
Mereka akhirnya duduk di ruang tamu dan Amel mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan terlihat Foto besar seorang pria yang gagah terpasang indah di tembok ruang tamu, sekilas bibir Amel tersenyum melihat foto sang ayah.
" Silahkan duduk " ucap Pak Agung Wirawan dengan datar. " Jadi apa tujuan kalian kesini, Gandi sudah tiada, apa kalian puas dengan apa yang terjadi pada keluarga kami, Gandi pergi dan sekarang dia tiadak bisa kembali lagi, kami tak punya harapan lagi" ucapan Agung membuat Amel dan Satria saling pandang
" Maksud ada apa yah, takdir ayah saya sudah tertulis.. dan itu sudah ketentuan Allah, dan mungkin itu hal yang terbaik buat ayah, karena apa.. ayah tak lagi berfikir mempunyai orang tua yang hanya cinta pada dirinya sendiri. " ucao Amel dengan geram
" Ayah.. jangan bilang kamu anak Gandi dan.. wanita desa itu? tanya Nyonya Dewi dengan pandangan tak percaya.
__ADS_1
" Iya.. saya anak kandung Gandi Wirawan dan juga Wanda,memang bunda orang kampung tapii.. beliau bukan orang kampungan dan orang udik macam anda yang melihat sesuatu hanya dilihat dari mata uang bukan mata hati.. " Amel dengan kesal mengungkapkan isi hatinya pada orang yang notabene nya kakek juga neneknya.
" Tau apa kamu tetang kehidupan kami, kamu hanya...
" Hanya apa om, dari tadi saya diam karena menghormati kalian sebagai orang tua Gandi sahabat kami,besan saya.. ayah dari menanti saya Armel Aisya.. dan tepatnya lagi cucu dari keluarga Wirawan, tapi.. kalian sama sekali tak punya hati layaknya seorang kakek dan nenek dari menantu saya,kalian tahu.. anak yang anda hina tadi adalah anak yatim piatu yang di tinggal kedua orang tuanya dari umur 5 tahun dan kembali kehilangan sosok yang merawatnya di umur 18th dan dia menghadapi trauma, dan juga kesengsaraan dalam hidupnya... apa kalian nggak berfikir jika hanya dia garis keturunan kalian yang masih ada, peninggalan anak anda Gandi Wirawan... tapi, kami salah satu hal.. memang kalian benar tak punya hati nurani." ungkap mami Fitri dengan mata menatap tajam pada kedua orang tua di hadapannya.
" Sudahlah mi, mereka nggak akan tau akan kasih sayang keluarga.. dengar kan saya Tuan dan nyonya Wirawan.. saya sebagai ahli waris Gandi Wirawan dan Wanda menolak pemindahan makam ayah saya, kalian nggak ada hak buat memindahkannya, karena kalian telah membuang anak anda sendiri kan.. jika anda tak membuangnya, ayah tak akan tinggal lama di kampung itu.. kalau kalian menganngap ayah saya anak , saat ayah dan ibu saya datang pada kalian meminta restu untuk menikah pasti kalian menerima mereka tapi, apa yang kalian lakukan?? kalian malah mengusirnya dan bilang ayah saya anak durhaka.. karena apa? karena kalian ingin membuat ayah saya boneka kalian, kalian jodohkan dengan wanita kaya raya yang bisa jadi tambang emas buat kalian.. apa itu yang dinamakan orang tua ? apa jangan-jangan ayah saya bukan anak kalian?? Ungkapan hati seorang anak yang sudah lama dia pendam akan kebenaran yang dia tahu dari sang bibi masa dia beranjak dewasa
__ADS_1
" Sayangggg... sudah lah jangan begini, nanti yang ada kamu stress juga mikirin orang yang seharusnya nggak kamu pikirin, jaga anak kita semoga nanti nggak akan ada garis keturunan Wirawan yang sama sifatnya seperti mereka" kata kata Satria membuat dua orang yang ada di depan mereka memandang Satria dan Amel
Satria mengelus elus perut rata Amel dan menciumnya.
" Kamu mengandung?? tanya nyonya Dewi memandang ke arah Satria dan Amel
" Kenapa? saya memang mengandung dan berharap dia tidak punya garis keturunan Wirawan.. " ucap Amel dengan sinis.
__ADS_1
Dua orang yang tadinya terlihat sombong dan angkuh mendadak tetlihat pias mendengar penuturan Amel yang sangat menyayat hati.
Bersambung