
.
.
Arka mengepalkan tangannya di atas meja, saat rekan kerjanya sedang menjelaskan proyek yang akan mereka garap bersama. Bahkan ia hanya menjawab semuanya tanpa ada rasa semangat pada dirinya untuk saat itu.
Pandangannya terus menatap ke arah Allen, ia menetap istri keduanya dengan tatapan mata elangnya yang seolah ingin membunuh lawannya saat itu juga. Sementara asistennya yang mengetahui hal ini mencoba untuk menenangkan tuannya.
Adi sang asisten, tidak mau jika kedua perusahaan itu gagal bekerja sama hanya gara-gara mood Arka yang sedang tidak baik. Ia membisikan kata-kata yang menyadarkan hati Arka.
"Tuan.. Saya mohon pada anda. Tolong jangan sia-siakan kesempatan baik ini, bersikaplah profesional. Jangan bawa masalah pribadi anda dengan urusan kantor, saya tidak mau klien kita menggagalkan kerja sama hanya karena anda egois."
"Saya tahu anda terbakar emosi, tapi kita selesaikan dulu membahas kerja sama kita. Setelah itu anda mau apa, itu terserah pada anda. Saya tidak akan ikut campur!" jelas asistennya.
Tanpa menjawab Arka hanya menganggukan kepalanya, ia mencoba untuk menarik nafas panjang. Lalu menghempaskannya dengan pelan, Arka mencoba untuk tenang meski hatinya bergemuruh saat melihat pemandangan yang tersuguh tidak jauh dari pandangan matanya.
🍂🍃🍂
Siang ini Arka hendak menjalankan meeting dengan klien penting, di sebuah kafe yang sedang ramai pengunjung. Di tempat itu ada Arka, asistennya juga pimpinan perusahaan asing yang akan bekerja sama dengan perusahaan milik Arka.
Saat Arka sedang membahas point-point penting yang akan di lakukan oleh kedua perusahaan untuk bekerja sama, tiba-tiba Arka tersentak kaget saat pandangan matanya tak sengaja menangkap sosok wanita cantik yang selama ini selalu menemaninya sedang duduk berdua dengan Hendra, sahabatnya.
Meski jarak tempatnya duduk dengan Allen lumayan jauh, namun Arka masih dapat melihat dengan jelas saat kedua insan itu sedang bercengkerama.
Hati Arka bergemuruh melihat pemandangan yang membuat hatinya bagaikan tertusuk-tusuk. Ia mencoba menghubungi ponsel Allen, berharap jika panggilannya akan di jawab oleh istrinya.
Bahkan berkali-kali Arka melakukan panggilan, berharap jika Allen akan segera menjawabnya, walau hanya sekedar mengucapkan salam atau bahkan hanya mengucapkan kata 'Hallo'. Namun ternyata harapan Arka nihil, teleponnya di abaikan oleh istrinya.
Arka mengepalkan tangan di pangkuannya, dan sorot mata yang tak dapat di artikan. Namun ternyata asistennya menyadari sikapnya yang kini sudah berubah. Ia tak menyangka jika Allen akan pergi bersama dengan sahabatnya, bahkan tanpa meminta izin padanya terlebih dahulu.
"Sabarlah tuan, anda jangan sampai terbawa emosi. Mungkin ini hanya salah paham, mungkin juga tidak seperti yang anda pikirkan." bisik Adi sambil memiringkan tubuhnya menghadap Arka.
Mendengar nasehat dari Adi, Arka mencoba untuk tenang, meski rasanya sangat berat dan menyiksa batinnya. Hingga setengah jam kemudian mereka selesai menjalankan meetingnya dengan baik. Pimpinan perusahaan asing kemudian berpamitan untuk pergi padanya serta pada Adi sang asisten.
Tak lama berselang Adi juga berpamitan pada tuanya untuk pergi lagi ke kantor, karena tugasnya memang belum selesai. Namun sebelum kepergiannya, Adi berpesan pada Presdir dingin tersebut untuk bersikap dewasa pada istrinya.
__ADS_1
"Tuan, saya pamit ke kantor lagi. Selesaikan masalah ini dengan kepala dingin, jangan sampai memperkeruh keadaan. Saya tidak mau hal buruk terjadi dalam hubungan rumah tangga anda, tuan. Saya akan menghandle pekerjaan anda di kantor." pamit Adi sekaligus memberi nasehat tuannya.
"Heemm.." jawabnya simpel.
Lalu tanpa memikirkan lagi apa yang di ucapkan oleh asistennya, Arka bergegas mendatangi meja tempat Allen dan Hendra berada.
Sesampainya disana, tanpa bisa mengontrol emosinya Arka langsung menarik kasar lengan Allen. Bahkan Allen juga tidak sempat melakukan perlawanan.
"Bagus ya. Ternyata kalian berani melakukan ini di belakangku ya!" ucap Arka lantang karena terbakar api cemburu.
"Arka... Sejak kapan kamu berada disini?" tanya Hendra yang tidak menyangka dengan kehadiran sahabatnya. Ia mencoba untuk menenangkan Arka.
"Itu tidak penting!" jawabnya dingin. "Allen sekarang kamu ikut aku pulang!" bentak Arka pada Allen.
"Mas, kamu jangan salah paham dulu. Ini sama sekali tidak seperti apa yang kamu tuduhkan pada..." ucap Allen mencoba membela diri namun gagal karena Arka membentak dirinya.
"Diam..! Sekarang ikut pulang bersamaku! Atau kamu tanggung resikonya!" gertak Arka yang sudah terbakar amarah sambil menarik kasar lengan istrinya.
Allen meringis menahan sakit, bahkan ia merasa malu di lihat banyak pengunjung kafe. Tanpa melakukan perlawanan Allen mengikuti langkah suaminya, percuma saja ia menjelaskan pada pria yang sedang emosi. Yang ada malah akan memperkeruh keadaan.
Tanpa sepengetahuan Allen, Arka membawa Allen pulang ke apartemen miliknya. Meski urusan kantornya belum selesai, namun Arka percaya jika Adi bisa menghandle semua pekerjaannya. Adi juga tidak protes, ia tahu mood tuannya saat ini sedang tidak baik.
Sesampainya di depan mobil, Arka membuka pintu mobil dengan kasar lalu menghempaskan tubuh Allen dengan lumayan kasar.
"Mas..!" pekik Allen dengan derai air mata yang membanjiri pipinya, ia tak menyangka jika suaminya akan melakukan tindakan kasar seperti itu, bahkan saat kandungannya kini mulai membesar.
Namun Arka sama sekali tidak peduli, ia sudah di selimuti api cemburu, bahkan ia semakin kalap. Bukannya ia membawa Allen pulang ke rumah orang tuanya, tapi Arka membawa istrinya pulang ke apartemen miliknya yang lama tidak ia tinggali.
Allen menyadari jika jalan yang di lewatinya bukan jalan pulang menuju ke rumah mertuanya, namun ia tidak berani menanyakan pada suaminya. Ia hanya pasrah, dan berdo'a dalam tangisnya.
"Semoga mas Arka tidak melakukan tindakan yang keji ya, Tuhan. Aku takut.. Aku harus bagaimana? Penjelasanku juga sama sekali tiada artinya lagi. Baginya aku selalu salah! Semoga engkau selalu melindungi hambamu ya, Allah." monolog Allen dalam hatinya.
Entah berapa banyak air mata yang kini sudah turun membasahi pipi Allen. Sesekali Allen memandang ke arah suaminya yang sedang bringas, meski ia tidak berani mengatakan apapun.
Sesampainya di halaman parkir Arka membuka pintu mobil, lalu membawa Allen masuk ke dalam apartemen miliknya. Tanpa banyak melawan Allen hanya mengikuti suaminya, meski hatinya merasa sangat ketakutan.
__ADS_1
"Masuk..!!" titah Arka dengan suara lantang.
"Untuk apa, mas?"
Arka mendorong tubuh Allen hingga terhempas ke ranjang empuk yang berada di apartemen itu. Arka menindih tubuh Allen juga menguncinya agar wanita itu tidak berontak. Namun Arka menjaga jarak dari area perut Allen agar tidak menyakiti janin yang sedang di kandungnya. Biarpun marah, namun Arka masih memikirkan kesehatan Allen serta buah cinta mereka berdua.
"Jelaskan padaku, kenapa kamu tidak menjawab telepon dariku?! Kenapa juga kamu mau di ajak pergi oleh Hendra! Kamu tidak sadar siapa kamu? Haa...!" ucap Arka dengan menggertak Allen.
"Mas.. Aku bisa menjelaskan padamu. Tapi tolong jangan perlakukan aku seperti ini!"
"Jangan harap aku akan melepaskan kamu, Allena Fahira!" ucapnya dengan seringaian di bibir, serta giginya yang bergemelutuk.
"Mas.. Aku mohon.."
"Sekali aku bilang tidak! Ya tidak! Kamu mengerti?! Sekarang katakan dimana ponsel kamu?"
"Di rumah, mas. Aku bahkan tidak sempat membawa apapun saat pergi, bagaimana aku akan menjawab telepon dari kamu? Hendra menjemputku dengan paksa, meski aku sudah berusaha untuk menolaknya."
"Alasan..!! Sekarang renungi kesalahanmu, aku akan kembali lagi kesini nanti malam!" ancam Arka kesal. Ia bangkit lalu bergegas pergi meninggalkan Allen disana seorang diri.
"Apa kamu sudah gila ya, mas. Kamu meninggalkan aku seorang diri disini? Di tempat asing untukku?!" teriak Allen sambil mengedar pandangannya.
Namun ucapannya di abaikan oleh suaminya, bahkan pria itu pergi meninggalkan dirinya seorang diri. Allen juga tidak membawa ponselnya, bagaimana ia akan mencari pertolongan. Ia juga tidak bisa melarikan diri dari sana, karena ternyata Arka mungunci pintu apartemennya dari luar.
"Argh.. Sial! Kenapa aku harus mengalami ini lagi, sih? Kenapa juga mas Arka meninggalkan dan mengunciku disini? Tempat terasing bagiku!" Allen terus ngedumel sendiri, juga air matanya yang terus mengalir.
.
.
Bersambung....
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, jangan lupa juga dukungan untuk karyaku terima kasih🙏🏻.