
Keesokan harinya Allen menjalankan aktifitasnya seperti biasa, ia menjalankan tugasnya di cafe Arlen.
Arka tetap memberikan izin untuk Allen bekerja, tapi tentu saja dengan syarat dan pertimbangan yang harus Allen setujui.
πππ
Hari beranjak siang, hari ini cafe terlihat sangat ramai. Allen hendak keluar karena ada keperluan.
Saat Allen di depan pintu, ia bertemu dengan dokter Ana sedang bersama seorang pria.
Wanita itu menyapa Allen dengan ramah, dan menanyakan tentang kehamilannya.
"Hallo nona Allen.. Apa kabar anda hari ini?" tanya Ana sopan.
"Hallo juga dokter Ana. Kabarku baik dokter, bagaimana kabar anda?" balas Allen ramah.
"Seperti yang anda lihat, saya baik juga nona." balas Ana.
Seorang pria di sebelah Ana, hanya memperhatikan istrinya sedang mengobrol. Hingga Ana mengenalkan Allen pada Alvian suaminya.
"Sayang, kenalin ini nona Allen. Gadis yang aku ceritakan padamu kemarin." ucap Ana pada Alvian suaminya.
Alvian menyalami Allen, lalu mereka memperkenalkan diri masing-masing.
"Hai, nona Allen.. Perkenalkan namaku Alvian, suami Ana." ucap Alvian sopan.
"Hai juga, namaku Allen. Senang berkenalan dengan anda." balas Allen.
Mereka bertiga sedikit bercengkerama, Allen juga menanyakan kenapa dokter Ana bisa berada disini.
Ana menjelaskan bahwa dirinya memang sedang bertugas di rumah sakit yang tidak jauh dari cafe tempat Allen bekerja.
Karena hari ini sudah waktunya untuk istirahat siang, Ana mampir ke cafe milik Arka. Ia memang sering kesana untuk melepas sedikit penat, bahkan sebelum Allen bekerja di cafe itu.
Karena tempat itu sangat dekat dengan rumah sakit dan tempatnya juga strategis.
"Kenapa anda bisa berada disini dokter Ana?" tanya Allen sopan.
"Oh.. kebetulan saya sedang bertugas di rumah sakit Persada, kalo suami saya memang tugasnya di rumah sakit itu. Dan ini sudah waktunya istirahat siang, makanya kami kesini untuk beristirahat." jawab Ana to the point.
Allen menganggukan kepalanya mengerti, lalu dokter Ana menanyakan tentang kehamilan Allen. Allen tersentak kaget, namun dirinya tetap bersikap sopan pada Ana.
"Oya.. nona Allen, bagaimana kehamilan anda? Apakah ada keluhan?" tanya Ana tiba-tiba.
"Kehamilanku baik-baik saja dokter Ana, sampai saat ini tidak ada keluhan apapun." jawab Allen jujur.
"Baguslah nona.. Oya, jangan lupa selalu jaga kesehatan. Dan jangan lupa untuk selalu meminum vitamin dan obatnya ya!" titah Ana pada Allen.
"Baik dokter Ana, terima kasih banyak sarannya!" ucap Allen bahagia.
__ADS_1
Ana menganggukan kepalanya, tanpa di sadari jika ada seorang wanita yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
Wanita itu mendengarkan ucapan yang Allen dan dokter Ana ucapkan.
Ia adalah Renita istri pertama Arka, ia merasa sakit hati mendengar pernyataan jika pelakor yang merebut suaminya kini tengah hamil.
~Apa..!! Benarkah jika pelakor itu sedang hamil?! Ini tidak bisa di biarkan, aku harus membuat perhitungan kepadanya ~ monolog Renita dalam hatinya.
Renita mengepalkan tangannya kesal, istri pertama Arka marah besar mendapati berita yang kurang mengenakkan untuknya, jika pelakor itu tengah mengandung benih suami yang di cintainya.
Renita menghampiri Allen yang sedang mengobrol bersama Ana dan suaminya.
Renita bermaksud ingin mempermalukan Allen di depan umum, ia berkata dengan lantang di depan para pengunjung cafe.
~"Dengar semua para pengunjung cafe ini, perkenalkan gadis yang bernama Allen ini. Dia sekarang sedang mengandung, dan dia adalah seorang peβ.."~ ucapan Renita terputus setelah mulutnya di bekap oleh Arka suaminya.
Para pengunjung membisikan kata-kata, karena mereka penasaran mengapa Reni di bekap oleh suaminya.
"Dia kan model ternama papan atas yang terkenal, kenapa tiba-tiba dia berkata seperti itu?" ucap si heboh.
"Iya.. Bukannya pria itu adalah tuan Arka, kenapa dia membekap mulut istrinya?" timpal si keriting penasaran.
"Aku penasaran, siapakah sebenarnya gadis yang di maksud oleh nona Renita itu!" imbuh si rambut ikal.
"Kenapa sih kalian suka banget ngurusin hidup orang lain!" bentak perempuan berambut panjang.
"Bukannya begitu.. Tapi tidak baik menggunjing dan ikut campur urusan orang lain!" imbuh si perempuan berambut panjang.
"Sudahlah bubar semua..!" Teriak si waras membubarkan kerumunan orang yang masih bergunjing.
Akhirnya semua orang kembali ke kursi masing-masing. Meski di hati mereka masih bertanya-tanya tentang ucapan model papan atas itu.
Sementara Allen terlihat sangat syok, ia di antar oleh Hendra sahabat Arka, kebetulan tadi ia datang bersama Arka.
Arka yang menyuruh Hendra untuk menenangkan Allen, sedangkan Arka mengurus istri pertamanya.
Hendra mengajak Allen ke ruangan pribadi Arka yang berada di cafe itu, lalu ia menyuruh Allen duduk dan menyodorkan segelas air putih.
Allen menerima air putih itu lalu meminumnya, setelah Allen sedikit tenang barulah Hendra angkat bicara.
"Maaf jika aku kurang sopan padamu, tapi Arka yang menyuruhku untuk membawamu pergi dari sana!" ucap Hendra merasa bersalah.
"Iya.. Tidak apa-apa, terima kasih sudah memolongku. Tapi kenapa kamu bisa disini bersama mas Arka?" tanya Allen polos.
"Kami ada pertemuan dengan rekan bisnis. Tadinya kami akan bertemu dengan klien disini, tapi saat kami berdua baru saja tiba, Arka melihat kamu di permalukan oleh Renita." ucap Hendra terjeda.
"Lalu Arka memintaku untuk membawa kamu pergi dari sana, sementara Arka mengurus Renita." imbuh Hendra.
"Terima kasih, sudah menolongku." ucap Allen tulus.
__ADS_1
"Sama-sama.. Allen." balas Hendra.
Allen mengerti dengan ucapan Hendra sahabat suaminya, sebenarnya mereka baru dua kali ini bertemu. Tapi sepertinya Hendra mulai akrab dengan Allen.
Menurut Hendra, sebenarnya Allen gadis yang baik. Hendra menaruh rasa cinta pada Allen semenjak mereka jumpa pertama.
Namun sayangnya Allen adalah istri Arka, tidak mungkin Hendra mengungkapkan perasaannya pada Allen.
~Andai kamu tahu Allen, bahwa aku menyimpan perasaan kepadamu semenjak kita bertemu di acara Johan saat Arka memperkenalkan dirimu. Lalu Arka mengatakan jika kamu istrinya, sebenarnya hatiku hancur berkeping-keping. Tapi aku sadar diri, aku tidak mungkin merebut kebahagiaan sahabatku.!~ batin Hendra, ia memendangi wajah Allen yang sendu.
Namun Hendra sadar diri, jika Allen sudah di miliki oleh sahabatnya. Ia menyimpan rasa cintanya, tanpa berani mengungkapkan pada Allen.
Hendra membiarkan orang yang di cintainya bahagia bersama sahabatnya, ia rela menyimpan rasa cintanya di lubuk hati yang paling dalam.
πππ
Di sisi lain Arka marah pada Renita, begitu juga sebaliknya. Renita mencoba melepaskan genggaman tangan Arka di lengannya.
"Lepaskan tanganku mas.. sakit!" teriak Renita kesal.
Arka melepaskan genggaman tangannya, lalu ia mulai mengingtrogasi istri pertamanya.
"Kenapa kamu mempermalukan Allen di depan semua orang?" tanya Arka datar.
"Kamu tanya kenapa mas?. Tentu saja karena aku sakit hati!" bentak Renita.
"Sakit hati kamu bilang! Karena apa..? karena kamu menganggap Allen sebagai pelakor, begitu kan maksud kamu?!" teriak Arka kesal.
"Iya.. memang begitu kan kenyataannya?!" ucap Reni sengit.
"Ingat ya Renita, jangan sekali-kali kamu mencoba menyakiti Allen lagi. Karena dia sedang mengandung anakku!. Anak yang sudah aku nantikan sejak lama!" bentak Arka.
"Yakin sekali kamu mas, jika anak yang di kandung pelakor itu adalah anak kamu! Bisa jadi itu anak laki-laki lain kan?" fitnah Reni pada Allen.
"Jaga mulutmu Renita! Allen bukan gadis seperti itu!" bentak Arka kesal.
Renita kesal karena suaminya membentaknya, dan membela pelakor itu.
Meskipun disisi lain Arka terlihat sangat bahagia, karena sebentar lagi impian Arka menjadi sosok seorang ayah akan terwujud. Seperti keinginan Arka yang sering di ungkapkan kepada Renita.
***BERSAMBUNG***....
.
.
.
Terima kasih untuk yang sudah mampir di novelku ya. Author tetap menanti like dan komen dari kalianπππ»
__ADS_1