
.
.
Reni memeluk pria tersebut, rasa tak percaya menggelayut di hatinya. Ia mendapati pria itu pipinya agak tirus. Sungguh berbeda dengan sebelum ia di tahan, pria itu masih dengan tubuh atletis. Wajar saja sebab selama beberapa hari ini, pria itu memang tidak melakukan olah raga kebugaran tubuh apapun.
Reni memandang iba pria yang selama ini selalu ada dan menemaninya. Bahkan ia rela di penjara demi melindungi dirinya.
"Selamat sore, honey. Apa kamu baik-baik saja?" sapa Reni pelan. Meski ia ragu akan jawabannya, namun Reni tetap menanyakan kabar pria di depannya.
"Kenapa kamu berada disini? Bagaimana nanti jika ada yang melihatmu menemui aku?" ucap pria itu setengah berbisik, tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan Renita.
"Aku tidak peduli! Aku bahkan sudah menyogok petugas jaga, agar aku dapat menemui kamu disini, serta merahasiakan identitasku!" balas Reni dengan sedikit berteriak karena emosi.
Dengan cepat pria itu membekap mulut Reni, ia tidak mau pertemuannya bersama wanita yang sudah menemaninya selama beberapa bulan ini mengundang kecurigaan orang-orang, bahkan para petugas Lapas yang sedang berjaga.
"Pelankan bicara kamu, honey! Nanti kalo ada yang dengar ucapan kamu, mereka akan curiga pada kita! Dan bukan tidak mungkin juga, nantinya kamu akan terseret ke dalam lapas ini juga. Jika sampai kamu ketahuan, bahkan aku yakin diluar sana masih ada anak buah suamimu yang selalu mengawasiku." bisiknya tepat di telinga Reni.
"Iya juga ya, kenapa aku nggak kepikiran hal itu dari tadi. Aku tidak dapat menahan emosi, makanya aku tidak menyadari tindakan bodohku ini!" runtuk Reni, sambil menepuk jidatnya pelan.
Sejenak Reni terdiam, entah harus dari mana ia akan mengatakannya pada pria terdekatnya itu. Hingga akhirnya pria itu menanyakan apa alasan Reni menemui dirinya di Rutan.
Pria itu menyuruh Reni duduk terlebih dahulu di kursi tempat mereka berdua bertemu. Ia menggenggam tangan Reni dengan lembut, lalu ia mulai mencecar dengan berbagai pertanyaan.
"Apa alasan kamu menemuiku disini? Kamu kan tahu, tempat ini tidaklah aman untuk kamu!" tanyanya pada Reni.
"Aku tahu itu, honey. Tapi ada hal penting yang harus kamu tahu!" jelas Reni.
"Hal penting? Hal penting apa, honey?" tanyanya penasaran.
"A..aku.. Aku hamil." jawab Reni pelan.
"What?." ucapnya kaget. Ia juga menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Perasaannya terasa ambigu, lalu untuk menjawab rasa penasarannya ia juga bertanya lagi pada wanita di depannya.
"Lalu, apa hubungannya dengan aku?" tanyanya tak mengerti.
__ADS_1
"Tentu saja ada hubungannya dengan kamu, bodoh!" gertak Reni kesal, ia menggertakan giginya hingga bergemelutuk dengan keras.
"Apa maksud kamu? Aku tidak mengerti!." kilahnya.
"Nando, kamu ini pura-pura bodoh, atau beneran bodoh, sih?!" bentak Reni, sungguh ia kesal dengan pria di depannya.
Pria itu meminta penjelasan dari Reni, ia benar-benar bingung. Mengapa saat Reni hamil, ia menemui dirinya di rutan. Bukannya malah menemui sang suami, dan memberitahukannya pada Arka, suami Reni tentang kehamilan dirinya.
Ia merangkul kedua bahu Reni, membujuknya supaya menjelaskan padanya dengan kepala dingin. Karena waktu seseorang untuk menjenguk tahanan sangat terbatas. Ia tidak mau usaha Reni datang kesana hanya sia-sia tanpa jawaban yang jelas.
"Honey.. Aku mohon jelaskan padaku pelan-pelan. Aku tidak mau kamu berteriak-teriak dan marah padaku. Bisa-bisa para penjaga itu menghampiri kita, lalu membawamu keluar tanpa kamu sempat menjelaskan apapun padaku!" titahnya, sambil menunjuk para petugas jaga agar Reni sedikit luluh, dan menjelaskan padanya dengan perlahan.
"Kamu ingat kan, aku pernah berbicara padamu. Jika mas Arka sama sekali tidak pernah menyentuhku, bahkan juga ia sama sekali tidak pernah memberiku nafkah batin?" jelas Reni pelan.
"Iya aku ingat. Saat itu suami kamu sedang menghandle pekerjaannya di kota B, kan?" balasnya sambil mengingat-ingat curahan hati Renita.
"Lalu apa kamu mengingat yang selanjutnya terjadi padaku?" cecar Reni mencoba mengorek jawaban.
"Tentu saja, kita berdua bermain di atas.. ran..jang?" jelas Nando gugup, sambil ia berusaha mengingat segalanya.
Nando mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Reni, seketika raut wajahnya berubah menjadi dingin.
"Lalu sudah berapa bulan, kamu mengandung?" tanya Nando penasaran, dengan raut wajah ambigu.
"Tadi, dokter bilang usianya sudah memasuki 7 minggu." balas Reni pelan sambil menggigit ujung bibirnya.
Nando membulatkan kedua matanya tak percaya, sambil meminta kepastian dari wanita di depannya.
"Apa kamu yakin itu anakku?, bukannya waktu itu, suami kamu juga pernah pulang ke rumah. Bisa jadi dia anak Arka, kan?" ucapnya mengintimidasi Reni.
"Aku yakin dia anak kamu! Iya memang waktu itu Arka pernah pulang ke rumah, tapi kita sama sekali tidak melakukan hubungan apapun. Bagaimana aku bisa hamil?. Jika kamu tidak percaya, lalukan saja tes DNA nanti, setelah anak ini lahir." jelas Reni.
"Jika anak ini adalah anak Arka, mana mungkin aku datang kesini untuk menemui kamu. Aku juga tidak akan memberitahukan kepadamu, bahkan aku juga tidak akan menjenguk kamu, sampai kamu membusuk di penjara!" gertak Reni dengan rasa kecewa.
Mendengar Reni menggertak dirinya, Nando mencoba menenangkan dirinya. Agar wanita di depannya tidak berbuat nekad dan bisa membahayakan diri serta calon buah hatinya.
__ADS_1
"Jangan gitu dong, honey. Aku hanya ingin memastikan saja, apa benar anak yang sedang kamu kandung itu adalah anak aku, atau anak itu adalah anak Arka." bujuk Nando.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak padaku! Yang jelas jika Arka sampai tahu, aku hamil. Maka habislah riwayatku, dia juga pasti akan sangat kecewa padaku. Karena selama dia menjalankan tugasnya di kota B, dia sama sekali tidak memberiku nafkah batin! Bahkan sampai saat ini!
"Memang aku yang bodoh. Karena membiarkan dirinya kecewa padaku, aku bahkan manusia yang paling hina karena membiarkan lelaki sepertimu, menjajahi tubuhku ini. Padahal aku masih berstatus sebagai istri sah orang! Tapi aku bisa apa? Karena saat itu aku, memang haus belaian dari seorang lelaki. Dan di saat yang sama kamu hadir di sampingku, bahkan kamu juga yang dengan suka rela memuaskan nafsu birahiku yang membara!" jelas Reni panjang lebar, air matanya tertumpah seketika. Tanpa bisa di bendung lagi.
Deg...
"Kamu sungguh keterlaluan, Ren. Ternyata keraguan mama terjawab sudah, bisa-bisanya kamu mengkhianati suami kamu sendiri. Kamu memang wanita yang tidak tahu diri!" monolog Diana dalam hati, ia meruntuki kebodohan sang putri.
Ternyata tanpa di sadari Diana, mendengarkan perbincangan Reni dan pria itu. Hatinya hancur berkeping-keping mendengar ucapan yang keluar dari bibir putrinya. Terjawab sudah pertanyaan dihatinya, pada Reni putri satu-satunya.
Seketika air matanya berderai membasahi pipinya, tangannnya terkepal dengan kuat, giginya juga bergemulutuk tanda kecewa. Diana menghampiri kedua orang yang tengah berbicara serius itu, langkahnya sengaja di percepat. Karena waktu besuk sebentar lagi akan usai.
"Apa maksud kamu, Ren?!" gertaknya pada putrinya.
Renita kaget sampai terlonjak dari duduknya, begitu pun dengan Nando. Pria itu merasa takut, karena kesalahan yang di lakukan pada Renita, ia sama sekali tak berani menatap wajah Diana yang sedang terbakar amarah.
Reni masih saja diam tanpa menjawab pertanyaan dari sang mama, namun Diana tidak diam begitu saja.
Diana yang kesal dan marah meraih kerah baju Nando lalu menariknya dengan kasar, ia mengorek kebenaran yang di ucapkan Reni. Meski hatinya kecewa pada sang putri karena perbuatannya, namun Diana hanya ingin tahu pasti ayah biologis dari anak yang sedang di kandung Reni.
.
.
***BERSAMBUNG***...
.
.
.
**Terima kasih sudah berkenan mampir ya, jangan lupa tinggalkan like, komen, favorit, serta vote untuk karyaku ya.
__ADS_1
Jika berkenan mampir juga di novelku yang berjudul 《Cinta Tak Pernah Salah》. Terima kasih🙏🏻🙏🏻**.