Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
Pertanyaan Menjebak


__ADS_3

.


.


"Apa kamu mencintai suami mu, nak?" tanya Maya sungguh-sungguh.


Allen menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menjawab dengan jujur pertanyaan bunda nya.


"Awalnya aku tidak mencintainya bun, aku menerima syarat darinya hanya karena aku ingin semua hutang ayah terbayar lunas, dan kehidupan keluarga kita tidak lagi dalam bayang-bayang para renternir itu!" jawab Allen jujur.


"Lalu kenapa kamu masih bertahan dan tidak meminta pisah saja pada suami kamu?" tanya bunda Maya penasaran.


"Aku pernah mengungkapkan itu pada mas Arka, jika aku ingin berpisah darinya. Bukannya dia mengabulkan keinginanku, tapi ia malah dengan keras ingin mempertahankan antara aku dan istri pertamanya!." imbuh Allen.


Maya terus mencecar putri semata wayangnya dengan berbagai pertanyaan yang sudah tersusun dalam hatinya, ia ingin Allen menjelaskan dengan detail tentang dirinya yang rela menjadi istri kedua.


"Tapi kenapa kamu rela mengorbankan kebahagiaanmu sendiri demi ayah dan bunda, dan kenapa kamu rela menikah bersama pria yang tidak kamu cintai!." cecar bunda Allen.


"Karena aku ingin 'Balas budi' pada orang yang sudah berjasa merawat dan mendidik aku sejak kecil hingga dewasa bun, karena hanya itu yang dapat aku lakukan pada kalian!" terang Allen dengan jelas sambil menitikan air matanya.


"Tapi tidak harus seperti ini bukan?. Kamu kan bisa pergi meninggalkan suami kamu, bahkan pernikahan kalian hanya siri. Jadi tidak perlu mengurus surat cerai, nak.!" balas bundanya keras.


"Awalnya aku pikir juga begitu bun, tapi setelah aku tahu jika aku sedang mengandung anaknya, aku tidak mungkin membawa anak ini lari dari tanggung jawab ayahnya. Dia juga butuh kasih sayang dari ayahnya. Aku juga takut dengan ancaman mas Arka, pasti yang di ucapkannya tidak akan main-main!" ucap Allen dengan kesungguhan hatinya.


"Lalu bagaimana dengan perasaan kamu nak, apa kamu masih sanggup bertahan untuk melewati ujian pernikahan kalian yang keras ini nak?" tanya Maya.


"Bun, aku bahkan sama sekali tidak memikirkan tentang perasaanku!. Aku sudah terbiasa menghadapi kerasnya kehidupanku, yang aku pikirkan adalah nasib anak ini kelak jika ia mengetahui aku hanya sebagai—" jawab Allen terhenti saat Maya meletakkan jari telunjuknya di bibir putrinya.


Maya tahu apa yang akan di ucapkan Allen, makanya sebelum Allen meneruskan ucapannya Maya menghentikan ucapan putrinya.


"Cukup nak, tidak perlu kamu teruskan lagi. Bunda tahu apa yang ingin kamu katakan." potong Maya.


Mendengar pernyataan dari bibir putrinya membuat hati Maya terasa sakit, ia merasa bersalah karena tidak bisa memberikan kebahagiaan pada putri satu-satunya.


Bahkan Allen rela mengorbankan masa mudanya demi menikah dengan orang yang tidak di cintainya. Maya merasa sedih dan hatinya hancur dengan setiap kata yang terucap dari bibir putrinya.


"Kamu tidak perlu pesimis begitu nak. Serahkan saja segalanya pada yang di atas, hidup dan mati seseorang sudah di tentukan." ucap Maya terhenti.

__ADS_1


"Tapi apa bunda mau menerima kehadiran anak ini, dan tidak membencinya?" tanya Allen sedih.


" 'Astaghfirulloh hall adzim'.. Kenapa kamu berfikiran seperti itu nak?" Maya beristigfar sambil mengusap dadanya, setelah mendengar pertanyaan Allen.


Maya juga menasehati putrinya, agar bisa lapang dada dan ikhlas menerima kehadiran sang buah hati.


"Tentu saja bunda akan menerimanya, dia kan tidak bersalah nak. Ini adalah kesalahan kalian sebagai orang tua, jangan menyangkut pautkan masalah kalian dengan anak 'Pamali' tahu. Bunda mohon padamu jaga buah hati kalian, anggaplah sebagai rezeki. Bahkan rezeki juga bukan soal harta dan uang, anak juga termasuk rezeki sangat besar. Siapa tahu saja nanti setelah kehadiran anak ini, suami kamu akan segera menikahimu secara resmi.!" nasehat Maya pada Allen.


Allen menangis sesegukan setelah sang bunda menasehatinya, ia memikirkan betapa egoisnya dirinya. Allen juga menyadari jika setiap kata yang di ucapkan bundanya itu benar, termasuk menganggap kehadiran anak sebagai rezeki yang sangat besar dan tak ternilai harganya, kini ia mulai berfikir positif.


Allen merasa lega setelah menceritakan segala keluh kesahnya pada sang bunda, bagi Allen bundanya adalah pelipur lara dalam hatinya.


Hanya pada sang bunda lah Allen berani mengungkapkan keluh kesahnya, meski awalnya sang ibu yang mendesaknya agar ia menceritakan segalanya. Karena dari awal Allen bersikeras menyimpan masalahnya sendiri.


Ibunda Allen memeluk putrinya dengan hangat, ia meminta maaf pada Allen karena dirinya dan sang suami lah, yang membuat Allen rela menjalani hidup dalam pernikahan yang menyesakkan dadanya.


Ia juga meminta Allen untuk menjaga amanah yang Alloh titipkan untuknya, siapa tahu jika anaknya lahir kelak Arka berubah pikiran untuk menikahi Allen secara resmi.


Karena do'a ibu yang tulus pasti akan di kabulkan oleh Alloh ta'ala.


Allen merasa iba dan kasihan pada sang bunda, ia tidak mau jika bunda nya menjadi sedih dan menangis karena memikirkan dirinya.


Ia tidak mau kedua orang tuanya merasa bersalah, dan merasa berdosa kepadanya. Karena Allen sudah rela menjalani pernikahan bukan atas dasar cinta, namun Allen sama sekali tak peduli.


Menurutnya 'Persetan dengan cinta' toh sang suami juga tidak mencintainya, bahkan Arka menikahinya juga demi hasrat semata.


Arka juga mempertahankan dirinya karena ia sedang mengandung benih cintanya, namun Allen percaya kuasa Tuhan tidak ada siapa pun yang bisa melawannya.


Ia meyakinkan diri jika suatu saat sang suami akan mencintainya, meski Allen tidak mau terlalu berharap.


Ia menjalani saja pernikahannya dengan Arka seperti air yang mengalir, dan mengikuti saja kemana alurnya. Hanya do'a yang tulus, yang selalu terpanjatkan dalam setiap sujudnya.


"Bunda tidak egois kok. Ini semua sudah menjadi takdir kehidupan Allen, bun. Allen ikhlas menerima semua ini, terima kasih juga atas dukungan yang bunda selalu berikan kepadaku!" sahut Allen, sambil menyunggingkan sedikit senyumnya pada bundanya.


"Terima kasih juga,nak. Atas pengorbanan kamu pada keluarga kita, bunda selalu berdo'a agar kebahagiaan selalu menyertaimu!" ucap bunda tulus.


"Amien.. Terima kasih juga bun, karena bunda selalu berada di sisiku dan mendo'akan aku. Semoga restu bunda adalah 'awal dari kebahagiaanku'!" balas Allen tulus.

__ADS_1


"Amien..." sahut bunda dan ayah bersamaan.


Allen tersentak kaget saat ayahnya juga mengaminkan do'anya, entah dari kapan laki-laki paruh baya itu berdiri di ambang pintu. Allen juga tidak tahu, ia kebingungan apakah ayahnya sudah mendengarkan obrolannya bersama sang bunda, sedari tadi.


Untuk menepis rasa penasarannya Allen menanyakan langsung pertanyaannya dalam hati, tapi sebelum itu dirinya menghampiri sang ayah dan memeluknya dengan hangat. Ia melepaskan rindu pada pria yang memberinya cinta pertama, sebelum orang lain.


"Ayah, apa kabar. Allen rindu pada ayah,? " sapa Allen ramah.


"Ayah baik nak, ayah juga merindukanmu!. Oh iya, bagaimana dengan keadaan kamu. Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Heri penasaran.


Allen menganggukan kepalanya dengan cepat, ia juga membalas pertanyaan ayahnya dengan menyunggingkan senyum. Berharap jika sang ayah tidak curiga tentang apa yang dirinya dan sang bunda katakan dari tadi.


"Iya yah, semuanya baik-baik saja." balas Allen cepat.


"Kamu nggak usah membohongi ayahmu yang sudah tua ini nak!" ucap Heri dengan lantang.


Allen terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan ayahnya.


"Apa maksud ayah?, ayah tidak percaya kalo aku baik-baik saja?" tanya Allen.


Dengan cepat Heri menggelengkan kepalanya perlahan, lalu berucap "Ayah sudah mendengar segala yang kamu ucapkan pada bundamu sedari tadi. Apakah semua itu benar adanya nak?" cecar ayah Allen.


Namun semua harapannya mustahil, karena rupanya sang ayah sudah mendengar semua apa yang di ucapkan Allen pada bundanya.


.


.


***BERSAMBUNG***.....


.


.


.


Author masih setia menunggu dukungan dari para Raeder's semua ya, Thank's yang sudah mampir dan setia membaca karya novelku...🙏🏻🥰

__ADS_1


__ADS_2