
.
.
Renita berpikir beberapa saat, namun ia enggan mengatakan yang sebenarnya kepada sang suami. Dirinya takut jika berkata yang sejujurnya pada pria itu, yang ada hidupnya akan lebih hancur dan menderita, melebihi yang kini sedang ia rasakan.
Melihat sang istri hanya diam membisu, Arka pun mendesak Renita dengan pertanyaannya lagi. Namun sebelum ia melakukannya, Nando dengan terang-terangan mengatakan di depan Arka jika Renita adalah kekasihnya.
"Kamu mau tahu apa alasannya? Karena Reni adalah kekasihku! Hanya aku yang dia cintai! Meski pun ada kamu, suaminya! Jika tidak percaya tanyakan saja kepadanya." ucap Nando dengan lantangnya.
"Hentikan! Nando..!" ucap Renita mencoba menghentikan pria yang menjadi kekasih gelapnya selama ini. Pria itu pun menghentikan ucapannya beberapa saat, hingga ia menentang ucapan Renita.
"Kenapa.. Kamu takut? Akui saja diriku di depan suami kamu! Kita berdua memang ada hubungan, kan? Biarkan laki-laki ini mengetahui kebenaran tentang kita berdua!" ucap Nando lagi.
Pengakuan Nando sontak membuat Arka naik pitam, rasanya ia ingin membunuh Nando saat itu juga. Namun ia urungkan karena Hendra mencegahnya.
"Kurang ajar! Apa maksud kamu berkata seperti itu padaku!" ucap Arka marah, ia meminta penjelasan dari pria brengsek yang dulu pernah mencelakai Allen, dan kini laki-laki itu mencoba mengganggu pernikahannya dengan Renita.
Arka memukuli pria itu lagi, bahkan hingga beberapa kali, sampai akhirnya Hendra menghentikan tindakan yang di lakukannya. Hendra mempunyai ide brilian yang akan membuat Renita atau pun Nando mengatakan semuanya dengan jujur.
"Hentikan Ka, percuma juga kamu mengotori tanganmu! Bahkan sampai laki-laki brengsek ini mampus di tangan kamu pun, kamu juga tidak akan mendapatkan kejujuran disini!" ucap Hendra pelan.
"Apa maksud kamu, Ndra?" tanya Arka dengan raut wajah kebingungan.
"Mainnya pake otak, jangan pake perasaan, Ka. Kamu bawa saja wanita itu pergi ke tempat kita menginap, lalu introgasi dia. Desak terus supaya dia mau mengatakan yang sebenarnya kepadamu! Jika dia tidak mau mengatakannya juga, ancam dia. Bilang saja kamu akan mencelakai mamanya atau siapa saja, yang penting masih berhubungan dengan keluarganya. Aku yakin dia akan mengalah padamu? Kamu harus ingat, balaslah kelicikan dengan kelicikan juga!" bisik Hendra pada Arka, ia menggunakan otaknya untuk berfikir secara genius.
Arka menghentikan langkahnya, ia akan melakukan apa yang di katakan oleh sahabatnya. Kemudian dirinya berjalan mendekat ke arah Renita. Kali ini Arka mengikuti nasehat dari sahabatnya, yang membisikan kepadanya jika kelicikan harus di balas dengan kelicikan pula.
Tanpa di duga Arka menerik tangan Renita, lalu ia membawanya masuk ke dalam mobil Hendra sahabatnya. Meski pun Renita memberontak namun, Arka tetap memaksa wanita yang masih sah menjadi istrinya untuk mengikuti apa kemahuannya.
"Mas.. Kamu mau membawaku kemana?" ucap Reni dengan raut wajah ketakutan.
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan dari Reni, Arka membawa mobilnya pergi menjauh dari pria brengsek tersebut. Namun Reni masih saja bertanya pada Arka, dan membuatnya naik pitam. Arka pun membentak Reni hingga membuat wanita itu berhenti berbicara.
"Diam..! Jangan banyak bertanya lagi! Ikuti saja kemana aku pergi, jangan banyak protes!" ucap Arka tegas. Ia akan meminta penjelasan yang sejujurnya dari Reni, mendapat gertakan dari suaminya Reni kini memilih diam dan menundukan kepalanya karena rasa takut dalam hatinya.
.
.
.
Meski Hendra menghentikan langkah Nando, tapi pria licik itu menggunakan kesempatan untuk melarikan diri. Dirinya berhasil lolos dari ancaman Hendra, lalu Nando naik ke dalam mobil yang di kendarai anak buahnya. Ia pun berhasil kabur dari sana.
Hendra naik ke dalam mobil yang di kendarai David, ia menyusul kepergian Arka yang kini sudah berada menjauh dari mobil yang di tumpanginya. Dan mobil mereka di hadapkan dengan beberapa mobil di depannya, yang menghalangi laju mobil yang di kendarai oleh David.
Terjadi kejar-kejaran disini, antara mobil yang di kendarai Arka, mobil yang di kendarai anak buah Nando serta mobil yang di kendarai David, anak buah Hendra. Beruntunglah karena jalanan saat itu tidak terlalu padat, hingga mereka berdua saling adu kecepatan, namun masih gagal menghentikan laju mobil Arka. Mobil mereka berdua tertinggal jauh di belakang.
"Bos, kita kehilangan jejak!" ucap anak buah Nando dengan penyesalan dalam hatinya. Ia memberanikan diri berkata seperti itu pada Nando, meski ia tahu Nando akan marah besar bahkan murka kepadanya.
Namun Nando malah menyalurkan amarahnya pada anak buahnya yang berada di dalam mobil yang di tumpanginya. "Dasar bodoh! Kenapa kamu bisa kehilangan jejak dia! Cari saja laki-laki itu, sampai kita mendapatkan Renita kembali!" titah Nando pada anak buahnya.
"Baik bos! Segera laksanakan!" jawab anak buah Nando patuh.
Mereka terus mencari keberadaan Arka, tanpa tahu kemana perginya Arka membawa Renita.
.
.
.
Sementara Arka membawa istrinya ke tempat penginapan yang ia tinggali. Meski Reni memberontak, namun ia sama sekali tidak berani melawan apa yang di katakan suaminya.
__ADS_1
"Mas, kenapa kamu membawaku kesini?" tanya Renita dengan raut wajah bingung.
"Nanti akan aku jelaskan di dalam. Ikuti saja apa perintahku, jangan melawanku!" balas Arka datar.
"Baiklah.." ucap Reni, dirinya mengikuti kemana langkah suaminya. Meski pun dirinya takut akan kemurkaan sang suami, namun sekuat hati ia bertahan di sisi Arka tanpa berusaha untuk kabur dari sisi suaminya.
Sesampainya di dalam kamar yang di tinggali Arka, dirinya langsung membawa Renita masuk ke dalamnya. Lalu di kuncinya pintu, ia berjanji dalam hatinya untuk tidak menyakiti fisik Renita. Meskipun tidak di pungkiri hatinya marah, tak menunggu waktu yang lama Arka mulai mencecar wanita tersebut dengan berbagai pertanyaan.
"Tataplah wajahku ini, Ren! aku ini masih menjadi suami sah kamu. Meski pun kamu telah meninggalkan aku pergi selama beberapa bulan yang lalu." ucap Arka penuh penekanan. "Tolong jelaskan kepadaku, ada hubungan apa kamu dengan laki-laki brengsek itu?" tanya Arka dengan tegas.
Akhirnya Reni memberanikan diri menatap wajah suaminya, dirinya juga berusaha berkata dengan jujur pada suaminya. Meskipun berat untuk bibirnya mengatakan kebenaran. Reni juga tahu suaminya pasti akan marah besar kepadanya, bahkan mungkin juga suaminya akan menalaknya saat itu ia mengetahui segalanya.
"Aku minta maaf kepadamu, mas. Aku sudah membuat kesalahan yang sangat fatal, dan aku yakin kamu akan sulit untuk memaafkan aku!" ucap Renita dengan kesungguhan dalam hatinya.
"Tentang apa, Ren? Jangan bilang kamu dan pria itu memang mempunyai suatu hubungan?!" tanya Arka tegas.
Reni membalas pertanyaan suaminya dengan menganggukan kepalanya. Ia juga mengatakan dengan kejujuran hatinya.
.
.
**Bersambung....
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan dukungan untuk karya author ya**..
__ADS_1