
.
.
Setelah kepergian anak menantunya, dengan langkah cepat Diana segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar Renita, putrinya. Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya, kini rasa ambigu yang melanda pikirannya.
Langkah kaki Diana berhenti tepat di depan pintu bercat coklat yang di tempati putrinya, meski ia ragu namun tetap mengetuk pintu kamar putrinya tersebut.
Tok.. tok.. tok..
"Sayang, boleh mama masuk nak?" ucap Diana lembut.
"Masuk saja ma, pintu tidak di kunci !." jawab Renita dari dalam.
Tak menunggu lama Diana membuka pintu dan langsung masuk ke dalam kamar putrinya, ia menarik nafasnya perlahan sebelum mengutarakan isi hatinya pada buah hatinya.
"Silahkan duduk ma." titah Reni pada Diana. "Oya ada apa, ma?" tanya Renita tanpa basa-basi.
"Terima kasih, Ren. Oya, apa kamu sakit?" jawab Diana cepat, saat dirinya memandangi Renita berbaring di tempat tidurnya dengan wajah yang pucat pasi.
"Reni, hanya sedikit tidak enak badan ma." jawab Reni cepat. "Enggak tahu kenapa juga, dari beberapa hari yang lalu aku memang sering mual ma!" imbuh Reni jujur.
Diana panik dengan jawaban putrinya, ia menempelkan punggung tangannya, di dahi putrinya.
"Iya nak, badan kamu memang panas. Sebaiknya kita langsung ke dokter saja." titah Diana pada putrinya.
"Tidak usah lah ma. Nanti juga Reni, baikan!" sergah Reni cepat.
"Kamu ini kalo di kasih tahu mama, selalu saja membantah. Tinggal nurut saja pergi ke dokter, apa susahnya sih!" jawab Diana datar.
Lalu ia mengeluarkan beberapa nasehat, lebih tepatnya omelan pada putrinya. Dirinya tidak menyangka, saat tengah sakit Reni malah menolak di antarkan oleh dirinya dan Arka suami Renita untuk pergi ke dokter.
"Kamu ini sedang sakit, Ren. Kenapa malah menolak di antar pergi ke dokter oleh suami kamu!" ucap Diana datar.
"Ma.. Stop deh. Jangan bahas mas Arka di depanku!" sergah Reni kesal.
__ADS_1
Diana menggelengkan kepalanya perlahan, dirinya sama sekali tidak menyangka jika putrinya berubah seperti bukan anak yang di kenalnya selama ini.
"Ada apa dengan kalian sih, nak? Kenapa mama perhatikan antara Arka dan kamu sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dari mama. Apa kamu sedang bertengkar, nak? Dari setiap kata yang kamu dan Arka ucapkan, sepertinya kamu dan Arka sedang tidak baik-baik saja?!" cecar Diana penasaran.
Reni mengerutkan keningnya, sebenarnya ia enggan menjawab pertanyaan mamanya. Tapi dirinya tahu pasti, jika Reni tidak menjawab pertanyan itu, pasti sang mama masih akan terus mencecarnya sampai dirinya akan membuka suara.
Reni berfikir sejenak, entah dari mana dirinya akan mengatakannya. Begitu banyak ucapan yang tersusun dan tersimpan rapi dalam benaknya.
Reni mencoba memberi pernyatan palsu, agar mamanya berhenti memgintimidasi dirinya. Karena Reni takut jika sang mama pasti akan marah besar kepadanya. Jika dirinya mengatakan masalah yang menimpa rumah tangganya bersama Arka.
"A.. aku dan mas Arka baik-baik saja, ma. Tidak ada apa-apa kok!" kilah Reni cepat.
Diana menaikan sebelah alisnya, dirinya tidak percaya begitu saja dengan ucapan putri kesayangannya. Diana juga melihat bulir bening sudah bermuara di pelupuk mata putrinya, dengan penuh kasih sayang Diana memeluk putrinya dengan erat sambil membisikan kata-kata tepat di telinga Reni.
"Baiklah, Ren. Jika kamu belum mau mengatakannya pada mama sekarang, mama tidak akan memaksanya. Mama akan mendengarkan kapan pun, jika kamu sudah siap untuk mengatakannya pada mama."
"Tapi mama mohon, sekarang juga kita pergi ke dokter ya. Mama nggak mau, sakit kamu sampai parah. Karena hanya kamu yang mama miliki, dan papa kamu sedang berada di luar negri. Mama merasa sendirian jika jauh dari kamu. Mama mohon ya, Ren. Kamu mau pergi ke dokter, ya!" bujuk Diana pada putri tercintanya.
Reni berpikir sejenak, memang dirinya lah yang selama ini sering menemani sang mama. Meski Reni masih mempunyai ayah, tapi ayahnya memang menghandle pekerjaannya di luar negri.
"Ya, udah deh ma. Tapi mama yang anterin Reni ke dokter ya." pinta Reni penuh harap.
"Baiklah.. Mama akan menemani kamu ke dokter. Ya sudah kamu siap-siap dulu, mama akan mengambil tas dulu di kamar." balas Diana cepat.
"Iya, ma..." sahut Reni.
Reni bangkit dari tempat tidurnya lalu mengambil tas miliknya yang tadi di letakkan di meja riasnya. Ia juga memakai sweeter, karena ia merasa kedinginan dan menggigil meski hari belum larut.
"Andaikan mama tahu, sebenarnya aku merasa takut untuk pergi ke dokter, ma. Aku takut jika pemeriksaan dokter menjawab kekhawatiran dalam hatiku. Karena sudah beberapa hari ini, aku merasakan ada yang aneh dalam tubuhku, meski aku tidak sepenuhnya yakin."
"Aku harus bagaimana, ma. Andaikan mama mengetahui keadaanku yang sesungguhnya, pasti mama akan kecewa padaku nantinya. Aku juga takut, mas Arka akan marah dan membenciku.! Hiks... hiks..." batin Reni sambil menangis pilu.
Dalam tangis Reni, ia memikirkan banyak hal yang mengganggu pikirannya selama beberapa hari ini. Lalu ia tersentak saat sang mama memanggil namanya dengan lantang.
"Ayo, Ren. Kamu sudah siap, apa belum?" panggil mama Diana.
__ADS_1
"I..iya ma, sebentar lagi Reni keluar." jawab Reni terbata.
Reni menyeka air matanya yang membasahi pipinya, ia tidak mau mamanya merasa sedih dan bertanya lebih banyak lagi tentang keadaan yang di alaminya saat ini.
"Ayo ma, kita berangkat."
"Baiklah sayang. Oya apa kamu habis nangis? Kok mata kamu sembab." cecar Diana penasaran.
Reni menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menjawab pertanyaan sang mama dengan sedikit berkilah. "Enggak kok ma, Reni nggak nangis kok. Reni cuma terharu saja, saat seperti ini mama selalu menemani aku. Dan kapan pun, aku butuh mama selalu ada untukku." ucap Reni penuh haru, meski sebenarnya bukan itu alasan yang sesungguhnya.
"Sudah sewajarnya mama selalu menemani kamu, dan mama juga akan selalu ada kapan pun kamu butuh. Mama hanya berharap jika kamu akan bahagia nak, bukannya bersedih seperti ini." sahut Diana jujur.
"Iya, ma. Terima kasih banyak ma. Reni nggak akan sedih lagi, selama mama selalu berada di sampingku." balas Reni cepat.
"Iya sayang... " balas Diana "Mari kita berangkat sekarang, nanti keburu malam."
"Oke, ma..." jawab Reni.
Mereka berdua melangkahkan kakinya menuju ke mobil Diana yang terparkir di garasi rumah. Diana memilih mengemudikan mobilnya sendiri, tanpa sang sopir pribadinya.
Diana hanya ingin bersama putrinya hari itu, karena rasa rindu pada putrinya selalu hadir dalam benaknya. Semenjak putrinya menikah dengan Arka, dan memilih untuk tinggal di rumah sang suami, Reni memang jarang menemui mamanya. Ia juga sangat sibuk dengan aktifitasnya sebagai seorang model ternama.
.
.
***BERSAMBUNG***....
.
.
.
Jangan lupa like, komen, favorit, serta vote nya. Jika berkenan mampir juga di karya novelku 《Cinta Tak Pernah Salah》. Terima kasih🙏🏻🙏🏻.
__ADS_1