Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
Renita Kesal Dan Marah


__ADS_3

.


.


Diana membawa putrinya pulang ke rumah, Reni hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan sang mama. Hatinya kali ini bagaikan runtuh, jika ia teringat ucapan dari dokter tadi di rumah sakit.


Diana mengemudikan mobilnya dengan serius, sementara Reni hanya memilih diam dan sesekali memandangi ke luar jendela. Sehingga sepanjang perjalanan hanya ada keheningan tanpa ada satu pun diantara Diana dan Reni yang mengatakan sesuatu.


Tidak butuh waktu yang lama untuk mereka berdua menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang di kemudikan oleh Diana sampai sudah di sebuah perumahan elit yang sangat megah berlantai dua.


"Kita sudah sampai, Ren. Turunlah tunggu mama di kamar, ada yang ingin mama tanyakan padamu, nak!" titah Diana pelan.


"Iya ma. Reni turun dulu ya ma." ucap Reni lirih sambil menginjakkan kakinya di halaman rumah sang mama.


"Baiklah.. Mama akan segera menyusulmu." jawab Diana cepat.


Reni berjalan masuk ke dalam rumah sang mama, berbagai pertanyaan di hatinya. Tentang apa yang akan di tanyakan sang mama padanya. Namun ia juga masih bergelut dengan rasa amarah di hatinya sendiri.


Sesampainya di dalam kamar, Reni melemparkan tas yang di bawanya kesembarang tempat. Ia duduk di tepi ranjangnya, memegang perutnya yang masih rata. Seketika bulir bening mulai bercucuran di pipi cantiknya, ia juga menangis histeris.


"Kenapa kamu hadir di perut mama di saat yang nggak tepat, nak. Di saat mama sama sekali tidak menginginkan kehadiran kamu! Kalo saja mas Arka sampai tahu aku hamil, aku harus jawab apa?."


"Tuhan, kenapa engkau tidak pernah adil padaku! Kenapa engkau berikan cobaan bertubi-tubi kepadaku, ini tidak adil. Dimanakah keadilan engkau, ya Tuhan...!" teriak Renita.


Tanpa di sadari jika sang mama sudah berdiri di ambang pintu kamar Reni yang terbuka lebar. Diana menghampiri putrinya lalu mencecar Reni dengan berbagai pertanyaan. Karena biasanya seorang wanita akan sangat bahagia, jika mengetahui dirinya tengah hamil.


Namun ini sangat berbeda dengan Reni, dirinya sudah empat tahun lebih menjalani hubungan rumah tangga bersama Arka. Dan Arka juga pernah secara terang-terangan di depan Diana, mengatakan pada Reni agar ia segera memiliki seorang keturunan. Tapi saat Reni kini sedang hamil, ia bukannya senang tapi malah menangis histeris. Hal itu membuat kebingungan di hati Diana.


"Ren, kamu itu kenapa sih? Sekarang kamu sedang hamil, tapi kenapa kamu malah tidak senang, dan kenapa juga kamu malah marah-marah seperti itu?" tanya Diana tak mengerti dengan kelakuan putri semata wayangnya.

__ADS_1


Reni hanya menundukan kepalanya, tanpa menjawab pertanyaan sang mama. Hal itu malah membuat Diana semakin marah dan kesal, ia menghampiri putrinya lalu mengguncangkan tubuh Reni yang masih bercucuran air mata.


"Jawab pertanyaan mama, Ren!" bentak Diana, kali ini ia tidak dapat mengontrol emosinya lagi.


"Harusnya kamu senang, karena sekarang kamu hamil. Kamu bisa memberikan seorang anak pada Arka, seperti yang dia inginkan sejak dulu!" imbuh Diana dengan tatapan tajam.


Reni menatap wajah sendu sang mama, ia tahu kenapa mamanya marah kepadanya. Lalu dengan perasaan yang hancur, ia mulai menjawab pertanyaan sang mama yang sudah mengintimidasi dirinya sedari tadi.


"Ma.. Mama tahu kan dari dulu Reni nggak mau hamil karena apa?" ucap Reni sedih, ia juga memberanikan diri menatap sang mama.


"Mama tahu alasan kamu yang tidak masuk akal itu! Makanya Arka berpaling dan menikahi gadis lain sampai wanita itu sekarang sedang hamil!" jawab Diana kesal.


"Mama..!" teriak Reni dengan tatapan tidak suka.


"Kenapa? Itu kan kenyataannya? Kamu mau mengelak lagi?" jawab Diana dingin.


"Ma.. Reni mohon sama mama, tolong jangan kasih tahu mas Arka ya, kalo aku ini sedang hamil!" pinta Reni sambil sesegukan.


"Coba dari dulu kamu hamil, pasti Arka tidak akan menikahi pelakor manapun!" maki Diana kesal. Ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran putrinya.


Reni bukannya menjawab pertanyaan mamanya, ia berfikir sambil mengumpulkan kata yang akan di ucapkan pada sang mama.


"Aku harus bagaimana nih! Jika aku menjelaskan pada mama sekarang, pasti mama akan syok, dan marah besar kepadaku. Aku juga tidak mungkin merahasiakan ini selamanya dari mama. Sampai kapan pun hanya mama yang aku punya, dan hanya mama juga yang selalu menyayangi aku setulus hati."


"Memang yang di katakan mama itu benar, aku ini bodoh! Bahkan sebodoh-bodohnya manusia yaitu hanya aku. Aku menolak keinginan mas Arka untuk memiliki seorang anak, serta membiarkannya tidak mendapatkan hak-nya dariku selama beberapa bulan ini. Tapi aku malah melakukan hubungan terlarang itu bersama pria lain!." Reni meruntuki kebodohannya sendiri.


Hingga dia tahu apa yang akan di lakukannya sekarang, meski itu akan menghancurkan hidupnya sekaligus akan menghancurkan profesinya sebagai seorang model ternama. Jalan pikirannya buntu, tanpa berpikir panjang Reni mengambil tasnya, lalu pergi tanpa menjawab pertanyaan sang mama yang di layangkan padanya barusan.


"Ren... Reni... Renita, kamu mau kemana..?!" panggil sang mama, namun tak di hiraukan oleh Reni.

__ADS_1


Ia berlalu pergi meninggalkan sang mama dengan perasaan kesal dan marah. Diana juga meruntuki kebodohannya sendiri, ia sama sekali tidak menyangka dengan apa yang di lakukan putri kesanyangannya itu.


"Apa salah jika aku memanjakan putriku? Kenapa aku malah mendapati Reni seperti ini sekarang. Apa aku tanyakan saja pada Arka?. Tapi aku kan belum tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi diantara mereka berdua." ucap Diana dalam hati.


"Tapi Reni mau kemana, dia terburu-buru tanpa menjawab pertanyaanku dulu. Aku harus mengikutinya pergi, takutnya dia nekat dan akan melakukan hal negatif lagi!" monolog Diana pelan.


Diana mengambil kunci mobilnya, lalu bergegas pergi menyusul kepergian sang putri. Diana melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, hingga terlihat dengan jelas tak jauh dari mobil Diana, ada mobil Alphard berwarna hitam. Mobil itulah yang di kemudikan Renita, putrinya.


Diana sengaja sedikit memperlambat laju mobilnya, ia tidak mau keberadaannya di ketahui oleh Reni. Terlihat Reni memberhetikan mobilnya di sebuah RUTAN yang lumayan besar, hingga membuat Diana bertanya-tanya dalam hatinya.


"Apa yang akan di lakukan anak itu ya? Kenapa juga dia datang ke rumah tahanan seperti ini? Apa dia sudah gila?" monolog Diana pelan, saat dia melihat sebuah tulisan yang terpampang dengan jelas.


Hingga kedua netranya menangkap jika Renita turun dari mobilnya dan menuju ke RUTAN tersebut. Dengan langkah perlahan Diana membuntuti putrinya tanpa di ketahuinya, Diana juga memakai masker dan kain panjang untuk menutupi kepalanya, serta mengenakan kaca mata berwarna hitam. Tujuannya agar tidak di kenali oleh siapapun.


Renita mengedar pandangannnya kesana-kemari, ia tidak mau kedatangannya di ketahui oleh publik. Ia juga merubah penampilannya seketika tadi di dalam mobil, sebuah hodie berwarna hitam serta mengenakan penutup kepalanya. Tidak lupa juga ia mengenakan masker dan kaca mata hitam juga.


Ia menemui orang yang berjaga di rutan tersebut, seseorang yang di kenalnya semenjak sahabatnya sekaligus orang terdekatnya di tahan. Namun ia berbicara dengan cara berbisik. Reni takut keberadaannya di ketahui oleh wartawan. serta orang suruhan Arka, suaminya.


Dengan langkah terbata, akhirnya dia dapat menemui seorang laki-laki yang sedang menjalani masa tahanannya. Karena ia menjadi seseorang dalang dari kejahatan yang di lakukannya.


.


.


BERSAMBUNG...


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukungannya untuk karyakunya, tinggalkan like, komen, vote, serta favorit ya. Terima kasih untuk yang sudah memberikan dukungan🙏🏻.


__ADS_2