
.
.
"Baiklah dokter Fariz, saya sebagai suami dari pasien setuju agar istri saya melakukan tindakan USG. Jika itu memang yang terbaik. Maka laksanakanlah sesuai prosedur medis." jawab Arka.
"Tapi mohon maaf tuan, jika bukan saya dokter yang akan menjalankan tindakan USG itu." jawab Fariz jujur.
Arka menaikan alisnya ke atas, ia bingung mendengar pernyataan dari dokter Fariz. Meski Arka tahu, jika dokter Faris bukanlah dokter spesialis kandungan.
"Lalu siapa dokter spesialis kandungan yang terbaik di rumah sakit ini dokter?" tanya Arka penasaran.
Dokter Fariz terdiam sejenak, sebelum akhirnya dirinya memberitahu suami dari pasiennya.
"Jika anda berkenan, saya akan memperkenalkan anda dengan dokter Liana besok pagi. Ia dokter spesialis kandungan yang terbaik di rumah sakit ini." jawab Fariz.
"Baiklah, dokter lakukan yang terbaik untuk istri saya." sahut Arka.
"Baik.. tuan Arka, kami sebagai dokter di rumah sakit ini, akan berusaha semaksimal mungkin untuk menangani kondisi pasien." balas Fariz.
"Terima kasih banyak dokter, kami menyimpan harapan besar kepada anda dan rekan-rekan anda. Untuk menyelamatkan Allen, menantu kami." timpal Ros.
Arka menganggukan kepalanya perlahan, ia setuju dengan ucapan sang mommy. Dokter Fariz juga tersenyum ramah pada keluarga Arka, lalu ia membalas ucapan dari ibu mertua pasiennya.
"Kami akan selalu berusaha yang terbaik nyonya. Do'akan kami juga supaya berhasil, karena keberhasilan kami Tuhanlah yang menentukan. Kami para dokter hanyalah manusia biasa, hanya sebagai perantara saja." jawab dokter Fariz ramah.
Arka dan kedua orang tuanya mengangguk, mereka mengerti dengan ucapan dokter Fariz. Jika 'sehebat apapun seorang dokter', mereka masih bisa melakukan kesalahan. Karena mereka juga manusia biasa, dan atas ridho Illahi lah yang dapat memberikan keberhasilan.
Setelah Fariz melihat keluarga pasien mengerti, ia berpamitan pada mereka untuk keluar dari ruangan itu. Ia akan kembali lagi besok, dan membawa dokter Liana, dokter spesialis kandungan.
Ia akan membuat janji dengan dokter Liana, agar pasiennya segera di tangani dengan baik. Kemudian langkahnya di susul oleh sang perawat yang telah selesai mengganti cairan 'infus' yang hampir habis dan tidak lupa ia juga menyuntikan obat pada cairan botol infus yang tergantung di 'Tiang infus'.
Setelah menyelesaikan tugasnya perawat itu juga berpamitan pada keluarga pasien untuk keluar, lalu menyusul kepergian dokter Fariz.
🍂🍃🍂
__ADS_1
Setelah kepergian dokter dan perawat dari ruangan 'VVIP', Arka berpamitan pada kedua orang tuanya. Ia tidak menjelaskan dirinya akan pergi kemana, yang Arka katakan dirinya ada urusan mendadak dan harus pergi saat itu juga.
Kedua orang tua Arka tidak mau terlalu mencampuri urusan putranya, lagian juga putranya sudah dewasa. Arka tahu pasti batasan antara yang salah dan yang benar, mereka juga tidak mau terlalu mengekang Arka putra mereka.
Arka menitipkan Allen pada kedua orang tuanya, karena Allen masih dalam keadaan belum sadarkan diri. Bahkan bisa di katakan jika istri Arka itu dalam keadaan koma, karena dari semenjak siang memang Allen belum sadarkan diri sampai kini saat waktu telah menunjukan pukul 20.00 malam.
Kedua orang tuanya mengizinkan Arka pergi, mereka juga berpesan pada putranya agar kembali ke rumah sakit lagi tidak terlalu larut malam.
Arka menyetujui permintaan kedua orang tuanya, ia menghampiri Allen untuk berpamitan pada istri keduanya.
"Honey.. Aku pergi dulu sebentar ya, karena ada urusan mendadak. Aku mohon, setelah aku kembali nanti kamu harus sudah sadar ya. Cepatlah bangun..." ucap Arka pelan, tepat di telinga Allen, ia juga mengecup pelan kening istri keduanya.
Lalu dengan cepat ia melangkahkan kakinya pergi menuju ke lobby rumah sakit. Disana lah sudah terparkir mobilnya yang di kendarai Rion, sopir keduanya yang selalu mengantarkan dirinya kemana pun langkahnya pergi.
Tanpa menunggu lama Arka masuk ke dalam mobilnya, ia duduk di kursi belakang sopir. Lalu ia mengenakan 'seatbelt' untuk menjaga keamanan dirinya dari suatu hal buruk yang tidak di inginkan, juga untuk menjaga keselamatan dirinya.
Rion melajukan mobilnya dengan kecepatan standar, ia juga menuruti kemana tuannya akan pergi tanpa ada bantahan.
Setelah perjalanan memakan waktu 35 menit, mobilnya berhenti tepat di mansion miliknya yang tersembunyi di balik hutan yang letaknya tidak terlalu jauh dari kota tempatnya tinggal.
Di dalam ruangan yang sedikit gelap itu, pandangan arka melihat ke sekeliling. Hingga tatapannya terhenti saat ia melihat ada empat pria yang mulutnya di tutup dengan kain, serta tangan dan kakinya di ikat di kursi.
"Siapa mereka semua?!" tanya Arka pada Joni orang suruhannya.
"Mereka orang-orang yang sudah berani menghadang mobil yang istri anda tumpangi tuan. Kami berhasil meringkusnya, tapi maafkan kami tuan, karena ada dua rekan mereka yang berhasil kabur." jawabnya tegas.
"Oo... jadi mereka orangnya.!" jawab Arka sambil menganggukan kepalanya perlahan.
Tatapan mata elang Arka, mengarah pada ke empat pria yang sudah membuat istri keduanya menjadi pingsan dan belum sadarkan diri hingga sampai saat ini.
"Iya tuan, mereka lah yang sudah berhasil kami tangkap. Namun dua dari rekan mereka berhasil kabur tuan, tapi rekan kami masih terus melakukan pengejaran. Salah satu dari mereka adalah sang sopir pria yang berbaju abu itu tuan!" sahut joni pelan.
Joni takut tuannya akan marah dan tidak puas dengan kinerjanya bersama rekan-rekan yang lainnya. Ia tahu pasti dengan sifat tuannya yang amarahnya gampang meledak.
Arka menghampiri pria berbaju abu itu, lalu ia sengaja mengangkat dagunya mengarahkan supaya pria itu menatapnya.
__ADS_1
Ia bertepuk tangan, bukan karena bahagia. Tapi Arka merasa puas karena anak buahnya berhasil menangkap pria misterius itu, meski pun belum semuanya tertangkap. Kemudian ia mengintrogasi pria yang sudah menyebabkan istrinya belum sadar sampai saat ini.
"Woww... woww.. woww.., jadi ini pria yang sudah menyebabkan istriku sampai koma ya!" bentak Arka marah.
Pria itu tidak menjawab apapun yang Arka ucapkan, ia hanya memandangnya dengan tatapan penuh kebencian dan penuh dendam.
Arka yang menyadari jika dirinya di tatap oleh pria misterius itu, menatap pria itu balik dengan tatapan mata elangnya. Ia seolah ingin memangsanya hidup-hidup.
"Kenapa.. Kamu menatapku seperti itu!?" tanya Arka marah.
Namun pria misterius itu lagi-lagi tidak merespon pertanyaannya, ia menundukan kepalanya. Arka mulai kesal menghadapi pria di depannya, kesabarannya mulai habis.
Hingga saking kesalnya, ia melayangkan beberapa pukulan ke bagian wajah pria misterius itu. Sementara orang suruhannya hanya memandangi apa yang tuannya lakukan.
Perkelahian tanpa perlawanan berjalan dengan sengit, Arka memukuli pria mesterius itu. Hingga anak buah Arka menghetikan apa yang di lakukan oleh tuannya, dia adalah Dody pria berambut cepak.
"Hentikan, tuan. Percuma saja tuan mengotori tangan anda. Biarkan kami yang melakukan semuanya. Percuma saja anda membayar kami jika anda sendiri yang melakukan tugas ini sendiri." ucap anak buahnya.
Sekilas Arka menatap anak buahnya dengan tajam, namun setelah Arka berpikir sejenak, ia membenarkan ucapan Dody.
~"Benar juga ya, aku kan sudah membayar mereka semua. Ngapain juga aku mengotori kedua tanganku ini.!"~ Arka membatin dalam hati.
.
.
***BERSAMBUNG***....
.
.
.
**Terima kasih buat yang sudah mendukung karya ku ya...
__ADS_1
Terima kasih juga dukungannya, Author masih menunggu like, komen, Favorit, dan like dari para Raeder's semua. 🙏🏻🙏🏻**