul, apalagi tanduknya itu..,taring dan tanduk sama-sama menakutkan." ucap pak Anggoro yang kemudian menarik istrinya untuk masuk ke dalam kamar mereka.
"Sandi, ambilkan aku air hangat, makanan hangat dan jangan lupa ambilkan aku es untuk mengompres kepalaku!!" seru Abian.
"Buat apa bos?" tanya Sandi kepada majikannya itu.
"Aku mau menenggelamkanmu dengan bebatuan dingin itu." jawab Abian dengan nada suara yang benar-benar sangat kesal.
Tentu saja Sandi langsung pergi ke dapur untuk meminta salah satu pembantu untuk mempersiapkan segala sesuatu buat Abian. sekitar 30 menit kemudian Naura sudah keluar dari kamar yang ada di ruang pembantu.
"Lagi ngapain Mas?" tanya Naura kepada Sandi.
"Lagi nungguin masakan." jawab Sandi.
"Nggak mandi dulu Mas?" tanya Naura kembali.
__ADS_1
"Iya, ini aku mau mandi." jawab Sandi yang kemudian pergi ke tempatnya sendiri.
Sekitar satu jam kemudian terlihat suasana yang ada di rumah itu begitu sepi, sesaat kemudian suara teriakan tiba-tiba terdengar dari sebuah ruangan.
"Aaaa!!!" terdengar sebuah teriakan dari seorang wanita dari salah satu ruangan. Naura yang ada di dapur seketika dia langsung terkejut, beberapa pembantu yang ada di rumah itu tentu saja sangat paham dengan suara teriakan itu, suara teriakan dari wanita nomor satu.
"Siapa itu bi?" tanya Naura kepada salah satu pembantu.
"Sebentar lagi pasti terjadi perang dunia." jawab bibi pembantu.
"Memangnya siapa sih Bi?" tanya Naura kembali.
"Ayo ikut aku." jawab bibi pembantu yang kemudian menarik tangan Naura.
Langkah kaki pembantu tua dan Naura sudah berada di salah satu ruangan, terlihat mereka menatap sepasang suami istri yang ada di rumah tersebut.
"Siapa dia Bi?" tanya Naura kepada bibi pembantu.
"Dia adalah orang tua dari tuan besar." jawab bibi pembantu.
Naura menatap sepasang suami istri yang sudah tua tersebut. "Pantas saja Pak beruang mukanya sangat berbeda ya, karena salah satu orang tuanya adalah bule." ucap Naura.
Bibi pembantu nampak tersenyum saat mendengar perkataan Naura. "Sudah-sudah lebih baik kita pergi dari sini, jika tidak Nanti Tuan besar ngamuk." ucap bibi pembantu.
"Ayah, Ibu. kenapa kalian di sini?" tanya Abian saat melihat kedua orang tuanya sudah berada di rumahnya.
"Memangnya kenapa kami tidak boleh di sini?ini kan rumah Putra kami." jawab Pak Anggoro yang terlihat berusaha untuk membuat pembicaraan senormal mungkin.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
__ADS_1
- Janji di bawah rembulan
- Isteri kesayangan tuan besar