Istri Simpanan CEO Arogan

Istri Simpanan CEO Arogan
Trio Cs Bersitegang Lagi


__ADS_3

.


.


Saat mereka bertiga tengah bercengkerama sambil meneguk minuman yang di suguhkan oleh wanita paruh baya yang bekerja di rumah orang tua Arka.


Terlihat dari kejauhan kedua orang tua Arka sudah berpenampilan rapi, Hendra merasa penasaran. Ia pun bertanya pada sahabatnya, Arka.


Mommy Ros naik ke lantai atas, ia menghampiri anak menantunya. Ros perpamitan pada Allen, ia juga berpesan pada anak menantunya agar jangan sampai kelelahan. Juga untuk menjaga kesehatan, selama ia dan suaminya pergi. Rencananya lusa mereka baru akan kembali lagi.


"Ka', apa kedua orang tua kamu akan pergi jauh?, kenapa mommy kamu bawa koper kecil?" tanya Hendra penasaran.


"Iya, Ndra. Mereka memang ada acara di luar kota."


"Kenapa kamu dan Allen nggak ikut?, apa mereka berdua nggak ngajak kalian?" timpal Johan.


"Mereka sudah ngajak aku, juga Allen. Tapi kamu kan tahu sendiri istriku baru saja beberapa hari keluar dari rumah sakit. Aku nggak mau dia kelelahan, lalu terjadi hal buruk lagi." jawab Arka cepat.


"Oh.. Iya juga sih, bro." sergah Hendra sambil menganggukan kepalanya perlahan.


Saat mereka bertiga tengah berbincang, Ros menuruni satu per satu anak tangga hingga sampai ke lantai bawah sambil merangkul hangat bahu Allen. Mereka bertiga berjalan mendekat ke arah Arka Cs, Gio dan Ros menyapa kehadiran kedua sahabat putranya. Sementara Allen hanya menunduk, ia takut sang suami akan marah lagi kepadanya.


"Kalian sudah lama disini?" sapa Gio ramah


"Sudah om.. tante.." ucap Hendra sopan. Ia menganggukan kepalanya perlahan, mereka juga menyalami kedua orang tua sahabatnya, begitu pula dengan Johan.


"Apa mommy dan daddy akan pergi sekarang?" ucap Arka antusias.


"Iya, nak. Sekarang sudah waktunya kami berangkat, kami tidak mau terlambat." sergah Gio cepat.


"Yah, padahal kami berdua baru saja sampai disini. Malah om dan tante sudah harus pergi saja." kilah Hendra, sebenarnya ia memang sedih karena kedatangan mereka berdua tidak di sambut hangat oleh kedua orang tua Arka, seperti biasanya.


"Lain kali kalian datang lagi ya, saat tante dan om berada di rumah. Maaf karena sekarang kami tidak bisa menemui kalian lama-lama." ucap Ros penuh sesal.


"Iya, nggak apa-apa tante. Lagian juga ini memang salah kami berdua, karena kami datang tidak memberi tahu Arka dulu." balas Johan merasa bersalah.


"Nggak apa-apa. Lagian Arka dan Allen kan di rumah, dia nggak mau ikut kami berdua, kok." timpal Gio, memberi pengertian kedua sahabat putranya.


"Iya, om. Hati-hati di jalan ya om." ucap Hendra.


"Iya nak, terima kasih." balas Gio sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oya, Arka. Kamu jaga selalu istri kamu, jangan buat dia sedih. Kamu juga jangan pergi meninggalkan dia seorang diri di rumah, kamu harus jadi suami yang terbaik untuk Allen." tunjuk Ros mengingatkan putranya.


"Iya mom, Arka mengerti!"


"Good..! Sekarang daddy dan mommy pamit pergi dulu ya, Hendra dan Johan temani Arka dulu ya. Jangan lupa nanti ajak Allen bercengkerama juga, agar dia tidak kesepian lagi." ucap Gio mengarahkan Arka Cs.


"Baik, om Gio." balas Hendra antusias.


Allen mengantarkan kedua mertuanya sampai ke depan mobilnya, meski hatinya merasa sedih. Namun sebisa mungkin, Allen tetap tersenyum pada kedua mertua yang sudah sangat baik kepadanya.


Setelah kepergian mommy dan daddy nya Arka, Allen melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah lagi. Namun kali ini Allen memilih masuk lewat ke pintu samping, tujuannya tentu saja agar ia tidak melihat wajah suaminya yang terlihat sangar saat marah, meski sebebarnya hati Arka baik.


Allen duduk di sofa yang berada di ruang keluarga tempat ia dan suaminya bersantai tadi. Allen memakan camilan yang berada di meja tersebut, entah mengapa hari ini perutnya terasa sangat lapar. Padahal hari masih sekitar pukul 3 sore.


Ia memilih mengasingkan diri dari suami beserta kedua sahabat Arka. Allen malas berdebat lagi dengan sang suami, ia lebih memilih duduk bersantai dan menonton acara drakor kesukaannya. Hingga tanpa Allen sadari, dirinya tertidur saat tengah asyik menonton televisi.


πŸ‚πŸƒπŸ‚


Di tengah perbincangan Arka dan kedua sahabatnya, Hendra menanyakan keberadaan istri kedua Arka. Karena setelah mengantarkan kedua orang tua Arka pergi, mereka memang belum melihat Allen masuk ke dalam rumah lagi. Padahal waktu sudah ada sekitar lima belas menit lamanya.


"Allen mana, Ka'? Kok dari tadi dia belum masuk ke dalam?" tanya Hendra penasaran.


"Mungkin." jawabnya singkat.


"Ish.. Kamu ini, jadi suami nggak peka banget. Istri marah, malah di biarin. Nggak baik tau, udah gih samperin sana." ucap Hendra kesal dengan sikap sahabatnya yang acuh pada Allen.


"Gampang nanti lah." balas Arka santai.


"Arka, kamu itu harusnya menjadi suami yang berguna dikit dong buat Allen. Kamu itu beruntung tau, meski Allen hanya istri kedua kamu. Tapi dia itu tidak pernah menuntut lebih dari kamu, tau!" bentak Hendra kesal.


"Kalo kamu nggak bisa membahagiakan dia lebih baik kamu lepaskan saja dia. Biarkan dia bahagia bersama pilihannya sendiri." imbuh Hendra datar.


Lantas ucapan Hendra membuat Arka kaget bukan main, Arka melotot. Ia sungguh tidak menyangka sahabatnya berani berkata seperti itu pada dirinya.


Bukanya Arka marah karena nesehat dari Hendra, namun yang membuatnya naik darah adalah ucapan terakhir dari sahabatnya. Arka berdiri dari duduknya, lalu ia memaki sahabatnya. Menurut Arka kali ini, ia kelewat batas.


"Lalu setelah aku melepaskan Allen, kamu yang akan menjadikannya seorang istri. Begitu maksud kamu!" bentak Arka kesal. Ia marah lagi pada sahabatnya.


"Kalo dia bahagia hidup bersamaku, kenapa tidak!" tantang Hendra datar.


Arka menghampiri Hendra, niatnya ingin memberi pelajaran pada sahabatnya. Arka menarik kerah baju Hendra, satu tangannya juga sudah mengepal.

__ADS_1


Johan melihat kedua sahabatnya bersitegang, ia tidak mau kedua sahabatnya bertengkar lagi. Apalagi hanya masalah satu wanita, yaitu Allen. Johan mencoba melerai perdebatan kedua sahabatnya yang semakin memanas dengan sekuat tenaga.


"Sudah deh, kalian jangan bertengkar kenapa sih! Malu tahu!" bentak Johan kesal. "Kamu juga Hen, kita kesini buat jenguk Allen. Bukan buat bikin ribut!" Johan memperingatkan satu sahabatnya.


Arka dan Hendra hanya saling diam, tanpa sepatah kata pun. Sedangkan Allen yang tadinya terlelap, kini berjalan tergopoh menghampiri suami dan kedua sahabatnya. Hatinya berdetak kencang, karena tadi sepertinya Allen mendengar mereka berteriak.


Saat Johan melihat Allen yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka bertiga, dengan kesal Johan menunjuk Allen dengan jari telunjuknya, lalu ia mencaci Allen yang tidak tahu apa-apa.


"Kalian ini bikin malu saja. Memperebutkan wanita seperti dia! Apa sih hebatnya dia!" tunjuk Johan pada Allen.


Allen bingung dengan ucapan sahabatnya tersebut yang menyudutkan dirinya. Lalu Allen menunjuk dirinya sendiri.


"Kenapa aku yang di bawa-bawa. Memangnya aku salah apa?" ucap Allen bingung.


Arka tidak mau istri keduanya sedih, ia menghampiri Allen. Arka tahu pasti Allen syok mendengar ucapan Johan, ia merangkul mesra tubuh mungil istrinya.


"Kamu jangan membawa nama Allen dalam masalah ini. Aku tidak terima!" bentak Arka marah.


"Tadi kamu juga bertanya kan apa hebatnya dia?. Dia sangat hebat bagiku, karena dia berbeda dengan wanita lain yang pernah aku temui. Andai saja dia berada disisimu, kamu juga pasti tidak akan pernah rela melepaskan dirinya. Sama seperti aku!" Arka membela istri keduanya.


Allen yang memang tidak tahu apa-apa hanya memilih diam saja, meski hatinya terasa sangat sakit dengan celaan yang keluar dari bibir Johan, sahabat suaminya. Air matanya sekuat hati ia bendung, namun air mata itu perlahan turun melewati pipi mulus Allen.


Arka menyadari kesedihan Allen, lalu mau tak mau ia menyuruh pulang kedua sahabatnya. Arka menghampiri kedua sahabatnya, lalu membisikan kata pada kedua pria di hadapannya.


"*Lebih baik sekarang kalian pulang. Lain waktu kalo kalian marah padaku, jangan bawa-bawa lagi nama Allen mengerti!"


"Kali ini, aku biarkan kalian lolos dariku. Tapi jika kalian berani berbuat macam-macam pada istriku, Allen. Atau bahkan kalian menyakiti hatinya lagi, aku tidak akan membiarkan kalian berdua bisa bernafas lagi. Kalian mengerti*!" ancam Arka pada kedua sahabatnya tersebut.


.


.


***BERSAMBUNG***...


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir ya, terima kasih juga dukungannya. Salam manis dari AuthorπŸ˜˜πŸ™πŸ».

__ADS_1


__ADS_2