
.
.
Setelah mengantarkan Allen ke apartemen miliknya, dan meninggalkan Allen disana. Arka pulang ke rumah orang tuanya, ia segera melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamarnya untuk mencari ponsel milik Allen. Ia ingin memastikan apakah yang di ucapkan Allen benar, jika ponselnya tertinggal di rumah.
Arka mencari di sekitar tempat Allen mengutak atik laptopnya tadi siang, ia ingat dimana Allen biasanya meletakkan ponsel miliknya. Ternyata memang benar, ponsel Allen berada di dekat laptop miliknya.
Kini Arka bertanya dalam hatinya mengapa Allen meninggalkan ponselnya di rumah, serta ada hubungan apa pula Hendra dan Allen pergi bersama. Setahu Arka, Allen bukanlah perempuan yang mudah di ajak pergi, apalagi oleh seorang laki-laki.
"Kenapa ponsel Allen tidak di bawa sih, dasar ceroboh! Dan kenapa juga dia mau di ajak pergi oleh Hendra? Atau apa yang di ucapkan Allen tadi memang benar, jika ia memang di paksa untuk mengikuti Hendra? Tapi ada urusan apa, Hendra membawa Allen pergi? Tidak mungkin juga mereka memjalin hubungan di belakangku, kan? Tidak.. Tidak!" monolog Arka pelan sambil menepis prasangka buruknya pada Allen dan Hendra.
Arka masih sibuk dengan pikirannya sendiri, ia mulai mengecek ponsel milik Allen. Ternyata memang benar jika Hendra yang menghubungi istrinya terlebih dahulu.
Arka berinisiatif menelfon Hendra dengan ponsel Allen, tapi sayangnya telepon milik Hendra sedang di luar jangkauan. Arka kesal ia ingin menghampiri Hendra di rumahnya, namun niatnya di urungkannya.
🍂🍃🍂
Tanpa di sangka jika Hendra membuntuti Arka, ia sama sekali tidak menyangka jika suami Allen yang sekaligus sahabat baiknya akan mengurung Allen di apartemen miliknya.
Hendra memperhatikan pintu apartemen milik Arka dari tadi, ia takut jika Allen yang berada di dalamnya kenapa-napa. Apalagi kini kondisi Allen sedang mengandung, ia pikir jika di dalam sana tidak ada makanan yang bisa Allen makan. Karena setahu Hendra, Arka memang jarang berkunjung ke tempat itu.
Hendra memberanikan diri mengetuk pintu tersebut, ia ingin mematahkan rasa penasaran di hatinya. Ia juga berharap jika Allen akan baik-baik saja di dalam sana. Hendra siap menanggung resiko jika Arka marah kepadanya, Hendra rela menjadi pelampiasan amarah sahabatnya, kerena semua ini terjadi karena ulahnya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Allen, apa kamu baik-baik saja di dalam?" tanya Hendra khawatir.
Allen menghentikan tangisnya sesaat, ia menajamkan pendengarannya lagi. Ia tidak percaya, karena sepertinya tadi Allen mendengar ada yang memanggil namanya.
Allen mendekat ke arah pintu, ia menggedor pintu dengan sedikit keras. Berharap jika akan ada orang yang datang menolong dirinya.
__ADS_1
"Siapa di luar? Bisa tolong bantu keluarkan aku dari dalam sini?" ucap Allen dengan suara serak karena tangisnya dari tadi.
Mendengar jawaban dari dalam, Hendra langsung memencet kode dalam pintu appartemen itu. Berharap jika Arka belum mengganti kode tersebut, Hendra tahu pasti jika kode yang Arka masukan adalah tanggal ulang tahun Arka yaitu 110691.
Hendra mencoba memencet kode dengan nomor tersebut, karena Hendra tahu, jika pintu di kunci dari luar. Ia meyakinkan Allen jika semuanya akan baik-baik saja.
"Allen, kamu tunggu sebentar ya. Aku akan mengeluarkan kamu dari dalam, sebentar lagi kamu pasti akan keluar dari sana!" ucap Hendra yakin.
"Iya.. Terima kasih." balas Allen tulus.
Tanpa butuh waktu yang lama akhirnya Hendra berhasil membuka pintu aparteman tersebut. Ia bernafas dengan lega, karena ternyata kode yang Arka masukan masih sama seperti yang dulu.
"Syukurlah, ternyata Arka masih belum mengganti kode apartemen miliknya. Setidaknya aku bisa menolong Allen yang di kurung di dalam sana. Aku siap menerima apapun nanti resiko yang Arka berikan kepadaku. Aku yakin semarah apapun Arka, ia tidak akan berani membunuhku! Ini semua salahku, karena akulah Allen di kurung dalam apartemen ini oleh Arka." batin Hendra.
Saat pintu berhasil di buka, disana terlihat Allen yang sedang menangis ketakutan.
"Allen.. Kamu baik-baik saja?" tanya Hendra khawatir.
Hendra membiarkan dirinya di maki-maki oleh Allen, ia memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari Allen. Karena dirinya lah penyebab Arka marah pada Allen. Sama seperti apa yang Allen ucapkan.
"Maafkan aku, Allen. Aku memang salah karena akulah, Arka marah padamu dan mengurungmu disini. Aku benar-benar minta maaf, Allen!" ucap Hendra sambil memeluk Allen.
Allen menangis sedih, ia sama sekali tidak menyangka jika dirinya kini terkena imbas dari kesalahan yang tidak sengaja di perbuatnya.
Allen mencoba mendorong tubuh kekar Hendra, ia tidak mau ada yang melihat dirinya yang sedang di peluk pria lain selain suaminya. Atau nanti jika Arka sampai melihatnya, Arka akan semakin marah kepadanya.
"Lepaskan..! Kita bukan siapa-siapa! Jangan kamu lakukan ini padaku, aku tidak mau mas Arka semakin menuduhku yang bukan-bukan. Aku mohon pergilah dari sini!" ucap Allen dengan derai air matanya yang masih mengalir membasahi pipinya.
"Tidak! Aku tidak akan pergi kemana dari sini. Aku akan menanggung resiko jika Arka marah padaku nanti. Karena semua ini adalah salahku! Aku lah penyebab Arka marah padamu. Izinkan aku menebus semua yang telah aku lakukan padamu!" ucap Hendra dengan perasaan bersalah yang menggelayuti pikirannya dari tadi, karena ia sama sekali tidak bisa membela Allen saat dirinya di marahi oleh suaminya.
"Kamu jangan membuat aku marah lagi. Aku akan pulang ke rumah dan menemui mas Arka. Aku juga akan menjelaskan semuanya pada mas Arka." ucap Allen dengan perasaan yang tidak bisa di artikan.
__ADS_1
"Biar aku antar kamu pulang, Allen!" ucap Hendra menawarkan diri, meski ia tahu jika jawaban Allen pasti 'tidak'.
"Tidak usah. Aku akan naik taksi! Jika aku pulang bersamamu, nanti yang ada mas Arka malah akan semakin menuduhku yang bukan-bukan!" balas Allen tanpa rasa ragu.
"Iya juga ya. Kenapa aku tidak kepikiran sampai kesitu!" monolog Hendra pelan.
"Tapi kamu kan tidak membawa uang untuk membayar taksi?" ucap Hendra.
"Soal itu, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan membayarnya di rumah. Terima kasih karena kamu sudah mengeluarkan aku dari sini! Aku pamit pulang, aku akan baik-baik saja. Terima kasih juga, karena kamu sudah membuat mas Arka marah padaku!" ucap Allen sambil menyindir Hendra.
"Iya, sekali lagi aku minta maaf padamu, Allen. Tapi izinkan aku untuk...." ucap Hendra meminta maaf dan berusaha untuk mencegah Allen, tapi ternyata ia gagal membuat wanita itu tetap berada disana.
Sebelum Hendra menyelesaikan ucapannya, Allen sudah pergi meninggalkan dirinya. Allen berjalan dengan cepat, ia ingin segera pulang ke rumah dan menemui sang suami untuk menjelaskan semuanya.
Allen turun menggunakan lift, sehingga ia sampai di bawah dengan cepat. Sesampainya di depan lobby apartemen itu, Allen menghentikan taksi.
Ia meminta sopir taksi itu untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Allen menjelaskan terlebih dahulu pada sopir taksi tersebut, ia akan membayarnya nanti jika sudah sampai di rumah. Ia juga menjelaskan jika dirinya lupa membawa dompet dan uang tentunya.
Beruntungnya karena sopir taksi tersebut mau mengerti dan bersedia mengantarkan Allen pulang ke rumah. Tanpa memikirkan soal ongkos. Sopir itu percaya jika Allen tidak mungkin berbohong kepadanya, ia juga tahu jika Allen adalah istri dari seorang Presdir yang sangat tajir di kota itu. Jadi Allen tidak mungkin berbohong kepadanya. Begitulah pikir sang sopir taksi tersebut.
.
.
Bersambung....
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan, like, komen, favorit, serta vote ya. Author tunggu🙏🏻🙏🏻.