
.
.
Arka mengikuti langkah Allen yang sudah turun terlebih dahulu, kini langkahnya gontai. Entah mengapa rasanya Arka enggan meninggalkan istrinya dengan keadaan Allen seperti sekarang.
Biarpun Allen sudah menjelaskan padanya jika ia baik-baik saja, namun Arka masih ragu dengan apa yang di ucapkan oleh istri keduanya.
Arka membawa koper kecil miliknya, lalu meletakannya di dalam mobil. Ia kembali ke dalam rumah dengan langkah lemas, Ros yang tak sengaja memperhatikan putranya bingung dengan apa yang menimpa Arka.
"Arka, apa kamu baik-baik saja?" cecar Ros penuh selidik.
"Nggak begitu mom." jawab Arka lemas.
"Maksud kamu apa, nak? Kamu sakit? Kalo kamu sakit, kenapa memaksa untuk pergi?" tanya Ros mengitimidasi.
"Mom, bukan Arka yang sakit. Tapi Allen yang sepertinya dalam keadaan kurang baik, mom. Aku jadi merasa tidak tega untuk pergi meninggalkan dirinya." jelasnya pada sang mommy.
Mendengar apa yang di ucapkan oleh Arka, Ros berjalan dengan cepat menghampiri anak menantunya yang sedang duduk di kursi panjang yang berada di ruang keluarga.
Sesampinya di hadapan Allen, Ros mencecar menantu keduanya dengan segerombol pertanyaan.
"Allen apa kamu nggak apa-apa? Kamu sakit, nak? Lalu jika Arka pergi meninggalkan kamu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ros dengan nada penuh kekhawatiran.
Allen menjawab dengan santai namun serius semua pertanyaan mommy mertuanya, ia juga tidak mau mommy mertuanya terlalu mengkhawatirkan dirinya. Lalu suaminya jadi gagal pergi, padahal di singapura sudah ada rekan bisnis yang menunggu kedatangan Arka.
"Mom, aku baik-baik saja. Tadi perutku terasa mual yang hebat, dan aku juga hanya muntah biasa layaknya orang hamil. Mas Arka yang terlalu mengkhawatirkan aku, padahal setahuku orang hamil wajar saja mengalami morning snikers kan, mom?" jawab Allen sambil tersenyum untuk mencoba meyakinkan sang mommy. Meski sampai saat ini perutnya masih terasa mual, tapi dengan sekuat hati Allen menutupinya.
"Syukurlah, jika kamu baik-baik saja." jawab Ros. "Arka kamu dengar sendiri kan, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Jadi kamu bisa pergi, tanpa terlalu mencemaskan keadaan istri kamu." imbuh Ros memberi nasehat pada Arka.
Meski perasaan Arka belum sepenuhnya percaya, namun ia berusaha untuk berfikir positif. Ia tidak mau berpikiran yang tidak-tidak pada Allen, Arka menganggap semua yang di ucapkan oleh Allen itu benar adanya.
Kini Gio datang menghampiri mereka bertiga, pria paruh baya itu tampak gagah mengenakan pakaian casualnya. Ya tentu saja hari ini kan hari saptu, jadi ia memang libur dari aktifitas kantornya.
"Good morning semua, apa kalian semua sudah siap?" sapa Gio pada semua yang berada di ruangan itu.
"Widih.. Daddy keren juga." balas Arka sambil geleng-geleng kepala.
"Tentu saja, daddy kan selalu keren. Sebelas dua belas sama kamu lah." ucapnya percaya diri.
"Ish.. Mana bisa dad, tetap keren Arka kemana-mana lah. Allen saja sampai tergila-gila padaku." tegas Arka penuh keyakinan.
Allen merasa malu dan tak terima dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya. Meski benar apa yang di ucapkan oleh Arka, namun Allen tidak mau pria dingin itu besar kepala.
"Mas, perlu di tekankan disini ya, aku bukan tergila-gila padamu ya." jawab Allen dengan seulas senyum.
__ADS_1
"Lalu apa, Len?" ucap Gio penasaran.
"Aku, di paksa untuk tergila-gila pada mas Arka, dad." jawab Allen jujur.
Arka tidak terima dengan apa yang di ucapkan oleh istrinya, meski benar yang di katakan oleh Allen. Jika istri keduanya, di paksanya untuk tergila-gila pada Arka.
"Hem.. Siapa juga yang memaksa kamu? Kenapa kamu mau di paksa?" ledek Arka, balik mengerjai istrinya.
Allen malas menjawab ucapan dari suaminya, bisa jadi adu mulut nantinya. Ia memilih bermonolog ria dalam hatinya, agar tidak ada siapa pun yang mendengar apa yang di ucapkan dirinya.
"Huft... Dia yang memaksaku, tapi kenapa dia malah seolah ingin menyudutkan aku. Jika saja dia tidak menjebakku, mungkin sampai saat ini aku tidak akan tergila-gila pada suami orang!" monolog Allen dalam hati.
Tidak jauh dari Allen, Arka juga membatin dalam hatinya.
"Kalo saja aku tidak memaksamu untuk tetap berada disisiku, mungkin saja kamu sudah tergila-gila pada pria lain, Al'. Dan tidak mungkin kamu akan tergila-gila padaku. Tapi ingat Al' aku akan selalu membuat dirimu tergila-gila padaku, mungkin lain waktu tidak akan ada pemaksaan lagi. Aku akan sabar menunggu sampai waktunya tiba." batin Arka sambil tersenyum menyeringai.
Ros dan Gio memperhatikan anak menantu dan putranya yang sedang asyik berkutat dengan pikiran masing-masing. Dengan sekuat hati Ros dan Gio mengarahkan mereka berdua agar segera bergegas pergi.
"Ayo nak, kita segera pergi. Takutnya nanti kamu akan kesiangan." ucap Gio sambil menarik lengan Arka.
"Haa..., sekarang dad?"
"Iya lah, kapan lagi. Nanti keburu siang, daddy kan juga harus mengantar istri kamu ke dokter." jawab Gio.
"Daddy nggak mau, kamu di antar sopir, nak. Hari ini katanya daddy pengin bawa mobil sendiri." jelas Ros pada putranya.
"Baiklah.. Ayo kita berangkat. Kamu sudah siap, honey?" tanya Arka pada Allen.
"Iya mas. Aku sudah siap." jawab Allen.
"Baiklah jika semua sudah siap, ayo kita pergi sekarang. Semua dokumen kamu juga jangan lupa di bawa, Ka'?" tanya Gio.
"Sudah dad, tinggal berangkat saja."
"Oke, kalo semua sudah siap. Kita berangkat sekarang dad." titah mommy.
"Okey, let's go." titah Gio mengarahkan semua untuk masuk ke dalam mobil.
Arka duduk di kursi belakang sang daddy, di sebelahnya ada Allen. Dan di depan mereka ada kedua orang tua Arka. Gio mulai menyetir mobilnya dengan kecepatan standar, dan tak butuh waktu yang lama mereka tiba di bandara.
Arka dan kedua orang tuanya sudah turun dari mobilnya, mereka bertiga berjalan di depan. Sementara Allen membuntuti mereka di belakangnya. Allen mengedar pandangan ke sekeliling bandara, hingga tanpa sengaja kedua netranya seperti melihat sosok seorang wanita yang sepertinya tidak asing di matanya. Meski samar terlihat, karena wanita itu sudah masuk ke dalam sebuah jet pribadi.
Allen menerjabkan matanya, ia memastikan jika yang di lihatnya bukan halusinasi. "Itu bukannya mba Renita, kenapa dia juga naik pesawat. Apa dia juga akan pergi? Atau mas Arka akan pergi bersamanya?! Ah.. Tapi seandainya mas Arka pergi bersama mba Reni, dia pasti ngomong sama aku. Tidak mungkin dia diam saja kan? Biar bagaimana pun, mas Arka kan orangnya selalu jujur. Meski kadang kejujurannya, menyakiti hatiku.!" batin Allen sambil terdiam membisu di tempatnya.
Arka yang akan naik ke jet pribadi milik daddy nya, mencari keberadaan Allen yang ternyata masih diam membisu lumayan jauh tempatnya kini berdiri dan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Niatnya untuk berpanitan pada Allen, harus terhenti kala wanita berambut pirang nan cantik masih terdiam mematung di sebuah sudut.
"Ngapain dia masih berdiri disana, kan aku mau berangkat." ucap Arka spontan, sontak membuat kedua orang tuanya menoleh ke arah Allen berdiri.
"Mungkin dia masih belum rela melepasmu pergi, Ka'. Jangan keras-keras pada Allen, kasihan dia kan?" ucap Ros menasehati putranya.
"Iya mom, aku tahu. Aku hanya heran saja, saat seperti ini dia malah masih diam disana. Apa dia kelelahan ya?"
"Bisa jadi, Ka'. Makanya kamu jadi suami yang peka terhadap istri dong" titah Gio menasehati putranya.
"Arka sedang berusaha untuk peka, dad."
"Baguslah. Sekarang samperin dia, kalo perlu kamu gendong dia. Supaya dia nggak kelelahan." titah Gio lagi.
"Baik dad, segera laksanakan." balas Arka sambil menyunggingkan senyum.
Namun saat Arka hendak berjalan untuk ke tempat Allen berada, ternyata istri keduanya sedang berjalan ke arahnya. Arka menghentikan langkahnya, menunggu Allen di tempatnya semula.
Saat Allen semakin mendekat padanya, Arka memandang Allen dengan tatapan mata elangnya. Ia seolah hendak menerkam Allen hidup-hidup, Allen yang merasa bersalah tidak berani untuk menatap kedua bola mata suaminya.
Allen menghampiri sang suami dengan wajah yang tertunduk, Arka mengerti kenapa istri keduanya bertingkah seperti itu. Dengan langkah cepat, ia menghampiri istri keduanya. Lalu memeluk erat dan mesra tubuh Allen.
Allen bingung kenapa suaminya tidak marah-marah seperti dugaannya, ia mencoba melepaskan pelukan sang suami. Ia juga memberanikan diri untuk bertanya pada Arka.
"Mas, kenapa kamu nggak marah sama aku?" tanya Allen penasaran.
Mendengar ucapan yang keluar dari bibir wanita di hadapannya, membuat Arka terkekeh. Ia mencubit pelan hidung mancung Allen.
"Kenapa aku harus marah? Marah untuk apa?" Arka balik bertanya.
"Karena aku lama disana." tunjuk Allen pada suaminya. Ia tak percaya jika pria di depannya tidak marah-marah lagi seperti biasanya.
.
.
Bersambung....
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Happy realing😊.
__ADS_1