
Sekian lama perjalanan menuju tempat dimana Amel dan para relawan kemanusiaan akan di tempatkan begitu melelahkannya perjalanan itu, Amel tak membayangkan akan seberat itu perjalanan mereka.
" Dr. Amel are you okey? " Satria melihat Amel yang terlihat pucat.
" Emmm... cuma sedikit pusing saja Dok" jawab Amel ramah
" Tapi, muka kamu yang tidak terlihat kamu baik-baik saja" ungkap Satria
"Dr. Amel sakit? " tanya Dokter Melissa yang memang senior diantara para relawan
" Sedikit pusing aja kok dok" ucap Amel dengan senyum terpaksa
" Perjalanan kita masih jauh dan butuh waktu lama, Dr yakin masih kuat? " tanya Dr Nyoman
" Yakin Dokter.. " jawab Amel
Perjalanan mereka sampai disebuah perkampungan yang memang terdapat barak pengungsian disana.
" Ayo Dr. Amel kita sudah sampai" ucap Dr Melissa.
" Disini Dok? "tanya Amel melihat sekitarnya
" Iya disini, kenapa Dok? " Dokter Melissa faham akan sikap Amel. yang memang baru pertama kali melakukan kegiatan seperti menjadi relawan.
" Kenapa... kamu pikir kita akan tinggal seperti di hotel gitu, hadeuh... kalau mau jadi relawan pikir baik-baik harus siap fisik dan juga mental, jangan cuma mau enak, disini kamu bantu orang bukan untuk liburan " ucap Satria tanpa difilter
" Sat... lo nih, kasihan lah Armel, maaf dokter Armel saya panggil Armel saja karena saya rasa Dr Armel paling muda dari kita kan? " kata Nyoman dengan seyum ramah.
" Nggak papa Dok itu lebih baik, panggil saja saya Amel saja ,nggak masalah buat saya kok" ucap Amel dengan sedikit canggung
" Baiklah kamu bisa panggil saya Kak Lisa , trus Nyoman biasa di panggil Bli Nyoman kalau Satria terserah kamu Mel tanya aja dia,sekarang kamu ikut saya biar kamu satu barak sama saya aja nanti biasanya juga Nyoman sama Satria " ucap Lisa menggandeng tangan Amel ke barak yang akan mereka tempati.
Di Barak itu tersedia dua ranjang single yang terlihat alakadarnya dan juga lemari kecil.
" Mel, kalau seandainya Satria ngomong nya sedikit nyakitin hati, kamu jangan masukin dalam hati, dia memang begitu ..tapi, sebenarnya dia orang baik dan juga cerdas.. cuma yah, orangnya frontal nggak mau basa basi " ucap Lisa sambil merapihkan tasnya.
" Kakak sudah lama jadi relawan? "
__ADS_1
" Lumayan, sudah sepuluh tahun "
" Kalau Bli Nyoman? "
" Nyoman sama, kita satu angkatan, dan Kalau Satria sudah sekitar 6 atau 7tahunan lah.. "
" Kak, kita kalau mandi dimana? "
" Ada diluar, tapi... kita harus cepat soalnya kita kamu bukan di rumah sendiri ,semua di jatah.. " ucap Lisa
" Tolong bantu Amel ya kak, soalnya kan... Amel baru jadi, belum ngerti juga.. " ucap Amel dengan penuh harap
" Tenang saja sekarang kamu ikut saya, kita akan cek persediaan obat-obatan juga semua yang dibutuhkan waktu kita disini" ucap Lisa dan Amel mengikuti semua arahan yang Lisa arahkan.
Amel mengecek daftar obat dan peralatan medis yang di butuhkan selama per tiga bulan.
Dia harus benar-benar memperhitungkan semua stok barang yang ada di tempat penyimpanan, Saat dia melihat stock kantong jenazah dia harus naik dengan tangga karena tak bisa kalau di periksa dari bawah, sementara dia ada dilorong yang tak ada seorang pun bersamanya .
" Hufttt.. tinggo banget lagi,Amel ..kamu harus bisa... Samangat..!! " Amel menyemangati dirinya sendiri
Sedangkann tanpa sepengetahuannya Satria sedang bersandar di salah satu rak yang menyimpan obat-obatan tersenyum melihat tingkah Amel yang menurutnya kekanakan.
Sialnya dia sepatunya licin dan tubuhnya Oleng
" Aaaaaaa" Teriak Amel saat tubuhnya terhempas ke bawah
Namun dia merasa aneh, karena tubuhnya tak merasakan sakit sama sekali.
" Kok, nggak sakit yaa.. apa aku sudah mati? " gumamnya heran
" Bisa nggak cepet menyingkir dari badan gw ...!! " seru seseorang membuat Amel membeku.
" Heiii.. bocah, turun..!! badan gw sakit ketiban badan lo..!! " serunya lagi.
" Hahhh... Dr. Sat.. Satria... Upsss sorry?? !!
Ternyata Amel menimpa tubuh Satria, karena Amel tergelincir dari tangga saat itu Satria dengan cepat ingin menangkap tubuh kecil Amel namun sialnya kakinya tersandung kaki rak obat akibatnya Satria pun terjatuh dan tepat Amel mendarat di tubuhnya juga.
__ADS_1
Sudah sial, ketiban Amel juga yang badannya terlihat kecil namun ternyata berat juga.
" Badan lo kok berat amat sih, padahal kecil begitu" ucap Satria sambil membersihkan dirinya karena debu.
" Maksudnya?
" Badan lo kecil tapi, berat.. itu berat apa? jangan-jangan kebanyakan dosa lo?? " ucap Sinis Satria
" Bang Sat...!! pekik Amel
" Lo ngomong Apa tadi? tanya Satria dengan menajamkan matanya
" Bang Satria...
" Nggak bukan itu.. gw dengar lain tadi.. "
" Bang Satria.. tapi, gw singkat jadi Bang Sat..!! "
" Kenapa,nggak boleh yaa.. panggil abang? kalo gw panggil Mas, kan lo bukan suami gw.. upsss... just kidding... piss(mengacungkan dua jarinya) " ucap Amel nyengir kuda terlihat deretan gigi putihnya.
" Kalau gw jadi suami lo, berarti panggilan nya jadi Mas yaa.. hmmm?? goda Satria
" Apaan sih ga je... "
" Apaan tuh?
" Ga jebo alias ga mutuu... "
" Aisssttt.. bocah!! "
" Heiii... enak aja bocah, kayak gini juga gw udah punya lak..." ucapan Amel terhenti saat dia sadar apa yang dia akan ucapkan dan seketika wajahnya berubah murung..
" Bocil.. kenapa lo?? Heiii....!! " Satria memanggil Amel. yang tiba-tiba meninggalkannya dengan raut wajah yang sedih.
" Kenapa dia kabur? ada yang ga beres sama tuh bocil" gumam Satria.
Satria akhirnya menyusul Amel ke tempat barak pengobatan,saat sampai disana Satria melihat Amel. yamg membantu para tim medis untuk menangani korban penyerangan dari musuh banyak korban berdatangan ke dalam tenda dan mereka sangat sibuk untuk menangani para korban, apalagi Amel juga Satria yang dalam satu team harus berjibaku untuk menyelamatkan nyawa para korban yang berjatuhan. Banyak darah di mana mana namun Amel tetap gigih untuk mengikuti misi itu, karena dia tak bisa mundur lagi .
__ADS_1
Bersambung