Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
Penjelasan Dari Hendra


__ADS_3

.


.


Di ibukota Allen mengisi hari-harinya dengan menyibukkan diri dengan membantu meringankan pekerjaan sang suami, sama seperti hari-hari biasanya sebelum suaminya pergi meninggalkan dirinya untuk beberapa hari ke depan.


Siang ini Allen masih sibuk di depan laptopnya, ia juga di tugaskan oleh Arka untuk mengawasi keuangan perusahaan sang suami yang masuk dan keluar. Sementara Arka pergi keluar negri.


"Baguslah... Semua berjalan dengan baik. Aku sudah selesai mengoreksi semuanya, kini aku akan turun sebentar. Rasanya perutku mulai keroncongan" monolog Allen pelan.


Ia akhirnya bangkit dari kursi empuk tempat dirinya mengerjakan tugasnya tadi, Allen menyambar ponselnya lalu membawanya turun ke lantai bawah. Allen takut sang suami menghubunginya nanti.


Allen baru saja turun dan ia mulai duduk di kursi empuk yang berada di ruangan keluarga suaminya. Wanita paruh baya yang bernama bibi Sari menghampirinya, lalu ia menanyakan apa yang Allen perlukan, siapa tahu Allen membutuhkan bantuan darinya.


"Kamu butuh apa, nak? Sini biar bibi Sari bantu!" ucap bi' Sari sopan, ia memang sudah menganggap Allen sebagai cucunya sendiri. Itu pun Allen yang meminta dirinya untuk tidak memanggilnya nyonya muda, dan sesuai kesepakatan bi' Sari pun menganggap Allen seperti cucunya. Bahkan keduanya kini sangat dekat.


"Terima kasih banyak bantuannya, bi' sari. Aku minta tolong ambilkan jus jambu dan camilan ya bi', entah mengapa perutku rasanya lapar sekali. Padahal hari masih siang." ucap Allen jujur, meski ia malu-malu untuk mengatakan yang sesungguhnya.


"Tidak apa-apa, nak. Wajar saja karena kamu kan sedang mengandung, ada dua tubuh yang membutuhkan asupan jadi wajar saja jika kamu merasa sering lapar!" balas bik sari sambil membawakan segelas jus yang di pesan Allen, juga camilan yang lumayan mengenyangkan khususnya untuk ibu hamil.


"Ini nak, makanlah. Pasti nanti perut kamu tidak keroncongan lagi, apa kamu mau makan nasi?" tawar bibi Sari, namun dengan cepat Allen menolaknya.


"Tidak bik, terima kasih. Aku makan ini saja, aku rasa ini sudah cukup."


"Baiklah.. Jika nanti kamu butuh apa-apa panggil bibik saja. Bibik kembali lagi ke belakang ya, nak Allen. Soalnya bibik masih ada pekerjaan yang lainnya." ucap Sari sopan.


Wajar saja karena dirinya adalah ketua Art, yang bekerja di rumah keluarga Giordino. Jadi tentu saja pekerjaannya memang banyak, ia juga mempunyai tugas untuk selalu mengawasi para pekerja yang lain.


"Baik bik, terima kasih banyak." ucap Allen ramah. Dirinya juga menyunggungkan senyum manisnya pada wanita yang sangat dekat dengan dirinya.


Meski Allen orang yang ramah pada siapa pun, namun ia memang memiliki kedekatan khusus dengan bik Sari. Bahkan terkadang Allen juga tidak sungkan bercerita pada wanita paruh baya itu.


Bibi Sari masuk ke belakang lagi, sementara Allen menikamati segelas jus dan camilan yang di sajikan oleh bi Sari barusan. Kini perutnya sudah terisi dan kenyang, ia mengelus perutnya yang kini sudah membuncit.

__ADS_1


"Kamu sudah kenyang ya, nak. Bunda bahagia karena kini ada kamu di perut bunda. Kamu menjadi pelipur bunda, di saat ayah kamu pergi. Terima kasih ya, nak. Sehat-sehat ya di perut bunda. Bunda berjanji akan selalu menjagamu!" ucap Allen pelan.


Ucapannya pun mendapatkan respon positif dari calon buah hatinya, ia dengan aktif menendang perut Allen yang membuatnya meringis pelan. Namun Allen sangat menikmati masa-masa tersebut, dirinya bahagia karena dapat merasakan jika proses menjadi seorang ibu memang tidak mudah.


Saat Allen tengah asyik mengobrol dengan calon buah hatinya, tiba-tiba ponselnya berdering, menandakan ada seseorang yang menghubunginya.


Allen melihat siapa yang memanggilnya, tertera yang memanggil dirinya adalah Hendra, sahabat suaminya. Dengan rasa penasaran, Allen menjawab panggilan tersebut. Siapa tahu memang ada yang penting sehingga Hendra menghubunginya.


πŸ“ž"Hallo.. ada apa,Ndra?" tanya Allen tanpa basa-basi.


πŸ“ž"Aku hanya mau memberitahu kamu, Renita berhasil kami temukan. Tapi..." ucap Hendra terjeda.


πŸ“ž"Tapi apa? Dia baik-baik saja kan? Lalu mas Arka di mana?" tanya Allen seolah mengintrogasi sahabat suaminya.


πŸ“ž"Kamu.. kamu adalah wanita yang paling kuat dan tangguh, Len!"


πŸ“ž"Apa maksud kamu? Tidak usah berlebihan memujiku. Aku melakukan ini semua karena aku juga mengkhawatirkan mba Reni. Tapi aku bahagia karena kamu bilang kalian berhasil menemukan mba Reni!"


πŸ“ž"Apa maksud kamu? Lalu mas Arka tahu? Apa dia marah besar pada mba Reni?"


πŸ“ž"Ternyata dia menjalin kasih dengan Nando. Sepertinya juga Arka marah besar. Tapi aku akan berusaha untuk selalu mengawasi dan menemaninya. Kamu tahu kan kepergianku adalah untuk menemani suami kamu, aku lakukan ini karena aku peduli pada kalian berdua. Sudah dulu ya, aku akan membuntuti Arka." ucap Hendra jujur.


πŸ“ž"Apa?? Iya, terima kasih segalanya, Ndra. Tolong jaga mas Arka ya." balas Allen, ia sungguh kaget mendengar apa yang di ucapkan oleh Hendra, lalu ia mematikan panggilan tersebut karena sepertinya Hendra sedang terburu-buru.


Setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Hendra, Allen berharap suaminya akan dapat mengontrol emosinya. Allen tidak mau sang suami akan memperlakukan Renita dengan kasar.


"Mas.. Semoga kamu selalu ingat apa yang aku ucapkan kepadamu, ya. Semoga kamu dapat mengontrol emosi kamu, jangan sampai kamu menyakiti atau melukai mba Reni." monolog Allen pelan.


Tanpa di duga mommy Ros sudah berada di belakang Allen, dengan segudang pertanyaan dalam hatinya Ros mendekat ke arah Allen. Kini dirinya mulai mencecar berbagai pertanyaan pada anak menantunya itu.


"Tadi kamu bilang apa, nak?" tanya mommy Ros. Sontak Allen terlonjak dari tempat duduknya karena keget.


"Mommy...! Sejak kapan mommy pulang? Aku sampai kaget, atau aku memang tidak menyadari kedatangan mommy." ucap Allen gugup.

__ADS_1


"Mommy baru saja pulang. Tapi tadi mommy mendengar kamu menyebut nama Renita. Apa Arka sudah berhasil menemukan wanita itu?" cecar mommy dengan rasa penasaran.


Allen menganggukan kepalanya, ia menjawab pertanyaan sang mommy mertua. "Iya mom. Tadi Hendra mengatakan jika mereka berdua berhasil menemukan keberadaan mba Reni, tapi menurut Hendra mba Reni bersama seorang laki-laki." ucap Allen mencoba menjelaskan pada Ros.


"Maksud kamu?" tanya Ros, ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih.


πŸ‚πŸƒπŸ‚


Melihat wanita di depannya hanya diam membisu, Arka menyadarkan dirinya. Sungguh rasa penasaran kini menguasai rasa dalam hatinya, bahkan kini rasanya ia sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui kebenaran yang telah terjadi.


"Kenapa kamu hanya diam, Ren? Coba katakan yang sejujur-jujurnya kepadaku?" tanya Arka serius. Namun sebelum dirinya mendapatkan jawaban pasti dari istri pertamanya, ada suara gaduh dari dalam kamarnya. Bahkan terdengar suara ketukan pintu kamar Arka beberapa kali.


"Ren.. Renita, kamu di dalam? Keluarlah...!" terdengar suara pria dari luar dengan lantangnya.


Tok..tok..tok..


"Ren.. Jawablah pertanyaanku, Ren.." ucapnya lagi.


Suara itu membuat Arka naik darah, ia pun membuka pintu kamarnya. Terlihat pemandangan di depan matanya yang menganggu pengelihatannya, dua orang pria dewasa yang sedang bertengkar.


Kedua pria itu adalah Hendra dan Nando yang sedang berdebat, tadinya Hendra menghalangi Nando untuk mendatangi kamar Arka. Namun tanpa ia sangka ternyata, Nando tidak mau mengalah. Ia bahkan bersikeras ingin membawa Renita pergi bersamanya.


.


.


Bersambung...


.


.


Selamat membacaπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»

__ADS_1


__ADS_2