
.
.
Arka terdiam sejenak, ia membenarkan apa yang anak buahnya katakan. Jika memang benar ia sudah membayar para anak buahnya, lalu kenapa juga dirinya masih harus bersusah payah.
Bahkan ia juga sadar jika dirinya memang bukan tipe orang yang penyabar, mengingat selama ini Arka selalu terpancing emosinya jika sedang berhadapan dengan Allen.
Padahal bisa di bilang Allen adalah gadis yang sabar, tapi Arka selalu gampang terpancing emosi dan marah.
Apalagi untuk menghadapi pria mesterius yang berani menatap dirinya dengan tajam, ruang kesabaran Arka menjadi habis.
"Baik, aku percayakan kepada tugas ini pada kalian semua. Urus orang ini sebaik mungkin, cari tahu juga siapa dalang di balik kejadian yang menimpa istriku, Allen.!" sahut Arka tegas.
"Baiklah, tuan kami segera melakukan semua perintah anda.!" balas Joni cepat.
"Aku minta agar kalian bisa membongkar kejahatan yang sudah menimpa istriku!. Secepatnya!." ucap Arka lantang.
"Baik tuan, segera kami laksanakan perintah dari anda." balas Doddy cepat.
Ucapannya di angguki oleh rekan yang lain. Arka melihat para anak buahnya mengangguki perintahnya, ia berharap jika anak buahnya dapat dengan mudah melumpuhkan musuhnya.
Tidak terasa lama sudah Arka berada di mansionnya. Saat dirinya melihat arloji yang terpasang di tangan kirinya, tanpa ia sadari jika kini waktu sudah menunjukan jam 23.30 malam. Arka kemudian berpamitan kepada anak buahnya untuk pergi ke rumah sakit lagi.
Ia tidak mau orang tuanya mencemaskan keadaan dirinya, ia juga berharap jika Allen sudah sadar dari koma' nya.
Namun sebelum Arka keluar dan pergi dari mansionnya, langkah kakinya di hentikan oleh Dody ' Ketua dari para anak buahnya', yang berada di ruangan lain.
"Maaf tuan jika saya lancang, tapi ada yang ingin saya katakan kepada anda." ucap Dody pelan, ia takut akan mancing amarah tuannya. Tapi dalam hatinya penuh harap agar tuannya mau mendengarkan ucapannyahterlebih dahulu, apa yang ingin di katakan dirinya.
Mendengar ucapan Dody, Arka menghentikan langkah kakinya. Ia melihat dari raut wajah Dody, jika ada suatu hal penting yang memang ingin di sampaikan pada dirinya.
Kemudian ia berbalik arah untuk menghampiri anak buahnya itu, lalu menanyakan apakah ada yang penting sehingga dirinya berani menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa Dody?. Apa ada yang penting, yang ingin kamu katakan kepadaku?!" tanya Arka dengan rasa penasaran dalam hatinya.
Dody menganggukan kepalanya perlahan, sebelum akhirnya ia mulai berkata dengan pelan namun masih dapat terdengar jelas di telinga Arka.
"Maafkan saya sebelumnya, tuan. Jika saya sudah lancang mengganggu waktu anda. Tapi anda harus mengetahui tentang rahasia ini." ucap Dody serius.
"Tentang apa?." cecar Arka penasaran.
Sebelum Dody menjelaskan kepada tuannya, ia mengajak tuannya untuk berbicara di tempat yang privasi. Ia tidak mau ada orang lain yang mendengar apa yang akan di katakannya pada bos besarnya, lalu membocorkan rahasia yang ia katakan kepada bos besarnya.
__ADS_1
Arka mengikuti pria berbadan kekar, dan brewokan itu ke ruangan yang privasi. Sesampainya mereka di ruangan itu, Dody menyuruh tuannya untuk duduk terlebih dahulu sebelum ia mulai mengatakan sebuah rahasia.
Arka duduk di kursi empuk, lalu ia mulai mendengarkan apa yang akan Dody katakan kepadanya. Dengan cepat Dody mengatakan sesuatu yang sudah terpendam dalam hatinya dari tadi. Ia tidak mau membuat tuannya kecewa kepadanya.
Dody tidak mau tuannya marah karena lama menunggu, lalu dengan cepat Dody mengambil sebuah foto yang di temukannya di dalam dompet pria mesterius itu saat ia menangkapnya tadi sore.
"Maaf tuan, apakah anda tahu siapakah pria yang berada di dalam foto ini?." tanya Dody penasaran, sambil menyodorkan sebuah foto seorang pria.
Dengan cepat Arka menyambar foto itu, lalu memandanginya dengan teliti. Ia sejenak berfikir, sepertinya ia pernah melihat pria yang berada dalam foto tersebut. Dan ia juga berfikir, jika wajah pria itu memang tidak familiar untuknya.
"Sepertinya pria ini tidak asing bagiku, aku seperti sering melihat pria ini. Tapi dimana ya??" monolog Arka pelan.
Arka berpikir keras mengingat-ingat siapa pria yang berada dalam foto itu, namun sebelum dirinya mengingat dengan pasti. Arka terlebih dahulu menanyakan apa hubungannya dengan pria misterius itu.
"Lalu menurutmu, apa hubungannya dengan pria misterius yang sudah membekap istriku dengan obat bius?" tanya Arka penasaran.
Dody mulai berpikir sejenak, dari mana ia akan memulai mengatakan kepada tuannya. Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya, meski di benarkan atau tidak oleh tuannya nanti. Itu urusan belakangan, setidaknya ia sudah mengungkapkan berbagai pertanyaan dalam hatinya.
"Menurut saya, jika pria misterius itu adalah kaki tangan dari pria yang berada di dalam foto ini tuan." balas Dody pelan.
"Hem.." ucap Arka bingung.
Lalu Arka baru mengingat jika pria itu adalah 'Fernando Alexio' (Nando) sahabat Renita istri pertamanya.
"Siapa dia, tuan Arka?" tanya Dody penasaran.
"Pria ini bernama Nando, teman se'provesi' Renita." jawab Arka pelan.
"Maksud anda, Renita..? Istri pertama anda tuan?" tanya Dody penasaran.
Arka menganggukan kepalanya perlahan, menandakan sebuah jawaban. Tapi Arka masih bingung, apa hubungannya Nando dengan pria misterius, yang sudah berani menyakiti istri keduanya.
"Apa menurut anda pria ini adalah dalangnya, tuan?" ucap Dody penasaran.
"Entahlah..! Kalian selidiki saja siapa sebenarnya Nando. Bisa jadi dia adalah dalang dari ini semua." balas Arka cepat.
Setelah ia membalas ucapan Dody sang ketua anak buahnya, ia pamit pada Dody untuk pergi ke rumah sakit. Arka juga memberikan pekerjaan kepada para anak buahnya, untuk menyelidiki Nando. Apakah memang Nando lah dalangnya, atau bukan.
🍂🍃🍂
Arka masuk kedalam mobilnya meminggalkan mansion miliknya, ia menyerahkan tugas ini pada anak buahnya. Arka berharap jika anak buahnya berhasil mengintrogasi siapa pria misterius itu.
Mobil mulai melaju, meninggalkan mansion di tengah hutan itu. Namun di sepanjang perjalanan, Arka terlihat merenung, ia memikirkan kata-kata Dody tadi.
__ADS_1
~"Aku paham betul raut wajah pria itu. Pria yang seprovesi dengan Renita, yaitu seorang model. Tapi apakah benar dia adalah dalang dari pembekapan Allen, ya?. Lalu apa urusan dia dengan Allen, setahuku Allen tidak pernah bertemu dengan pria itu."~ Monolog Arka dalam hati.
Saat Arka masih terbelenggu dengan teka-teki dalam hatinya, tiba-tiba ia di kagetkan oleh 'Rion' sopirnya.
"Kita sudah sampai di rumah sakit kembali, tuan Arka." ucap Rion lantang.
Arka tersentak dari lamunannya, seketika pikirannya menjadi buyar. Lalu ia memandangi mobilnya yang tiba-tiba sudah berhenti tepat di lobby rumah sakit, tempat istri keduanya di rawat.
Arka turun dari mobilnya, dan tanpa banyak berkata. Ia terus melangkahkan kakinya menuju ke dalam ruangan 'VVIP', namun sebelum ia sampai di ruangan Allen di rawat, langkah kakinya di hentikan oleh Renita istri pertamanya dengan tiba-tiba.
"Mas Arka dari mana saja?!" tanya Renita lantang.
"Hem.. Sejak kapan kamu ada di sini sayang?" tanya Arka penasaran.
Renita kesal karena sang suami tidak merespon pertanyaannya, tapi ia malah bertanya tentang hal lain kepadanya.
"Kenapa kamu malah balik nanya sih, mas? Kamu juga belum jawab pertanyaanku!." bentak Reni kesal.
"Pertanyaan yang mana, sayang..?" tanya Arka bingung.
"Lho, kok.. pertanyaan yang mana?" balas Reni kesal.
Reni terlihat 'Be-te' , karena suaminya kali ini berbeda dari biasanya. Arka yang biasanya cepat tanggap dan keras, kini menjadi orang yang acuh, seperti tidak mengenal Renita.
"Sudahlah, tidak perlu di bahas lagi!." bentak Reni marah.
Arka berpikir sejenak, ia baru ingat jika tadi istri pertamanya, menanyakan dari mana dirinya pergi.
.
.
***BERSAMBUNG***...
.
.
.
**Author masih setia menunggu like, komen, vote, serta Favorit dari para Reeder's semua.
Terima kasih, untuk yang sudah mendukung karyaku.
__ADS_1
Tunggu Up, cerita selanjutnya ya...🙏🏻😘🥰**..