Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
Bersyukur


__ADS_3

.


.


Entah mengapa saat mendengar penjelasan dari Nando, Arka jadi ingin menemui Renita untuk menanyakan kebenaran yang telah menimpa Allen. Niatnya Arka ingin mengintrogasi istri pertamanya pada saat itu juga, Arka penasaran apakah Renita ikut andil dalam masalah yang menimpa Allen atau tidak.


Arka melangkahkan kakinya pergi dari mansion tersebut, meninggalkan anak buahnya yang sedang memberi hukuman pada pria yang sudah menyebabkan Allen sampai kritis.


Namun saat dirinya hendak bergegas pergi untuk menemui istri pertamanya, langkah kaki Arka harus terhenti seketika saat ponselnya tiba-tiba saja bergetar.


Arka kesal karena entah siapa yang mengganggunya, dengan langkah cepat ia mengambil ponselnya yang berada di saku celana tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menelfonnya. Lalu Arka menekan tombol hijau untuk menerima panggilan, saat dirinya baru menjawab panggilan, Arka kaget karena ternyata Mommy Ros yang menelfonnya.


Mommy meminta Arka datang ke rumah sakit saat itu juga, karena Allen sudah sadar dan menanyakan keberadaan dirinya.


*"**Hallo..."


"Arka cepat datanglah ke rumah sakit, Allen sudah siuman nak. Kasihan dia... dari tadi dia menanyakan keberadaan kamu."


"Benarkah... Mommy serius..."


"Iya cepatlah kemari. Jangan buat dia menunggu lagi.!"


"Baiklah... mom, sebentar la*..."


Arka mendengus kesal, karena sebelum ia menyelesaikan ucapannya, sambungannya di putus sepihak oleh mommy nya.


"Ish... Mommy ini, selalu saja memutus panggilan jika aku belum selesai berbicara. Bikin kesal aja..." umpat Arka marah.


Namun Arka menarik kedua ujung bibirnya, ia tersenyum bahagia karena Allen sudah sadar, meskipun Arka harus mengurungkan niatnya untuk menemui istri pertamanya, Arka lebih memilih bertemu dengan istri keduanya terlebih dahulu. Wanita yang beberapa hari ini membuat dirinya rindu dengan senyum manisnya, sapa manjanya, dan pemikiran dewasanya meski umurnya berbeda jauh dari Arka.


Dengan langkah cepat Arka menyuruh sopir pribadinya untuk mengemudikan mobilnya, berjalan menuju ke rumah sakit. Hatinya bahagia, karena penantiannya agar Allen segera sadar, kini telah terwujud.


Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Arka tak henti-hentinya mengucap kata syukur. Karena istri keduanya, telah sadar dari koma.


πŸ‚πŸƒπŸ‚


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang akhirnya mobil yang di tumpangi Arka berhenti di lobby rumah sakit tempat Allen di rawat.

__ADS_1


Arka mempercepat langkah kakinya, ia ingin segera menemui istri keduanya. Sesampainya Arka di depan pintu ruangan 'VVIP ', saking semangatnya ia langsung menyelonong masuk tanpa mengucapkan salam dan mengetuk pintu terlebih dahulu.


'Ceklek'... suara pintu di buka.


"Arka..." sapa Ros di kursi samping Allen terbaring.


Arka hanya memandangi Mommy Ros, tanpa menjawab sapaannya. Saat baru masuk beberapa langkah ke ruangan Allen di rawat, Arka menyapa Allen hangat sambil berlari. Niat hati ingin memeluk Allen saat itu juga, namun harus terhenti saat kedua bola matanya menangkap dua sosok orang yang tidak asing dalam benaknya.


"Honey.. kapan kamu sa...dar?" ucap Arka terhenti.


Arka kaget bukan main karena ternyata disana sudah ada kedua orang tua Allen yang tengah duduk di shofa panjang yang berada tidak jauh dari ranjang pasien, Allen.


Arka yang kaget lalu menghampiri kedua mertuanya, ia menyalami mereka berdua. Serta menanyakan kabar mereka dengan gugup, Arka takut mertuanya akan menuduhnya yang bukan-bukan karena sebagai suami ia tidak mampu menjaga Allen dengan baik. Sampai Allen terbaring tak berdaya di rumah sakit.


"Selamat siang ayah dan bunda mertua. Kapan kalian sampai disini?" tanya Arka gugup, meski sebenarnya Arka sangat penasaran dengan kedatangan mertuanya yang entah dari kapan mereka sudah berada di rumah sakit tersebut.


"Selamat siang juga, nak Arka." jawab kedua orang tua Allen bersamaan.


"Kami sampai disini sudah ada hampir dua jam yang lalu, sebelum Allen sadar dari koma, nak." jawab bunda Allen ramah.


Sementara Ayah Heri hanya menganggukan kepalanya perlahan, ia memang tipe orang yang agak hemat bersuara. Apalagi pada Arka, lebih tepatnya ia takut berbicara lebih banyak. Karena Heri tahu pasti siapa anak menantunya tersebut.


Karena sebagai seorang ayah yang telah menikahkan putrinya dengan Arka, Heri mempunyai hak untuk mengetahui apa yang telah terjadi hingga menyebabkan putrinya sampai tidak sadarkan diri selama beberapa hari.


Heri mengatur nafasnya, meski takut menantunya akan marah kepadanya, namun Heri berjanji dalam hatinya akan menerima apapun yang nanti akan Arka perlakukan kepadanya. Ia juga tidak takut jika Anak buah Arka akan memberinya hukuman karena sudah lancang pada Arka.


"Nak Arka, apa boleh ayah berbicara padamu empat mata?" tanya Heri gugup.


Arka menganggukan kepalanya setuju dengan ucapan ayah mertuanya, dia juga ingin meminta maaf pada kedua mertuanya. Karena ia tidak bisa menjaga Allen dengan baik.


"Baiklah ayah, mari kita berbicara di luar. Atau kita perlu pergi dari rumah sakit ini?" tanya Arka.


"Tidak usah nak, kita berbicara di luar saja." balas Heri gugup.


"Baiklah ayah.. Mari kita keluar." ajak Arka sopan.


Sebelum Arka pergi untuk berbicara dengan ayah mertuanya, Arka menghampiri Allen terlebih dahulu. Arka mendekati tubuh Allen yang masih lemah, lalu tanpa di duga dirinya sedikit mencodongkan badan nya sebelum akhirnya Arka mengecup kening Allen dengan mesra.

__ADS_1


Cuup...


"Mas Arka.." ucap Allen spontan karena kaget.


"Aku pergi sebentar honey.. Terima kasih kamu sudah bangun untuk ku. Tunggu aku sebentar lagi, aku akan menemuimu lagi disini." pamit Arka pada Allen.


"Iya mas Arka.. Hati-hati dan jangan lama-lama ya." ucap Allen lirih.


"Iya honey.. aku tidak akan lama. Karena aku sungguh merindukan dirimu!" balas Arka jujur.


Allen tersenyum kikuk dengan ucapan Arka, sementara Arka menyunggingkan senyum manisnya pada Allen. Setelah Arka berpamitan pada Allen, dirinya mengajak ayah mertuanya keluar. Heri mengikuti kemana langkah Arka membawanya pergi, karena ia juga tidak tahu pasti tentang tempat yang kini di pijaki kakinya.


Arka berhenti di lorong rumah sakit yang sangat sepi, dia juga sudah memberi kode pada para anak buahnya agar menjaga tempat tersebut saat dirinya tengah berbincang pada ayah mertuanya. Agar perbincangan mereka berdua terasa aman dan nyaman.


Setelah dirasa Arka aman, lalu ia mulai menanyakan pada mertuanya. Ia penasaran apa yang akan di ucapkan oleh ayah mertuanya.


"Apa yang ingin ayah katakan padaku?" tanya Arka to the point.


"Ayah hanya ingin bertanya padamu, apa yang sebenarnya telah menimpa putri ayah. Hingga dia sampai koma?" tanya ayah sambil merangkai kata. "Dan kenapa juga kamu tidak memberi tahu kami berdua, apa menurutmu kami tidak penting?" tanya Heri datar terlihat raut wajah Heri yang kecewa.


"Maaf sebelumnya yah. Ada yang perlu aku luruskan disini, bukannya kalian tidak penting bagiku. Aku terlalu sibuk mencari pelaku serta dalang yang mencelakai Allen, sehingga aku memang lupa untuk mengabari kalian berdua!. Maafkan aku ya yah.." jawab Arka penuh penyesalan.


Ia menangkupkan kedua tangan di dadanya, sebagai permintaan maafnya pada ayah mertuanya. Ia sadar jika dirinya memang salah karena tidak memberitahu keadaan Allen pada mereka berdua.


Tapi apa yang di ucapkan oleh Arka semua adalah benar, semenjak Allen di bekap hingga tidak sadarkan diri. Arka terlalu sibuk mencari pelaku serta dalangnya sehingga ia benar-benar lupa untuk mengabari kedua mertuanya tentang kejadian yang menimpa putri mereka.


.


.


***BERSAMBUNG***....


.


.


.

__ADS_1


**Jangan lupa tinggalkan jejak ya, mohon dukungan untuk karya Author. Bila berkenan mampir juga di novel pertamaku yang berjudul [Cinta Tak Pernah Salah].


Terima kasih yang sudah meninggalkan like, komen, favorit. Salam manis dari author😘πŸ₯°**


__ADS_2