
.
.
Mendengar ucapan dari Arka, kedua sahabatnya menjadi takut. Hendra dan Johan merasa bersalah telah membuat Arka menjadi marah. Arka tentu saja tidak terima karena ucapan Johan melukai perasaan istri keduanya.
Mereka tidak enak hati pada Allen, karena niat mereka untuk menjenguk Allen. Tapi kini malah terjadi perdebatan sengit dan Hendara dan Johan lah penyebabnya. Kedua sahabat Arka, akhirnya berpamitan pada Arka untuk pulang, namun yang terjadi Arka hanya membalas mereka dengan satu deheman saja.
"Ka', kami berdua minta maaf padamu ya. Kita juga pamit pulang dulu, bye.." pamit Hendra merasa bersalah, ia juga tidak berani menatap kedua bola mata Arka yang saat ini tengah marah.
"Hem..." jawab Arka cepat.
Arka juga tidak mengantarkan kedua sahabatnya keluar menuju ke mobilnya, tidak seperti biasanya Arka marah sampai sebegitunya.
Hendra dan Johan melangkahkan kaki keluar dengan gontai, tanpa sempat berpamitan pada Allen. Sementara Allen juga merasa bersalah pada dua sahabat suaminya.
Karena dirinya kini suami dan kedua sahabatnya menjadi bertengkar, meskipun hatinya juga merasakan sakit karena ucapan yang di lontarkan oleh Johan, sahabat suaminya.
Arka memeluk tubuh istrinya, lalu ia memberi pengertian pada Allen. Arka tidak mau Allen merasa sedih dan menyalahkan dirinya atas tuduhan Johan yang bagi Arka semua itu tidaklah benar.
"Honey, aku minta maaf padamu ya." ucap Arka pelan.
"Untuk apa, mas?"
"Karena, Johan sudah membuat dirimu bersedih." jelas Arka pada Allen.
"Sudah lah, mas. Apa yang di ucapkan Johan memang benar kan?" balas Allen, matanya berkaca lagi, bulir bening kini menumpuk di ujung pelupuk matanya.
"Honey.. Kamu jangan sedih gitu dong. Ngapain juga kamu mikirin ucapan Johan. Itu semua tidak benar, honey." ucap Arka mencoba menenangkan Allen.
"Nggak kok, siapa juga yang mikirin ucapan dia. Tapi dengan dia mengatakan hal itu, aku jadi merasa sadar diri sekarang, mas!" kilah Allen cepat.
"Terus kalo kamu nggak mikirin, ngapain juga kamu nangis? Sadar diri bagaimana maksud kamu?" tanya Arka tak mengerti.
"Emm... Sudahlah, aku rasa tidak perlu menjelaskan kepadamu, kamu juga sudah tahu jawabannya, mas." balas Allen serius. "Memangnya nangis nggak boleh ya, mas?" ucap Allen balik bertanya.
Arka terkekeh mendengar ucapan istri keduanya, ia juga memicingkan kedua bola matanya. Arka bingung di saat serius seperti ini, Allen masih saja bercanda meski pun Arka tahu pasti sebenarnya hati Allen teramat sakit dengan tuduhan Johan.
Allen juga bermonolog ria dalam hatinya, ia tidak berani mengatakan apa isi hatinya pada suaminya saat ini. Biarlah Alllen pendam rasa kecewa dan kesedihannya seorang diri.
"Biarlah aku berpura-pura tidak merasakan sakit dengan ucapan Johan, di depan kamu mas. Aku merasa bersalah, karena adanya aku. Mereka bertiga menjadi berantem, dan menyudutkan dirimu, mas Arka. Mungkin seandainya aku tidak hadir di hidup kamu, mas. Mereka akan baik-baik saja padamu, dan mereka juga tidak akan menyudutkanmu!" batin Allen dalam hati.
__ADS_1
🍂🍃🍂
Kini Renita dan Diana telah sampai di sebuah rumah sakit ternama, mereka berdua langsung menuju ke ruang pendaftaran.
Renita memilih kelas VIP, tanpa harus mengantri berlama-lama. Reni dan sang mama duduk di kursi tunggu. Hati Reni berdebar-debar menanti hasil pemeriksaan dari dokter nantinya.
Tanpa menunggu lama, seorang perawat keluar dari ruang pemeriksaan memanggil nama Renita Putri.
Renita yang sedang duduk di kursi tunggu pun terlonjak kaget, ia tidak menyangka jika kini namanya telah di panggil dan harus segera masuk ke ruang pemeriksaan. Ia menyeret lengan sang mama untuk segera menemaninya masuk ke dalam ruang pemeriksaan dan disana dokter sudah menunggunya.
"Ayo, ma. Namaku sudah di panggil tuh, temani aku sampai ke dalam ya, ma." rengek Reni pada Diana.
"Baiklah, Ren. Mama akan menemani kamu, kamu jangan takut dengan apapun nanti hasil pemeriksaan dari dokter ya." bujuk Diana.
"I.. Iya, ma. Tapi... Mama janji dulu pada Reni, apapun yang di katakan dokter nanti. Mama jangan kecewa pada Reni, ya ma!" jawab Reni gugup.
"Baiklah nak, mama janji. Ayo masuklah." titah Diana.
Reni masuk kedalam ruangan itu barengan dengan sang mama, sesampainya di ruangan itu Reni mulai menjalani pemeriksaan dengan detail. Dokter juga menanyakan keluhan yang di rasakan oleh pasiennya itu.
Reni membaringkan tubuhnya di banker pemeriksaan, lalu dokter segera memeriksa keadaan Reni secara menyeluruh. Ia juga di minta untuk melakukan tes urin, agar keraguan sang dokter dapat di tepis dengan segera. Karena dalam pemeriksaan dokter tidak menemukan penyakit apapun yang di derita oleh pasiennya.
Renita diminta dokter untuk menjalani tes urin, di dampingi oleh satu perawat. Reni masuk ke dalam toilet yang berada di dalam ruangan itu. Setelah selesai Reni menyerahkan satu buah alat Tespack. Ia juga menjalani serangkaian USG, sesuai perintah dari sang dokter.
"Bersama dengan, Nyonya Renita Putri?" tanya Dokter pria yang bermana Dokter Alvian.
"Benar dokter, Saya Renita." jawab Reni sopan.
"Saya akan menjelaskan keluhan anda."
"Baik dokter, saya akan mendengarkannya baik-baik." jawab Renita antusias.
Dalam hati Reni ada perasaan was-was, dengan hasil yang akan di terima nanti. Diana juga sangat penasaran dengan pemeriksaan dari dokter. Setelah sekian lama dokter itu terdiam, akhirnya kini ia mulai membuka suara dan menjelaskan pada pasiennya.
"Begini Nyonya Renita, setelah anda menjalani serangkaian pemeriksaan ternyata kami tidak menemukan adanya penyakit apapun!" jelas Dokter Alvian.
"Lalu? Apa yang terjadi pada saya dokter? Kenapa akhir-akhir ini saya sering merasa mual. Bahkan kadang kepala saya terasa pusing tiba-tiba." keluh Reni.
"Apa yang sesungguhnya terjadi pada putriku, dokter?" tanya Diana penasaran.
"Itu karena putri anda tengah mengandung Nyona. Makanya anda sering morning snicers dan juga sering merasa pusing." jelas dokter Alvian.
__ADS_1
"Apa!!" ucap Diana dan Reni bersamaan.
Jeder....
Reni bagai di sambar petir di siang bolong, setelah mendengar penjelasan dari dokter. Hati Reni terasa sakit, ia benar-benar tidak mengerti dengan kecamuk hatinya.
Berbeda dengan Diana, ia merasa senang mendengar ucapan dari dokter. "Benarkah dokter, apa yang anda katakan?" tanyanya antusias.
"Benar sekali Nyonya. Saya tidak berbohong! Untuk apa juga saya berbohong pada pasien saya." jelas dokter Alvian.
Diana hanya menganggukan kepalanya perlahan, "Syukurlah nak, ternyata kamu baik-baik saja. Mama juga sangat bahagia, ternyata sebentar lagi kamu akan segera memiliki momongan." Diana antusias sekaligus bahagia.
Sedangkan Reni hanya tersenyum kecut, tanpa membalas apapun yang di ucapkan sang mama.
"Oya, Nyonya ini resep obat dari saya. Anda bisa menebusnya di apotik depan." tunjuk dokter Alvian sambil mengulurkan kertas resep obat, tidak lupa juga dengan buku kehamilan pasiennya.
"Terima kasih banyak dokter, kami akan menebusnya nanti." balas Diana sambil menyunggingkan senyuman.
"Sama-sama, nyonya. Sekali lagi saya ucapkan selamat, Nyonya Renita." ucap Alvian.
Diana menangkupkan kedua tangannya di dada, sebagai tanda ucapan terima kasih. Diana dan Reni berpamitan pada dokter tersebut, "Kami permisi dokter, terima kasih." ucapnya sambil berdiri dan bersiap pergi.
"Baik Nyonya, hati-hati. Terima kasih kembali, untuk Nyonya Renita jaga pola makan anda ya." Alvian memberi nasehat pada Renita.
"Baik, dokter. Terima kasih.." balas Reni sambil tersenyum tipis.
Diana memperhatikan putrinya yang membalas ucapan dari dokter, ia juga hanya tersenyum samar. Bahkan Reni juga terlihat murung semenjak dokter mengumumkan kehamilan putrinya, bahkan saat ia tersenyum pun seolah di paksakan.
Ada rasa penasaran dalam hati Diana, namun ia tidak mungkin menanyakan itu pada putrinya di area rumah sakit. Ia lebih memilih membawa Reni pulang, dan Diana juga akan menanyakan hal itu padanya di rumah nanti.
.
.
***BERSAMBUNG***...
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungan untuk karya author ya. Terima kasih banyak buat yang sudah berkenan mampir,🙏🏻🙏🏻.