
.
.
Di sebuah tempat persembunyiannya, kini wanita yang dulunya selalu bermanja-manja pada Arka sekarang terlihat lebih mandiri. Kini biaya kehidupannya di tanggung oleh ayah biologis anak yang sedang di kandungnya, tanpa ia harus bersusah payah bekerja sendiri.
Dulu saat ia masih bersama Arka juga sudah di minta sang suami untuk berhenti bekerja, namun karena sifat keras kepalanya Reni terang-terangan menolak permintaan Arka saat itu. Tidak biasanya juga ia mau mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak dan lain sebagainya, seperti yang seharusnya seorang istri lakukan di rumah.
Seperti yang siang ini sedang ia kerjakan, ia terlihat sedang menyapu halaman rumah yang ia tinggali. Tanpa ia sadari jika di luar pagar, ada seorang laki-laki yang sedang memperhatikannya sedari tadi.
Meski kehamilannya sudah berjalan ke lima bulan, namun perutnya masih belum terlihat membuncit. Namun sedikit terlihat berbeda dari caranya menopang tubuh yang seolah tidak merasa nyaman, dan sesekali ia beristirahat karena merasa lelah.
Saat Reni sedang melihat ke arah luar pagar rumah, dirinya terkejut saat pandangannya melihat seorang laki-laki yang berada di luar pagar.
Reni yang merasa sedang di mata-matai oleh pria tersebut memberanikan diri mengahampiri serta menegur pria tersebut.
"Hey.. Siapa kamu? Mau apa kamu berada di halaman rumahku ini? Jangan macam-macam di rumahku ya, atau aku akan meneriaki kamu pencuri!" ucap Reni dengan lantang.
Dengan cepat pria tersebut berkilah pada Reni, ia mencari alasan agar Reni tidak mencurigainya.
"Maaf nyonya, anda salah paham padaku! Perkenalkan nama saya David, saya adalah sahabat tuan Nando. Tadinya saya akan berkunjung ke rumah ini dan menemuinya, untuk membahas masalah pekerjaan. Tapi aku perhatikan, sepertinya ia tidak berada di dalam rumah. Jadi saya memutuskan untuk menunggunya disini. Dan anda keburu melihat saya, serta menaruh rasa curiga pada saya." jelas pria tersebut.
Tanpa banyak berfikir, Reni mempercayai apa yang di ucapkan oleh pria tersebut. Ia juga membalas ucapan dari pria itu tanpa ragu.
"Nando sedang tidak berada disini, jika anda mencarinya. Maka cari saja ke alamat rumah istrinya. Siapa tahu dia sedang berada disana." jelas Reni pada pria di hadapannya.
Sontak pria tersebut berpura-pura kaget dan syok di depan Renita. "Loh.. Bukannya tuan Nando itu suami anda, nyonya? Kenapa anda berkata, dia sedang berada di rumah istrinya. Anda jangan bercanda nyonya!" ucapnya dengan di bumbui akting yang sangat luar biasa.
Reni tersenyum kecut, dirinya bingung harus menjawab apa pertanyaan yang baru saja terucap oleh pria yang mengaku bernama David tersebut.
Namun Reni juga mencari alasan lain untuk mengusir pria tersebut dengan cara halus, ia tidak mau membuka topengnya saat itu.
"Maaf.. Anda ada perlu dengan Nando kan. Datangi saja ke rumah istrinya yang beralamat di kota XXX disana anda mungkin akan menemukannya. Karena kali ini Nando sedang tidak berkunjung kesini! Jadi pergilah saja ke tempat tersebut. Saya permisi untuk masuk dulu!" ucapnya datar.
Reni bergegas masuk ke dalam rumah, sementara David sama sekali tidak menyangka jika bosnya memberikan tugas yang baginya penuh dengan teka-teki yang susah untuk di tebak.
David memutuskan untuk menunggu kedatangan Nando dari dalam mobilnya, ia meragukan ucapan yang keluar dari mulut Renita tadi, bahkan Renita juga tidak memberi jawaban pasti akan rasa penasaran dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku rasa apa yang di ucapkan oleh Reni tadi ada yang janggal ya. Kenapa dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku dengan benar! Apa dia takut kebohongannya akan terungkap?" monolog David pelan.
Namun sebelum dugaannya terlalu jauh, dirinya memutuskan untuk melakukan panggilan pada seseorang yang mempercayakan pekerjaan ini kepadanya.
Tuut..tuut..tuut..
📞"Hallo.. Iya ada apa Dav?" suara bosnya di ujung telepon.
📞"Begini bos, menurut penuturan dari nyonya Renita. Tuan Nando tidak tinggal bersamanya di tempat ini, ia juga bilang aku disuruh mencarinya di rumah istrinya di kota XXX."
📞"Benarkah..? Lalu apa sebenarnya hubungan Renita dan Nando?"
📞"Saya masih menyelidikinya bos. Anda tunggu saja berita dari saya selanjutnya!"
📞"Baiklah.. Lakukan apa yang semestinya kamu lakukan. Tetap memberitahuku apapun berita yang kamu dapatkan!"
📞"Baik bos. Segera laksanakan!"
Panggilan tersebut terputus, David melanjutkan tugasnya kembali untuk menyelidiki kasus yang sedang di tanganinya.
🍂🍃🍂
"Apakabar kamu hari ini honey?" sapa Nando dengan hangat. Ia mencium pucuk kepala Reni, lalu menarik kursi di depan Reni untuknya duduk.
"Baik. Oya ada apa kamu kesini siang-siang begini?" balas Reni dengan sejuta rasa penasaran dalam hatinya. Karena Nando memang jarang ke rumahnya saat hari masih siang, ia tahu pasti karena Nando banyak pekerjaan yang harus di jalaninya jadi mustahil baginya mendatanginya di waktu yang masih siang.
"Syukurlah.. Memangnya kenapa, apa aku tidak boleh mengunjungi rumahku sendiri?" godanya pada Reni.
"I..iya bukan begitu juga. Maksudku apa kamu sedang tidak ada pekerjaan siang ini, sehingga kamu menyempatkan diri datang kesini siang-siang begini?" jelas Reni dengan ucapan yang terbata.
"Baru saja aku menyelesaikan pekerjaanku. Aku mampir kesini untuk makan siang bersamamu. Aku lapar!" ucap Nando jujur.
Mendengar pria di depannya yang mengatakan jika dirinya lapar, Reni hendak bangkit dari duduknya untuk mengambilkan makanan untuknya. Namun dengan cepat Nando menghentikan langkah wanita yang di pujanya.
"Tidak usah. Biar aku yang mengambilnya sendiri. Kamu sudah lelah hari ini." ucap Nando.
"Aku sudah biasa melakukannya sendiri. Bahkan aku juga sudah mulai terbiasa mandiri semenjak kamu membawaku pergi dari tempat kelahiranku!" ucapnya sambil mencibir pria di depannya.
__ADS_1
Merasa tersudutkan Nando pun meminta maaf pada wanita di hadapannya, "Aku minta maaf padamu! Aku tahu kamu kecewa padaku! Izinkanlah aku menebus segala kesalahan yang pernah aku perbuat kepadamu!" ucapnya penuh perasaan bersalah.
Reni melihat pria itu berbeda dari biasanya, hari ini Nando sama sekali tidak marah-marah kepadanya, padahal ucapannya tadi menyudutkan pria tersebut. Mereka berdua menyantap makanan yang ada di depannya dengan lahap, setelah selesai mereka bercakap-cakap kembali.
"Bagaimana kamu bisa menebusnya? Langkah apa yang akan kamu ambil?" tanya Reni meragukan ucapan Nando.
"Aku akan segera menikahimu!" ucap Nando serius.
"Apa?! Bagaimana bisa, kamu dan istrimu saja masih belum bercerai!" balas Reni penuh keraguan dalam hatinya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Nando akan mengatakan hal seperti itu dengan mudahnya, seolah dirinya tidak memikirkan bagaimana nasib orang-orang terdekatnya.
"Kamu tidak usah khawatir, semua bisa di atur!" ucap Nando santai.
"Gila kamu ya! Apa kamu tidak memikirkan bagaimana nasib anak dan istri kamu, sehingga kamu mengambil keputusan seenak jidat kamu, mas!" bentak Reni kesal.
Alih-alih marah, pria itu malah menertawakan apa yang baru saja terucap dari bibir wanita di hadapannya. "Hihihi.. Kamu tidak perlu marah-marah seperti itu, tidak baik untuk kesehatan buah hati kita!" ucap Nando tegas.
Sontak Reni melotot pada Nando, ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Namun dirinya juga membenarkan apa yang di ucapkan Nando barusan, jika tidak baik dirinya marah-marah.
"Jika aku menikah dengan Nando, berarti nasibku juga tidak jauh berbeda dengan Allen, dong. Yang merebut suami orang! Tapi bagaimana bisa aku menikah dengannya, sementara aku masih sah menjadi istri Arka! " batin Reni, ia asyik dengan pikirannya sendiri.
Melihat wanita di hadapannya bengong, Nando menyadarkan Renita dari lamunan.
"Hey.. Di ajak ngomong malah bengong aja. Apa yang kamu pikirkan sih?!" ucap Nando lantang, sambil menggoyangkan tangan Reni.
.
.
Bersambung...
.
.
.
**Jangan lupa dukungannya ya..
__ADS_1
Selamat membaca, jangan lupa juga tinggalkan like, komen, favorit serta vote untuk karya author..
Terima kasih banyak**...