Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
Kejutan Dan Rahasia


__ADS_3

.


.


Tanpa menunggu lama, ayah Allen segera membuka map yang berada di tangannya, ia mulai membaca dengan teliti isi map tersebut. Disampingnya juga ada istrinya yang menemani dirinya, serta menjadi saksinya.


Kaget, terharu, tak percaya dan tidak menyangka, mungkin begitulah isi hati kedua orang tua Allena fahira. Mereka sama sekali tidak menyangka apa yang mereka baca, mereka tidak menyangka jika isi dari map tersebut adalah sebuah sertifikat kepemilikan tanah yang diatasnya berdiri bangunan yang mereka pijaki saat ini. Setifikat tersebut ternyata atas nama Heri, ayahnya Allen.


Heri dan Maya melongo tak percaya, bahkan keduanya menutup mulutnya dengan tangannya. Takutnya mereka berdua kena prank dari keluarga Arka, suami putrinya.


"Nak Arka, apa maksud dari semua ini?" tanya Heri penasaran.


"Apa ayah dan bunda tidak paham juga?"


"Tidak nak." jawab Heri bingung, ia menggelengkan kepalanya perlahan.


Arka menjawab pertanyaan dari ayah mertuanya, meski ia melakukan kebohongan untuk menutupi apa yang akan di katakan olehnya pada kedua mertuanya.


"Begini yah, bun, sertifikat tanah dan rumah ini adalah milik kalian berdua. Ini hadiah dari Allen, putri kalian!" ucap Arka penuh keyakinan.


"Apa...? Benarkah yang di katakan oleh suami kamu, nak?" tanya Heri.


Allen yang sedang duduk manis, menelan salivanya kasar. Ia bingung harus menjawab apa, pertanyaan yang terlontar dari ayahnya. Ia bahkan melotot ke arah suaminya seolah meminta jawaban, Allen juga kaget bahkan sama sekali tidak mengerti rencana sang suami yang membuat bingung dirinya serta kedua orang tuanya.


Arka menyadari tatapan dari sang istri seolah ingin memintanya tolong, ia memberi isyarat pada wanita di sebelahnya dengan cara mengedipkan sebelah matanya serta menyuruh Allen untuk mengangguk.


Allen mengerti isyarat yang di titahkan Arka padanya, mau tak mau ia menjawab pertanyaan kedua orang taunya, "I..iya.. bunda, ayah.." jawab Allen dengan ragu.


Bukannya percaya dengan apa yang di ucapkan oleh putrinya, kedua orang tua Allen malah semakin mencecar putrinya. Bukannya merendahkan tapi setahu mereka, Allen baru saja bekerja selama bereraap bulan, tidak mungkin uangnya akan cukup untuk membeli sebuah rumah yang lumayan besar.


Meski suaminya bergelimang harta, tapi ia tahu pasti Allen tidak akan mungkin melakukan pemerasan terhadap suaminya. Apalagi sampai meminta suaminya untuk membelikan sebuah rumah untuk kedua orang tuanya.


Maya menyorot putrinya dengan tatapan yang menghunus pada Allen, ia meminta jawaban dengan penuh kejujuran. "Katakan yang sebenarnya Allena fahira, kamu dapat uang dari mana untuk membeli rumah sebesar ini? Jangan bilang kamu moroti suami kamu!" tuduhnya ucapan yang tegas.


Arka tahu ini semua pasti akan terjadi, ia bahkan sudah mempersiapkan segalanya agar kedua mertuanya percaya pada putrinya. Sebelum Allen menjawab pertanyaan dari ibunya, Arka yang menjawabnya terlebih dahulu.


"Maaf sebelumnya bunda, ayah. Kalian jangan menuduh Allen seperti itu, Allen tidak mungkin melakukan hal yang tidak benar, seperti apa yang di tuduhkan bunda. Bahkan selama kami berdua menikah, dia juga tidak pernah meminta apapun dariku!"

__ADS_1


"Allen membelinya dengan uangnya sendiri. Karena tanpa kalian ketahui, Allena di kota besar bekerja membantu di perusahaanku. Jadi biarpun dia hanya berada di dalam rumah, tanpa pergi kemana-mana, dia tetap bisa mendapatkan uang dengan jerih payahnya sendiri!"ucap Arka meyakinkan kedua mertuanya.


Walaupun kedua orang tua Allen tidak percaya sepenuhnya dengan apa yang di ucapkan oleh anak menantunya, tapi mereka masih bisa menghargai apa yang telah di lakukan oleh orang-orang di hadapannya saat ini.


Allen bingung harus menjawab apalagi pertanyaan dari kedua orang tuanya, "Apa ini yang di ucapkan mas Arka tadi ya? Tapi kenapa dia tidak memberitahu aku terlebih dahulu. Kalo mas Arka membeli rumah untuk kedua orang tuaku. Aku kan jadi bingung mau menjawab apa pertanyaan dari bunda dan ayah! Lalu aku juga harus berbohong di depan bunda, gitu..?" gumam Allen dalam hati.


Sementara Maya masih kekeh dengan pikirannya sendiri, "Bunda tahu Allen membantu kamu nak, tapi itu baru beberapa bulan yang lalu. Mana mungkin dia memiliki uang yang banyak untuk membeli rumah sebesar ini, bahkan harganya juga tidak sedikit!" ujarnya kekeh.


Arka menjawab ucapan ibu mertuanya dengan santai, bahkan ia sama sekali tidak memikirkan dengan serius ucapan yang terlontar dari ibu mertuanya. "Bun.. Maaf sebelumnya ya jika aku lancang. Tapi bunda harus tahu satu hal, Allen itu bukan wanita yang boros. Tabungannya juga tidak sedikit lho, jadi dia selama ini mengumpulkan uang untuk memberikan kejutan pada ayah dan bunda. Iya kan honey...?" jawabnya santai sambil mengedipkan sebelah matanya, meminta bantuan istri keduanya.


🍂🍃🍂


Seorang laki-laki yang sedang duduk sambil menikmati segelas minuman di sebuah kafe. Ia melamun, entah apa yang sedang di pikirkanya.


Tidak jauh dari pintu masuk ke dalam kafe tersebut, ada seorang pria yang memperhatikannya sedari tadi. Pria tersebut memghampirinya dengan langkah kaki yang di buat sepelan mungkin, agar incarannya tidak mengetahui keberadaannya saat ini.


Pria itu adalah Johan sahabat Hendra dan Arka, Johan sengaja menepuk pundak Hendra dengan lumayan keras sehingga sahabatnya terlonjak dari duduknya karena kaget.


"Woi.. Bengong aja loe, mikirin apa sih? Jangan bilang loe sedang memikirkan istri orang ya?!" tuduhnya pada Hendra.


Hendra terlonjak dari tempat duduknya, ia mengumpati sahabatnya itu, "Ih.. Resek loe Jo, ngagetin gue aja!" balasnya singkat.


Setelah pelayan mengantarkan minuman di meja, Johan mulai mencecar sahabatnya dengan berbagai pertanyaan. "Ada apa sih bro, apa kamu masih memikirkan Allen?" tanya Johan kali ini bertanya lebih pelan dan serius.


"Enggak..! Aku bukan memikirkan dia, tapi ada yang lebih serius lagi!" jawab Hendra jujur.


Johan menatap wajah serius Hendra, banyak pertanyaan yang yang tersimpan dalam benaknya. Namun kali ini ia akan mendengarkannya terlebih dahulu apa yang ingin di ucapkan oleh sahabatnya itu.


Hendra mulai berpikir, ia akan mengatakan yang sebenarnya pada Johan. Namun sebelumnya Hendra meminta pada Johan untuk tidak memberitahu Arka apa yang akan di ucapkannya.


"Gue mau cerita sama loe. Tapi gue mohon sama loe, jangan kasih tahu Arka dulu ya. Gue minta loe berjanji pada gue!" ucap Hendra dengan penuh penekanan.


Johan menganggukan kepalanya pelan, ia penasaran apa yang akan di ucapkan oleh Hendra, namun sebelumnya ia juga berjanji pada sahabatnya. "Baiklah gue janji sama loe. Tapi apa hubungannya dengan Arka?" ucap Johan tak mengerti.


"Ini.. Ini tentang Renita."


"Kenapa dengan istri pertama Arka. Apa kamu sudah berhasil menemukannya? Dimana dia?" tanya Johan penasaran.

__ADS_1


Hendra mengedar pandangan kesekeliling tempatnya duduk, ia tidak menyangka Johan akan antusias seperti itu pada istri pertama Arka.


"Jangan keras-keras ngomongnya, nanti di dengar orang. Bisa kacau semua!" ucap Hendra sambil berbisik ia kesal dengan kelakuan sahabatnya yang satu itu.


"Sory-sory, gue terlalu semangat ingin mendengarkan apa yang akan loe ucapkan."


Hendra berbicara perlahan pada Johan, ia tidak mau ada orang lain yang mendengarkan apa yang ingin di ucapkannya pada Johan.


"Begini Jo, gue menyuruh orang untuk mencari keberadaan Renita. Dan orang suruhan gue telah menemukan keberadaannya di luar negri." jelas Hendra.


Johan tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh sahabatnya, ia geleng-geleng kepala. "Kenapa loe sampai nekad melakukan itu semua sih, apa loe sudah gila? Nanti kalo Arka sampai tahu gimana.. Coba?"


"Loe nggak usah berpikiran terlalu jauh, gue cuma kasihan pada Arka." kilah Hendra, meski sebenarnya ia memang sungguh kasihan pada sahabatnya.


"Kasihan pada Arka, atau pada Allen?"


Hendra melotot pada Johan, ia menjawab pertanyan sahabatnya dengan gugup, "I..iya dua-duanya, hehehe."


"Ish.. Ujung-ujungnya Allen juga, kan?" ucap Johan sambil memicingkan matanya.


"Loe dengerin gue dulu kenapa, jangan banyak ngomel dulu!" sergah Hendra kesal.


"Iya-iya.. Oke.." balas Johan malas


Hendra mulai menceritakan semuanya pada Johan, meskipun Hendra pikir Johan tidak akan menanggapinya dengan serius.


.


.


Bersambung....


.


.


.

__ADS_1


Selamat membaca...


__ADS_2