
.
.
"Sudahlah jangan banyak ngomong lagi. Aku lapar..!" sela Arka cepat.
"Iya.. Tapi kita akan pergi kemana?"
"Ya, ke hotel lah. Mau kemana lagi?" ucap Arka dengan raut wajah serius.
"Ish.. Bukan begitu juga jawabannya kali, mas." balas Allen malas, meski sebenarnya ia merasa tersudutkan dengan pertanyaannya sendiri.
Mereka berdua turun dari mobil, lalu segera melangkahkan kaki menuju ke hotel tersebut. Namun satu yang membuat Allen tak mengerti pada suaminya, karena laki-laki itu langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam tanpa melakukan cek in terlebih dahulu.
Tapi Allen hanya mengikuti langkah suaminya, tanpa banyak pertanyaan lagi. Ia sungguh malas berdebat lagi dengan pria dingin di hadapannya. Arka membawa Allen ke sebuah kamar hotel, setelah mereka sampai di depan kamar hotel dengan nomor 172. Arka menempelkan benda pipih di dinding untuk membuka pintu kamar tersebut, atau bisa di bilang kartu untuk membuka kamar tersebut.
Tak menunggu lama pintu tersebut pun terbuka, Allen melongo. Entah apa yang berada di pikirannya, bukannya ia mengagumi apa yang suaminya lakukan. Tapi Allen tidak percaya, jika suaminya sudah memesan kamar hotel untuk mereka berdua menginap malam ini, bahkan tanpa sepengetahuan dirinya.
"Masuk..!" titah Arka tegas.
"Tapi mas..?"
"Kenapa.. Kamu tidak mempercayai aku, jika aku tidak akan menyakitimu lagi?!" ucap Arka pelan sambil mengerlingkan matanya.
"Bagaimana aku akan percaya padamu, tingkahmu saja membuat diriku meragukan keseriusan kata yang terucap dari bibirmu barusan, mas!" Allen membatin sambil menghela nafasnya kasar.
Tanpa di sadari Allen, Arka mendorong tubuhnya perlahan ke dalam kamar yang barusan di buka oleh sang suami. Walaupun Allen merasa ketakutan, tapi ia berusaha untuk tetap tenang. Ia tidak mau sang suami menunjukan taringnya kembali, rasanya Allen ingin menangis bila dirinya teringat kejadian yang telah menimpanya.
"Gantilah pakaianmu, aku tidak suka dengan gaun yang kamu kenakan. Semua yang kamu perlukan ada di dalam koper itu!" titah Arka sambil menunjuk ke arah koper yang di bawanya tadi.
"Mas.. Jadi kamu sudah mempersiapkan semua ini." monolog Allen lirih.
Namun rupanya Arka masih dapat mendengar apa yang di ucapkan oleh Allen. Pria itu hanya tersemum sekilas, tanpa menjawab pertanyaan yang keluar dari bibir istrinya.
"Apa kamu perlu membeli pakaian baru untuk di pakai malam ini?" tanya Arka dengan seringai di bibirnya.
"Tidak.. Tidak perlu mas, kan kamu sudah membawa pakaian milikku." ucap Allen tersipu malu.
Allen mengambil pakaian miliknya yang tersimpan rapi dalam koper, meski ia sama sekali tidak menyangka jika suaminya akan memperhatikan diri di tengah pertikaian yang terjadi di antara mereka berdua.
Allen mengganti pakaiannya di kamar mandi, ia merasa malu jika harus berganti baju di depan sang suami. Meski sebenarnya ada hal yang lainnya juga, Allen tahu pasti jika apa yang di lakukannya malah dapat memancing sesuatu yang sedang tidak di kehendaki olehnya.
Setelah selesai mengganti baju, Allen menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Setelah itu dirinya mengahampiri sang suami yang sedang asyik dengan ponselnya. Entah apa yang sedang di lihat oleh pria dingin yang duduk tidak jauh dari Allen.
__ADS_1
Tapi Allen sama sekali tidak mau mengusik suaminya, ia hanya berusaha untuk mengingatkan sang suami untuk makan malam. Karena tadi suaminya meminta dirinya untuk menemani makan malam.
"Apa kamu tidak jadi makan malam, mas?"
"Jadi..! Apa kamu sudah siap?" balas Arka sambil mengamati istrinya dari atas sampai ke bawah.
"Sudah mas."
"Ya sudah kita pergi sekarang, nanti keburu malam." titah Arka cepat.
"Baiklah.." jawab Allen.
Mereka berdua berlalu meninggalkan kamar hotel yang di tempati oleh pasangan suami istri tersebut. Arka menggandeng lengan Allen dengan mesra, meski sebenarnya Allen merasa sedikit keberatan. Namun ia tidak berani menolak keinginan sang suami.
Pasangan suami istri tersebut makan malam bersama, meski Allen enggan makan lagi, tapi dengan paksaan dari sang suami akhirnya ia memakan makanannya, meski ia tidak dapat menghabiskannya.
Arka menyantap makanan yang di pesannya dengan lahap, karena ia memang merasa sangat lapar. Setelah Arka dan istrinya selesai makan, Arka membawa kembali istrinya untuk segera bergegas ke kamar yang akan mereka tempati malam ini.
Allen mendudukan diri di sofa empuk yang berada di kamar hotel tersebut, tanpa di sadarinya sang suami mendekat ke arahnya. Allen merasa canggung dengan tindakan suaminya yang tiba-tiba.
Arka mendekap tubuh Allen dengan mesra, sebelum akhirnya ia mencecar wanita disampingnya dengan berbagai pertanyaan.
"Mas, apa yang kamu lakukan?" ucap Allen dengan raut wajah ketakutan.
"Bukan seperti itu maksudku, mas. Aku hanya..." ucap Allen terhenti saat suaminya menatap dirinya seolah ingin menerkamnya.
Hingga tiba-tiba Arka menanyakan isi hatinya pada Allen. "Honey.. Aku akan bertanya padamu, tapi tolong jawab dengan jujur. Aku tidak mau kamu berbohong padaku!" ujar Arka penuh penekanan.
"Baik, mas. Aku akan menjawab pertanyaan kamu dengan jujur." balas Allen lirih.
"Kenapa kamu pergi dari rumah tanpa izin dariku? Kamu sadar kan siapa dirimu? Kamu itu istriku, istri Arkana Leonardo. Tidak seharusnya kamu kabur dari rumah! Meski aku tahu, kepergianmu karena aku memarahimu. Tapi aku punya alasan marah padamu tadi siang..!" cerocos Arka seolah mengintidasi istri keduanya.
"Kamu tahu tidak, mommy mencemaskan dirimu. Apalagi aku, aku khawatir sesuatu akan terjadi padamu! Apalagi kamu tidak membawa ponsel, bagaimana aku akan menghubungimu?" imbuh Arka penuh kekhawatiran.
"Bagaimana aku akan membawa ponsel mas, kan tadi siang kamu yang mengambilnya. Aku juga tidak berani meminta ponsel milikku, kepadamu. Apalagi kamu sedang marah. Nanti yang ada kamu akan semakin menuduhku yang tidak-tidak. Sebenarnya tujuanku pergi bukan kesini, tapi ke rumah ibu. Dan aku salah naik kereta..." jelas Allen dengan perasaan sedih di hatinya.
Allen merasa bersalah, karena ternyata kepergian dirinya membuat suami dan mertuanya mencemaskan dirinya. Meski apa yang di ucapkan oleh Arka memang benar, jika kepergian dirinya sang suami yang menjadi penyebabnya.
Arka membelai mesra rambut Allen yang tergerai, entah mengapa ia merasa bersalah pada istri keduanya karena telah menuduhnya yang bukan-bukan, seharusnya ia menanyakan dahulu pada Allen, sebelum ia marah-marah. Ia mencium pucuk kepala Allen.
"Aku minta maaf padamu, honey. Karena keegoisanku membuat kamu pergi meninggalkan aku. Aku mohon padamu jangan pernah pergi lagi dari sisiku! Apa kamu tidak merasa kasihan pada buah hati kita, dia pasti sedih jika tahu perdebatan kita! Apalagi kamu sampai pergi dari rumah?" ucap Arka penuh sesal.
"Aku juga tidak akan melakukan hal seperti ini, jika kamu tidak marah-marah padaku, mas!" balas Allen dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
"Iya.. Aku akui, aku memang bersalah. Aku harap kamu akan memaafkan kesalahan yang telah aku perbuat. Mau kan kamu pulang bersamaku ke rumah mommy lagi. Mommy sangat mengharapkan kepulanganmu, ia bahkan sangat sedih karena kamu pergi tanpa memberitahu mommy."
"Benarkah.. Mommy sampai seperti itu, mas?" ucap Allen tak percaya.
"Aku serius! Apa kamu melihatku sedang berbohong! Hem..?" ucap Arka sambil memicingkan matanya.
"Em.. Aku tidak tahu, kamu sedang berbohong atau tidak?!" balas Allen mengerjai suaminya.
"Allen... Sekarang kamu berani padaku ya?" sahut Arka sambil mencubit hidung istrinya perlahan.
"Sakit mas. Aku kan hanya bercanda.." balas Allen cepat.
"Oh ya, apa kita bisa pulang ke kota, besok pagi? Kamu tidak keberatan kan?"
"Kalo aku tidak mau pulang, kamu mau apa?" ucap Allen sambil menantang sang suami.
"Aku akan memaksamu! Meski pun kamu tidak mau pulang! Aku akan membawamu pulang ke rumah mommy, karena mommy sangat merindukan mu!"
"Mommy atau kamu yang merindukan aku, mas?" goda Allen.
"Ya.. Iya, Aku juga..! Memang tidak boleh merindukan istri sendiri?" jawab Arka gugup.
Allen tersenyum puas saat melihat raut wajah sang suami yang sedang gugup, menurut Allen itu sangat lucu.
"Aku bahagia karen secara tidak sengaja kamu mengakui, jika kamu merindukan aku, mas. Meski sebenarnya kamu masih enggan mengakuinya secara terbuka! Tapi setidaknya hatiku merasa senang, karena kamu masih memberi perhatian padaku. Meski entah itu tulus atau tidak!" Allen membatin dalam hatinya.
.
.
Bersambung....
.
.
.
**Alhamdulilah akhirnya author dapat menyelesaikan misi.
Mohon do'anya ya, semoga author dapat double up setiap harinya ya.
Semoga para pembaca novelku senang ya. Happy realing**...
__ADS_1