
.
.
Neysa memperhatikan Allen yang mengenakan baju miliknya merasa ada yang aneh. Menurutnya di area tubuh Allen ada yang berbeda, tidak seperti biasanya. Neysa memberanikan diri menanyakan pada sepupunya, ia ingin menepis rasa penasaran dalam hatinya.
"Allen, apa sekarang kamu sedang hamil? Maaf sebelumnya jika aku lancang, hanya saja aku perhatikan perut kamu agak membuncit, berbeda dengan biasanya!" ucap Neysa memberanikan diri bertanya, meski sebenarnya ia merasa ragu.
"I..iya mba Neysa, aku memang sedang hamil." balas Allen sedikit gugup.
"Wah.. Beruntung sekali kalian ya. Baru beberapa bulan menikah, tapi kamu sudah hamil. Berbeda denganku yang sudah dua tahun menikah, tapi belum juga hamil." ucap Neysa dengan seulas senyumnya, meski dari raut wajahnya tersirat kesedihan yang mendalam.
Allen merasa iba pada Neysa, ia tidak mau kakak sepupunya merasa sedih. Ia menasehati Neysa, supaya tetap bersabar. Karena semua sudah di takdirkan oleh yang Maha Kuasa.
"Mba Neysa yang sabar ya. Aku tahu mba sedih, tapi mba jangan berputus asa, ya. Tetap berusaha dan semangat! Awalnya aku juga tidak menyangka jika aku akan hamil secepat ini, mba." balas Allen sambil menggigit ujung bibirnya.
"Tapi kamu sangat beruntung loh, Len. Kamu harus menjaga buah hati kalian dengan sebaik mungkin. Aku yakin tuan Arka pasti sangat bahagia, karena setahuku beliau kan sudah lama menikah dengan model papan atas itu, tapi setahuku hingga saat ini mereka belum di karuniai seorang anak." balas Neysa, ia tahu jika Allen di jadikan yang kedua oleh
"Iya.. Mba, terima kasih nasehatnya. Iya benar mba, mas Arka dan istri pertamanya memang belum memiliki anak." jelas Allen penuh haru.
"Maafkan aku ya, Len. Jika ucapanku menyinggung perasaan kamu!" ucap Neysa penuh sesal.
"Ah.. Tidak apa-apa mba. Lupakan saja, aku juga tidak memikirkan hal itu, kok."
Neysa memeluk hangat sepupunya, ia juga minta maaf pada Allen. Karena Neysa tahu pasti jika, perasaan Allen sedikit tertekan dengan ucapannya barusan.
Namun begitu, Allen sama sekali tidak memikirkan ucapan sepupunya. Allen dan Neysa beristirahat sejenak, sambil bercengkerama. Namun Neysa tidak menyinggung perasaan Allen lagi.
Allen mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi kepadaanya, meski rasanya sungguh berat untuk ia berterus terang. Tapi Allen mencoba untuk tidak mengatakan apa yang telah suaminya perbuat padanya. Ia hanya mengatakan jika disini, dirinyalah yang telah melakukan kesalahan.
"Allen kenapa kamu bisa pergi dari rumah sih? Apa suami kamu menyakitimu, sehingga kamu pergi tanpa di dampingi olehnya?" tanya Neysa penasaran.
Allen menggelengkan kepalanya perlahan, sambil menutupi segala yang telah menimpanya.
"Tidak mba. Mas Arka tidak menyakiti aku, aku hanya ingin menenangkan pikiran saja. Tadinya tujuanku adalah pergi ke tempat ibu, tapi nyatanya tanpa aku sadari aku menumpang kereta yang berbeda tujuan." balas Allen.
Saat mereka berdua sedang asyik bercengkerama, tiba-tiba pagar rumah Neysa di gedor dari luar. Dan ada seseorang yang mengucapkan salam.
Tok.. Tok.. Tok..
"Assalammu'alaikum..!" ucap orang di luar rumah Neysa.
"Siapa ya, malam-malam begini?" gumam Neysa dalam hatinya.
"Sebentar ya, Len. Aku buka pintu dulu, sepertinya ada tamu di luar" ucap Neysa.
"Iya mba."
__ADS_1
Neysa melangkahkan kakinya keluar rumah, ia penasaran siapa yang bertamu ke rumahnya.
"Iya, sebentaa...rr." ucapnya gugup saat ia melihat wajah seorang pria yang tidak asing di matanya. Meski ia tidak begitu mengenal pria itu, namun Neysa tahu pasti jika pria itu adalah suami Allen.
"Maaf apakah istriku berada di rumah anda?" tanya Arka tanpa ragu.
Neysa merasa gugup, namun ia menganggukan kepalanya perlahan. Ia tidak mau bos besar suaminya marah kepadanya.
"I..iya.. Tuan. Istri anda berada di dalam."
"Apa kamu yang membawanya pergi?" tuduh Arka.
"Maaf tuan. Tentang itu saya tidak tahu apa-apa! Saya hanya bertemu Allen di kereta, itu pun secara tidak sengaja. Saya hanya menolongnya, karena sepupu saya itu tidak ada tempat tujuan pasti, makanya saya menyarankannya untuk pergi kesini. Jadi saya mohon pada anda, untuk tidak menuduh saya seperti itu!" jelas Neysa pada Arka.
"Lalu mana Allen sekarang?" tanya Arka lantang.
"Ia berada di dalam, tuan." jawab Neysa dengan raut wajah ketakutan.
Mendengar ada keributan dari dalam, Allen keluar. Ia ingin memastikan siapa yang datang, sehingga ada kegaduhan.
"Siapa mba..?" tanya Allen penasaran.
"Ini ada tuan Arka, suami kamu, Len." jawab Neysa singkat. "Saya permisi masuk kedalam dulu tuan, kabari saya jika ada apa-apa." pamit Neysa pada Arka.
"Hem..." jawab Arka singkat.
Arka melihat Allen dengan raut wajah yang sangat kesal, ia tidak menyangka istrinya akan pergi sejauh ini. Bahkan tanpa memberitahukan dirinya.
"Ngapain kamu berada disini?!" ucap Arka lantang.
"Aku bisa menjelaskan padamu, mas." balas Allen takut.
Arka menghampiri istrinya, lalu ia menarik istrinya untuk ikut bersamanya. Ia tidak mau membuat keributan di rumah orang.
"Sekarang kamu ikut bersamaku. Ngapain kamu pergi tanpa izin dariku? Kamu tidak sadar siapa dirimu sekarang. Haa..!" ucap Arka dengan raut wajah marah.
Allen merasa sedang di intimidasi oleh suaminya, ia sadar diri jiki dirinya adalah istri orang. Tapi yang membuatnya pergi adalah Arka, suaminya sendiri.
"Iya mas. Aku ambil tas milikku dulu di dalam."
"Baik aku kasih waktu 10 menit dari sekarang!" titah Arka.
"Iya mas.." jawab Allen pelan.
Allen melangakahkan kakinya terburu-buru ke dalam rumah Neysa, sekalian ia akan berpamitan pada sepupunya. Walau bagaimana pun ia adalah istri dari Arkana Leonardo, Allen tidak mau suaminya akan semakin marah kepadanya.
Setelah Allen masuk, Neysa menarik tangan Allen ia bertanya pada Allen.
__ADS_1
"Beneran kamu mau pulang bersama suami kamu yang dingin itu, Len?"
Allen menggenggam tangan mba Neysa, ia tidak mau sepupunya terlalu mencemaskan dirinya.
"Iya mba. Mba tenang saja, mas Arka tidak mungkin menyakiti aku. Apalagi sekarang ada anaknya yang sedang aku kandung, walaupun ucapannya terkadang melukai hatiku, tapi sebenarnya mas Arka itu orang yang baik kok, mba!" ucap Allen menenangkan kakak sepupunya.
"Tapi, Len.." ucap Neysa ragu.
"Mba Neysa percaya padaku. Aku tidak akan di sakiti oleh mas Arka, aku pamit ya mba. Terima kasih nasehat dari mba! Semoga mba Neysa segera di berikan momongan, supaya hidup mba lebih sempurna lagi." ucap Allen sambil meneteskan bulir-bulir air matanya.
Begitu juga dengan Neysa, ia sedih karena pertemuannya dengan Allen sangat singkat. Bahkan Allen harus pergi dari rumahnya, bersama pria dingin yang membuatnya tidak suka.
"Jaga diri baik-baik, Len. Begitu juga dengan anak dalam kandungan kamu, jika ada apa-apa hubungi aku."
"Iya mba. Aku janji, aku akan baik-baik saja."
Mereka berdua berpelukan, namun Arka tidak sabaran. Ia memanggil Allen dengan nada sedikit berteriak.
"Allen, buruan. Nanti keburu malam!" teriak Arka dari luar.
"Iya mas, sebentar.." balas Allen.
Allen melepas pelukannya pada kakak sepupunya, ia menghapus sisa air matanya. Ia tidak mau suaminya akan semakin menuduhnya yang bukan-bukan.
"Aku pamit ya, mba." ucap Allen.
"Iya.. Hati-hati di jalan, Len. Kabari aku begitu kamu sampai di kota Jakarta, ya." ucap Neysa sedih.
"Iya mba.. Jaga diri mba juga ya. Bye..." ucap Allen sambil berlalu meninggalkan Neysa yang masih mematung.
Allen menghampiri suaminya tanpa seulas senyum pun, hatinya masih sakit bila mengingat apa yang di tuduhkan Arka kepadanya.
"Ngapain aja di dalam sih, lama banget?!" tanya Arka tanpa basa-basi.
"Tadi aku masih ada urusan, makanya lama!" jawab Allen.
.
.
Bersambung...
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya untuk karya author ya. Mana nih, like, komen, favorit, serta vote nya. Di tunggu ya.. Terima kasih🙏🏻🙏🏻.