
.
.
Setelah Hendra menceritakan segalanya pada Arka, kini Arka mulai mengerti. Ia menahan amarahnya, karena sesungguhnya ini semua memang bukanlah salah Hendra karena sudah menyembunyikan hal buruk tentang Renita dari Arka. Meski dirinya tidak membenarkan itu semua, namun Arka memahami perasaan Hendra.
"Tapi tidak seharusnya juga kamu menyembunyikan fakta tentang Renita di belakangku! Aku ini sahabatmu, Ndra! Apa kamu memang menginginkan kehancuran dalam pernikahanku?!" ucap Arka spontan, ia sama sekali tidak menyangka jika Hendra akan menyembunyikan masalah tersebut sekian lamanya.!
"Sekali lagi aku minta maaf padamu, Ka. Aku kan sudah menekankan padamu, jika aku melakukan itu semua karena aku tidak ingin persahabatan yang telah kita jalin semenjak kita kecil, akan hancur sia-sia hanya karena sebuah fitnah yang akan di lakukan oleh Reni, kepada kita! Aku takut ancamannya itu akan benar-benar di lakukannya." balas Hendra jujur, ia tidak mau terlalu di salahkan dalam hal tersebut, meski Hendra mengakui dirinya memang salah karena telah menyembunyikan rahasia besar tentang Renita.
"Terserah padamu, aku malas berdebat lagi. Kamu siap-siap saja, sebentar lagi kita akan pulang ke tanah air!" balas Arka cepat, dirinya memang sudah tidak mau berlama-lama berada di kota itu lagi. Kota yang menjadi saksi bisu istri pertamanya menorehkan luka kepadanya, hatinya hancur berkeping-keping karena sebuah pengkhianatan.
Hendra tidak mau membuat Arka semakin marah dan sedih lagi, ia pun akhirnya menyetujui apa yang di ucapkan oleh Arka, "Baiklah, aku akan bersiap. Aku kembali dulu ke kamarku." balas Hendra terjeda, "Jam berapa kita akan take off, Ka?" imbuh Hendra.
"Sekitar jam 11 siang." ucap Arka cepat.
"Oke.. Aku akan menemuimu disini sebelum jam sebelas,w aku bersiap-siap dulu. Tapi aku mohon padamu untuk tidak marah kepadaku lagi ya, Ka!"
"Heemm..!" balas Arka hanya dengan satu deheman saja.
Bagi Hendra, itu sudah menjadi sebuah jawaban, karena menurutnya sikap Arka memang terkadang seperti itu, dingin dan datar. Hendra melangkahkan kakinya keluar, ia segera menuju ke dalam kamar tempatnya menginap. Hendra akan membereskan semua barang-barang miliknya.
Selepas Hendra pergi, Arka juga melakukan hal yang sama, yaitu membereskan barang-barang miliknya. Setelah selesai dirinya mengirimkan sebuah notifikasi pada Allen, ia meminta Allen menjemput dirinya di bandara.
📧 *Honey.. Bilang sama pak udin untuk menjemputku ke bandara, tapi aku minta kamu juga ikut menjemputku ya!*
Tanpa menunggu lama, Arka mendapatkan balasan notifikasi dari Allen. Hingga akhirnya dirinya dan Allen saling membalas pesan.
__ADS_1
📩 *Iya mas, jam berapa aku stanbye di bandara?*
📧*Nanti aku kasih tahu kamu lagi. Aku juga belum berangkat.*
📩*Oke.. Hati-hati di perjalanan ya, mas.! Bye..*
📧*Iya, honey...*
Setelah Arka dan Allen saling balas, Arka meletakan ponselnya lagi di atas nakas. Dirinya mengambil dompetnya di saku jas miliknya, disana masih terselip selembar foto dirinya dengan Renita yang sedang berpelukan. Lalu Arka mengambil foto tersebut, tanpa sadar Arka memaki foto yang tak bersalah tersebut.
'Kenapa kamu begitu tega kepadaku, Ren? Jujur aku mengakui kesalahanku, karena aku menikah dengan Allen tanpa sepengetahuanmu. Apa perasaanmu juga sama sakitnya seperti yang aku rasakan saat ini, Ren? Tapi aku tidak menyangka jika ternyata kamu telah mengkhianatiku sebelum aku menikahi Allen. Itu artinya bukan aku yang lebih dahulu menoreh luka, tapi kamu lah yang terlebih dahulu menorehnya! Tapi sudahlah tiada artinya lagi aku memikirkanmu, seandainya saja orang-orang terdekatku tidak mendorongku untuk peduli kepadamu, tentu aku tidak akan mencari dirimu sampai sejauh ini. Bahkan yang kini aku dapatkan juga hanya luka yang ter-amat dalam! mungkin seharusnya aku bersyukur memiliki sahabat seperti Hendra, karena dia lah yang membuat mata hatiku terbuka lebar. Sehingga aku dapat melihat dengan jelas kebusukan yang telah kamu lakukan di belakangku!' Arka memikirkan kembali Renita yang menorehkan luka kepadanya yang begitu dalam.
Hingga akhirnya lukanya ia pendam dalam hati untuk sementara waktu, percuma saja Arka menangis lagi. Baginya melepaskan Renita adalah jalan satu-satunya yang terbaik, ia berdo'a dalam hati semoga ini adalah pilihan yang terbaik untuknya, meski Arka sadar diri pasti akan banyak hati yang terluka karena keputusan yang sudah ia pilih.
🍂🍃🍂
"Mas Arka ini ada-ada saja, tak biasanya dia memintaku untuk ikut serta menjemputnya ke bandara. Memang ada apa ya? Semoga semua baik-baik saja." gumam Allen pelan, ia senyum-senyum sendiri membayangkan wajah tampan suaminya.
Dirinya memutuskan untuk menelfon bundanya, ia ingin mencurahkan segala keluh kesah yang sedang di rasakannya saat ini.
Tuutt..tuutt..tuutt..
📞"Hallo nak. Ada apa kamu menelfon bunda? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Maya cemas.
📞"Hallo juga bun, Allen baik-baik saja kok. Aku hanya kangen sama bunda. Makanya aku putuskan untuk menelfon bunda."
📞"Oo.. Gitu, kirain ada apa? Kapan kamu main ke tempat bunda lagi?"
__ADS_1
📞"Entahlah bun, mas Arka sekarang sedang berada di luar negri, hari ini baru akan pulang."
📞"Hem.. Semenjak kapan suami kamu pergi? Apa dia pergi untuk menjalankan pekerjaan?"
📞"Sudah hampir tiga hari, bun. Bukan pekerjaan bun, tapi untuk mencari keberadaan mba Renita, tapi setelah ia menemukannya sepertinya mas Arka, kecewa. Walaupun mas Arka belum mengatakannya padaku, tapi firasatku mengatakan jika mas Arka sedang tidak baik-baik saja, bun."
📞"Mungkin itu hanya perasaan kamu saja kali, nak. Kamu harus berpikiran positif pada suami kamu. Sebagai seorang istri kamu juga harus selalu mendo'akan suami kamu, semoga dirinya sedang dalam keadaan baik-baik saja. Dan lain sebagainya, bunda hanya sekedar mengingatkan kamu, nak."
📞"Iya bun, terima kasih banyak nasehatnya, ya. Allen tutup dulu teleponnya, lain waktu kita sambung lagi, salam buat ayah ya, bun. Assallamu'alaikum.."
📞"Iya nak. Nanti bunda sampaikan pada ayahmu. Wa'alaikum salam.."
Setelah bunda menjawab salam, Allen menutup panggilan tersebut. Kini hatinya sudah sedikit lebih tenang, bahkan Allen tidak terlalu berpikiran buruk lagi pada suaminya. Allen juga mendo'akan sang suami agar selalu berada dalam lindungannya, serta selalu tabah dalam menghadapi setiap masalah yang sedang di ujikan kepadanya.
"Semoga kamu baik-baik saja, mas. Do'aku selalu menyertaimu, semoga kamu juga diberi ketabahan dalam menghadapi setiap masalah yang melanda dalam hidupmu. Aku berharap kamu bisa mengurangi egomu di hadapan mba Renita, agar mba Reni mau pulang kesini lagi bersamamu!" monolog Allen pelan.
"Allen.. kamu lagi apa, nak?" tanya mommy dari luar.
Allen kaget kenapa tiba-tiba mommy sudah berada di dalam rumah, karena seingatnya tadi mommy sudah berangkat ke kantor. Allen membuka pintu kamarnya, dan ternyata memang mommy Ros sudah berada di balik pintu.
.
.
Bersambung...
.
__ADS_1
.
Selamat membaca..