
Sejak Amel bertemu dengan nyonya Dewi ,rasanya Amel begitu gelisah.. dia merasa bersalah dengan keadaan sang kakek yang sekarang sedang terbaring lemah di Rumah Sakit.
" Sayang, ada apa? ada yang sakit? tanya Satria memastikan bahwa sang istri baik-baik saja.
" A.. aku.. abang, kenapa aku merasa bersalah..aku merasa sama seperti mereka, aku jahat ..hiks hiks."
Amel dengan nada lirih namun tersirat kesedihan yang mendalam namun tiba-tiba dia. menangis dalam pelukan Satria.
"Jika kamu mau lebih tenang hati kamu, abang cuma mau bilang sama kamu supaya ikhlas, lepaskan rasa dendam kamu,rasa.kecewa kamu, pada mereka... bagaimana pun mereka satu-satunya keluarga mu sekarang, dan kamulah satu-satunya keluarga kandung mereka, walaupun sekarang ada Marlin menjadi cucu angkat mereka, tapi.. itu tidak sama dengan pengakuan seorang cucu kandung.. "
Satria mencoba memberikan pengertian pada sang istri,Satria membelai punggung sang istri. yang sekarang sedikit lebih tenang.
" Abang, apa kamu mau menemani aku buat
temuin mereka?
Satria tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya tanda setuju. Amel. mengusap sisa airmata di wajahnya.
" Kita kesana sekarang, tapi.. Amel nggak tau. kamar berapa Kakem dirawat. "
Ujar Amel sambil menundukkan wajahnya.
" Abang tau, sekarang kamu cuci muka dan kita temui kakek juga nenek. "
Amel mendengar penuturan suami langsung beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah masuk kamar mandi membasuh wajahnya.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di depan kamar dimana kakek Wirawan yang sedang terbaring lemah di dalam sana.
Satria dengan cepat mengetiuk ruangan itu dan ternyata yang membuka pintu ruang rawat itu Marlin.
Sempat Marlin seperti kaget dengan kedatangan Amel dan juga Satria ke -ruang rawat kakeknya.
Amel mengekori sang suami yang masuk terlebih dahulu kedalam ruangan itu.
Terlihat Zakia dan nyonya Dewi sedang membujuk Pak Agubg untuk makan namun menolaknya.
"Ayolah kek.. biar cepet sehat,nanti kita akan bisa ketemu sama cucu kakek"
Terdengar suara Zakia yang sedang membujuk agar sang kakek makan.
" Buat apa aku sembuh, cucu ku sendiri tak menganggap ku dan memaafkan kesalahan ku dimasa lalu"
__ADS_1
Ungkap kakek Wirawan dengan suara lemah.
" Apa anda tidak ingin melihat cicit anda lahir tuan??!
Amel dengan langkah mantap menuju arah dimana sang kakek terbaring tak berdaya.
" Amel...!! " seru ketiga orang yang sedari tadi fokus dengan sang kakek.
" Iya ini saya, kenapa bisa sakit seperti ini? apa yang akan saya ucapkan sama ayah saya yang sekaligus anak anda jika menanyakan keadaan anda ? anda nggak mau mati alam penyesalan kan? maka.. makanlah,abis itu minum obat "
Amel terus mengomel, walau dengan nada kasar namun.. dua orang tua yang memandang intens ke arah Amel malah tersenyum melihat keketusam sang cucu.
" Sini biar aku aja yang suapin kakek keras kepala ini"
Amel meminta piring yang ada di tangan Kia dan mulai menyuapisang kakek dengan telaten.
" Kamu...
" Jangan banyak tanya, saya kesini akan memastikan sendiri kesehatan anda, kenapa harus sifat keras kepala anda yang di turunkan untuk saya, Haisshhh.... sudahlah jangan harap anda lebih lama tidur disini, anda harus cepat sembuh karena hari minggu nanti, anda harus datang di acara tujuh bulanan bayi yang ada di perut ini.. "
Amel terus berceloteh mengatai sang kakek, namun tangannya aktif dengan memasukkan makanan ke dalam mulut sang kakek, tentu saja tuan Wirawan dengan senang hati menerima nya walaupun sang cucu rerus ngoceh.
Nyonya Dewi yang melihat kejadian itu hanya bisa menangis haru, karena cucunya mau menjenguk sang suami yang sangat memprihatinkan.
Tak lama berselang seorang Dokter spesialis jantung masuk ke dalam ruangan itu.
" Ada... Tuan muda maaf ada yang bisa saya bantu?
Tanya dokter yang bernama Lena dengan senyuman manisnya mengarah ke Satria.
" Itu istri saya yang memanggil anda kesini
Satria yang mendapat tatapan tajam dari Amel tahu maksud nya.
" Oohh.. dr. Amel ada yang bisa di bantu?
Dr Lela melangkah mendekati Amel,dan menanyakan keperluannya.
" Tolong periksa kakek saya.. "
Mendengar penuturan Amel semua mata melihat kearah nya dengan perasaan lega.
__ADS_1
" Ayo.. cepat dok? kenapa? cepat lakukan yang terbaik
Kini Satria yang mulai bicara, dan mbuat Lela. cepat-cepat melakukan perintah Satria.
Setelah selesai dengan pemeriksaan Satria dan Amel melihat rekap medis yang diserahkan oleh Dr. Lela.
" Nak... maafin kakek, atas semua kesalahan yang kakek buat pada kedua orangtuamu juga kamu nak"
Kakek Wirawan dengan suara lemah meminta maaf pada Amel yang sekarang duduk di sisi brangkar dan Satria setia disampingnya.
" Kalau aku belum memaafkan maka aku nggak akan disini, aku ingin berdamai dengan masa lalu, dan meng ikhlaskan semuanya, jadi aku minta kakek juga nenek mintalah ampun sama Allah dengan sungguh sungguh,tolong doakan selalu kedua orang tuaku disetiap sholat kalian.
Amel dengan nada lembut juga mengungkapkan apa yang dia rasakan.
" Jadi,boleh nenek peluk kamu nak..?
Pertanyaan sang nenek membuat Amel mendongakkan wajahnya melihat wajah suamunya dan terlihat anggukan kepala Satria tanda mengiyakan
Akhirnya begitu lama momment itu di tunggu oleh dua orang yang sekarang sudah tak lagi muda, mereka memeluk Amel dengan tangis haru,Satria hanya bisa mengusap punggung Amel menenangkan sang istri.
Sementara Marlin dan Kia melihat kejadian itupun tak dapat menahan air mata mereka. dan ikut larut dalam haru biru keadaan yang sekarang terjadi.
Setelah menyalurkan kerinduan kakek nenek nya dan mereka menanyakan kehamilan Amel, dengan senang hati Amel menceritakannya dan dia juga bercerita jika kehamilan Amel bukan lah yang pertama namun kedua karena keguguran.
" Terus anak yang sama kamu di taman kemarin siapa Mel?
Nenek Wirawan ingat saat di taman dia melihat Amel bersama seorang AbG yan ada di kursi roda.
" Ohh... itu anak angkat ku Nek.. tepatnya kami, anak angkat aku sama mas Abi mantan suamiku, dan sekarang aku menikah dengan Satria maka Hanna adaah anak kami.
" Amel, orang tua Hanna itu...
" Hemmmm...kamu perlu istirahat sayang, kita balik ke kamar Hanna ya.. biar Abi sama Zi istirahat "
Sebelum Kia meneruskan omongannya Satria,dengan cepat memotong omongannya dan mengajak Amel kembali ke kamar Hanna.
" i.. iya bang.."
Amel menjawab dengan sedikit bingung dengan sikap sang suami yang tiba-tiba berubah, Satria menatap tajam Zakia .
" Ada apa sebenarnya dengan kalian? "
__ADS_1
Pertanyaan itu yang berkecamuk dalam hati Amel sekarang, ada rahasia apa lagi sebenarnya?? Haruskah Amel mulai menguatkan hati untuk kecewa?
Bersambung.