Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
Cemas


__ADS_3

.


.


Kini waktu sudah menunjukan jam 17.00 WIB, Arka baru menyadari jika Allen lama tidak pulang ke rumah. Karena tidak biasanya Allen pergi lama-lama darinya.


"Allen pergi kemana ya, kenapa sampai jam segini dia belum pulang. Apa aku menelfonnya saja ya, rasanya hatiku tidak tenang. Apakah dia baik-baik saja?" monolog Arka seorang diri.


Arka mengambil ponselnya di saku jas miliknya, saat ia hendak menelfon istri keduanya ia baru menyadari jika ponsel milik Allen ternyata masih ada padanya. Ia mulai panik dan mencoba untuk menghubungi Hendra, siapa tahu Allen pergi memberitahukan dirinya atau bahkan ia pergi bersama Hendra.


Bukan tanpa alasan Arka berpikiran seperti itu, ia ingat pasti karena tadi siang Allen pergi bersamanya. Arka menelfon sahabatnya itu berkali-kali namun tidak ada jawaban, membuat Arka semakin panik dan kesal.


Tuut.. Tuut.. Tuut..


"Argh... Sial... Kenapa dia tidak menjawab telepon dariku? Apa jangan-jangan Allen pergi bersamanya, sehingga dia berusaha menghindar dariku?"


"Awas saja jika Hendra memang membawa Allen pergi! Tidak akan aku ampuni kamu Ndra, meskipun kamu adalah sahabatku. Aku akan tetap membuat perhitungan kepadamu, karena kamu berani mengganggu milikku!!" monolog Arka pelan sambil menggertakan giginya karena kesal.


Wajar saja sekarang Arka mencurigai sahabatnya sendiri. Karena hanya Hendra yang memang sangat dekat dengan Allen, bahkan Arka juga tidak tahu jika Allen memiliki sahabat yang lain.


Arka mengambil kunci mobilnya, ia mencoba mencari Hendra, sahabatnya ke rumahnya. Karena sebelumnya Arka menelfon ke rumah orang tua Hendra, tapi pekerja disana bilang, Hendra sudah hampir seminggu yang lalu belum datang ke rumah orang tuanya lagi.


Arka berlari secepat mungkin tujuan utamanya adalah rumah milik Hendra, Arka sangat mengharapkan Allen berada disana, atau setidaknya Hendra mengetahui kepergian Allen.


Saat Arka hendak naik ke dalam mobilnya yang terparkir di halaman rumah orang tuanya, ia di tegur oleh mommy Ros yang baru saja pulang dari kantornya. Tanpa Arka ketahui, jika orang tuanya memperhatikan gerak-geriknya dari tadi.


"Arka... Kamu mau kemana, nak? Kenapa kamu buru-buru seperti itu? Apa ada masalah?" ucap Ros penasaran.


"Ah.. Iya mom. Arka pamit pergi dulu ya mom, aku harus pergi menemui Hendra!" jelas Arka sambil ngos-ngosan.


"Memangnya ada apa dengan Hendra, ia baik-baik saja kan?" tanya Ros cemas.


"Nanti akan aku ceritakan semuanya pada mommy, ini darurat mom. Sekarang aku sudah tidak ada waktu lagi untuk menjelaskan pada mommy. Arka pergi dulu ya mom. Bye..." balas Arka sambil mengatur nafasnya.


Arka segera menjalankan mobilnya dan menuju ke rumah milik Hendra, bahkan Arka meninggalkan mommy nya dalam kebingungan.


Sekitar 15 menit kemudian, Arka sampai di depan rumah dengan gerbang bercat hitam milik Hendra. Tanpa basa-basi Arka langsung masuk ke dalam rumah tersebut, tujuan utamanya yaitu menemui Hendra.

__ADS_1


Bukannya Arka mengucapkan salam, ia malah berkata dengan lantang di depan rumah sahabatnya. Hatinya kini tidak tenang, ia sungguh mencemaskan Allen.


"Hendra.. Hendra keluar kamu! Dimana kamu sembunyikan Allen, hah..?!" teriak Arka dengan lantang.


Hendra muncul dari balik pintu rumahnya, ia baru saja menyelesaikan ritual mandi sorenya. Jadi ia tidak menjawab panggilan dari sahabatnya, dan bahkan tidak mengetahui jika Arka menelpon dirinya. Tapi yang membuatnya penasaran adalah teriakan Arka yang mengusik pendengarannya.


"Tadi kamu bilang apa? Aku menyembunyikan Allen? Kamu tidak salah menuduhku begitu, Ka'?"


"Jangan bohong! Kamu pasti tahu kan, kemana Allen pergi? Dan kamu pasti sudah merencanakan semua ini kan?" tuduh Arka tanpa menanyakan kepadanya terlebih dahulu.


"Dengarkan aku baik-baik ya, Ka', aku memang mencintai istri kamu! Tapi aku tidak segila itu. Aku hanya menyimpan rasa cintaku dalam hati. Bahkan aku juga tidak pernah berani mengungkapkannya pada Allen. Allen juga tidak pernah memberiku kesempatan sedikit pun. Kamu jangan ngaco deh!" jawab Hendra penuh penekanan.


"Apa?! Kamu mencintai Allen? Kamu yang mengatakannya sendiri padaku ya, tanpa aku memaksamu untuk mengatakannya." ucap Arka dengan raut wajah kecewa.


Arka tersenyum miris, ia sama sekali tidak menyangka jika Hendra menyimpan perasaan pada istri keduanya. Mendengar penyataan dari Hendra, Arka kalap, ia menarik kerah baju sahabatnya yang sudah rapi.


Tindakannya membuat Hendra marah serta mendengus kesal kepadanya.


"Aku sudah bilang padamu, jangan kamu ganggu apa yang sudah menjadi milikku! Apa kamu tidak mengerti juga?!" gertaknya pada Hendra.


"Dengarkan aku baik-baik ya Ka', aku memang menyimpan rasa pada Allen. Tapi aku sama sekali tidak pernah mengganggunya! Aku hanya berusaha untuk memberikan pertolongan pada istri kedua kamu, kapan pun ia membutuhkannya."


"Aku tidak akan bertindak bodoh seperti itu tadi, jika kamu tidak membawa Allen pergi tanpa sepengetahuanku!" jawab Arka marah.


"Menurutku sebagai seorang suami harusnya kamu tanyakan dulu apa masalahnya, bukannya langsung marah-marah! Kamu tidak pernah peka dan merasakan apa yang Allen rasakan. Suami macam apa kamu ini? Harusnya kamu tanyakan terlebih dahulu apa yang terjadi, bukan main ambil keputusan yang salah begitu saja!" dengus Hendra kesal, berharap Arka menyadari kesalahannya.


Mendengar pernyataan dari Hendra, Arka semakin kesal. Ia sama sekali tidak menyangka jika pria di hadapannya berani mengatakan hal seperti itu kepadanya secara terang-terangan.


"Apa kamu bilang, aku tidak pernah peka? Asal kamu tahu, aku marah pada Allen itu semua karena kesalahan yang kamu perbuat padanya. Andaikan kamu tidak membawanya pergi ke resto itu, aku tidak akan marah-marah padanya!" jelas Arka.


"Terserahlah.. Apapun itu alasan kamu. Yang jelas harusnya sebagai seorang suami kamu melindunginya, bukannya malah menyakitinya!"


"Lalu kenapa kamu mencari Allen disini? Memangnya aku yang membawa lari istri kamu?" dengus Hendra kesal. Ia menunjuk dirinya sendiri.


"Mungkin saja kamu yang sudah merencanakan sesuatu pada Allen, makanya aku mencarinya kesini! Sekarang katakan padaku kemana Allen pergi? Pasti kamu tahu kan?" ucap Arka.


"Ish.. Ish.. Ish.. Aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Ka'. Hanya karena rasa cemburu, kamu bahkan tega melukai perasaan banyak orang. Bahkan bukan hanya istrimu!"

__ADS_1


"Ya terserah apa katamu lah. Yang jelas sekarang kamu tahu kemana perginya Allen atau tidak? Sekali lagi aku tanyakan padamu, kamu jangan bohong!" gertak Arka berharap jika Hendra akan mengatakan dengan sungguh-sungguh.


"Aku tidak tahu! Aku juga tidak bohong kepadamu!" ucap Hendra tegas. "Hubungi saja ponselnya, siapa tahu dia masih bersedia untuk menjawab panggilan telepon darimu!" imbuh Hendra memberi saran.


"Ponsel Allen berada padaku. Bagaimana aku akan menghubunginya?" jawab Arka pelan.


Hendra membulatkan kedua matanya, ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya yang menurutnya sangat keterlaluan pada istrinya.


"Apa?! Apa kamu sudah tidak waras? Lalu kamu akan mencarinya kemana? Kamu benar-benar bodoh?" dengus Hendra kesal.


Di saat Hendra dan Arka sedang berdebat, tiba-tiba orang suruhan Arka yang di tugaskan untuk selalu mengawasi Allen menelfon dirinya serta memberitahukan kemana Allen pergi.


Dret.. Dret.. Dret..


Arka melihat siapa yang menelfon dirinya, ia menjawab panggilan telepon tersebut dengan gugup.


📞"Iya, Hallo..."


📞"Tuan, maaf mengganggu waktu anda. Saya hanya ingin memberitahu anda, jika nyonya Allen berada di dalam kereta dengan tujuan Yogyakarta, tuan.."


📞"Apa?! Apa kamu tidak salah lihat?"


📞"Tidak tuan.. Sekarang lebih baik anda segera menyusulnya."


📞"Baiklah.."


Tanpa banyak kata-kata, Arka berlalu pergi meninggalkan sahabatnya yang sedang kebingungan. Arka langsung tancap gas, bahkan Hendra yang memanggilnya berkali-kali juga tidak di hiraukannya.


.


.


Bersambung...


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukungannya untuk karya Author ya. Happy realing...


__ADS_2