
.
.
"Apa benar yang di katakan oleh Renita, jika kamu ayah biologis dari anak yang sedang di kandungnya? Jelaskan padaku sekarang juga, atau kamu mau semakin lama mendekam di penjara, jika kamu berbohong padaku!" ancam Diana pada pria itu.
Nando gemetar, dirinya takut jika ancaman ibunya Reni tidak akan main-main. Meski dia seorang mafia, tapi pada kenyataannya ia masih merasa takut akan ancaman ibu dari seseorang yang di cintainya.
Meski pun ia belum yakin sepenuhnya, namun sebisa mungkin Nando mengakui jika dia adalah ayah bioligis dari anak yang sedang di kandung Renita.
"Maaf sebelumnya nyonya, saya dan Renita memang sering melakukan hubungan terlarang itu saat suaminya pergi ke luar kota. Dan kami melakukan itu juga saat kami berdua sadar dan tanpa adanya paksaan, jadi aku akui. Akulah ayah biologis dari anak yang sedang di kandung Reni!" jelas Nando pelan, ia tidak mau ada yang mendengar ucapannya.
Rupanya ucapan Nando membuat hati Diana semakin sakit, hingga ia melayangkan sebuah tamparan tepat di pipi Nando.
Plaakk..
Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Nando, namun pria itu hanya memegangi pipinya dengan tangannya tanpa membalas ataupun melawan pada wanita paruh baya di depannya.
"Mama!, Mama kenapa lakukan itu pada, dia." ucap Reni seraya berbisik, kemudian ia bangkit dari duduknya.
"Diam kamu Ren! Untung saja mama tidak melakukan hal yang sama kepadamu juga. Dasar, tidak tahu di untung!" umpat Diana pada putrinya.
Mendengar Reni di bentak seperti itu membuat Nando merasa iba, ia sekuat hati melindungi wanita yang tengah mengandung buah cintanya. Meskipun dirinya belum yakin sepenuhnya jika anak yang di kandung Reni adalah anaknya.
"Hentikan, nyonya! Tidak perlu anda menyakiti Reni! Sudah cukup dia menderita karena sebuah kesalahan. Saya mohon anda tidak perlu menambahnya lagi. Maaf sebelumnya jika saya lancang, nyonya."
"Tapi anda tenang saja saya akan mempertanggung jawabkan perbuatan yang sudah saya perbuat pada putri anda!" jelas Nando tanpa keraguan. Ia menggenggam tangan Reni, sebagai tanda keseriusannya.
Namun ternyata ucapannya membuat Diana tersenyum mengejek, ia juga menertawakan ucapan yang keluar dari pria di depannya sambil geleng-geleng kepalanya.
"Ha.. Ha.. Ha.. Apa kamu bilang? Bertanggung jawab? Bagaimana caranya? Kamu saja masih meringkuk disini, bagaimana kamu akan bertanggung jawab, hah?" ucap Diana seraya mengejek Nando.
__ADS_1
"Anda tenang saja nyonya, tidak perlu memikirkan keadaanku. Sekarang yang terpenting, jangan pernah sakiti Reni! Cukup anda menjaga dia sebaik mungkin untukku, bawalah dia pergi ke luar negri jika perlu. Berikan alasan yang masuk akal pada suaminya, agar dia tidak mengetahui kebohongan ini."
"Tentang uang anda juga tidak perlu khawatir, nanti akan ku suruh orang kepercayaanku untuk memberikannya pada kalian. Bahkan jika perlu, orang itu juga akan ikut pergi bersama Reni keluar negri, ia juga akan menemaninya selama berada disana." ucap Nando memberi kepastian.
"Ren, tolong berikan aku posel kamu. Aku akan memasukan nomor orang suruhanku, aku juga akan menghubunginya. Jika kamu butuh apa-apa beritahu saja dia, semua akan di berikan padamu." ucap Nando tegas tapi penuh kepastian.
Reni mengambil ponselnya di dalam tasnya, lalu menyerahkannya pada Nando. Ia juga tidak banyak bertanya lagi pada pria tersebut, mungkin juga Nando sudah memiliki rencana. Reni hanya menuruti apa yang di ucapkan Nando barusan.
Berbeda dengan Diana, ia masih meragukan apa yang di ucapkan pria yang sedang mendekam di penjara. Hatinya bingung, bagaimana bisa bebas. Sedangkan dia saja sudah berbukti bersalah, bahkan Diana tahu pasti siapa anak menantunya tersebut. Mana mungkin ia akan melepaskan tahanan seperti Nando, apalagi jika dia tahu istrinya hamil bersama pria tersebut.
Mungkin saja Arka tidak akan pernah memaafkan dan mengampuni mereka berdua. Lalu Diana menanyakan keluh kesah dalam hatinya pada Nando, bagaimana jika anak menantunya sampai tahu masalah besar tersebut. Bisa jadi hukuman Nando akan semakin berat.
"Lalu bagaimana nanti jika Arka sampai tahu masalah ini? Dia pasti tidak akan pernah mengampuni kalian berdua, apalagi kalian sudah berselingkuh di belakang dia, bahkan Reni sampai hamil! Tanggung jawab apa yang akan kamu lakukan?!" cecarnya pada Nando.
"Anda tidak usah khawatir. Biarpun dia nanti akan mengetahui masalah ini, aku bisa mengatasinya, dengan caraku!" jawab Nando meyakinkan.
"Apa kamu yakin?" tanya Diana ragu. Membuatnya mengepalkan tangannya di atas meja, namun Reni mencegah sang mama melakukan tindakan kriminal pada pria di sebalahnya.
Nando tidak langsung menjawab ucapan ibunya Renita, ia masih sibuk dengan ponsel yang di pinjamnya dari Reni. Entah apa yang di lakukannya, Reni hanya memandangi pria itu. Meski dalam hatinya sangatlah ingin tahu, namun ia lebih memilih diam. Reni juga tidak mau membuat mamanya semakin murka pada dirinya dan juga Nando.
Nando menyerahkan ponsel Reni, namun ia juga sudah mendelete semua pesan yang dikirimkannya pada Zaky. Setelah itu Nando menyuruh wanita itu dan mamanya untuk segera pergi, agar tidak ada kecurigaan apapun pada para penjaga.
Reni dan sang mama menuruti saja apa yang di ucapkan oleh Nando, ia yakin jika pria itu akan menepati janjinya tanpa mengingkarinya. Diana dan Reni keluar dari ruangan itu secara terpisah, ia juga mengenakan atributnya seperti sedia kala.
๐๐๐
Hari ini Allen berada di rumah orang tua suaminya, ia belum di perbolehkan bekerja lagi oleh Arka, suaminya. Untuk mengusir rasa jenuhnya Allen mengisi waktu luangnya untuk membaca buku serta novel kesukaannya.
Saat ia sedang asyik berkutat dengan dunianya, tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan langkah cepat Allen segera mengambil ponselnya dan di lihatnya siapa yang menghubunginya.
Dalam layar ponsel tertera nama 'Hendra', Allen merasa ragu untuk menjawab panggilan itu. Ia mencoba membiarkan panggilan tersebut, namun sahabat dari suaminya itu tetap berusaha untuk menghubunginya. Meski malas akhirnya Allen menjawab panggilan itu.
__ADS_1
*"Hallo.." sapa Allen ramah.
"Kenapa kamu lama sekali jawab teleponnya?." ucap pria di ujung telepon.
"Ya maaf. Ada apa kamu menghubungi aku?" tanya Allen tanpa basa-basi.
"Nggak ada apa-apa aku hanya ingin meminta maaf padamu. Soal aku dan Johan yang menyinggung perasaan kamu!"
"Baiklah. Lupakan saja masalah itu, aku malas membahasnya lagi. Aku juga sadar diri kok siapa diriku, jadi apapun yang kalian ucapkan itu memang benar!"
"*Tuh kan kamu jadi sensitif begitu. Tidak baik buat ibu hamil tahu! Aku beneran minta maaf sama kamu, Len."
"Iya, aku maafkan kamu*." balas Allen, lalu dengan cepat ia memutuskan panggilan teleponnya.
Hendra kesal karena dirinya belum selesai bicara, tapi panggilannya di putus begitu saja oleh Allen. Hendra ngoceh sendiri tak jelas, ia mengumpati wanita yang saat ini menjadi gadis impiannya.
"Aku belum selesai ngomong, malah sudah di matikan teleponnya. Haduh.. Andai saja bukan Allen, mungkin sudah aku datangi ke rumahnya. Tapi aku sadar diri, dia kan sudah ada yang punya. Jadi aku nggak mau cari perkara dan juga nggak mau ribut lagi sama Arka. Kemarin saja Arka sampai marah beneran padaku dan Johan!"
"Salah Johan juga sih, ngapain juga menjelek-jelekan Allen di depan suaminya. Lagian dia kan belum tahu pasti siapa sebenarnya Allen, andai dia tahu tidak mungkin Johan mengumpati Allen dengan kejam seperti itu!" monolog Hendra pelan.
.
.
BERSAMBUNG...
.
.
.
__ADS_1
**Jangan lupa tinggalkan jejak ya, terima kasih buat yang sudah berkenan mampir.
Jangan lupa juga mampir di karya novelku yang berjudul ใCinta Tak Pernah Salahใ. Terima kasih๐๐ป๐๐ป**.