
.
.
Hari berikutnya Arka pergi ke kantornya, tanpa sengaja dirinya bertemu dengan Hendra sahabatnya di kantor miliknya. Entah ada angin apa yang membawa Hendra datang ke kantor miliknya.
Arka menyapa Hendra, kemudian terjadilah percakapan-percakapan diantara mereka berdua. "Hallo Ndra, apa kabar?"
"Hallo juga Ka, kabar gue baik!"
"Silahkan duduk, nanti aku temani. Tunggu sebentar ya!" ucap Arka sambil mempersialhkan sahabatnya menunggu dirinya sebentar.
Arka menutup laptopnya, kemudian ia melangkah ke arah sang sahabat terlebih dahulu. Tidak mungkin juga ia membiarkan Hendra duduk sendiri di dalam ruangan miliknya.
Arka juga menyuruh OB yang bekerja disana membawakan dua gelas minuman untuk dirinya serta untuk Hendra. Setelah minuman yang di pesannya diantarkan ke ruangannya. Ia mempersilahkan sahabatnya untuk menikmati jamuannya.
Tanpa basa-basi Arka mencecar Hendra, ia menanyakan Renita padanya. Karena menurut mommy nya, Hendra mengetahui sesuatu tentang Renita. Dan Hendra menjawab pertanyaan dari sahabatnya sesuai yang ia tahu.
"Bro, apakah loe mengetahui keberadaan Renita?" tanya Arka serius.
"Orang suruhan gue yang tahu. Dia bernama David! Memangnya kenapa?" ucap Hendra seolah tidak mengerti.
Mendengar apa yang di ucapkan oleh sahabatnya, membuat Arka kesal kepada Hendra. Ia sama sekali tidak menyangka jika Hendra dapat berkata dengan santai kepada dirinya.
"Ish.. Loe ini bodoh apa? Gue ini suaminya, gue berhak tahu keberadaan dia. Gue udah kaya bolang-baling bantu mencari keberadaannya. Kenapa loe nggak ngasih tahu gue dari awal sih!" ucap Arka penuh penekanan.
Melihat raut wajah marah dari sahabatnya, Hendra mencoba untuk menenangkan dirinya. "Ya sorry deh Ka, bukan maksudku untuk merahasiakan ini semua dari kamu. Hanya saja aku menyelidikinya terlebih dahulu!" balas Hendra tidak mau di sudutkan oleh sahabatnya itu.
"Sekarang kasih tahu gue, dimana keberadaannya!" ucap Arka tegas.
__ADS_1
Hendra merangkul bahu sahabatnya, ia mencoba menenangkan Arka dengan sisa kesabarannya. Biar bagaimana pun Hendra juga tidak boleh terpancing emosi dengan ucapan Arka.
"Loe tenang dulu Ka', kita akan mendatanginya bersama-sama. Gue juga tidak sabar ingin mengetahui kebenarannya." balas Hendra, ia menutup mulutnya, hampir saja dirinya keceplosan mengatakan sumuanya pada sahabatnya.
"Kebenaran tentang apa? Jangan bilang loe menyembunyikan sesuatu dariku ya!"
"Tenang-tenang.. Nanti loe juga akan tahu sendiri, sekarang loe atur jadwal keberangkatan kita ke luar negri. Loe minta izin pada istri loe Allen, bilang sama dia baik-baik. Gue nggak mau loe sampai menyakitinya lagi, atau gue nggak akan ngebantui loe, ya!" ucap Hendra serius juga penuh penekanan.
"Iya.. Gue janji sama loe. Gue akan meminta izin kepadanya dengan cara baik-baik!" balas Arka menyakinkan Hendra.
"Oke.. Gue minta loe tepati janji. Oya satu hal lagi, jangan sampai loe bocorin rencana kita ini pada siapa pun. Biarkan mereka semua tahu tentang keberadaan Renita nanti. Juga Johan jangan kamu beri tahu dulu, aku takut dia akan membocorkan rahasia ini pada siapa saja. Jika kita bertemu disini, lakukan saja seolah kita hanya membahas soal pekerjaan saja. Loe paham kan apa yang gue katakan!?" ucap Hendra panjang kali lebar.
Arka merenungkan apa yang di katakan oleh Hendra, memang benar juga apa yang di ucapkan Hendra barusan. Jika di antara kedua sahabat Arka, Johan memang lebih pendiam, tapi sekalinya dia kesal apa saja akan di ucapkannya tanpa di pikirkan terlebih dahulu.
Contohnya saja waktu itu pada Allen, sekali Johan tidak suka maka akan secara terang-terangan Johan berani mengatakan hal yang bahkan sangat menyakitkan untu hati Allen.
"Iya.. Gue janji pada loe.. Nanti aku kabari loe, waktu keberangkatan kita. Loe persiapkan saja segalanya, lebih cepat maka akan lebih baik!" balas Arka tegas.
"Oya loe, gue tinggal sebentar ya. Soalnya masih banyak pekerjaan gue yang menumpuk nih, apalagi nanti kalo di tinggal pergi, kan semakin menumpuk. Kasihan orang-orang terdekat gue yang harus gue suruh untuk mengerjakan tugas gue!" pamit Arka pada Hendra.
"Oke.. Gue tunggu disini saja. Gue pengen menikmati pemandangan kantor loe, sudah lama gue nggak datang ke tempat ini!" balas Hendra, laki-laki itu duduk sambil mengangakat kakinya ke atas meja. Meskipun tidak sopan, namun itulah yang biasa di lakukan tiga sahabat tersebut.
Tidak lama berselang datanglah Johan menghampiri keduanya. "Hai bro, apa kabar kalian berdua?" sapa Johan.
"Gue baik.. Entah dia!" jawab Arka sambil menunjuk Hendra dengan dagunya. Ia memang masih sibuk di depan laptopnya.
"Gue juga baik kali. Ngapain loe ngikutin gue ke kantor Arka?" tanya Hendra merasa heran karena tidak biasanya Johan datang ke kantor sahabatnya.
"Suka hati gue dong, ngapain loe yang nyolot sama gue. Arka saja nggak keberatan, iya kan Ka?" balas Johan datar.
__ADS_1
Arka hanya memandangi kedua sahabatnya yang sedang berdebat, namun ia melerai perdebatan kedua sahabat tersebut,
"Sudahlah nggak usah berantem kenapa sih. Memangnya apa yang membawa kalian datang kesini? Tidak biasanya..!" ucapnya dengan bersandiwara.
Hendra hanya cengengesan begitu juga dengan Johan, dia malah sibuk mengutak-atik ponselnya. Arka malas jika kedua sahabatnya datang pasti akan ada drama di antara mereka bertiga.
"Woi.. Jelaskan padaku, apa yang membawa kalian datang kesini. Ditanya malah diam saja! Sebenarnya penting apa tidak sih? Gue sibuk nih, kalo tidak penting pulang saja!" gertak Arka pada kedua sahabatnya.
Mendengar Arka marah pada keduanya, Hendra dan Johan kini lebih serius lagi. Johan juga memasukan ponselnya ke dalam saku jas yang di kenakannya.
"Pelan-pelan napa, nggak usah galak-galak. Nanti cepat tua loh calon ayah! Tadi kan sudah gue jelaskan kedatangan gue mau membahas kerja sama kita, apa loe nggak ingat?" ucap Hendra berpura-pura.
"Tahu nih.. Nggak asyik banget! Ada temen menyempatkan mampir kesini, dia malah sibuk dengan tugasnya dari tadi!" cibir Johan dengan raut wajah kesal.
Mendengar penuturan dari kedua sahabatnya, Arka hanya nyengir kuda. Meski apa yang kedua sahabatnya ucapkan semuanya memang benar.
"Sory-sory bukan maksud gue anggurin kalian berdua, tapi sekarang gue memang sedang sibuk. Apakah kalian berdua bersadia membantuku?" ucap Arka sambil mengedipkan sebelah matanya seolah beneran meminta bantuan dari kedua sahabatnya.
"Ish... Gue sih ogah. Ngapain loe minta bantuan dari kita, istri kedua loe saja sudah membantu kamu setiap hari. Minta Hendra saja yang bantuin kamu tuh!" cibir Johan kesal, wajah bahkan merengut, ia sama sekali tidak tahu apa yang ada di pikiran Arka.
"Lain waktu saja gue membantu loe, sekarang gue mau menikmati hidup gue dulu. Jangan ganggu gue!" ucap Hendra serius.
"Ini lagi, apaan sih nggak asyik banget! Bisa-bisanya dia datang kesini hanya mau numpang duduk santai, emang hari ini loe nggak ada pekerjaan yang lain apa, Ndra?" tanya Johan.
"Enggak..!" jawab Hendra dengan santainya sambil menggelengkan kepalanya perlahan sambil menjawab pertanyaan.
Mendengar apa yang di ucapkan oleh kedua sahabatnya Arka hanya tersenyum jahil, ia tahu maksud Hendra. Namun seolah ia tidak mengetahui apa yang di maksudkan oleh sahabatnya itu.
.
__ADS_1
.
Bersambung....