
.
.
Kali ini Allen tidak bisa berbohong lagi, semuanya sudah jelas. Ayahnya juga sudah tahu tentang pernikahannya dengan Arka yang sesungguhnya, Allen hanya bisa pasrah dan menjawab pertanyaan ayahnya dengan jujur.
Allen menganggukan kepalanya perlahan, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sang ayah.
"Iya yah, semua yang sudah ayah dengar itu benar.!" jawab Allen lirih.
"Kenapa kamu tidak berterus terang pada ayah dan bunda dari awal nak!" tanya Heri sambil mengguncangkan pelan tubuh putrinya.
Heri sungguh tidak percaya dengan apa yang di katakan Allen.
"Karena aku tidak mau membuat kalian berdua kecewa padaku!." jawab Allen jujur.
Heri menangis sesegukan, saking emosinya hingga membuat tubuhnya terasa lemas, lalu ia tumbang seketika. Heri tiba-tiba pingsan, Allen dan Maya panik melihat keadaan pria yang berada di depan matanya.
Gubrak... tubuh Heri tumbang seketika ke lantai.
"Ayah...!" teriak Allen dan Maya bersamaan.
Maya menghampiri suaminya yang tak sadarkan diri, sementara Allen hanya terpaku di tempat, ia menangis sedih melihat keadaan sang ayah karena ia takut terjadi sesuatu pada ayahnya.
Pak Udin yang mendengar teriakan istri Bos besarnya dan ibu mertua tuannya, melangkahkan kakinya masuk ke rumah mertua Bos besarnya dan melihat keadaan disana.
Ia takut terjadi sesuatu pada keluarga nona mudanya, dan ia sangat kaget saat melihat pria yang baru saja berpamitan pada dirinya untuk masuk ke dalam rumah, sudah tergeletak di lantai.
"Ya ampun.. kenapa dengan ayah anda nona?" teriak Udin panik.
"Ayah pingsan pak Udin.. tolong pak Udin bantu bunda membawa ayah ke kamar ya!" pinta Allen memohon.
"Baiklah nona, saya akan membawa ayah anda ke kamar. Tunjukan saja yang mana kamarnya." ucap Udin.
Maya menunjukan kamarnya, lalu Udin menggendong tubuh ayah dari nona mudanya seorang diri, tentu saja ia mampu karena ayah Allen bertubuh agak kurus. Sementara tubuh Udin yang lumayan kekar membuatnya dengan mudah membawa tubuh ayah mertua bos besarnya.
Ia juga di minta tuannya untuk selalu menjaga istri muda tuan Arka, dimana pun ia berada. Meski bukan hanya Udin, orang suruhan Arka bahkan masih banyak lagi yang di minta untuk selalu mengawasi istri keduanya.
Sesampainya di dalam kamar, Udin merebahkan Heri di ranjang kecilnya yang sangat sederhana. Lalu ia mengatakan pada nona mudanya, apa yang harus ia lakukan. Apakah memanggil dokter atau membawa ayah mertua majikannya ke rumah sakit.
__ADS_1
Namun ucapan Udin di tolak halus oleh Maya, ia merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan orang lain. Meski Allen memaksa sang ibu untuk membawa ayahnya ke dokter, namun usaha Allen sia-sia karena lagi-lagi niatnya di tolak oleh sang bunda.
Maya mengolesi suaminya dengan minyak angin, sementara Allen memijit pelipis sang ayah. Berharap jika ayahnya segera siuman.
Tak menunggu berapa lama akhirnya Heri membuka matanya perlahan, lalu ia memandangi wajah sembab putrinya yang menangis sendu.
"Syukurlah ayah sudah siuman.!" ucap Allen bahagia melihat sang ayah akhirnya sadar, ia menyeka air matanya.
"Ayah membuat kami khawatir. Apa yang ayah rasakan?, apa kita perlu ke dokter?" tanya Maya penasaran.
"Tidak usah, ayah baik-baik saja. Hanya kepala ayah terasa pusing!" jawab Heri jujur.
"Ayah kita ke dokter saja ya,!" bujuk Allen penuh harap.
Namun dengan cepat Heri menolaknya, ia juga berkilah jika dirinya hanya syok mendengar pernyataan putri semata wayangnya.
Ia juga meyakinkan putrinya jika dirinya baik-baik saja, dan meminta Allen untuk tidak mencemaskan keadaannya karena semua baik-baik saja.
Heri meminta putrinya untuk tidak terlalu banyak pikiran, karena kasihan pada anak yang sedang berada di dalam kandungan Allen, ia tidak mau terjadi apa-apa dengan cucu pertamanya.
Allen mengangguki permintaan ayahnya, dan mencoba tersenyum di depan kedua orang tuanya. Walaupun sebenarnya hatinya terasa perih, tapi Allen memilih memendamnya sendiri.
🍂🍃🍂
Hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat, kini sudah waktunya untuk Allen pulang lagi ke kota J ke rumah mertuanya. Sesuai janjinya pada sang suami ia akan pulang sebelum senja tiba.
Kedua orang tuanya mengantar kepergian putrinya sampai ke dalam mobil, meski sebenarnya mereka masih sangat merindukan putrinya.
Namun mereka tidak mau menghalangi kepergian putrinya, sebelum Allen pergi ia memberikan kartu ATM miliknya. Uang yang berada di kartu itu, adalah uang hasil jerih payahnya sebelum ia di nikahi oleh Arka, niatnya untuk membayar hutang.
Meski hanya berisi uang yang tidak banyak, namun setidaknya dapat membantu meringankan beban kedua orang tuanya.
Allen ingin membantu keuangan kedua orang tuanya, meski mereka berdua menolaknya dengan Alasan mereka masih memiliki sedikit tabungan.Tapi Allen memaksa mereka untuk menerima pemberiannya.
Kedua orang tuanya melambaikan tangannya, melepas kepergian Allen. Allen juga melambaikan tangannya, hingga mobil yang di tumpanginya berjalan perlahan meninggalkan kedua orang tuanya.
Mereka yakin jika suatu hari nanti Allen akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Allen meneteskan air matanya, entah sedih karena perpisahan dengan kedua orang tuanya atau ia merasa senang karena hari ini Tuhan mengizinkan dirinya dapat bertemu dengan kedua orang tuanya. Entahlah bahkan mungkin keduanya yang di rasakan oleh Allen.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Allen hanya memandangi jalanan kecil menuju ke kota dari kaca jendela mobil sang suami. Ia tidak mau terlihat sedih oleh sang sopir, Allen takut jika sopir pribadi Arka akan mengadukan apa yang di lihatnya pada suaminya. Ia mencoba tersenyum, meski terasa sangat berat.
🍂🍃🍂
Meski hari ini adalah hari libur kerja, tapi Arka pamitan pada Renita untuk pergi ke kantornya dengan alasan ada pekerjaan yang harus di selesaikannya. Padahal ia hanya ingin melihat wajah istri keduanya melalui sambungan kamera pengintai.
Arka tidak mau istri pertamanya mengetahui apa yang di lakukannya. Bisa terjadi perang dingin nantinya, kini Arka sudah berada di kantornya 'Lionil Persada Nusantara' di kota J. Ia duduk di kursi kebesarannya, lalu memandangi wajah lesu istri keduanya dari layar berbentuk pipih, yaitu laptop miliknya.
Ia memperhatikan wajah Allen melalui kamera tersembunyi yang sudah terpasang di 'dasboard' mobilnya yang sengaja ia pasang secara sembunyi-sembunyi.
Arka sedih melihat istri keduanya yang nampak murung. Andaikan dirinya sedang berada di dekat Allen, ingin rasanya Arka memeluk tubuh mungil istri keduanya, dan memberinya ketenangan.
~"Andaikan kamu berada di sampingku, honey... Ingin rasanya aku memeluk tubuhmu, membelai wajahmu yang terlihat lesu agar kamu dapat tersenyum lagi. Aku ingin mengurangi rasa sedihmu, tapi untuk kali ini aku belum mampu. Aku akan terus memperhatikan dirimu, dari jauh. Aku akan selalu melihat dan mengawasimu di manapun kamu berada Allen."~ monolog Arka pelan.
Namun sayang harapannya terhalang oleh jarak yang memisahkan mereka berdua. Namun Arka akan selalu mengawasi istri keduanya, di mana pun ia berada.
Karena hari ini waktu Arka masih bersama Renita, dan besok barulah giliran Arka bersama dengan Allen istri keduanya.
Besok ia baru akan pulang ke rumah orang tuanya, untuk menemui Allen. Meski sebenarnya ia enggan berada di rumah Renita, karena walaupun hari weekend istri pertamanya tetap saja pergi meninggalkannya di rumah sendirian, dengan alasan sibuk lah, ini lah, itu lah dan masih banyak alasan lagi.
Namun Arka sama sekali tidak komplain, berbeda jika itu adalah posisi Allen. Ia pasti akan memintanya untuk menemani dirinya di rumah, Allen pun pasti tidak akan berani menolaknya.
Tapi mau apa lagi, sesuai kesepakatan dirinya bersama kedua istrinya Arka akan berada di rumah Reni selama tiga hari dalam seminggu.
Selama dua hari Arka berada di rumah Reni, ia juga belum menerima haknya sebagai seorang suami. Mungkin karena penolakannya pada malam itu, sehingga membuat Reni menjadi marah. Bahkan membelai wajahnya saja, Arka juga belum pernah.
.
.
***BERSAMBUNG***...
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ya, Author masih tetap setia menunggu like, favorit, vote, dan komen dari Raeder's semua🙏🏻.
__ADS_1