Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
Sesal Datang Di Akhir


__ADS_3

.


.


Nando bergegas ke kamar dimana Reni berada, disana pula sudah ada seorang wanita yang menunggunya dengan raut wajah yang sangat kecewa.


Begitu melihat Nando masuk Reni langsung mencecarnya dengan berbagai pertanyaan, yang sedari tadi telah tersusun di otaknya. Bahkan ia juga sama sekali tidak merasa takut dengan pria tegas tersebut.


"Tolong jelaskan padaku siapa wanita tadi? Kenapa ia begitu marah saat melihat kita bermain gila, barusan?!" tanya Reni dingin. Ia mencoba membendung air mata di pelupuk matanya.


Tanpa banyak berpikir Nando langsung menjelaskan siapa wanita tadi memergokinya sedang bercumbu mesra dengan Reni.


"Dia adalah... Nauren. Istri sah aku!" jawab Nando seolah tanpa merasa bersalah.


"Apa...?!"


Reni menghampiri pria yang menjadi selingkuhannya selama ini, hatinya hancur berkeping-keping saat ia mendengar penjelasan dari Nando. Ia sama sekali tidak menyangka jika pria itu ternyata sudah memiliki istri.


"Kamu menjijikan Nando! Kenapa dari awal kamu tidak berterus terang padaku? Jika kamu sudah menikah, kenapa juga selama ini kamu bertingkah seolah kamu masih seorang bujangan, hah..?" ucap Reni marah.


"Aku bisa menjelaskan semuanya padamu, honey."


"Kenapa baru sekarang kamu ingin menjelaskan padaku, setelah hubungan kita ketahuan oleh wanita yang kamu sebut sebagai istri kamu! Kenapa tidak dari dulu, sebelum kita melangkah jauh seperti ini. Bahkan sampai aku hamil!" bentak Reni kesal.


"Sudahlah honey, kamu jangan marah-marah. Lagian kita melakukan hubungan terlarang ini, karena kita berdua sama-sama senang dan sama-sama terpuaskan kan?" ucap Nando membela diri, seolah membenarkan tindakannya. "Kasihan juga janin yang sedang kamu kandung, jika kamu terus marah-marah begitu!" jawab Nando mencoba menahan amarahnya, ia menggenggam tangan Reni berharap wanita itu tidak marah lagi padanya.


Tapi ternyata semua usaha yang di lakukan oleh Nando tidak membuahkan hasil sama sekali, Reni bahkan semakin marah pada dirinya.


"Kamu jangan jadikan anak ini sebagai alasan untuk membenarkan kesalahan yang sudah kamu perbuat, Nando. Kamu memang bejat!" teriak Reni.


"Apa kamu bilang, aku bejat? Lalu kamu kira kamu itu apa, ha..? Kamu kira jika kamu adalah wanita baik? Andai kamu wanita baik-baik, tidak mungkin kamu akan mengkhianati suami kamu sendiri kan?"


"Lalu apa yang kamu inginkan dariku? Aku harus pergi meninggalkan dirimu? Tapi jangan coba-coba untuk kabur dari sini ya!" ancam Nando tidak main-main.

__ADS_1


"Kamu...!" tunjuknya pada Nando.


"Terserah kamu mau bilang apa! Yang jelas jangan sekali-kali kamu mencoba untuk kabur dariku. Atau kamu tunggu resiko yang akan aku berikan padamu!" ucap Nando serius.


"Huh.. Kamu, pria yang egois!!" ucap Reni kesal.


Mendengar apa yang keluar dari bibir kekasih gelapnya, membuat Nando menarik kedua ujung bibirnya. Ia tersenyum menyeringai, namun di hati kecilnya ia juga tidak mau wanita yang selalu memuaskannya pergi meninggalkan dirinya.


Reni marah dan kesal pada pria itu, ia sama sekali tidak menyangka jika dirinya kini bagaikan orang bodoh. Sudah ia kabur dari suaminya, eh.. Tapi nasibnya juga masih tidak beruntung.


Reni mendorong tubuh kekar Nando, ia meminta Nando untuk pergi. Untuk saat ini Reni ingin sendiri, tanpa adanya pria itu dari pandangan matanya.


"Pergilah Nando. Aku mohon, untuk saat ini aku tidak mau di ganggu!" ucap Reni tegas.


"Baiklah, sekarang aku akan pergi. Ingat baik-baik ya Ren, aku akan kembali lagi kesini. Aku tidak peduli dengan Nauren, juga aku tidak peduli dengan semua ancamanmu. Toh.. seandainya kamu pergi meninggalkan aku, belum tentu juga suamimu akan menerimamu serta anak yang sedang kamu kandung! Ingat itu baik-baik ya, Ren!" ucap Nando tegas.


"Pergilah.. Aku jijik padamu!!" bentak Reni kesal, karena Nando tak kunjung pergi.


Reni mengunci pintu kamarnya, meski di dalam rumah itu juga masih ada seorang wanita yang di tugaskan Nando untuk menjaga dan menemani Reni, semenjak dirinya masih mendekam di penjara.


Tak pernah terpikirkan sebelumnya, jika ia harus di pergoki oleh istrinya saat sedang bercumbu mesra bersama wanita lain. Tanpa banyak berfikir akhirnya ia ingin pulang ke rumah istri sah nya.


Ia terlebih dahulu menemui wanita yang di suruhnya untuk menjaga Renita, ia marah-marah tidak jelas pada wanita tersebut. Meski alasannya tentu saja karena ia kepergok oleh Nauren, istri sah nya.


"Kenapa kamu biarkan Nauren masuk ke dalam rumah ini?!" bentak Nando pada wanita itu.


"Maafkan saya tuan. Tadi saya sudah mencegah nyonya Nauren, tapi ia tetap memaksa bahkan ia mengancam akan melaporkan saya pada pihak yang berwajib. Alasannya karena saya menutupi kejahatan yang anda lakukan." balas wanita itu dengan gemetar karena takut.


"Tapi kan masih ada cara lain untuk mencegahnya agar tidak masuk kesini. Kenapa kamu bisa bodoh dan bisa kecolongan, seperti ini! Aku membayarmu untuk bekerja, bukannya untuk bermalas-malasan!" tuduh Nando tanpa berfikir.


"*Andai saja anda bukan bosnya, sudah aku lakban itu mulut. Biar nggak menyalahkan aku melulu. Masih untung selama anda di penjara, aku selalu menjaga selingkuhan anda. Kenapa anda yang ketahuan oleh istri anda, aku yang harus kena getahnya, sih?"


"Resiko jadi bawahan ya memang seperti ini, segalanya selalu salah! Tapi aku tidak benari melawan tuan Nando, ia kan seorang mafia berdarah dingin. Bisa jadi nyawaku nanti akan melayang di tangannya. Aku akui saja jika kali ini memang aku yang bersalah*." batinnya dalam hati.

__ADS_1


Wanita itu merasa tersudutkan oleh ucapan tuannya, seandainya saja yang berbicara bukan seorang mafia, dan bukan orang yang memberinya gaji, tentu ia sudah murka dengan semua tuduhan itu. Namun kali ini, ia mengakui jika ini semua adalah kesalahannya.


"Saya mohon maaf sekali lagi, tuan." ucapnya lirih sambil merapatkan kedua tangannya di dada.


Nando tidak banyak berkata-kata lagi, ia memilih pergi ke rumah Nauren. Berharap jika istri sah nya akan dapat memaafkan kesalahan fatal yang telah di perbuatnya.


Sementara Renita menangis sejadi-jadinya, entah apalagi yang akan di perbuatnya kini. Hatinya hancur, ternyata kebodohannya sendiri yang menjadi pemicu segalanya.


Andaikan dari awal ia meneliti siapakah Nando sebenarnya, mungkin ia tidak akan terjebak dalam situasi yang rumit seperti ini.


"Argh... Bodoh.. Bodoh.. Bodoh.. Kenapa aku sangat bodoh. Kenapa semua yang aku lakukan selalu salah? Sekarang aku harus apalagi, tidak mungkin juga aku pulang ke indonesia. Bisa jadi Arka marah besar padaku, andaikan ia tahu aku hamil bukan anaknya."


"Tapi aku harus bagaimana lagi, semuanya kini hancur sudah. Aku menuduh Allen sebagai pelakor, yang sudah merebut suamiku. Tapi lihatlah apa yang terjadi pada diriku...!"


"Aku bahkan lebih parah darinya. Dia hamil tapi menikah dengan Arka, walaupun hanya sebagai istri siri. Tapi lihatlah aku... Aku menikah dengan Arka, tapi malah hamil anak orang lain. Laki-laki yang ternyata sudah memiliki istri. Aaahhh..." Reni terus meracau menyalahkan dirinya sendiri.


Ia salah besar telah menuduh Allen yang merebut suami orang, padahal ia sendiri juga menjadi duri dalam pernikahan orang lain. Meski semua ini bukan salah Reni, tapi kini ia baru menyadari segalanya.


Di tengah pergulatan dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat siapa yang menghubunginya. Ia malas menjawab telepon dari Nando, tapi ternyata yang menghubunginya adalah mamanya, Diana.


.


.


Bersambung...


.


.


.


**Jangan lupa tinggalkan like, komen, favorit, serta vote ya..

__ADS_1


Terima kasih banyak yang sudah memberi dukungan, salam manis dari Author🄰**.


__ADS_2