Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
Khawatir


__ADS_3

.


.


Arka keluar dari ruangan dokter Fariz, ia mendengarkan dengan baik penjelasan darinya yang mengatakan tentang keadaan Allen.


Perasaannya kini bercampur aduk antara kecewa dan sedikit merasa tenang karena sang istri telah di tangani dengan baik oleh dokter. Meski kini Allen belum siuman, namun setidaknya Arka tidak terlalu khawatir.


Ia mendengarkan penjelasan dari dokter yang mengatakan jika Allen bisa saja dalam keadaan yang buruk kalau tidak segera mendapat perawatan medis yang memadai.


Ia melangkahkan kakinya ke ruangan tunggu untuk menghampiri kedua orang tuanya.


Sesampainya di ruang tunggu pandangan Arka mengedar ke sekeliling ke tempat di mana kedua orang tuanya tadi berada. Namun Arka tidak melihat keberadaan mommy dan daddy nya disana.


Lalu ia di hampiri salah satu perawat dan mengatakan jika kedua orang tuanya menunggu Arka di dalam ruang 'VVIP' tempat Allen di rawat.


Arka membuka pintu ruangan istri keduanya di rawat, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan menghampiri kedua orang tuanya. Arka mulai mencecar pertanyaan pada mommy dan daddy, ia menanyakan keadaan istri keduanya.


"Mom, dad, bagaimana keadaan Allen apa dia sudah sadar?!" tanya Arka penasaran.


Mereka menggelengkan kepalanya bersamaan, lalu Ros menjawab pertanyaan Arka.


"Belum nak. Apa yang dokter katakan kepadamu, Arka?" sahut mommy Ros tak kalah penasaran.


"Dokter Fariz mengatakan jika Allen terkena obat bius 'Cloroform' , obat bius ini sangat berbahaya karena cara sistem kerjanya langsung pada otak." jelas Arka sedih.


"Apa..!" teriak kedua orang tua Arka bersamaan.


Mereka paham betul dengan resiko, yang di timbulkan oleh obat bius itu. Mereka takut sesuatu hal buruk terjadi pada Allen dan calon cucu mereka.


"Lalu bagaimana dengan keadaan anak kamu Arka, apa dia baik-baik saja?!" tanya mommy sedih.


"Dokter belum menjelaskannya mom." jawab Arka cepat.


"Aduh.. Bagaimana kamu ini, kenapa kamu tidak menyanyakannya pada dokter yang menangani istri kamu?" cecar mommy Ros kesal.


Gio yang melihat istrinya mulai terbawa emosi, ia menghampiri istrinya lalu menasehatinya dengan pelan. Ia tidak mau terjadi keributan, apalagi ini di dalam rumah sakit.


"Mommy.., daddy mohon kamu tenang dulu. Kasihan Arka, dia juga tidak kalah khawatir dari kita. Mommy jangan bersikap begitu padanya, daddy minta mommy jangan menambah kekhawatirannya. Nanti kita tanyakan saja pada dokter jika nanti ia kesini untuk memeriksa keadaan Allen lagi." nasehat daddy Gio pada sang istri.

__ADS_1


"Tapi dad.." ucap Ros kesal.


"Mom.., kali ini daddy mohon dengarkan ucapan daddy ya." bujuk Gio pelan.


Ros akhirnya diam, ia tidak mau sang suami menceramahi dirinya lagi. Ia begitu mengkhawatirkan keadaan Allen dan calon cucu pertamanya. Meski hati kecilnya membenarkan ucapan sang suami, jika putranya tidak kalah khawatir melihat keadaan Allen.


Sedangkan Arka melangkahkan kakinya, menuju ke kursi di samping ranjang Allen. Arka duduk di samping istri keduanya, ia menggengg merat tangan Allen, seolah ia enggan melepaskannya.


Arka memandangi wajah Allen hingga tanpa di sadarinya, air matanya mengalir membasahi pipinya, ia berharap jika sang istri segera sadar.


Entah mengapa kali ini air matanya berlinang begitu saja, saat melihat gadis yang biasa di perlakukan kasar olehnya terbaring tak berdaya.


Padahal biasanya bagi Arka 'air mata' adalah sesuatu yang sangat mahal harganya, meski pun ia sedang bertengkar dengan Renita sekali pun. Ia tidak akan pernah mengeluarkan setetes pun air matanya.


Namun kali ini entah mengapa, bulir bening itu turun begitu saja membasahi pipinya. Ia hanya bisa bermonolog dalam hatinya,


~"Honey.. Aku mohon sadarlah. Aku rindu dengan senyum manismu, canda tawamu, dan sapa manjamu. Aku minta maaf, honey.. Karena aku, kamu jadi begini.! Andai saja aku tidak mengizinkan dirimu pergi, pasti kamu akan baik-baik saja! " ~ Batin Arka dalam hatinya.


Ros dan Gio yang melihat putranya menangis, mereka menghampiri Arka merangkulnya hangat, lalu menasehati dan memberikan semangat pada putra mereka satu-satunya.


Mereka juga baru kali ini melihat putra satu-satunya menangis, Gio dan Ros paham betul jika biasanya Arka adalah pria yang datar dan serius. Kini mereka tahu jika Arka begitu mencemaskan istri keduanya.


"Arka, mommy tahu kamu sedih melihat kondisi Allen. Mommy minta maaf ya nak dengan ucapan mommy tadi, bukan maksud mommy membentak kamu. Mommy hanya ingin Allen dan calon cucu mommy baik-baik saja." ucap mommy pelan dan penuh sesal.


Tok... tok... tok...


"Selamat sore tuan.. nyonya.." sapa Dokter Fariz ramah.


"Selamat sore juga dokter.." balas Ros dan Gio bersamaan.


Sementara Arka hanya memandangi kedatangan dokter Faris dan perawat di sebelahnya. ia juga tidak menjawab salam dari dokter yang lumayan tampan itu.


Dokter Fariz meminta izin pada mereka semua yang ada di ruangan itu, untuk memeriksa keadaan Allen. Namun saat langkah kakinya belum sampai di ranjang pasien dengan cepat Arka menghampiri dirinya, lalu menarik jas sang dokter.


Arka meminta dokter untuk berterus terang pada mereka semua, tentang keadaan istrinya dan calon buah hatinya.


"Dokter, tolong jelaskan pada kami, bagaimana keadaan istri dan calon buah hati kami!" bentak Arka pada dokter Fariz.


Dokter Fariz terlihat ketakutan, begitu juga dengan perawat di sebelahnya. Mereka takut karena suami dari pasien yang sedang di tanganinya tiba-tiba mengamuk. Meski ini bukan pertama kali untuk dirinya, ia bahkan pernah mendapatkan perlakuan yang lebih kasar dari itu.

__ADS_1


Fariz menahan tangan Arka, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Arka dari jas yang sedang di kenakannya. Sementara Gio melihat putranya yang sudah mulai terbakar emosi menghampiri dan menasehati putranya.


"Arka, tahan emosi kamu nak!. Ini rumah sakit, tidak baik kamu melakukan tindakan kasar seperti itu!!" nasehat Gio pada putranya.


Mendengar ucapan daddy nya, Arka melepaskan tangannya dari jas yang di kenakan oleh dokter Fariz. Kini ia berusaha mengontrol emosinya agar tidak memuncak lagi, Arka menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya ia membuang nafasnya kasar.


"Maafkan atas kekhilafanku, dokter Fariz." ucapnya gugup.


"Baiklah tuan Arka, saya memaafkan anda. Saya juga memaklumi tindakan anda, saya tahu anda sangat mengkhawatirkan keadaan istri anda. Jika saya berada di posisi anda, mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama seperti anda." balas Fariz mengerti.


"Terima kasih atas pengertiannya dokter Fariz. Sebenarnya aku hanya ingin anda menjelaskan dengan jujur, tentang keadaan istri saya." ucap Arka penuh harap.


"Kan tadi saya sudah menjelaskan dengan detail kepada anda tuan, apa anda belum paham?" balas Fariz pelan, ia takut menyinggung suami dari pasien yang di tanganinya.


"Iya.. memang anda sudah menjelaskan kepadaku, tapi itu hanya tentang keadaan istriku. Anda belum menjelaskan kepadaku tentang keadaan janin yang sedang di kandung istriku!" ucap Arka lantang.


"Apa..!?" sahut dokter dan perawat di sampingnya, mereka saling pandang karena tak percaya.


"Jadi pasien ini sedang mengandung?, kenapa anda tidak mengatakan pada kami dari awal!" cecar dokter pada keluarga pasien.


"Maafkan kami dokter, karena dari awal kami tidak memberitahu anda. Kami begitu mencemaskan keadaan menantu kami, hingga membuat kami lupa untuk mengatakannya pada anda." ucap Ros penuh sesal.


"Benar dokter, kami memang bersalah. Tapi kami mohon pada anda tolong periksa kondisi kehamilan menantu kami, apakah semua baik-baik saja!" imbuh Gio penuh harap.


Dokter Faris berfikir sejenak, ia sama sekali bukan dokter kandungan. Jadi jalan satu-satunya adalah merekomendasikan pada keluarga pasien, agar mengizinkan pasien untuk melakukan USG.


Hanya itulah satu-satunya jalan yang tepat untuk mengetahui kondisi kehamilan pasien, ia juga akan memperkenalkan seorang dokter kandungan yang terbaik untuk menangani kasus dari pasiennya.


"Maaf tuan dan nyonya, untuk mengetahui tentang kondisi kehamilan pasien. Hanya ada satu cara yang tepat, yaitu dengan cara USG. Karena itu satu-satunya cara untuk mengetahui bagaimana dengan keadaan janin di dalam rahim ibunya." ucap Fariz menasehati keluarga pasien.


.


.


***BERSAMBUNG***...


.


.

__ADS_1


.


Author masih tetap setia menunggu dukungan dari kalian semua ya, jangan lupa tinggalkan like, komen, serta vote ya.🙏🏻😘😘


__ADS_2