Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
Cinta manis Allen dan Arka


__ADS_3

.


.


Dret... Dret... Dret...


Reni menjawab telepon dari sang mama, yang ternyata panggilan melalui VC. Meski ia mencoba untuk tenang. Namun ternyata air matanya terus terjatuh membasahi pipinya.


📞 "Hallo Ren, apa kamu bisa keluar sebentar. Mama sudah berada di luar."


📞 "Ma..maksud mama?"


📞 "Iya. Kamu keluar dulu, mama sudah berada di depan gerbang rumah yang kamu tinggali. Tapi mama nggak boleh masuk."


Panggilan telepon terputus, meski Reni enggan keluar. Tapi dari gambar yang terpampang saat vc memang Diana berada di halaman rumah yang ia tinggali saat ini.


Dengan langkah cepat Reni keluar, namun ada satu pandangan yang tidak mengenakan di penglihatan Reni. Ia melihat dua wanita dan ada sedikit keributan yang terjadi antara mamanya dan wanita suruhan Nando yang bernama Yola. Reni menghampiri mereka berdua, lalu menanyakan apa yang terjadi.


"Mama.." sapa Reni dengan sedikit keras. Ia sama sekali tidak menyangka jika mamanya akan datang ke kota Lion, tempat yang ia tinggali kini.


"Mama nggak boleh masuk sama wanita ini, Ren." protes Diana.


"Nyonya Reni kenapa anda keluar?. Nanti kalo tuan Nando marah bagaimana?" ucap Yola.


"Tapi saya di tugaskan untuk menolak siapa pun yang akan masuk kesini nyonya. Nanti saya akan terkena masalah lagi, jika anda melawan tuan Nando." kilah Yola membela diri.


Wanita itu kaget karena entah dari kapan kekasih gelap tuannya sudah berdiri tidak jauh darinya. Atau mungkin ia sudah mendengarkan apa yang Yola ucapkan pada Diana.


"Biarkan mamaku masuk, ini perintah!" titah Reni pada Yola.


"Tapi nyonya.." ucap Yola. Ia hanya menjalankan tugasnya dari Nando, untuk menghalangi siapa pun yang ingin masuk ke rumah itu.


"Tidak ada tapi-tapi! Ini perintah dariku, jika nanti Nando marah padamu, biar aku yang akan bertanggung jawab." ucap Reni memaksa.


Reni membuka gerbang, lalu memeluk hangat mamanya.


Sementara Yola hanya dapat memandangi apa yang Reni lakukan. Ia tidak berani lagi membantah apa yang Reni ucapkan tadi.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Reni langsung menuntun mamanya masuk ke dalam. Berbagai pertanyaan dalam benak Diana, namun wanita itu enggan bertanya pada Reni di luar rumah.


Ia takut jika ada yang mendengar percakapan mereka akan menjadi salah sangka bahkan bisa juga menjadi masalah besar untuknya serta putrinya.


🍂🍃🍂


Di kota metropolitan Arka mengisi hari-harinya dengan mengerjakan berbagai tugas. Ia juga mengizinkan Allen membantu pekerjaannya, ia bangga karena di balik sikap cengeng istri keduanya ternyata ia juga wanita yang hebat serta tangguh.


Allen mampu mengerjakan tugasnya dengan baik, meski pun ia kini sedang hamil tapi sama sekali bukan penghalangnya untuk menjalankan tugas yang di amanahkan Arka kepadanya.


Allen juga tidak malu bertanya pada suaminya, jika ada sesuatu yang ia tidak ketahui. Dan dengan sigap pula Arka akan mengarahkan serta memberitahu istri keduanya.


Semenjak kepergian Renita yang tanpa kabar, Arka memilih untuk menyuruh orang untuk mencari keberadaannya. Karena Reni bak di telan bumi, tiada kabarnya sama sekali.


Teleponnya juga sama sekali tidak bisa di hubungi, namun Arka tak ambil pusing dengan masalah tersebut. Beruntungnya ada Allen di sisinya, wanita yang selalu mengerti dengan segala keluh kesah Arka.


Allen juga memberi pengertian pada suaminya, ia menyarankan sang suami untuk terus mencari keberadaan Renita. Meski suaminya mencari lewat orang suruhannya, setidaknya pekerjaan Arka tidak terganggu.


Siang ini Allen masih sibuk di depan laptopnya, ia mengerjakan semua pekerjaan yang di berikan padanya dengan hati bahagia. Tanpa di sangka ternyata Arka pulang ke rumah, ia mengambil beberapa berkas yang tertinggal.


"Mas.. Kenapa kamu pulang? Tumben, ada yang tertinggal lagi?" tanya Allen penasaran.


"Iya honey. Aku melupakan berkas yang akan di bawa meeting nanti setelah makan siang."


Allen menghampiri suaminya, ia berdiri di belakang suaminya lalu merentangakan kedua tangannya di bahu sang suami sambil menasehatinya.


"Kamu jangan terlalu banyak pikiran mas. Aku tahu kamu memikirkan keberadaan mba Reni, tapi kamu juga nggak boleh sakit. Kalo kamu sakit aku nggak bisa mengerjakan pekerjaan kamu yang seabrek itu sendirian." ucap Allen pada suaminya.


"Iya honey. Terima kasih atas perhatian kamu ya. Kamu juga jangan lupa jaga kesehatan, jaga buah hati kita dengan baik di dalam sini. Jika kamu merasa lelah maka beristirahatlah, jangan memaksakan diri." ucap Arka sambil mengusap perut Allen yang sudah agak membuncit.


"Baik mas. Terima kasih atas perhatian kamu." ucap Allen. "Apa maksud kamu berkas yang ini?" tunjuk Allen pada beberapa dokumen yang tersusun rapi di atas meja.


"Yap, betul sekali. Kamu memang istriku yang pandai. Aku beruntung sekali memiliki kamu yang pengertian padaku. Disaat kamu tengah mengandung, tapi kamu masih sanggup menjalankan pekerjaan untuk meringankan bebanku." puji Arka.


"Ah.. Kamu ini berlebihan mas. Aku kan hanya membantu kamu di rumah, aku juga sama sekali tidak melakukan apapun di kantor kamu." kilah Allen menyangkal.


"Siapa bilang kamu tidak melakukan apapun di kantor. Jika kamu tidak membantuku dari rumah, mana mungkin pekerjaanku yang super banyak itu akan selesai tepat waktu."

__ADS_1


"Kamu bisa saja. Nanti aku jadi kegeeran mas." ucap Allen malu-malu. "Ya sudah kamu berangkat lagi sana, nanti telat loh." imbuh Allen.


"Kamu berani mengusirku..?" tanya Arka sambil memicingkan matanya.


"Bukannya begitu mas, tapi sebentar lagi kan waktunya istirahat siang. Nanti kalo kamu telat meeting bagaimana?" ucap Allen mencoba pengertian pada Arka.


"Iya baiklah. Tapi kiss dulu dong, setelah itu aku baru akan pergi lagi." pinta Arka seraya memasang raut wajah memelasnya, dan mendekati sang istri.


"Baiklah, tapi kamu janji setelah itu kamu berangkat ke kantor lagi ya."


"Oke, honey.."


Ia memberanikan diri mengusir suaminya, bukan apa-apa. Ia hanya tidak mau suaminya selalu memujinya. Menurut Allen apa yang di lakukannya semata-mata hanya sebagai baktinya sebagai seorang istri.


Allen tidak mungkin berpangku tangan di tengah kesibukan sang suami yang menyita separuh waktunya, apalagi ia akan berbahagia menikmati jerih payah sang suami. Itu semua bukan tipikal Allen.


Setelah Allen melakukan apa yang di minta suaminya, Arka berpamitan pada istri keduanya, ia segera pergi meninggalkan Allen.


Allen hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya, yang menurutnya dari dulu tidak pernah berubah. Ia kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya di depan laptopnya.


Sesekali ia akan memeriksa ponselnya, takutnya ada seseorang yang menghubunginya. Dan benar saja, ternyata ada Hendra yang menghubunginya entah sudah berapa kali.


"Ada apa dia menghubungiku? Nanti jika mas Arka tahu, pasti ia akan marah besar padaku. Apa aku biarkan saja telepon darinya. Tapi kalo ada hal penting bagaimana? Tidak munghubunginya terlebih dahulu kan." monolog Allen pelan.


Ia hanya memandangi poselnya, hingga poselnya tiba-tiba berdering kembali.


.


.


Bersambung...


.


.


Jangan lupa dukungannya ya. Happy realing..

__ADS_1


__ADS_2