
.
.
Renita mengajak sang mama masuk ke dalam rumah yang ia tinggali, sesampainya disana ia memeluk hangat Diana. Reni membawa Diana masuk ke kamarnya, serta menutup pintu tersebut dengan rapat. Ia menanyakan kabar sang mama, berharap jika semuanya baik-baik saja.
"Bagaimana kabar mama? Apa semuanya baik-baik saja? Kenapa mama datang kesini nggak ngasih kabar dulu?" tanya Reni merasa tidak enak hati.
"Kabar mama baik, Ren. Semua baik-baik saja, termasuk juga suamimu. Mama minta maaf jika kedatangan mama kesini malah membuatmu merasa tidak nyaman!" jelasnya pada putrinya.
"Bukan begitu maksud Reni, ma. Hanya saja Reni merasa tidak enak hati, karena kedatangan mama kesini malah terganggu oleh keadaan." ucap Reni merasa bersalah. "Ya syukur lah, ma. Aku senang mendengarnya jika semuanya baik-baik saja." balas Reni dengan bulir air matanya yang menggenang di pelupuk matanya.
Bukannya Reni tidak senang mendengar kabar, jika semuanya baik-baik saja. Hanya saja hatinya merasa sedih jika ia mengingat kelakuan yang di perbuatnya pada sang suami. Ia menyakiti pria yang selama ini selalu berada di sampingnya.
Yang membuat hatinya terasa sesak adalah ia harus menerima balasan apa yang telah di perbuatnya. Hingga Reni mengalihkan pembicaraanya dengan sang mama pada hal lain.
"Maaf ya ma jika orang suruhan Nando tidak sopan pada mama." ucap Reni dengan raut wajah kekecewaan.
"Iya nak, tidak apa-apa. Memangnya di antara kalian sedang ada masalah ya, atau kalian sedang ribut? Sampai-sampai Nando tidak mengizinkan siapa pun datang ke rumah ini, termasuk mama?"
"Iya ma.. Kita memang sedang tidak baik. Aku kesal padanya, ternyata Nando sudah mempunyai istri, ma..!" jelas Reni tanpa bisa mengontrol emosinya lagi.
"Apa kamu bilang??" ucap Diana syok berat.
Diana lemas seketika tubuhnya hampir saja ia tumbang, namun beruntung karena ia masih bisa menahan tubuhnya. Dan tertahan oleh sofa yang berada di kamar yang di tempati oleh putrinya.
Diana di papah oleh Reni untuk duduk di sofa itu, Diana sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh putrinya. Hingga ia menganggap jika Reni sedang bercanda.
"Bercandamu jangan kelewatan, Ren!" tuduh Diana tak percaya.
"Ma.. Aku beneran. Apa mama tidak bisa membedakan mana yang sedang bercanda dan yang serius!" ucap Reni dengan nada keras.
"Lalu jika Nando sudah punya istri, kenapa kamu selingkuh sama dia? Bahkan sampai kamu hamil!"
__ADS_1
"Reni baru tahu tadi siang, ma. Sebelumnya laki-laki itu sama sekali tidak pernah bilang kalo dia sudah beristri! Lalu Reni harus bagaimana ma? Apa aku gugurkan saja janin ini?" tanya Reni tanpa berpikir panjang.
"Apa kamu sudah tidak waras?!" bentak Diana kesal pada putrinya.
Ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Renita. Bukannya mencari solusi yang lainnya, tapi kenapa otaknya malah kepikiran tindakan bodoh seperti itu.
"Aku masih waras ma. Hanya saja aku sama sekali tidak dapat mencari solusinya! Tanpa aku sadari jika aku sudah menjadi duri dalam pernikahan orang lain, ma!"
"Makanya sebelum bertindak yang melewati batas, pikirkan dulu resiko yang akan kamu tanggung!" ucap Diana tegas.
"Terus solusi buatku apa, ma? Aku tidak mau pulang ke tanah air, nanti yang ada Arka akan membunuhku lagi." ucap Reni ngawur, ia malah sampai kepikiran akan hal buruk yang akan menimpanya.
"Kamu saja yang terlalu jauh berfikiran buruk terhadap suamimu. Siapa tahu Arka malah akan menyayangi anak dalam kandungan kamu seperti anaknya sendiri." ucap Diana seolah tanpa beban.
Mendengar ucapan mamanya, Renita menggelengkan kepalanya perlahan. Ia sama sekali tidak menyangka jika sang mama akan berkata seperti itu. Reni juga tidak mengerti dengan jalan pikiran sang mama.
"Terlalu jauh berfikir bagaimana, ma? Mas Arka saja tidak pernah memberiku nafkah batin semenjak dirinya menjalankan pekerjaannya di kota B. Mana mungkin ia akan mempercayai anak yang sedang aku kandung ini sebagai anaknya!" jelas Renita.
"Mana mungkin Arka begitu! Setahu mama, kamu yang selalu menolak keinginannya!" jawab Diana membalikan keadaan.
Melihat putrinya cemberut, Diana mencoba untuk memberikan perhatian pada Renita. Ia berharap jika Reni tidak akan keras kepala lagi.
"Tapi kamu belum mencobanya nak!" bujuknya.
"Sekali tidak ya tidak, ma! Aku akan tetap berada disini, sampai kapanpun." ucap Reni tegas.
"Bahkan jika Nando tidak mau bertanggung jawab sekalipun kamu akan tetap mengemis padanya. Begitukah maksud kamu?" balas Diana dengan nada kecewa.
"Apa boleh buat. Toh semua ini juga sudah terjadi! Mama tahu kan nasi yang sudah menjadi bubur tidak akan bisa berubah kembali?" jawab Reni dengan membantah sang mama.
"Terserahlah..! Mama malas berdebat denganmu. Kamu memang keras kepala! Mama akan menunggu hingga pikiran kamu berubah. Mama berharap kamu akan bersikap dewasa. Satu pesan mama, jangan sampai kamu menggugurkan janin yang sedang kamu kandung. Atau mama tidak akan menganggap kamu sebagai anak mama lagi!" ancam Diana.
Reni hanya menganggukan kepalanya tanpa bisa berkata apapun pada sang mama. Lidahnya kelu seakan mulutnya tak mampu berkata lagi saat itu.
__ADS_1
Reni memeluk hangat sang mama, hingga tangisnya pecah. Ia berharap jika mamanya tidak akan benar-benar marah padanya. Dalam tangisnya Reni berpikir untuk menanyakan dimanakah mamanya akan menginap, karena hari beranjak petang.
"Malam ini mama akan menginap dimana?" tanya Reni sedih.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan mama. Mama akan baik-baik saja. Yang perlu kamu pikirkan adalah nasib kamu!" ucap Diana sambil melepas pelukan dari putrinya.
Diana menghapus sisa air mata di pipinya, meski naluri seorang ibu mengatakan jika ia tidak tega meninggalkan putrinya disana seorang diri dan hanya di temani oleh orang suruhan Nando.
Tapi Diana melakukan itu semua agar putrinya bisa bersikap lebih dewasa lagi. Diana melangkahkan kakinya dengan terburi, hingga tanpa di sadarinya ia menabrak Nando.
"Tante Diana... Sejak kapan anda berada disini?" sapa Nando.
"Kamu...!" tunjuk Diana dengan tatapan tidak suka. "Kamu laki-laki bejat. Kenapa kamu memanfaatkan kelemahan putriku, bahkan sampai dia hamil. Bahkan kamu sudah menikah, tapi kenapa dari awal kamu sama sekali tidak pernah memberitahu Reni. Haa.. Laki-laki macam apa kamu ini?" ucap Diana marah.
"Maafkan atas kesalahan yang sudah ku perbuat tante. Aku janji akan bertanggung jawab pada putri anda!" jelas Nando dengan perasaan bersalah.
"Apa kamu bilang, bertanggung jawab? Bagaimana bisa kamu bertanggung jawab, jika kamu sudah memiliki istri!" cela Diana sambil tersenyum getir.
"Itu biar menjadi urusanku. Tante tidak perlu khawatir."
"Bagaimana aku tidak khawatir, Reni hamil oleh kamu. Pernikahannya dengan Arka kini di ujung tanduk. Kamu bilang aku tidak perlu khawatir! Dimana perasaan kamu sebagai seorang laki-laki. Apa kamu pikir, istri pertama kamu akan diam saja jika kamu akan menikahi Reni?"
"Aku akan berusaha membujuknya untuk bisa menerima kehadiran Reni tante. Aku juga menjamin kehidupan Reni ke depannya akan lebih baik lagi?" jelas Nando.
.
.
Bersambung....
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa dukungannya ya. Author selalu setia menunggu like, komen, favorit, serta vote dari para pembaca semua.🙏🏻.