
.
.
πππ
Pagi kini telah berganti siang, Arka melakukan tugasnya di kantor seperti biasa. Namun ada yang tidak biasa, karena siang ini Allen mengunjunginya di kantor Lionil Persada Nusantara kantor milik Arka.
Tok.. tok.. tok.. Allen mengetuk pintu.
"Masuk. " sahut Arka dari dalam.
Allen membuka pintu ruangan suaminya dengan pelan, lalu ia masuk kesana dan menghampiri sang suami yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Ia sangat sibuk mengerjakan tugasnya yang menumpuk.
Arka tersenyum bahagia, saat ia tahu jika ada wanita yang berdiri di depannya. Ia adalah orang yang beberapa bulan ini selalu hadir dalam hidupnya, mengisi hari-harinya, bahkan menemaninya baik suka maupun duka.
"Selamat siang mas Arka." sapa Allen ramah.
"Siang juga honey." balas Arka lembut.
Arka menyunggingkan senyuman yang sangat memabukan untuk Allen, lalu ia menghampiri istri keduanya dan membawanya duduk di kursi panjang dekat meja kerjanya. Arka menyambut kedatangan Allen dengan hangat.
"Ada apa honey, tumben kamu datang kesini?. Aku pergi juga baru semalam, apa kamu sudah merindukan aku?" tanya Arka dengan percaya diri.
"Kamu ini terlalu percaya diri mas!" sahut Allen sambil tersenyum.
Mendengar ucapan istri keduanya Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia merasa malu karena mengatakan hal itu pada Allen dengan rasa percaya dirinya.
Lalu Arka menanyakan apa alasan Allen datang ke kantornya.
"Honey, lalu ada perlu apa kamu datang kesini?" tanya Arka penasaran. "Apa kamu tidak ke cafe hari ini?" imbuh Arka.
"Aku ke cafe mas, tapi ini kan sudah waktunya untuk istirahat siang. Makanya aku pergi kesini untuk menemui kamu!" balas Allen jujur. "Oh.. iya mas, sebenarnya aku datang kesini untuk meminta izin kepadamu." imbuhnya pelan.
Arka menepuk jidatnya pelan, ia melupakan jika ini sudah waktunya untuk beristirahat siang.
"Ya ampun, kenapa aku bisa lupa ya." ucap Arka.
Arka mengingat ucapan Allen yang akan meminta izin kepada dirinya, lalu Arka bertanya pada Allen karena rasa penasarannya.
"Honey, tadi kan kamu bilang mau meminta izin kepadaku, memangnya izin apa sih?" tanya Arka to the point.
Allen berfikir sejenak, apakah kali ini sang suami akan mengizinkan dirinya untuk pergi ke kota B. Jujur ia sangat merindukan sang ibunda, yang sudah lama tidak Allen temui. Apalagi sang bunda juga belum tahu jika dirinya sedang mengandung cucunya.
Arka mengguncangkan tubuh Allen yang belum menjawab pertanyaannya. Sedangkan Allen kaget dengan perlakuan sang suami yang menyadarkan dirinya dari lamunan.
"Honey... apa kamu baik-baik saja?" tanya Arka cemas.
__ADS_1
"Eh.. iya mas. Aku baik-baik saja kok!" balas Allen cepat.
"Lalu kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku, tapi malah bengong?" cecar Arka penasaran.
"Oh iya, maaf mas aku lupa. Sebenarnya aku mau meminta izin pada kamu untuk pulang kerumah ibu di kota B, besok. Apa kamu mengizinkannya?" ucap Allen penuh harap.
"Tapi kenapa harus besok, honey?. Kan bisa lain waktu." ucap Arka tak percaya.
"Mas Arka, besok kan hari weekend. Aku juga nggak ke cafe kan, makanya aku ingin pergi besok." jawab Allen penuh harapan.
"Lalu apa kamu akan menginap disana, soalnya aku tidak bisa menemani kamu?" cecar Arka karena tidak rela jika Allen jauh darinya.
Allen berfikir sejenak, lalu ia mengatakan pada suaminya untuk menghilangkan sedikit ketidak relaan sang suami pada dirinya.
"Enggak kok mas, aku ke rumah bunda hanya sebentar. Sorenya aku juga sudah balik ke rumah orang tua kamu lagi!. Aku tahu, karena besok kan waktu kamu masih bersama mba Reni." jawab Allen mengerti.
"Tapi honey..." ucap Arka.
Allen berpikir jika suaminya tidak akan mengizinkan dirinya untuk pergi ke kota B, ia hanya bisa pasrah apapun nanti keputusan yang suaminya berikan, akan Allen terima dengan lapang dada.
Arka memandangi wajah cantik istri keduanya yang sendu karena penuh harap, yang meminta izin darinya. Arka merasa tidak tega, jika Allen murung itu tentu saja berdampak pada calon buah hatinya.
"Baiklah honey, aku akan mengizinkan kamu pulang ke kota B. Tapi ingat ya, sore kamu harus balik lagi ke rumah mommy!" sahut Arka mengizinkan istri keduanya.
Allen tersenyum, dirinya bersemangat, saat sang suami memberikan izin pada dirinya. "Benarkah mas Arka, kamu mengizinkan aku?" tanya Allen tidak percaya.
"Oke bos. Aku ingat perintah kamu, dan aku usahakan sebelum fajar tiba aku sudah berada di kota ini lagi." sahut Allen bahagia.
"Good.." balas Arka sambil membelai mesra rambut panjang istri keduanya.
Arka memeluk hangat istri keduanya, ia juga meminta Allen pergi di antar oleh sopir pribadinya, ia sangat mementingkan keselamatan istri keduanya. Mereka berdua sangat bahagia, meski pertemuannya kali ini sangat singkat.
πππ
Keesokan harinya Allen berpamitan pada kedua mertuanya, sebenarnya ia juga sudah mengungkapkan keinginannya pada mertuanya dari semalam.
Walaupun awalnya kedua mertua Allen keberatan, namun akhirnya mereka mengizinkan Allen pergi. Setelah Allen menjelaskan keinginannya untuk berkunjung ke rumah orang tuanya
Mommy dan daddy mertuanya mengantar Allen hingga dirinya masuk ke dalam mobil. Mereka melambaikan tangannya pada Allen, dan menyuruh sang sopir mengantarkan menantu keduanya dengan hati-hati.
Allen membalas mereka berdua dengan senyuman, ia juga membalas lambaian tangan kedua orang tua Arka.
Sopir pribadi Arka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah keramaian jalanan ibukota menuju ke kota B, tempat dimana Allen dan Arka pertama kali bertemu.
Setelah hampir memakan waktu kurang lebih satu satengah jam, akhirnya mobil Arka yang di kemudikan sopir pribadinya sampai di rumah ibunda Allen.
Allen memandangi rumah sederhana yang menjadi saksi bisu kehidupan dirinya selama berada di desa. Tanpa di sadarinya jika air matanya menetes membasahi pipinya yang cantik.
__ADS_1
Allen tersentak kaget saat sopir pribadi suaminya membukakan pintu mobil saat Allen hendak turun. Allen mengusap air matanya dengan cepat, ia tidak mau sopir pribadi Arka sampai memberitahu suaminya jika dirinya menangis.
"Terima kasih, pak udin." ucapnya pada sang sopir.
"Sama-sama nona, silahkan turun." sahut udin dengan ramah.
"Baiklah terima kasih. Oya pak, mungkin aku pulang ke kota agak sore jadi pak udin bisa beristirahat saja di rumah ibuku." ucap Allen ramah.
Merasa tidak enak hati, pak udin menolak permintaan nona mudanya dengan sopan. Namun Allen memaksanya, karena tidak tega membiarkan orang yang sudah mengantarkannya jauh-jauh menuju ke desa tempat tinggalnya dulu.
Pak udin hanya pasrah, ia pun menuruti permintaan Allen. Allen mengetuk pintu rumah ibundanya.
Tok.. tok.. tok..
"Assallammu'alaikum, bunda." ucap Allen memberi salam.
"Wa'allaikum sallam, iya sebentar." sahut Maya dari dalam.
Ibunda Allen berlari kecil menghampiri siapa yang mengunjungi rumahnya, ia menyambut hangat tamu yang berkunjung ke rumahnya.
Maya kaget saat membuka pintu ternyata tamunya adalah Allen, putrinya semata wayang.
"Allen, bagaimana kabar kamu nak?" sambut Maya antusias.
"Aku baik bunda, bagaimana kabar bunda dan ayah?" Allen balik bertanya.
Sebelum menjawab pertanyaan putrinyaa, Maya mengedar pandangannya ke sekeliling, namun tidak mendapati menantunya, "Kami semua baik nak. Oya mana suami kamu, apa dia tidak ikut bersamamu?" tanya Maya antusias.
"Tidak bu, mas Arka sedang berada di rumah istri pertaβ." ucapan Allen terhenti, ia menutup mulutnya saat hampir saja keceplosan.
Maya mengulang kembali pertanyaannya, ia sedikit curiga dengan ucapan Allen yang baru saja terucap. Namun sebelum ia bertanya pada Allen, ibunda Allen membawa putrinya masuk ke dalam rumah. Ia tidak mau ada orang yang mendengar percakapan mereka.
Maya mencecar putri semata wayangnya, ia ragu sepertinya ada yang sedang Allen sembunyikan dari dirinya dan sang suami.
.
.
BERSAMBUNG....
.
.
.
Author masih menunggu like dan komen dari para pembaca semua ya. Terima kasih untuk yang sudah mampir, salam manis dari Authorππ.
__ADS_1