
.
.
Setelah kepergian Arka, Allen dan kedua mertuanya bergegas naik ke dalam mobilnya lagi. Mereka akan segera menuju ke klinik, tempat dokter spesialis kandungan bertugas.
Allen mencoba untuk berlapang dada dengan kepergian suaminya, meski sebenarnya hatinya sangat sedih dengan kepergian Arka, suaminya. Belum sampai satu jam suaminya pergi, namun rasa rindu mengisi separuh ruang di hatinya.
Ros dan Gio diam-diam memperhatikan Allen yang duduk di kursi belakang dari tadi, karena sepanjang perjalanan anak menantunya hanya diam membisu sambil mengarahkan pandangannya ke kaca jendela.
Kedua orang tua Arka tidak mau seseuatu terjadi pada anak menantunya, apalagi sebelum kepergian putranya, Arka sudah berpesan pada mereka berdua untuk menjaga istri keduanya.
"Allen, hari ini kita jalan-jalan ke pusat perbelanjaan sebentar yuk?" ajak Ros memecahkan keheningan.
"Hem.. Hari ini mom?" tanya Allen kikuk.
"Iya dong nak, sekali-kali kita refesing bersama-sama. Mumpung daddy dan mommy ada waktu nih." jawab mommy Ros.
"Iya, Len. Daddy berharap kamu menyetujuinya dan tidak keberatan dengan ajakan kami berdua!" imbuh daddy Gio penuh harap.
Allen berpikir sejenak, sebenarnya ia mau menerima ajakan kedua mertuanya. Namun ia belum meminta izin pada suaminya, takutnya Arka malah marah jika Allen pergi tanpa meminta izin pada suaminya.
"Tapi mom, dad, aku belum minta izin sama mas Arka. Takutnya nanti mas Arka marah padaku." ucap Allen ragu, ia menggigit ujung bibirnya.
Mommy dan daddy Arka saling berpandangan, mereka sama sekali tak menyangka jika menantunya ternyata begitu patuh terhadap suaminya. Bahkan saat suaminya berada jauh dari pandangannya, Allen masih tetap memikirkan hal kecil seperti itu.
"Allen, kamu tenang saja nak. Arka tidak akan marah kepadamu, nanti jika dia marah-marah padamu. Mommy yang akan menghadapinya, kamu tenang saja!" ucap Ros meyakinkan.
"Iya, Len. Lagian kita hanya mau jalan-jalan, maka-makan, lalu setelah itu katanya mommy mau beli keperluan mommy. Daddy mohon terima ajakan kami berdua ya, please.." tambah Gio meyakinkan Allen.
"Ya, udah. Tapi nggak sampai seharian kan, kita perginya?" tanya Allen masih ragu.
"Enggak nak. Kamu percaya deh sama mommy."
"Baiklah, aku ikut mommy dan daddy pergi!" jawab Allen sambil menyunggingkan senyum manisnya.
"Sungguh..?" tanya Ros ragu.
"Iya mom..." jawab Allen sambil mengulas senyuman.
Setelah kesepakatan bersama, akhirnya mereka bertiga segera bergegas ke klinik, tempat dokter kandungan untuk Allen menjalani pemeriksaan rutin.
__ADS_1
Tak butuh waktu yang lama akhirnya mobil Gio berhenti tepat di pelataran klinik tersebut. Karena hari ini weekend, jadi kedua orang tua Arka memilih untuk datang langsung ke klinik, karena dokter kandungan Allen memang membuka klinik. Dan jika hari saptu memang ia berada di klinik, lalu hari kerja dokter itu akan datang ke rumah sakit.
Allen dan mommy Ros mendaftarkan diri di ruang pendaftaran, tanpa menunggu lama Allen langsung di panggil oleh perawat yang bekerja di klinik tersebut.
Allen dan Ros masuk ke dalam ruangan dokter Alvian, dokter spesialis kandungan, mereka sebelumnya sudah di arahkan oleh perawat. Allen dan Ros menyalami dokter muda dan tampan tersebut sambil tersenyum pada dokter Alvian.
"Selamat siang nyonya Allen, ada yang bisa kami bantu?" tanya Alvian sopan.
"Iya, dok. Ini aku hanya mau periksa rutin."
"Baiklah anda tunggu sebentar ya."
"Baik, dok."
Perawat mengarahkan Allen untuk berbaring, sementara dokter juga sudah bersiap untuk memeriksa kehamilan Allen.
Setelah melewati serangkaian pemeriksaan rutin, Ros meminta izin pada Allen karena ia hendak pergi ke toilet.
Disaat tidak ada orang tua Arka pergi, kini hanya ada Allen. Karena Alvian merasa penasaran, maka ia memberanikan diri bertanya pada pasiennya.
Mereka memang sudah akrab, karena Alvian adalah suami dari sahabat Arka, yaitu Ana dokter pribadi Arka.
"Iya dok, hari ini mas Arka ada tugas ke singapore. Makanya nggak bisa nganter aku di antar oleh kedua mertuaku." balas Allen jujur.
"Owh.. Ternyata mereka baik juga padamu ya." ucap Alvian tak percaya.
"Iya dok, mereka memang sangat baik dan perhatian padaku. Meskipun aku hanya.." ucap Allen terhenti, saat pintu ruangan itu di buka. Dari ambang pintu terlihat Ros berjalan ke arah mereka.
Allen dan Ros diminta mendengarkan arahan dari dokter Alvian yang memeriksa kehamilan Allen.
Dokter Alvian menjelaskan perkembangan buah hati Allen di dalam kandungan dengan baik. Begitu juga Ros, ia sangat antusias mendengarkan penjelasan dari dokter.
Dokter muda itu juga menanyakan akan keluhan yang dirasakan oleh pasiennya. Allen menjelaskan pada dokter apa yang dirasakannya. Namun menurut dokter, apa yang di rasakan oleh Allen masih terbilang wajar dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.
🍂🍃🍂
Jet pribadi yang di tumpangi Arka kini mulai lepas landas meninggalkan kota kelahirannya. Kini pesawat itu terbang tinggi di atas awan, Arka memandangi gumpalan-gumpalan awan putih bagaikan salju. Sepanjang perjalanan Arka merasa sedih saat harus terpisah dari wanita yang selama ini selalu menemani dirinya.
"Andaikan kita pergi bersama honey.., mungkin aku adalah satu-satunya orang yang sangat bahagia di dunia ini. Namun kita harus terpisah sementara waktu, tapi mau bagaimana lagi. Dengan terpaksa aku harus pergi meninggalkan dirimu di negri sebrang."
"Kepergianku hanya untuk mengemban tugas dari kantor, andai itu semua bukan kewajibanku. Aku juga malas..! Tiga hari aku harus berpisah denganmu, itu bukan waktu yang sebentar, honey..! Inginku, kita selalu bersama. Semoga saja suatu saat kita bisa merasakan bulan madu yang tertunda, bahagia bersama, kita saling tertawa. Aku sangat menginginkan itu semua menjadi nyata, bukan hanya dalam mimpi dan angan saja! Huft...." Arka membatin dalam hatinya.
__ADS_1
Namun ia tidak mau berlarut dalam pikirannya, Arka mencoba untuk tetap berfikir jernih. Arka berdo'a mimpinya akan menjadi nyata. Ia datang ke singapura juga bukan untuk bersenang-senang, melainkan demi menjalankan pekerjaannya.
Arka menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, ia berharap akan sedikit mengurangi kesedihannya. Dan usahanya ternyata membuahkan hasil, sekarang Arka menjadi lebih rilex.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, kini Arka sudah sampai di negara tetangga yang menjadi tujuannya, yaitu singapura. Memang perjalanan di tempuh sangat singkat, apalagi Arka menggunakan jet pribadi sang ayah.
Pesawat mendarat dengan mulus di landasan, Singapore Changi Airport. Arka bernafas lega karena ia dan semua kru pesawat sampai dengan selamat di negara itu.
Sesampainya di sana, Arka langsung meluncur menuju ke sebuah perusahaan miliknya. Yang di kelola oleh Om Wiryawan, yaitu adik dari Gio, daddy Arka. Wirya begitu biasa di sapa, ia memang adik kandung dari Gio, keduanya memang terpaut usia yang lumayan jauh, bahkan Wirya belum menikah.
Kedatangan Arka di sambut antusias oleh para karyawannya yang berkerja disana, mereka mengulas senyum pada pria tampan berhidung mancung, serta tubuh tinggi tegap yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
"Hallo, ponakanku. Apa kabarnya kamu? Lama tidak berjumpa? Mana istri kedua kamu yang katamu sangat cantik, dia nggak ikut?" sapa Wirya sambil mengedar pandangan ke sekeliling ponakannya. Serentet pertanyaan juga meluncur bebas dari bibir Wiryawan.
"Kabarku baik om. Nanyanya satu-satu kenapa sih! Dasar orang nggak berperasaan, capek nih habis menempuh perjalanan jauh!" keluh Arka kesal karena ia baru sampai tapi sudah di berondong dengan banyak pertanyaan seperti itu.
Wirya menepuk jidatnya, ia lupa jika keponakannya baru saja tiba ke tempat itu.
"Sory Ka', gue lupa kalo lo baru saja tiba." ucap Wirya dengan kata 'gue dan elo'. Mereka memang sangat akrab, tidak seperti Om dan ponakan yang lainnya, yang cenderung lebih sopan. Memang mereka akrab, meski umur wirya kini sudah 36 th, tapi ia belum menikah. Bahkan katanya masih dalam proses pencarian.
"Alah.. Gue tahu elo, om. Emang dari dulu suka begitu. Dasar Om nggak bermoral!" keluh Arka sambil mencebikan bibirnya.
"Iya, maaf deh. Soalnya kita memang sudah lama nggak ketemu makanya aku jadi lupa kalo kamu habis menempuh perjalanan jauh ya. He.. He.." balas Wirya sambil berbasa-basi.
Pria itu mengarahkan Arka ke ruangan pribadinya, Arka mengikuti Wirya di belakangnya. Wirya dan Arka mendaratkan bokongnya di sofa empuk yang berada di ruangan Wirya.
Setelah mereka beristirahat dan meminum kopi yang di suguhkan oleh seorang OB, kini Wirya mulai bertanya yang lebih serius pada ponakannya.
.
.
***Bersambung***...
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Happy Realing....
__ADS_1