Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
Meminta Izin


__ADS_3

.


.


Kini hanya sesal yang mengisi ruang kosong hati Diana, ia tahu pasti jika nanti anak menantunya sampai tahu tentang apa yang terjadi pada putrinya, Arka bisa murka. Bahkan bisa jadi Arka akan melepaskan Renita, meski itu bukan yang di inginkan oleh Diana.


Selama Arka menjadi anak menantunya, ia sangat baik pada Diana. Bahkan Arka juga tidak pernah bertutur kata yang tidak sopan kepadanya, hanya saja memang kadang pria itu sedikit dingin, itu memang sudah menjadi sifat Arka dari dahulu.


Namun meski begitu Arka tidak pernah melakukan kasar, baik pada Diana maupun pada Renita. Hati Diana seketika sesak jika mengingat semua yang telah menimpa putrinya, bukannya tidak mungkin nanti setelah Arka tahu tentang kebusukan istri pertamanya, bisa jadi Arka langsung menjatuhkan talak pada Renita.


Reni bangkit dari tempat duduknya niat hatinya ingin bergegas ke kamar untuk mempeking keperluannya selama berada di luar negri, namun saat netranya tak sengaja melihat mamanya yang sedang melamun di hasapannya. Hatinya menjadi iba pada wanita yang selama ini selalu menemani dirinya baik suka maupun duka.


"Apa mama baik-baik saja?" tanya Reni pada mamanya.


Tanpa menjawab Diana menggelengkan kepalanya dengan cepat, dirinya memang sedang tidak baik untuk saat ini. Saat dirinya sedang di cecar pertanyaan oleh putrinya, tiba-tiba ponselnya di atas meja berdering.


Dengan cepat Diana mengambil ponselnya, ia melihat siapa yang menghubungi dirinya. Diana melihat jika suaminya Lukman yang menghubunginya, saat ini Lukman berada di luar negri. Ia memang menjalankan bisnisnya di luar negri, Diana langsung menekan tombol hijau dan memilih percakapan dengan sang suami di dalam kamarnya.


Renita hanya memandangi kepergian sang mama, yang menunggalkan dirinya tanpa sepatah katapun. Renita menyalahkan keadaan yang kini menimpa dirinya. Reni hampir saja tumbang, saking emosinya. Ia menangis sesegukan, tadinya ingin membereskan barang-barangnya untuk di masukan ke dalam koper, namun harus gagal. Karena sikap mamanya yang mengabaikan dirinya.


Diana selesai menjawab panggilan dari sang suami, ia bergegas menuju ke kamar putrinya. Kini ia merasa sedikit lebih tenang, setelah mendengarkan ceramah dari sang suami. Ia mengikuti arahan dari suaminya, meski sebenarnya hatinya terasa berat.


"Ren, boleh mama masuk!" ucapnya pelan.


"Iya ma, masuk saja." titah Reni sambil mengusap air matanya yang membasahi pipi.


Melihat mamanya Renita langsung menghampur ke pelukan Diana, hatinya merasa sangat bersalah pada sang mama. Diana membalas pelukan itu, dan membelai rambut putrinya. Sesekali tangannya terulur mengusap air mata Reni yang masih terjatuh.


"Nak, ada yang ingin mama ucapkan pada kamu." ucap Diana memecah keheningan.


"Iya ma, ada apa?" balas Reni.


"Maaf nak, besok mama tidak bisa pergi menemani kamu?" ucapnya lantang.


"Lho, kenapa ma? Bukannya mama sudah janji pada Nando untuk menemaniku pergi ke luar negri?" cecar Reni bingung.


"Papa kamu tidak mengizinkan mama untuk pergi. Ia meminta mama untuk tetap berada disini, dan menjawab jika Arka bertanya tentang alasan kepergian kamu pada mama."


"Maksud mama, apa mama mau memberi tahukan Arka tentang keadaan aku sekarang?" tanya Reni tak mengerti.


Diana menjawab pertanyaan putrinya dengan santai tanpa marah-marah lagi, ia menggelengkan kepalanya perlahan.


"Mungkin untuk kali ini mama akan berbohong pada suami kamu. Tapi mama tidak menjamin, jika Arka tidak akan mengetahui kebohongan mama yang menutupi kebusukan kamu. Cepat atau lambat pasti suami kamu akan mengetahui sagalanya, Ren." jawab Diana penuh penekanan.

__ADS_1


"Iya, mama benar." ucap Reni pelan, matanya kembali berkaca-kaca.


"Tapi kamu tidak perlu khawatir, untuk saat ini mama masih bisa membantu kamu. Meski nantinya mama akan menanggung resikonya dari suami kamu."


"Maafkan Reni ya ma. Reni memang anak yang tidak berguna, aku selalu menyusahkan mama. Bahkan aku juga belum pernah membahagiakan mama!" Reni meruntuki dirinya sendiri.


"Sudahlah Ren, tidak perlu kamu menyesali semuanya sekarang. Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlanjur. Percuma juga kamu menyesalinya sekarang, seharusnya sebelum berbuat, pikirkan dulu resikonya!" ucap Diana nasehati putrinya.


Reni hanya diam seribu bahasa, ia sama sekali tidak berani menjawab ucapan sang mama yang mengintimidasi dirinya. "Semua yang di ucapkan mama memang benar, tapi apa boleh buat. Semua yang sudah terjadi tidak akan mungkin kembali seperti dulu lagi." Reni membatin.


Kini tidak ada lagi percakapan lagi yang terjadi pada Reni dan mamanya, mereka berdua sibuk mempersiapkan keperluan yang besok akan di bawa oleh Reni ke luar negri.


πŸ‚πŸƒπŸ‚


Tidak jauh dari Reni, Arka dan Allen kini juga sedang mengemasi barang-barang yang besok akan di bawa oleh Arka. Namun Arka hanya membawa beberapa potong pakaian dan dokumen-dokumen penting untuk pekerjaan yang di handle nya disana.


Setelah mereka berdua selesai berkemas, Arka akan mengajak istri keduanya untuk turun. Ia akan meminta restu pada kedua orang tuanya, serta meminta kedua orang tuanya untuk menjaga Allen.


"Honey, kita turun yuk. Aku akan meminta izin pada mommy juga daddy." ajak Arka pada Allen.


"Baiklah, mas." jawab Allen lembut. "Mas.." panggil Allen tiba-tiba.


"Iya, honey. Ada apa?"


Arka tersenyum menyeringai mendengar ucapan yang keluar dari bibir istrinya, membuat Allen menelan salivanya dengan kasar, ia takut suaminya akan marah.


"Tidak perlu honey, lagian kan aku hanya pergi selama tiga hari saja." balas Arka sambil tersenyum.


"Tapi, mas..." ucapnya lagi.


Dengan cepat Arka meletakan jari telunjuknya di bibir manis Allen, ia meyakinkan Allen untuk yang kedua kalinya.


"Sudahlah honey, kalo dia marah biarkan saja. Selama ini dia sudah memβ€”" ucapnya terhenti.


Allen yang merasa penasaran, niatnya ingin menanyakan kepastian pada sang suami. Namun belum juga kata-katanya keluar dari mulutnya, Arka sudah menggandeng lengannya. Meminta Allen untuk segera turun, takutnya kedua orang tuanya keburu beristirahat.


Mereka berdua turun ke lantai utama, menemui kedua orang tua Arka yang sedang bercengkerama sambil menonton acara televisi di ruang keluarga.


"Hey.. Dad end mom kalian berdua apa kabar?" tanya Arka pada kedua orang tuanya.


"Baik, Arka. Bagaimana kabar kalian berdua?" jawab kedua orang tua Arka serempak.


"Kamu sudah pulang dari tadi, nak?" tanya mommy Ros.

__ADS_1


"Kami berdua baik, aku sudah pulang dari tadi. Bahkan sudah menuntaskan..." ucap Arka berhenti, saat Allen menyikut dan memberi isyarat pada dirinya. Allen malu jika suaminya sampai mengatakan hal yang memalukan pada kedua orang tuanya.


"Menuntaskan apa, nak?" cecar Gio penasaran.


Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu ia mencari alasan lain yang masuk akal.


"Maksudnya, aku sudah menuntaskan pekerjaan yang tadi aku bawa pulang." kilah Arka dengan cepat.


"Oo.., kirain apa?" balas Ros sambil manggut-manggut.


Ros mendekati anak menantunya, tangannya terulur untuk mengelus perut Allen yang sudah agak membuncit.


"Sayang, bukannya besok kamu harus pergi ke dokter, untuk periksa kehamilan ya?" tanyanya pada Allen.


"Iya mom, tapi sayangnya mas Arka nggak bisa nganterin aku." jawab Allen jujur.


Ros membelalakan kedua matanya, ia penasaran kenapa putranya tidak bisa mengantarkan Allen. Padahal setahu Ros, Arka yang selalu antusias dengan kehamilan istri keduanya. Daripada Ros berburuk sangka pada putranya, ia menanyakan langsung pada Arka.


"Benar begitu, Ka'? Lalu apa alasannya?" cecar Ros penasaran.


"Iya mom, aku memang nggak bisa mengantar Allen. Aku minta mommy temani dia besok ya mom, soalnya besok aku harus pergi ke singapur." jawab Arka mencoba memberi pengertian kedua orang tuanya.


"Kanapa mendadak sekali? Dalam rangka apa pula kamu harus pergi kesana?" cecar Ros penasaran.


"Mom, Arka harus menghandle pekerjaan disana selama tiga hari ke depan. Soalnya staf perusahaan disana tidak bisa mengerjakan tugas itu, dan meminta Arka untuk datang." jelas Arka panjang lebar.


"Daddy memang belum bilang sama mommy?" tanya Arka mengintimidasi daddynya.


Gio menggelengkan kepalanya perlahan, ia juga meminta maaf pada Arka. Dirinya benar-benar lupa, jika putranya sudah meminta izin padanya tadi siang.


"Daddy minta maaf, Ka'. Daddy benar-benar lupa memberitahu mommy." ucap Gio sambil tersenyum kecut.


Mendengar ucapan dari daddynya Arka hanya memaklumi sikap ayahnya, ia juga merasa iba pada daddynya saking banyaknya pekerjaan membuat pria paruh baya yang harusnya sudah beristirahat di rumah, malah masih sibuk menghandle perusahaan inti miliknya.


"Iya deh, kali ini maaf daddy aku terima. Arka juga minta maaf ya dad, harusnya di usia daddy yang tak lagi muda seperti sekarang, daddy beristirahat di rumah." ucap Arka serius.


"Memangnya kenapa? Daddy nggak masalah harus bolak-balik kantor tiap hari. Toh weekend daddy dan mommy bisa beristirahat di rumah. Iya kan mom?" jawab Gio sambil mengedipkan mata genitnya.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2