
Sesuai dengan keinginan Amel yang ingin pulang ke Bandung jadi mereka bersiap.
Amel, Satria, kedua orang tua Satria ,Akira, keluarga Hikaru, Hana, Keenan, Farah, Mak Siti ,dan juga Zira.
Mereka sampai di perkampungan yang asri. Mak Siti melirik ke arah Amel dan benar saja Amel terlihat sedih dan kini mereka sampai di rumah sederhana namun terlihat asri, rumah peninggalan orang tua Amel dan juga disampingnya rumah sang bibi juga yang kosong.
Sejenak Amel mengedarkan pandangannya sekeliling,bunga-bunga hasil kerja keras dirinya juga sang bibi tumbuh dengan begitu indah.
" Mel... " suara panggilan Mak Siti mengembalikan kesadaran Amel. dari lamunannnya.
" I.. Iya mak, a da apa? tanya Amel terbata.
" Kalau nggak sanggup, kita tidur di rumah emak yaa? kata Mak Siti
" Nggak papa Mak, Amel harus berusaha melawan nya mak "ujar Amel
" Sayang are you oke.. kalau kamu tak sanggup jangan paksakan takutnya kepengaruh juga sama kandungan kamu " ucap Satria mengingatkan keadaam Amel sekarang.
" Aku nggak papa, selagi ada abang sama aku kan? kata Amel menyemangati dirinya sendiri.
" Ya sudah... ucap Bismillah.. kita masuk ya nak? kata Mami yang juga sedang khawatir
__ADS_1
" Iya mami.. ayo..!! ucap Amel dengan nada lembut Amel melangkah pelan dan tangannya di dalam genggaman Satria dengan erat Amel menautkan kemarinya pada jemari sang suami.
Clek...
Amel melangkah masuk ke dalam rumah dimana dia dulu tumbuh jadi gadis cilik.
Memori indah pada waktu kedua orang tuanya masih ada melayang indah di benak Amel.
Dia melangkah ke dalam ruang tamu yang masih tertata rapi karena memang Mak Siti menyuruh orang untuk membersihkan dua rumah itu.
Amel terpaku pada bingkai foto yang terpasang indah di dinding ruangan tamu itu.
" Gandhi...!! gumam mami dan juga papi Satria mereka saling pandang dan melangkah mengekori Amel.
Kamar sederhana,hanya ada tempat tidur Sederhana dan lemari kayu dan meja rias disana.
Mami Fitri tiba-tiba menitikan air mata ,dan itu di sadari Amel.
" Mami.., mami kenapa? apa ada sesuatu yang membuat mami sedih? tanya Amel penasaran
" Sini nak... mami mau peluk kamu" mami meminta Amel mendekat dan benar saja suasana disana terlihat haru apalagi mami Fitri yang sampai menangis sesegukan
__ADS_1
" Udah lah mi, mungkin ini takdir yang terbaik" ucap papi Rezvan dan membelai sayang rambut sang istri
" Kenapa mami nggak sadar kalau nama ayah kamu Gandhi Wirawan? Mas Gandhi.., mas...!! ucap Mami Fitri dan Papi Rezvan langsung meraih tubuh istrinya di dekapnya tubuh yang kini bergetar karena menangis
" Mami sama papi kenal ayah, dimana? tanya Amel serius
" Ayah kamu adalah teman kuliah kita, dia orang cerdas Mel sampe suatu hari dia di usir oleh ayahnya karena tidak mau menerima perjodohan dengan anak rekan bisnisnya.. dan kita tak tau dia pergi kemana, dia menghilang begitu saja, kami sudah berusaha mencari ayah kamu tapi, ternyata dia sudah tiada... namun mami bersyukur kamu adalah putri Gandhi sahabat kami " jelas mami Fitri dan mencium bertubi-tubi pucuk kepala Armel.
" Berarti mami sama papi tahu keluarga ayah? tanya Amel dan mertuanya pun mengangguk
" Ya Allah.. apalagi ini, apakah aku harus mulai mencari tahu keluarga ayah yang berarti juga mereka adalah keluarga ku, walau mereka belum tau" batin Amel termenung
" Jangan pikir macam-macam, kita ikuti alurnya aja.. kalau nanti kamu perlu kenal mereka kita akan berusaha, tapi.. jika kamu belum siap pun tak masalah.. " ucap Satria dengan nada lembut mengusap punggung Amel.
" Sekarang kita istirahat, Hanna sama Zira ,Akira ke rumah Mak Siti,tadi Abi sama keluarganya ke Villa milik Abi.. "terang Satria.
" Itu lebih baik bang, jadi kita bisa istirahat dengan leluasa,karena disini cuma dua kamar..rumah bibi juga ada dua kamar, kalau di rumah mak Siti ada tiga kamar " jelas Amel dengan terperinci
" Sudah kita istirahat kamu lelahkan? kasihan dedek bayinya.. kalau mommy nya kecapean, harus istirahat. " ujar Satria merangkul tubuh Amel dan membawanya ke dalam kamar milik Amel.
Selama Amel dulu tinggal di rumah bibinya memang rumah mendiang orang tuanya di sewakan, namun kamar Orang tuanya tetap tak di pakai,hanya kamarnya saja yang di di bolehkan di tempati,kebetulan dulu yang sewa hanya sediri, warga pendatang.
__ADS_1
Bersambung