
Allen masih sakit hati hingga ia mengabaikan keinginan suaminya, meski ia sadar kewajibannya sebagai seorang istri walaupun hanya istri siri. Tetapi hati Allen terlanjur sakit atas perlakuan Arka kepadanya.
Arka memaksa Allen, namun ia kekeh dengan penolakannya terhadap suaminya malam ini. Bahkan Allen sengaja menggunakan selimutnya untuk menutupi tubuhnya dan berpura-pura tidur. Arka kesal dengan kelakuan istri keduanya, lalu keluar menuju balkon kamarnya untuk menenangkan diri karena ia belum bisa tidur.
~Maafkan aku mas, terpaksa aku menolak keinginanmu. Aku sadar sebagai seorang istri, Aku sangat berdosa menolak keinginan suami, tapi hatiku masih sakit dengan perlakuanmu yang tidak pernah adil kepadaku!~ Allen membatin setelah melihat suaminya keluar dari kamarnya.
Arka duduk di kursi itu lalu menelpon Hendra untuk mengusir kejenuhannya.
Tuut.. tuut.. tuut..
*~"Hallo bro, ada apa?" sahut hendra di ujung telepon.
"**Kamu belum tidur?" tanya Arka
"Tadinya mau tidur, tapi kamu menelponku. He..he.." jawab Hendra pelan.
"Ndra, apa besok kita bisa ketemuan, aku mau cerita sesuatu padamu" ajak Arka.
"Boleh.. dimana?" tanya Hendra antusias**.
"**Nanti aku sharelok" ucap Arka
"Oke.. bye.." Hendra memutus panggilan mereka*~
Arka kembali ke kamarnya merebahkan tubuhnya yang lelah, dan mencoba memejamkan matanya perlahan. Saat pagi menjelang Arka bangun dari tidurnya, lagi-lagi Allen sudah tidak berada di kamarnya.
Arka membersihkan tubuhnya lalu menggunakan outfit ke kantornya, kemudian ia turun ke lantai bawah. Arka bergegas menuju meja makan untuk sarapan, ia menarik kursi di samping istrinya lalu Arka duduk.
Pagi ini Allen sama sekali tidak menegur suaminya sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Arka hanya memandangi istri keduanya yang masih marah kepadanya lalu Arka berucap pada Allen untuk memecahkan keheningan sarapan pagi ini.
"Hari ini aku pulang agak malam, kamu jangan kemana-mana! Aku tidak suka jika aku pulang, kamu tidak berada di rumah.!" ucap Arka tegas.
~Memangnya aku mau pergi kemana lagi, aku hanya pergi untuk menemui orang tuaku saja. Tapi kamu menuduhku yang bukan-bukan mas!.~ Allen membatin setelah mendengar pernyataan suaminya.
Arka memperhatikan Allen masih diam dan tidak menjawab ucapannya, kemudian Arka menjentikan jari tepat di depan wajah Allen yang sedang bengong. Allen tersentak kaget, saat Arka berucap dengan tiba-tiba pada Allen.
"Kamu tidak dengar Al', apa yang aku ucapkan?!" ucap Arka tiba-tiba.
__ADS_1
"Iya mas.. Aku dengar. Aku juga tidak akan pergi kemana-mana!" sahut Allen tegas.
"Bagus...!" ucap Arka, karena puas mendengar jawaban Allen.
Arka pergi menuju mobilnya setelah ia berpamitan kepada istri keduanya, lalu menyuruh sopir pribadinya melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.
Setelah kepergian suaminya Allen naik lagi ke lantai atas dan segera menuju kamarnya. Kamar yang menjadi saksi bisu kehidupannya setelah di nikahi Arka.
Allen mengambil foto pernikahannya bersama Arka yang berada di nakas samping tempat tidurnya, ia memandangi foto itu. Seketika air matanya tertumpah tanpa bisa di cegahnya.
~Ternyata hidup di sangkar emas sama sekali tidak memberi kebahagiaan ya mas, aku malah lebih bahagia dengan kehidupanku yang dulu. Meski hidup sederhana dan kekurangan, tapi setidaknya tidak ada yang mengekangku, dan menuduhku yang bukan-bukan. Bahkan aku bebas mau pergi kemana pun tanpa ada yang mencurigai~ monolog Allen sedih.
Allen menangis sesegukan, entah kemana dirinya akan menyandarkan bahunya yang terkekang. Sementara ia juga harus menghadapai kerasnya orang-orang yang ia temui, meski Allen menyesali pernikahannya dengan Arka.
Ia juga tidak mungkin melarikan diri, Allen tahu jika Arka pasti akan menyuruh orang-orang suruhannya untuk mencari keberadaannya.
🍁🍁🍁
Terang telah tergantikan gelap, Arka menemui Hendra sahabatnya di sebuah cafe miliknya di kota kelahirannya di kota J. Arka adalah pengusaha muda yang sukses, meski umurnya masih 30 tahun. Ia sudah memiliki beberapa usaha seperti cafe, resto, vila bahkan perhotelan seperti yang sedang ia jalani di kota tempat ia di pertemukan dengan Allen istri mudanya.
Arka keluar dari ruangan pribadinya, setelah Hendra memberi tahunya lewat pesan singkat jika dirinya sudah sampai di kafe milik Arka. Arka menyuruh sahabatnya menunggu di ruang VIP, agar pertemuan mereka tidak ada yang menggangu.
"Hai bro.. maaf lama menunggu, barusan ada urusan mendadak!" sapa Arka.
"Nggak apa-apa ka, santai aja lagi. Aku juga baru sampai sini." sahut Hendra membalas ucapan Arka "Oya, ada apa ka?, tumben ngajak ketemuan tiba-tiba!. Dan mana gadis yang kamu bilang sebagai istri kamu kemarin malam?" tanya Hendra penasaran.
Hendra mengedar pandangannya mencari gadis yang di katakan sebagai istri Arka, sedangkan Arka hanya santai menanggapi pertanyaan sahabatnya. Hendra memang sahabat Arka yang pemilih dalam urusan wanita.
Namun saat Hendra bertemu dengan Allen kemarin malam di acara Johan, dirinya tertantang dengan gadis itu. Bahkan ia merasa penasaran dengan gadis yang di akui sebagai istri Arka.
"Dia di rumah, aku kesini sendiri semenjak pulang kantor." ucap Arka serius.
"Boleh tahu namanya nggak ka.. Please..!" pinta Hendra memelas.
"Kalo cuma mau tahu namanya boleh, namanya Allen. Tapi awas jangan macam-macam! Atau kamu akan berhadapan denganku, karena dia milikku!" jawab Arka ketus.
"Iya.. Aku tahu bro.. Dari dulu kamu kan selalu begitu, apa yang kamu miliki tidak akan ada yang boleh menyentuh bahkan mengganggunya!" balas Hendra mengerti.
__ADS_1
"Baguslah kalo kamu masih ingat..!" sahut Arka sambil tersenyum kecut.
Mereka sedikit berbasa-basi, dan menanyakan seputar pekerjaan masing-masing sambil menikmati segelas minuman yang di sajikan Bartander di cafe itu.
Setelah lama mereka bercengkrama, Arka juga menceritakan alasannya menikahi Allen. Lalu Arka menyampaikan tujuannya mengajak Hendra bertemu.
"Aku mau minta pendapatmu bro!" ucap Arka tiba-tiba.
"Tentang apa ka?" tanya Hendra penasaran.
Arka berfikir sejenak, darimana ia akan memulai percakapannya dengan Hendra. Karena ini tentang kedua istrinya,
"Emm.. Bagaimana menurutmu, jika istrimu meminta pisah darimu? Apakah kamu akan mempertahankan istrimu meski dicap EGOIS, atau kamu akan melepaskan dirinya begitu saja?!" tanya Arka pada sahabatnya.
"Arka bagaimana aku akan menjawabnya, sedangkan kan aku kan belum menikah. Kamu kan tahu itu.!" jawab Hendra terjeda "Tapi seandainya aku berada diposisimu, aku akan tetap mempertahankan apa yang aku punya. Sekalipun dicap EGOIS, aku tidak peduli!" imbuh Hendra.
"Berarti aku tidak salah kan ndra.. jika aku tidak mau melepaskan Allen, meski dia memintaku untuk meninggalkannya dan kembali bersama Renita. Karena uang yang sudah aku keluarkan juga tidak sedikit!" ucapnya pada Hendra.
"Menurutku sah-sah saja kamu mempertahan kedua istrimu, asalkan kamu bisa berlaku adil pada keduanya..Arka. Tapi ingat ka, Allen itu bukan BARANG yang sesukamu kamu BELI lalu kamu buang setelah kamu merasa bosan. Allen juga pasti ingin bahagia ka! " jawab Hendra jujur.
"Aku tahu ndra.. Tapi jujur, aku berat melepas dan kehilangannya. Meski awalnya menikahinya karena merasa sama-sama di untungkan!" ucap Arka jujur.
Arka mengucapkan perkataan itu begitu saja pada Hendra, karena memang benar jika ia sudah mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk melunasi hutang ayah Allen.
Arka mempertahankan Allen, karena menurutnya Allen sebenarnya gadis yang baik. Dan selama Arka menikahi Allen, dirinya juga tidak pernah menuntut apapun darinya.
"Tapi sebagai seorang suami, kamu juga harus bisa membuatnya BAHAGIA!. Dan BAHAGIA itu bukan dari berapa harta yang kamu berikan kepada kedua istrimu!" nasehat Hendra pada sahabatnya.
Sejenak Arka merenung, memikirkan apa yang di ucapkan sahabatnya barusan. Menurut Arka, Hendra adalah sahabatnya yang bisa memahami keadaannya. Ia bahkan selalu menyempatkan diri menemui Arka ditengah kesibukannya mengelola perusahaan kakeknya, jika dirinya meminta untuk bertemu dengan Hendra.
***BERSAMBUNG***....
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. 😘 🥰
Terima kasih sudah mampir, semoga suka sama ceritanya...