
.
.
Arka berdehem pelan sehingga membuat semua yang berada di ruangan itu pun mengalihkan pandangannya padanya, tak terkecuali Allen.
"Mohon maaf sebelumnya, mohon perhatiannya sebentar. Aku akan mengatakan sesuatu pada ayah dan juga bunda mertuaku. Apakah hari ini kalian bisa ikut pergi bersamaku?" ucap Arka sopan. Arka meminta kedua mertuanya mengikuti langkahnya.
Maya dan Heri bingung, apakah yang akan di lakukan anak menantunya. Namun mereka berdua enggan menduga-duga. Heri melirik ke arah sang istri, ia meminta pendapat dari istri tercintanya.
"Bagaimana, apakah kalian berdua siap pergi bersamaku?" ucap Arka mengulang ucapannya.
"I..iya, nak. Tapi ada apa?" tanya Maya dengan ucapan yang terbata. Rasa takut singgah di benaknya, ia tahu pasti siapa anak menantunya. Seingat Maya, baik dirinya ataupun sang suami tidak melakukan kesalahan apapun pada anak menantu serta pada putrinya. Jadi tidak mungkin Arka akan mengintimidasi mereka berdua, begitulah pikirnya.
"Mas, apa kamu sedang merencanakan sesuatu pada keluargaku?!" bisik Allen mengintimidasi sang suami, ia penasaran apa yang sudah di rencanakan sang suami pada kedua orang tuanya.
"Nanti kamu juga akan tahu!" balas Arka singkat. "Ayo kita keluar, tunggu orang tua kamu di dalam mobil." titah Arka pada istri keduanya.
"Baik, mas." balas Allen pelan.
Tidak mau menunggu lama, Arka bangkit dari tempat duduknya. Pria dingin itu melangkahkan kakinya menuju halaman rumah mertuanya, dirinya menunggu kedua mertuanya di dalam mobil.
Berbeda dengan kedua orang tua Arka yang masih betah duduk di tempatnya semula. Ros memberikan nasehat pada kedua besannya,
"Sudahlah bu Maya dan pak Heri, lebih baik kalian ikuti saja perintah putra kami. Kami yakin ada yang ingin di tunjukan Arka pada kalian berdua."
Meski ragu dan takut akhirnya ibunda Allen bersedia mengikuti anak menantunya, namun sebelumnya ia meminta izin pada wanita yang masih nampak awet muda di hadapannya, "Ba..baik nyonya Ros, kami akan ikut dengan kalian. Tapi tunggu sebentar, saya akan mengambil tas serta menutup toko terlebih dahulu."
"Terima kasih banyak karena kalian berdua bersedia ikut pergi bersama kami, pak, bu.. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih." ucap Gio dengan senyum terukir indah di bibirnya.
Maya dan suaminya menganggukan kepalanya bersamaan, "Sama-sama tuan.. nyonya.." ucap mereka kompak.
Gio dan Ros menyunggingkan senyum manis di bibirnya, rasanya sungguh sangat bahagia. Karena kedua besannya bersedia mengikuti putranya pergi.
Setelah Maya selesai menutup toko, dirinya serta sang suami mengikuti langkah kedua orang tua Arka. Terlihat Arka yang sudah menunggu kedatangan mereka semua di depan mobil miliknya, disisinya juga ada Allen.
__ADS_1
Arka membukakan pintu mobil untuk kedua mertuanya, juga untuk mommy dan daddy nya.
"Silahkan masuk yah.. bun.." ucap Arka kali ini tidak sedingin tadi.
"Terima kasih banyak, nak." ucap Heri sopan. Meski dirinya merasa gerogi, tapi ia memaksakan diri masuk ke dalam mobil anak menantunya. Sang istri juga menyusul di belakangnya, mereka berdua duduk di kursi belakang.
Kini giliran kedua orang tua Arka yang masuk ke dalam mobil tersebut, setelah itu Arka menutup pintu mobilnya. Dan satu hal lagi yang tidak ia lupa, Arka membukakan pintu untuk sang istri serta memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya.
Allen terharu akan kasih sayang yang di berikan oleh suaminya, meski ia sadar diri posisinya saat ini. Namun Allen hanya mengucapkan kata terima kasih pada suaminya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Arka menganggukan kepalanya, ia juga membalas senyuman meski hanya sekilas. Arka duduk di belakang kemudi, lalu segera bergegas untuk melajukan mobilnya. Hatinya sudah tidak sabar lagi melihat expresi yang akan di tunjukan oleh kedua mertuanya.
Perjalanan di tempuh kurang dari sepuluh menit, kini mobil Arka berhenti di sebuah rumah berlantai dua yang tidak terlalu besar. Namun rumah itu terasa lebih nyaman untuk di tinggali.
Allen dan kedua orang tuanya bingung, kenapa Arka membawanya ke dalam rumah tersebut. Setahu Allen suaminya juga tidak pernah mempunyai saudara yang tinggal di tempat tersebut.
Namun Allen masih enggan bertanya pada sang suami, ia memilih untuk menyimpan pertanyaannya dalam hati. Arka meminta semuanya untuk turun dari mobil, begitu juga dengan Allen.
Arka membuka pagar rumah tersebut lebar-lebar lalu mengajak semuanya masuk ke dalam rumah itu, tak terkecuali kedua mertuanya.
Maya memberanikan diri bertanya pada Arka, ia merasa heran kenapa anak menantunya membawa dirinya serta keluarganya masuk ke dalam rumah yang terlihat sangat sepi. "Ini rumah siapa, nak Arka? Kenapa rumah ini sangat sepi? Apa tidak ada penghuninya?" ucapnya ragu.
Arka menyunggingkan senyum devilnya tanpa langsung menjawab pertanyaan yang keluar dari bibir ibu mertuanya. Membuat istri serta kedua mertuanya merasa penasaran.
Allen memperhatikan gelagat aneh suaminya, ia bertanya pada pria itu dengan bisikan, "Mas, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan bunda barusan sih? Kenapa juga kamu malah senyum-senyum sendiri?" bisik Allen yang mulai curiga.
"Nanti kamu juga akan tahu! Sudah jangan banyak bertanya, ikuti saja permainanku. Kamu iyakan saja apa yang nanti aku ucapkan pada kedua orang tua kamu!" balas Arka seraya berbisik. Ia juga memberikan isyarat yang sangat keras pada istri keduanya.
Allen hanya mengangguk tanpa banyak pertanyaan lagi, meski dalam hatinya sangat penasaran. Allen berjalan di sebelah sang suami, sementara mertua dan orang tuanya sudah menunggu di dalam rumah itu.
Sesampainya di rumah itu Arka malah mendaratkan bokongnya, ia duduk santai sambil mengulas senyumnya, seolah ia sangat menikmati suasana rumah tersebut.
Heri memberanikan diri bertanya pada suami dari putrinya, "Nak Arka, sebenarnya rumah ini rumah siapa? Kenapa sepi sekali? Kemana penghuninya? Kenapa juga nak Arka membawa kami kesini?"
"Tunggu sebentar lagi, ayah juga akan tahu siapa pemilik rumah ini. Pasti kalian akan kaget, dengan kejutan yang sudah aku persiapkan untuk kalian dari jauh hari !" Arka membatin.
__ADS_1
Setelah semuanya duduk di ruangan yang sama, Arka meminta sang istri untuk membuka laci meja yang berada tidak jauh dari sana. Di dalamnya ada sebuah map, dan Arka meminta Allen untuk mengambilnya serta memberikannya pada kedua orang tua Allen.
"Honey.. Buka laci itu, disana ada sebuah map. Ambillah lalu berikan pada ayah kamu!" titah Arka tanpa mau di bantah oleh Allen.
"Tapi mas—" balas Allen. Ia ragu karena tidak mengetahui siapa pemilik rumah tersebut, tapi sang suami malah menyuruhnya mengambil sesuatu yang berada disana.
"Sudah lah nak, ikuti saja apa yang suami kamu pinta!" ucap Ros membela putranya. Ia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh anak menantunya.
"Benar Len, setelah ini kita bisa mengetahui siapa pemilik rumah ini. Kamu jangan berpikiran tidak sopan, atau apalah itu!" imbuh Gio.
Allen menganggukan kepalanya perlahan, "Iya dad.." ucap Allen lirih sambil bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan ke arah laci yang di maksud oleh sang suami. Allen membuka laci tersebut, dan mengambil map yang berada di dalamnya. Allen berbalik, lalu ia memberikan map tersebut pada ayahnya.
Map itu di terima dengan baik oleh Heri, Arka menitahkannya untuk membuka dan membaca apa yang ada dalam map tersebut.
"Sekarang ayah buka lalu baca apa isi map itu, kalian akan mengetahui semuanya. Tapi aku minta, pantang untuk kalian menolak isi dari map tersebut! Apapun itu isinya!" ucap Arka tegas.
Kedua orang tua Allen berdebar, mereka takut dengan isi map tersebut. Begitu juga dengan Allen, ia takut suaminya telah merencanakan sesuatu yang tidak-tidak pada kedua orang tuanya.
Arka tersenyum puas melihat expresi Allen dan kedua mertuanya yang sangat tegang, "Wajah kalian sangat lucu, apalagi kamu, honey.. Ingin rasanya aku menerkammu sekarang juga! Hahaha.. Andai mereka semua tidak berada disini, aku pastikan semua itu pasti sudah terjadi! Tapi aku masih sanggup menunggu waktu yang tepat !" batin Arka sambil tersenyum devil.
Merasa di tatap tajam oleh suaminya, nyali Allen menciut. Ia mengalihkan pandangan ke arah yang lain, sementara Arka masih menyorotnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
.
.
Bersambung... .
.
.
.
Selamat membaca...
__ADS_1