
.
.
Arka berpikir sejenak, lalu dengan berat hati ia menceritakan apa yang menjadi keluh kesahnya. Meski ia tahu kenyataan nantinya Allen juga bisa terluka hatinya, bahkan akan marah padanya.
"Ta..tadi aku mengunjungi rumah lamaku, disana aku nggak bisa nemuin Renita. Lalu pekerjaku bilang semenjak beberapa minggu yang lalu Reni tidak pernah lagi muncul disana." ucap Arka terbata.
"Lalu..?" tanya Allen penasaran.
"Lalu aku mendatangi rumah mertuaku, berharap akan menemukan wanita itu disana. Tapi disana juga aku nggak bisa menemukan titik terang. Mamanya Reni bilang kalo Reni pergi ke luar negri. Tapi yang membuatku heran dan aku merasa ada yang sedang tidak beres. Saat mama Diana bilang ia tidak mengetahui sama sekali kemana Renita pergi!"
"Menurut kamu, apa aku salah jika aku terlalu yakin dengan isi hatiku, jika ada yang sedang mereka sembunyikan, honey..?" tanya Arka penasaran.
Tapi rupanya yang di ajak ngomong malah sedang asyik dengan pikirannya sendiri, tanpa merespon apa yang di katakan oleh suaminya.
"*Berarti ap*a yang aku lihat pas di bandara itu beneran mba Renita ya. Tapi aku kira mas Arka tahu kepergian wanita itu, ada masalah apa juga ia sampai pergi ke luar negri tapi nggak ngomong sama mas Arka? Setahuku mba Reni kan selalu bersikap manja pada mas Arka!" monolog Allen dalam hatinya.
Arka melihat ke arah Allen, ia sedikit kesal karena istri keduanya malah bengong bukannya menjawab apa yang di tanyakannya dari tadi. Arka mencubit hidung mancung Allen, meski pelan tapi berhasil membuatnya sadar dari lamunan.
"Aww.. Sakit!" dengus Allen pelan sambil meringis kesakitan, ia juga berwajah kesal.
Arka malah tertawa geli dengan raut wajah Allen yang menurutnya menggemaskan jika sedang kesal.
"Ish.. Lagian suami lagi ngomong, kamu malah bengong dan nggak kasih respon!" dengus Arka sambil merajuk.
"Bukan begitu maksud aku mas, aku hanya.. hanya.." jawab Allen ragu.
"Hanya apa? Jangan buat aku penasaran." ucap Arka penasaran.
Allen berpikir keras, akankah ia mengatakan apa yang di lihatnya sewaktu di bandara, tapi takutnya ia di sangka menghalu. Soalnya waktu itu ia melihat dengan samar, meski sangat jelas jika menurutnya itu memang Renita, istri pertama Arka.
"Mas, apa kamu ingat saat kamu menghampiriku waktu di bandara?" tanya Allen pada suaminya.
"Iya.. Aku ingat. Lalu apa hubungannya sama Reni?" jawabnya tak mengerti.
__ADS_1
"Emm.. Sebelum kamu datang menghampiriku, aku sepertinya melihat seorang wanita yang sedang naik ke sebuah jet pribadi. Meski tidak begitu jelas, sih. Tapi menurutku wanita itu sama persis dengan mba Reni. Dari postur tubuh memang sangat mirip dengan mba Renita." jelas Allen sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
"Haa.. Lalu kenapa saat itu kamu nggak bilang sama aku?" cecar Arka.
"Maaf mas, aku kira waktu itu kamu perginya bersama mba Renita. Makanya aku nggak berani ngomong apapun padamu, mas. Aku takut kamu akan marah padaku." jawab Allen jujur.
"Marah? Kenapa aku harus marah sama kamu?"
"Ya, aku takutnya kamu berfikiran jika aku terlalu ikut campur urusan pribadi kamu, mas. Disini aku sadar diri siapa aku sebenarnya, jadi aku tidak mau terlalu jauh berharap padamu. Takutnya aku akan kecewa.!" ucap Allen takut.
"Tuh kan mulai lagi. Kamu tuh jadi orang jangan terlalu pesimis begitu dong! Kan sah-sah saja kamu ingin tahu urusanku, baik itu yang pribadi atau pun yang bukan pribadi. Karena kamu kan istriku!" jelas Arka memberi pengertian.
"Tapi mas.."
"Sudahlah kita jangan berdebat hanya masalah ini. Sekarang aku sedang ada masalah yang memang darurat." jawab Arka jujur.
"Iya mas, maaf." balas Allen pelan.
Saat mereka sedang membahas Renita, tiba-tiba ponsel Arka berdering. Allen yang menyadari ponsel suaminya bergetar di atas nakas, ia segera mengambil ponsel itu kemudian menyerahkannya pada sang suami.
Arka menjawab panggilan tersebut, sementara Allen masih duduk disebelah suaminya. Allen terlonjak kaget saat suaminya terlihat syok, saat menjawab panggilan dari ujung teleponnya.
* "Hallo.. Iya ada apa?.
Apa?! Iya aku akan segera kesana, tunggu sebentar.!" *
Allen kaget dengan perubahan raut wajah suaminya setelah menjawab panggilan telepon tersebut. Namun saat itu ia enggan menanyakan apa masalah yang terjadi pada Arka, ia lebih memilih untuk diam sambil menunggu penjelasan dari suaminya. Sampai akhirnya Arka berpamitan padanya untuk pergi lagi.
"Honey.. Aku pamit padamu ya. Aku akan pergi ke rutan sebentar, ada masalah besar yang terjadi disana." ucap Arka tegas.
"Iya mas. Tapi apa masalah ini ada sangkut pautnya dengan orang yang ingin mencelakai aku?" tanya Allen penasaran.
Arka mengangguk, sementara Allen tidak lagi menanyakan pada suaminya. Memang dalam pikirannya, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan. Namun ia memilih menanyakan hal itu nanti saja, sekarang waktunya untuk Allen membiarkan suaminya menjalankan tugasnya.
"Ya sudah, kamu pergi saja mas. Apa aku perlu ikut denganmu?"
__ADS_1
"Enggak usah honey, aku akan ceritakan semuanya padamu. Setelah aku kembali nanti, aku janji!"
"Baik mas. Kamu hati-hati dan jaga diri baik-baik ya."
"Iya, honey. Aku pamit dulu ya." ucap Arka sambil berlalu pergi.
"Iya, mas." jawab Allen lirih, sambil memandangi kepergian sang suami yang semakin menjauh meninggalkan dirinya.
Allen tahu siapa yang di maksud suaminya, ia pernah mendengar penjelasan dari Arka langsung. Serta ia juga pernah membaca sebuah Artikel di sosial media yang menyebutkan jika pria yang bernama Fernando Alexio adalah seorang mafia berdarah dingin.
Lalu dalam sekian banyak pikiran yang singgah di otaknya, entah mengapa Allen jadi kepikiran tentang kepergian Renita. Kenapa berbarengan dengan tahanan yang melarikan diri dari rutan, meski Allen tidak begitu mendengar dengan jelas panggilan telepon suaminya tadi. Tapi Allen yakin jika pria yang di maksud itu kabur dari tahanan.
"Apa kepergian mba Reni ada hubungannya dengan pria itu ya? Tapi mana mungkin, mba Reni berteman dengan seorang mafia." monolog Allen pelan.
๐๐๐
Arka sampai di sebuah rumah tahanan, ia mencecar berbagai pertanyaan pada orang yang bekerja disana. Kali ini Arka benar-benar marah, hingga para orang suruhan dan orang-orang yang bekerja di dalam rutan tidak berani menatapnya.
"Siapa yang sudah berkhianat padaku!" teriak Arka lantang.
Namun tidak ada siapa pun yang berani menjawab pertanyaanya, bahkan mereka semua hanya diam membisu. Bukan tanpa alasan Arka menuduh mereka, ia tahu pasti jika dirinya sudah melakukan penjagaan seketat mungkin. Jadi jika tidak ada campur tangan orang dalam, mana mungkin seorang napi akan dengan mudahnya meloloskan diri dari rutan.
"Aku tegaskan lagi, siapa yang berani berkhianat padaku! Atau kalian semua akan tanggung resikonya!" Arka mengulangi ucapannya.
Mendengar ancaman yang keluar dari mulut tuannya, salah satu dari orang suruhan Arka mencoba menenangkan tuannya yang sedang terbakar emosi.
.
.
Bersambung...
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya. Nantikan juga chapter selanjutnya๐๐ป