Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
Arka Berpamitan Untuk Pergi.


__ADS_3

.


.


Setelah Allen selesai menjawab panggilan telepon dari Hendra, ia masih berkutat dengan dunianya. Tak terasa waktu pun sudah berganti senja, dan tanpa di sadarinya Arka sudah pulang ke rumah.


"Assallamu'alaikum. Selamat sore, My honey." ucap Arka memberi salam.


"Wa..wa'allaikum salam. Kamu sudah pulang mas?" balas Allen.


Ucapannya terbata, karena tidak biasanya suaminya pulang mengucapkan salam, biasanya main menyelonong saja.


Arka menghampiri istri keduanya yang sedang asyik duduk di sofa empuk tak jauh dari ranjang tidurnya, sambil di temani setumpuk buku yang berada di atas meja.


Ia memeluk mesra tubuh mungil Allen, sambil menciumi leher jenjang Allen yang terasa sangat wangi. Tentu saja karena Allen baru selesai mandi dengan menggunakan sabun cair dengan aroma bunga mawar plus minyak zaitun, aroma kesukaan Allen.


Allen merasa ada yang aneh dengan gelagat suaminya, ia sempat menaruh rasa curiga pada Arka, karena tidak biasanya suaminya begitu. Namun hatinya berkata tidak baik berprasangka buruk pada orang, apalagi orang itu adalah suaminya sendiri.


"Kamu kenapa sih, mas. Datang-datang langsung memeluk aku?" tanya Allen tanpa basa-basi.


"Hem..? Aku nggak apa-apa, honey. Hanya saja aku ingin melepaskan rinduku, untuk saat ini." balas Arka.


"Apa maksud kamu, mas?. Kenapa tiba-tiba saja kamu berkata begitu?!" cecar Allen penasaran.


Arka mengerti dengan pertanyaan istrinya, ia tidak mau istrinya berpikiran macam-macam kepadanya.


"Aku minta izin padamu, besok pagi aku harus pergi ke Singapura. Ada urusan pekerjaan yang tidak bisa di handle staf perusahaan disana." jawab Arka terus-terang, meski hatinya sungguh berat mengatakan jika dirinya akan meninggalkan Allen untuk tiga hari kedepan.


"Yah, berarti kamu meninggalkan aku disini sendirian dong, mas?" ucap Allen dengan berat hati.


"Iya, maafkan aku, honey. Aku terpaksa harus meninggalkan kamu. Tapi kan masih ada mommy dan daddy di rumah." balas Arka memberi pengertian.


"Tapi mas.. Mommy dan daddy kan hanya di rumah jika hari sudah sore, sekarang saja mereka belum pulang kan?"


"Nanti aku bicarakan sama mommy untuk mengambil cuti, selama aku ke luar negri." nasehat Arka pada Allen.


Mendengar suaminya akan meminta mommynya untuk menemani dirinya, Allen merasa tidak enak hati. Ia menolak dengan halus saran dari sang suami, bukan apa-apa. Hanya saja Allen tahu jika sang mommy banyak pekerjaan kantor yang harus di selesaikannya.


"Nggak usah lah mas, kamu jangan minta mommy untuk menemani aku. Aku nggak mau bikin mommy repot." kilah Allen mencoba berlapang dada.

__ADS_1


"Beneran kamu nggak apa-apa, kalo aku tinggal selama tiga hari kedepan?" tanya Arka ragu.


Allen menganggukan kepalanya dengan cepat, ia juga menjawab pertanyaan suaminya, agar dia tidak mengkhawatirkan keadaan Allen.


"Aku nggak apa-apa mas, aku akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu meminta mommy untuk cuti, kasihan kan mommy. Nanti pekerjaanya akan semakin menumpuk lagi!" sergah Allen pada suaminya.


"Kamu yakin, honey..?" tanya Arka masih ragu.


"Iya mas Arka, aku yakin seyakin-yakinnya. Ya sudah kamu mandi dulu sana, nanti aku bantuin peking barang-barang kamu yang kamu perlukan selama berada disana." ucap Allen penuh keyakinan, agar suaminya tidak mencemaskan dirinya.


Namun bukannya yang di suruh mandi langsung pergi ke kamar mandi, tangan nakalnya malah menjelajahi area sensitif milik Allen. Ia juga mencium Allen dengan penuh gairah, meski perut Allen kini sudah tidak rata seperti dulu lagi. Namun gairah Arka semakin tinggi, bahkan menurutnya wanita yang di nikahi secara siri olehnya, selalu memberi kepuasan tersendiri bagi Arka.


Allen mengerti keinginan sang suami, namun sebelum ia melayani suaminya sepenuh hati. Allen menyuruh Arka untuk mandi dahulu, hanya saja Arka malah semakin tidak sabaran.


"Mas, mandi dulu sana!" ucapnya sambari menahan desahannya, karena sang suami yang selalu menggoda imannya.


"Nggak mau! Aku mandinya nanti, setelah kita bercinta. Please.. Jangan paksa aku ya! Selama tiga hari esok aku kan tidak bisa meminta ini kepadamu!" rengek Arka seraya menangkupkan kedua tangannya memohon.


Allen merasa simpati pada suaminya, ia tahu jika suaminya akan tersiksa jika keinginannya di tolak olehnya. Sebisa mungkin Allen memberikan kewajibannya sebagai seorang istri pada sang suami.


"Baiklah, tapi setelah ini kamu harus mandi. Janji ya..!" ucap Allen serius.


"Enggak, ah.. mas. Aku nggak mau mandi bersama kamu. Nanti yang ada kamu minta jatah lagi dan lagi. Hii.. " tolak Allen sambil bergidik ngeri.


"Memangnya kenapa kalo aku minta jatah padamu lagi, kita kan sudah sah menjadi—" ucapnya terhenti.


"Iya mas aku tahu, tapi kan kamu harus menghemat tenaga untuk perjalan besok pagi!" balas Allen, ucapan Allen di angguki oleh Arka. Ia membenarkan apa yang di ucapkan oleh istri keduanya.


"Benar juga ya, kenapa aku nggak kepikiran kesitu!" kilah Arka dengan cepat.


"Tentu saja nggak kepikiran, kamu kalo sudah mesum kan lupa segalanya, mas." ledek Allen.


Namun rupanya bukannya Arka marah, tapi ia semakin menjelajahi tubuh eksotis milik istri keduanya. Arka juga tersenyum jahil pada Allen.


"Sini biar aku tunjukin kemesuman aku!" ucap Arka seraya tersenyum menyeringai. "Lagian bukannya kamu juga suka kan kalo aku mesum?" imbuh Arka sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Iya deh, terserah apa kata kamu saja mas, aku nurut saja dari pada nanti kamu semakin brutal." lagi-lagi Allen menggoda suaminya, namun kali ini ucapannya sedikit monohok hati suaminya. Arka tidak marah, ia hanya pura-pura merajuk sambil menunjukan seringainya.


"Kalo brutalnya disini, di tempat ini nggak apa-apa kan?" ucap Arka seraya menyentuh sesuatu yang berharga milik Allen, kini giliran Arka yang meledek Allen.

__ADS_1


Wajah Allen menjadi merah, ia malu karena suaminya berhasil mengerjainya. Allen bahagia karena suaminya sudah tidak kasar kepadanya seperti dahulu, saat mereka baru saja menikah. Mungkin inilah yang di sebut 'Witing tresno amargo soko kulino', begitulah mungkin filosovi yang di katakan orang jawa. Entahlah Allen juga tidak tahu suaminya sudah mencintai dirinya atau belum, yang jelas ia sedikit peka kepada Allen.


Bahkan Arka tidak rela jika ada orang yang berusaha untuk menyakiti istri keduanya, ia juga tidak menginginkan sahabatnya yang secara terang-terangan menyimpan hati pada Allen.


Arka dan Allen melakukan permainan panas di atas ranjang, hingga senja benar-benar tenggalam. Mereka berdua bahagia hari ini, meski esok mereka berdua akan terpisah karena Arka harus segera terbang ke singapura.


🍂🍃🍂


Renita berada di rumah sang mama, rasa tidak tenang kini bergelayut di hatinya. Diana yang berada di sebelah putrinya, mencecar berbagai pertanyaan pada Reni. Ia tetap melakukan itu semua pada Renita, meski Reni menunjukan ketidak sukaan pada dirinya, namun Diana sama sekali tidak peduli.


"Ren, apa kamu akan tetap mengikuti apa yang di ucapkan oleh pria yang sedang mendekam di penjara itu?" tanyanya pada sang putri.


"Iya ma. Memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan sekarang, semuanya sudah terlanjur. Andai Arka sampai tahu aku hamil bukan anaknya, bisa-bisa dia menghabisiku ma!" jawab Reni penuh penekanan.


"Lagian kamu sebagai istri, sungguh sangat keterlaluan Ren. Bisa-bisanya kamu selingkuh dengan pria seperti itu, lihat saja wajahnya yang sangar dan sama sekali bukan tipikal mama. Jauh sangat berbeda dengan Arka, dia tampan, kaya, bahkan dia punya segalanya. Kamu saja yang bodoh, sebagai seorang istri tak mampu memberikan kebahagiaan pada suami. Sehingga dia berpaling ke lain hati!" celoteh Diana memberi nasehat putrinya.


"Sudahlah ma. Mama nggak usah pakai ceramahi aku! Mama mau ngoceh tujuh hari tujuh malam pun, nggak akan bisa membalikan keadaan, ma!" ucap Reni melawan sang mama.


"Heh.. Kamu ini..!" gertak Diana dengan menggertakkan giginya, ia juga mengepalkan tangannya di pangkuan.


Diana berpikir apa yang di katakan oleh putrinya memang benar adanya, apapun yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak akan merubah keadaan seperti semula.


Diana duduk di sofa, ia merenungi nasib yang menimpa putrinya, sambil sesekali menyeka air matanya.


"Andai dari awal aku lebih keras pada Reni, mungkin dia tidak akan melakukan kesalahan seperti ini. Tapi semua sudah terjadi, aku tidak akan mungkin dapat mengubahnya lagi." Diana membatin.


.


.


"BERSAMBUNG...


.


.


.


Jangan lupa dukungan untuk karya author ya. Jika berkenan mampir juga di novelku yang berjudul 《Cinta Tak Pernah Salah》. Terima kasih yang sudah memberi dukungan untuk karya ku, salam manis dari author😘🙏🏻.

__ADS_1


__ADS_2